Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 92. Bertemunya Nadin dan Meli


__ADS_3

“Rey, dari mana kamu Nak? Tumben pulang larut malam? Bukannya hari ini kamu libur kerja, ya?” tanya Nadin ketika melihat putranya hendak menaiki anak tangga.


“Rey habis dari rumah sakit, Ma.”


“Siapa yang sakit?”


“Jovanka.”


“Hah? Sakit apa?”


“Kecapean doang, Ma. Mungkin terlalu sibuk di klinik, hingga ia sering telat makan,” bohong Reynand.


“Ya sudah, cepat istirahat. Esok Mama jenguk calon menantu Mama,” goda Nadin sambil berlalu pergi, masuk ke kamar.


Baru juga Rey mau menaiki anak tangga, Pintu kamar Rhiena terbuka.


“Abang! Sini!” sahut Rhiena pelan.


“Dih ... Yang butuh siapa?” ujar Reynand yang masih berdiri di dekat tangga.


“Penting! Sini cepet!”


Akhirnya Rey menghampiri Rhiena yang berada di pintu kamarnya. Rhiena langsung menarik tangan Rey masuk dalam kamar.


Jeglek!


Pintu kamar dikunci.


“Ngapain sih, Na?” tanya Rey.


“Ssttt! Nanti Mama denger! Nana cuma mau tanya, apakah Mama tau tentang Papanya Kak Jovanka yang dulu pernah tidak merestui hubungan Abang sama Kak Jovanka?” ujar Rhiena bersuara pelan.


“Kan Abang udah bilang. Biar itu menjadi rahasia, hanya kamu dan Vicky yang tau masalah ini,” jawab Rey.


Rhiena mengangguk, “Bukannya lebih baik Mama tau ya, Bang?”


“Gak perlu, Na. Biar itu menjadi urusan Abang. Abang sudah mendapatkan izin dari Papanya untuk menikahi Jovanka?” ujar Reynand.


“Waaahhh ... Serius, Bang?”


Mata Rhiena membulat.


“Iya. Tapi, restu belum Abang kantongi.”


Rey menggaruk kepala.


“Lah ... Kok bisa? Nana jadi gak ngerti.”


Rhiena memutar bola mata.


“Papanya Jovanka sudah memberikan izin sama Abang untuk menikahi dia, kapan pun waktunya, ia tidak keberatan. Sedangkan restu, belum ia berikan. Papa Jovanka seperti benci sekali sama Abang.”


“Tapi ... kok, dia bisa kasih izin sama Abang untuk menikahi putrinya? Nana jadi pusing. Otak Nana loading untuk berpikir ke arah sana.”


Akhirnya Reynand menceritakan pada Rhiena. Bahwa sekarang Jovanka sakit karena syok, ia mengalami depresi karena hati yang selalu tertekan. Rendy akhirnya mengizinkan putrinya menikah, tapi restu belum dikantongi dan tidak ada seorang pun yang mengetahui alasan Rendy begitu membenci Reynand. Hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.


“Ssttt! Tapi ini rahasia ya, Na?”


“Bang, baiknya Mama tau tentang hal ini,” saran Rhiena.


“Biar apa? Biar Abang gak diizinin nikah sama Jovanka?”


“Emm ... Iya juga ya, Bang.”


Rhiena menggaruk kepala, karena ia tidak berpikir jauh ke sana.


"Pasti suatu saat Mama akan tau Pak Rendy," ujar Rey.


"Ya iya, lah! kan nanti mereka besanan!" ujar Rhiena.


“Pinter! Biar yang lain menjadi rahasia, mungkin seiring berjalan pernikahan Abang dan Jovanka semua akan terbuka. Dan, kalau memang Abang ada salah sama Papanya Jovanka. Abang siap untuk meminta maaf.”


“Tapi, menurut Nana bukan itu deh, alasannya Bang.”


“Entah, yang jelas. Setelah Jo ke luar dari rumah sakit. Abang akan mengajaknya untuk mempersiapkan pernikahan. Esok Abang akan bilang sama Mama,” ujar Reynand.


“Ya sudah. Doa terbaik saja buat Abang. Nana tau, semua orang pasti pernah salah. Tidak ada yang luput dari dosa. Semoga pernikahan Abang dan Kak Jovanka bisa bahagia,” ujar Nana.


“Makasih, Na. Ya sudah, tidur ‘gih! Abang juga mau tidur, besok kerja pagi,” ujar Reynand.


Rey ke luar dari kamar Rhiena dan menaiki anak tangga untuk masuk ke kamarnya. Malam semakin larut dan Rey memejamkan matanya hingga suara alarm membangunkannya di pagi hari.


*


Rey sudah bersiap untuk bekerja. Ia tampak gagah dengan seragam pilotnya, terlihat semakin tampan dan berkarisma. Ia menuruni anak tangga dan menikmati sarapan pagi bersama Mama dan adik kembarnya.


“Pagi semua ....” ujar Rey yang baru bergabung di meja makan.

__ADS_1


Rhiena tersenyum.


“Pagi, Rey! Sepertinya ada yang ceria hari ini? Katanya calon istri lagi sakit? Kok senyum-senyum? Gak sedih, apa?” goda Nadin.


Rey melirik ke arah Rhiena. Ia tersenyum, menyembunyikan bibirnya di balik telapak tangan yang sedang memegang roti tawar berselai coklat.


Pasti Nana yang udah bocorin rahasia! Umpat hati Rey.


“Udah, jangan melihat adik kamu seperti itu. Mama restuin kok, kalau putra Mama ini mau menikah muda,” ujar Nadin.


“Gak muda-muda banget dong, Ma. Usia Rey tahun ini udah dua puluh satu tahun,” elak Rey.


“Oh ... Iya, Mama kira masih sembilan belas tahun, ternyata sekarang sudah pecah kepala dua ya, Nak?”


Nadin tersenyum, begitu pun dengan Reynand.


“Pecah kepala dua? Maksudnya, Ma?” tanya Rhiena heran.


“Udah lebih dari dua puluh tahun, Sayang.” Meli mencubit dagu Rhiena. “Abangmu mau nikah secepatnya, kamu kapan nikah Sayang?” goda Nadin.


“Dih ... Nana masih ingin berkarier, biar saja Abang nikah muda. Nana mah santai, mau sukses dulu di kantornya Mama,” elak Rhiena.


“Gayamu!” celetuk Reynand.


“Biar saja!” jawab Rhiena.


“Sudah-sudah, kalian lanjut makan. Malah jadi bertengkar, sih!” ujar Nadin melerai.


Mereka pun melanjutkan sarapan pagi bersama. Obrolan pun mengisi sela mereka ketika menyuapkan potongan roti pada mulut. Canda tawa pun menghiasi atmosfer meja makan. Tidak lupa, Rey pun telah mengatur pertemuan makan malam antara keluarga Jovanka dan dirinya. Semuanya sudah disetujui, tinggal menunggu Jovanka ke luar dari rumah sakit.


***


Rhiena berangkat kuliah, Nadin ke kantor dan Rey ke bandara. Rumah kembali sepi ketika penghuninya telah sibuk dengan kehidupannya di luar sana.


Kesibukan Nadin pun bertambah, ketika membuka kantor baru. Rendy pun sudah masuk bekerja, walau masih menggunakan tongkat untuk berjalan.


Siang ini, Nadin ada acara di luar untuk bertemu dengan klien di salah satu restoran. Ia berangkat seorang diri mengendarai mobilnya.


Pertemuan pun terjadi, mereka membahas tentang bisnis yang akan mereka jalankan. Kerja sama antara dua perusahaan pun telah disetujui. Tanda tangan di atas materai pun akhirnya telah tersemat.


“Selamat bergabung dengan perusahaan kami, Pak!”


Nadin berjabat tangan sebagai simbol, resminya dua perusahaan itu telah bekerja sama.


.


Nadin melesat ke rumah sakit. Di sana ia langsung bertanya ke resepsionis rumah sakit, menanyakan pasien atas nama Jovanka.


“Nama lengkapnya siapa, Bu?” tanya Resepsionis itu.


“Aduh, saya lupa,” elak Nadin.


“Yang bernama Jovanka ada dua, Bu. Yang satu berusia dua puluh tiga tahun, sedang yang satunya lagi berusia dua belas tahun,” terangnya.


“Oh ... Yang dua puluh tiga tahun, Sus. Ruang rawatnya di mana, ya?”


Suster itu pun memberitahu ruang inap beserta arahan ruang rawat inap tersebut.


“Makasih, Sus!”


“Sama-sama ....”


Nadin berjalan ke ruang inap Jovanka. Ia mengetuk pintu dan sedikit membukanya.


“Permisi?” ujar Nadin.


Terlihat Ibu paruh baya yang sedang menyuapi putrinya. Mereka melirik ke arah pintu yang sudah terbuka.


“Bu Nadin?”


Netra Jovanka membulat.


Nadin tersenyum.


“Silakan masuk, Bu!” Ajak Jo, ramah.


Bu Nadin? Apakah Bu Nadin ini Bosnya Papa, ya? Ah ... Tapi, mungkin saja bukan. Umpat hati Meli yang mengingat nama itu.


Meli memang belum pernah bertemu dengan Nadin. Bahkan, sosok Nadin yang merupakan bos dari suaminya pun ia tidak mengetahuinya.


“Kenalin, Ma. Ini Bu Nadin, Mamanya Rey,” ujar Jovanka, mengenalkan pada Meli.


Nadin dan Meli pun berjabat tangan.


“Meli.”


“Nadin.”

__ADS_1


Ini memang kali pertama pertemuan mereka. Ada rasa canggung pada dua ibu paruh baya ini. Tapi, seiringnya waktu. Mereka pun menjadi akrab.


“Oh ... Iya, Sayang. Cepet sembuh, nanti katanya mau hunting baju pengantin?” ujar Nadin pada Jovanka.


Jo tersenyum, “Doain Jo ya, Bu? Agar cepat sehat lagi.”


“Pastinya, Sayang! Jangan panggil Ibu dong, panggil Mama aja seperti Reynand,” pinta Nadin.


“I – iya, Ma.” Jovanka tersenyum.


Nadin pun bicara tentang perencanaan putranya untuk mempersunting Jovanka pada Meli. Meli terlihat bahagia karena Rey benar-benar ingin menikahi putrinya. Air mata pun tidak dapat terbendung, tertumpah di hadapan Nadin.


“Makasih, Jeng. Sudah merestui putri saya untuk bersanding dengan putra Jeng Nadin, walau anak saya kini berstatus janda,” ujar Meli ketika Jovanka sudah tertidur.


“Iya, Jeng. Kalau sudah pilihan putra saya, saya tidak akan menolak, karena itu hak dia untuk menentukan hidupnya sendiri.”


Ada penyesalan yang mendalam ketika Nadin bicara seperti itu. Di mana dulu, ia memaksakan kehendaknya pada Jovanka. Ada sakit yang luar biasa dari dalam dadanya. Sesak, apabila kembali mengingat perceraian putrinya. Terlebih, mantan menantunya itu malah sudah menikah dengan wanita lain sebelum menceraikan putrinya. Rasa sakit yang tidak berdarah.


Obrolan pun melebar ke mana-mana. Yang jelas, dari Nadin sudah menerima Jovanka untuk menjadi bagian di keluarga mereka.


“Ya sudah, Bu. Saya kembali ke kantor, masih banyak pekerjaan di sana.” Nadin berpamitan.


“Iya, sekali lagi makasih ya, Jeng. Hati-hati!”


Nadin tersenyum dan berlalu pergi.


***


Waktu menunjukkan pukul dua siang. Pekerjaan Nadin masih sangat menumpuk.


“Aduh! Berkas untuk kantor baru malah ketinggalan di rumah! Mobil malah rusak lagi!” gerutu Nadin dalam ruang kerjanya.


Nadin melihat jam yang menunjukkan pukul dua lebih. Ia menelepon putrinya tidak aktif. Akhirnya Nadin menelepon putranya.


“Masuk!” ujar Nadin ketika sedang menempelkan ponsel di telinganya.


[Halo, Ma?]


Rey menjawab dalam telepon.


[Rey, kamu ada di mana, Nak?]


[Rey ada di jalan menuju rumah. Nanti mau ke rumah sakit lagi. Kenapa, Ma?]


[Bisa tolong ambilkan berkas yang ada di atas meja kerja Mama dalam kamar, Nak?]


[Iya, nanti dicari. Rey antar ke kantor Mama sebelum berangkat ke rumah sakit.]


Tut!


Telepon pun tertutup.


Nadin langsung menghubungi Rendy untuk datang ke kantor.


[Pak Rendy, bisa ke kantor saya sekarang? Ada berkas yang harus kita tandatangani bersama, tapi mobil saya rusak dan hari ini, pekerjaan saya sangat banyak, jadi tidak bisa ke kantor cabang.] ujar Nadin melalui ponsel.


[Baik, Bu. Saya akan segera ke kantor Ibu!] jawab Rendy.


**


Rey melesat dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Ada rasa rindu pada Jovanka. Apalagi, ia akan merencanakan pernikahan dengan Jovanka.


Sampailah Rey di rumahnya. Ia langsung mencari berkas yang disuruh oleh Mamanya. Setelah menemukan berkas yang ia cari. Rey bergegas mandi dan berganti pakaian.


Rey kembali memacu mobil hitam itu menuju ke kantor Nadin. Hingga akhirnya mobil itu sampai di lobi dasar untuk parkir kendaraan.


Rey membuka pintu mobil dan membawa berkas yang disuruh oleh Mamanya. Ia langsung ke ruang kerja Mamanya.


Tok ... Tok ... Tok ....


“Masuk!”


Terdengar suara Nadin dari dalam sana.


Ceklek!


Rey membuka pintu. Ternyata, Rendy sudah ada di dalam ruang kerja Nadin.


“Masuk, Nak!” ujar Nadin sambil tersenyum.


Om Rendy? Umpat hati Rey, kaget ketika melihat Rendy berada dalam ruang kerja Mamanya.


“Nak? Maksud Bu Nadin?”


Rendy membulatkan mata.


“Ini putra saya, putra pertama saya.” ujar Nadin, memperkenalkan Rey pada Rendy.

__ADS_1


__ADS_2