
Jo melangkah dengan sedikit ragu di hatinya. Tapi, dengan segera Jo menepis semua itu dari pikirannya. Ia melangkah menuju ruang keluarga. Di sana ada mamanya juga yang sedang berbincang dengan papanya.
Hatinya kembali ragu tatkala terlihat wajah serius dari keduanya. “Ada apa, ya?” ucap Jo bernada pelan.
“Pa, Ma. Ada apa manggil Jo ke mari?”
“Sini. Duduk, Nak. Papa mau bicara serius denganmu.” Papanya meminta Jo agar duduk di sampingnya.
Deg!
Jantungnya berdegup kencang mendengar dan melihat raut wajah serius dari papanya. Hatinya menjadi tak karuan ketika menatap sepasang mata hitam itu.
Jo menarik napas panjang untuk mengurangi rasa tak karuan yang menghinggapi pikirannya.
“Jo.” Papanya membuka percakapan.
“Iya, Pa.” Jo menjawab dengan degup yang masih kencang.
“Papa dan mama sudah berunding.”
Hening.
Jo tidak berani menatap wajah papanya. Sedangkan rasa berat berucap, dirasakan oleh Rendy yang tak lain, papa dari Jovanka.
Masih hening. Belum ada percakapan di dalam ruang keluarga itu. Jantung Jo semakin berdegup kencang.
“Papa mau menjodohkan kamu, Nak.” Akhirnya kata itu terlontar dari bibir Rendy.
“Apa?” Mata Jo membulat, kaget. Mendengar ucapan yang terlontar dari bibir papanya.
“Iya, Nak. Demi masa depan kamu,” ucap mamanya menimpali.
“Tapi Jo udah punya pacar, Pa!” Mata Jo mulai berkaca-kaca. Hatinya tak menerima keputusan yang diambil oleh kedua orang tuanya.
“Siapa? Pekerjaannya apa?” tanya papanya.
“Dia teman sekolah, Jo, Pa. Adik kelas Jo.” Jo tertunduk.
“Adik kelas? Dia bisa apa nanti? Bisa bikin kamu bahagia?” tanya papanya dengan mata yang membulat.
Jo terdiam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut papanya.
“Dia itu seorang dokter, Jo. Kamu bisa hidup terjamin apabila kamu menikah dengannya.” Mamanya menimpali.
“Tapi Jo gak tau dia, Mam. Belum tentu juga Jo bakal hidup bahagia dengannya meskipun ia seorang dokter. Karena hati Jo hanya mencintai pacar Jo sendiri bukan dokter yang mau mama dan papa jodohkan!”
Air matanya tak terbendung. Ia merasa sendiri memperjuangkan cintanya tanpa ada yang mendukung atau hanya sekedar memberikan suport untuknya.
“Kami sudah mengambil keputusan Jo. Masalah cinta, itu nanti bisa terjalin ketika kalian hidup berumah tangga,” ucap papanya dan berlalu pergi meninggalkan Jo di ruang keluarga.
***
Vicky merasa kesepian ketika Rhiena telah kembali ke Jakarta beberapa hari yang lalu. Ia membayangkan, kalau saja sudah sekolah di Jakarta. Pasti dirinya bisa lebih sering bertemu dengan Rhiena yang sudah menjadi pacarnya saat ini.
Dret ... Drett ... Hape Vicky bergetar. Ia mengambil hape dari saku celananya.
“Info DFS?” Vicky membaca nama dari pengirim email yang masuk di hapenya.
Vicky membuka email dari DFS (Deraya Flying School). Ternyata mereka menginfokan siswa yang telah masuk sebagai penerima beasiswa berprestasi dan data yang masuk sebagai siswa pendaftar umum/tanpa beasiswa.
Vicky men-scrool data dari tanpa beasiswa. Namanya telah terdaftar di sana.
“Yes! Akhirnya Gue keterima di DFS. Gue bisa sering ketemu sama Nana. My lovely kitty.”
Hati Vicky bahagia tatkala ia membaca email dari sekolah penerbangan itu. Namun, hatinya kembali resah tatkala ia belum membaca nama Rey di dalam sana.
Vicky kembali mengambil hapenya dan membuka inbox email yang tadi ia baca. Ia terus mencari nama Reynand dari daftar penerimaan beasiswa berprestasi.
Matanya mulai lelah karena data nama yang tercantum begitu banyak. Ia terus membaca satu per satu data dirinya.
“Reynand?” Matanya Vicky seperti hendak keluar ketika ia melihat nama Reynand juga tertulis di sana.
Hatinya bertambah bahagia karena sahabatnya juga bisa ke terima sekolah di sana. Namun, kebahagiaannya seketika terhenti tatkala ia meneruskan nama data diri itu.
“Reynand Wicaksono?” Vicky mendengus kesal ketika membaca akhiran dari nama itu.
__ADS_1
Vicky terus mencarinya sampai di kolom ketujuh terakhir. Ada lagi nama yang sama, yaitu Reynand.
“Reynand Adam.”
“Yey! Akhirnya ia keterima juga! Cihuy!” Vicky kembali bersorak.
***
Prak!
Suara gelas yang terjatuh dari tangan Rey.
“Rey, Lu kenapa? Ada yang luka gak?” tanya salah satu teman yang bekerja bareng dengannya.
Deg!
Hati Rey tiba-tiba tidak enak ketika gelas yang ia pegang terjatuh. Walau ia yakin membawa gelas itu dengan hati-hati tapi bisa terlepas dari genggamannya.
“Rey!” Temannya kembali bertanya.
“Gue gak papa kok.” Rey tersadar dari lamunannya.
“Udah, biar Gue yang beresin. Lu kembali ke meja Lu aja sana. Jangan ngelamun, Rey.” Pesan teman kerjanya.
Tanpa ada ucapan. Rey kembali ke meja kerjanya. Di depannya terlihat sebuah mesin espresso pembuat kopi.
Rey duduk di kursinya tempat ia biasa menunggu waitress yang akan memesan pesanan customer.
Entah kebetulan atau pertanda. Keadaan cafe juga sepi pada malam itu. Membuat Rey semakin hanyut dalam perasaan resahnya. Hingga cafe tutup, Rey masih teringat akan jatuhnya gelas dari genggamannya.
Rey mengeluarkan hand phone dari saku celananya. Ia duduk di luar cafe ketika keadaan semuanya sudah sepi bahkan semua karyawannya telah meninggalkan cafe itu. Ia menggeser layar hand phone dan mencari nama Nana di dalam list telponnya.
Rey teringat akan mamanya yang kadang sering sakit. Mamanya yang selalu kontrol penyakitnya tanpa sepengetahuan anak-anaknya.
Tut .... Menghubungkan telpon.
‘Iya, bang. Tumben video call?’
Rhiena mengangkat VC darinya. Ia terlihat memakai baju tidur, rambut yang sedikit berantakan dan berada di atas ranjangnya. Mungkin ia sudah tertidur karena Rey video call sekitar jam sebelas malam.
‘Loh ... Abang kenapa masih ada di depan cafe?’ Mata Rhiena terbelalak karena hari sudah larut malam tapi kakaknya masih berada di luar kostnya.
‘Gak papa. Abang cuma mau tanya, keadaan mama baik-baik aja, kan?’ tanya Rey ragu.
‘Mama baik-baik aja kok. Abang yang terlihat kurang baik, ada apa bang? Coba cerita sama Nana.’ Bujuk Rhiena.
‘Enggak tau, Na. Tiba-tiba hati abang gak enak ketika abang telah menjatuhkan gelas di tempat kerja. Abang ingat mama.’
Rey terlihat mengusap air bening yang hampir terjatuh di pipinya dengan cepat. Membuat hati Rhiena menjadi sedih.
‘Abang, besok Nana ke Bandung jemput abang kalau abang mau ketemu mama. Mungkin abang rindu bertemu mama,’ ucap Rhiena.
‘Gak usah, Na. Abang baik-baik aja. Abang udah sedikit lega setelah kamu bercerita kalau mama baik-baik aja.’
‘Abang jangan sedih, ya? Kalau ada apa-apa jangan ragu hubungin Nana.’ Pinta Rhiena.
‘Iya, Na. Abang tutup dulu vodeo call-nya, ya? Abang mau pulang.’
‘Iya, hati-hati ya, bang.’
Seketika hand phone berubah menjadi hitam. Wajah Rhiena sudah tak tampak lagi dalam hand phone-nya.
***
Rhiena teringat ketika mamanya yang tiba-tiba menangis meminta bertemu dengan Rey karena beliau mimpi buruk tentang Rey.
“Apakah ini ada hubungannya, ya?” ucap Rhiena yang kini sudah kembali terbaring di atas ranjangnya.
Rhiena mulai menutup matanya walau hatinya telah gelisah. Badannya sudah merubah-rubah posisi tidur, namun nihil. Matanya tak terpejam dengan nyenyak. Ia masih ter bayangkan kakaknya ketika video call tadi.
Ia ingin bercerita keadaannya saat ini. Tapi, dengan siapa? Tidak mungkin juga kalau dirinya menceritakan ini pada mamanya. Yang ada nanti mamanya menjadi semakin panik kalau mendengar cerita ini.
Rhiena terus berusaha memejamkan matanya. Ia ingin terlelap karena lelah yang mendera tubuhnya. Namun, matanya terus terjaga karena pikirannya masih melayang memikirkan saudara kembarnya.
Drett ... Drett ... Gawai Rhiena bergetar. Ia mengambil gawai yang terletak di atas nakas samping ranjang tidurnya.
__ADS_1
“Kak Vicky?”
Mata Rhiena terbelalak, melihat nama yang tertera pada gawainya. Ia mengusap layar gawai dan membaca pesan dari kekasihnya.
Na, kak Vicky dan bang Rey telah keterima di DFS. Jadi nanti bang Rey bakal balik ke Jakarta. Isi pesan dari Vicky.
Rhiena tak menyangka. Bahwa diam-diam kekasihnya itu memperhatikannya. Dulu, Rhiena sempat bilang terhadap Vicky ingin kembali berkumpul bersama kakaknya. Dan kini, harapannya itu hampir terkabulkan berkat Vicky yang memasukkan data diri Reynand di sekolah penerbangan itu. Hati Rhiena kini bahagia.
Rhiena langsung video call Vicky. Karena ia ingin mendengar langsung dari mulut kekasihnya. Tak lupa ia sedikit menyisir rambut yang acak-acakan karena tadi ia sudah tertidur sebelum Rey menelepon.
‘Hai Kak?’ Rhiena melambaikan tangannya ketika kekasihnya telah terlihat dalam gawainya.
Vicky tersenyum, ‘Hai, Na? Kenapa? Kamu senang ya dengan kabar barusan?’
‘Iya Kak.’ Rhiena tersenyum sambil menutup mulut dengan tangan kanannya.
‘Tapi, Nana jangan kasih tahu siapa-siapa, ya? Tentang hal ini.’ Pinta Vicky.
‘Kenapa? Ini kan kabar baik, kak.’
‘Biar ini jadi surprise mama sama abangmu.’ Vicky menjelaskan.
‘Oke! kak.’ Rhiena mengangkat jempol tangannya.
‘Sip, ya udah. Tidur gih. Entar malah sakit lagi.’
‘Iya. Kakak juga tidur, ya? Nana gak mau kakak sakit kayak dulu sampai masuk klinik, bye!’ Rhiena melambaikan tangan dan mematikan video call-nya bersama Vicky.
Rhiena membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan tertidur pulas karena hati yang bahagia mendengar kabar dari kekasihnya. Ibarat pribahasa, satu kali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Mungkin pribahasa itu melukiskan perasaan Rhiena saat ini. Bagaimana tidak? Selain ia bisa berkumpul kembali dengan kakaknya, ia juga bisa lebih dekat dengan kekasihnya.
***
Dengan wajah yang lusuh. Rey memanjat gerbang kost yang telah terkunci. Pintu kost di kunci dari jam sebelas malam, sedangkan Rey baru sampai kost jam dua belas malam.
Ia melangkahkan kakinya dengan gontai. Langkah kaki yang terayun, serasa tidak menapak ke lantai. Hatinya masih gundah dengan kejadian tadi di cafe itu.
“Ya Tuhan, sebenarnya apa yang sedang, atau bahkan terjadi denganku?” ucap Rey dengan bersuara pelan.
Rey membuka pintu kost yang terkunci dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Masih dengan hati yang tidak enak. Ia memaksakan tidur walau pikirannya masih melayang entah memikirkan apa?
Hati yang gelisah, ternyata telah mengalahkan keinginannya untuk tidur malam ini. Ia malah memainkan game on line sebagai pengalih keadaannya saat ini. Hingga pukul tiga dini hari. Matanya pun telah lelah dan ia tertidur dengan gawai yang masih berada dalam genggamannya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Rey dikagetkan dengan ketukan pintu kamarnya yang begitu kencang.
“Siapa, sih? Ganggu aja!” Gerutu Reynand.
Rey bangkit dari kasur lantainya dan melangkah untuk membuka pintu kamarnya.
Cklek. Pintu terbuka.
Terlihat sosok Vicky yang senyum sumringah di depan Reynand.
“Kenapa Lu?” Rey mengernyitkan dahi.
“Ada kabar bagus, bro!” ucap Vicky berapi-api.
“Paan?”
“Kita di terima di Deraya Flying School.” Terlihat ekspresi bahagia pada rona Vicky.
“What?” Rey kaget mendengar kabar itu.
.
Apakah Rey akan bahagia mendengar kabar itu? Ataukah malah sebaliknya?
>>Tunggu di cerita berikutnya😅✌
..
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁