
"Apa ini?" ujar si wanita yang tadi bertabrakan dengan Reynand.
Benda kecil berwarna gold berbentuk sayap dan logo penerbangan pesawat tersebut kini berada di tangannya. Dia sedikit terdiam ketika melihat benda kecil yang sering disebut pin/bros.
Wanita itu menyadari kalau dirinya berdiri di tengah jalan dan akhirnya ke samping untuk mengamati pin yang ada di tangannya. Suasana sudah ramai oleh penumpang dan pekerja yang ada di bandara.
Tidak disengaja, mata wanita itu melihat rombongan berseragam pilot dan pramugari hendak berjalan ke arahnya memakai pin seperti yang dia genggam.
"Oh ... rupanya pemilik pin ini seorang pilot," ucap si wanita. "Tapi, milik siapa? Tidak mungkin juga aku menanyai pilot satu persatu, bukan?" Wanita itu sejenak berpikir. Walaupun sebenarnya bisa saja dia menitipkannya pada resepsionis atau pekerja di sana.
Namun, dia mengingat kejadian barusan yang menimpanya. Seorang pria gagah dan tampan baru saja bertabrakan dengannya.
"Ah! Ini pasti milik Reynand," tebak si wanita.
Akhirnya dia berjalan lalu bertanya tentang di mana ruangan pilot yang bernama Reynand pada petugas di sana.
Tidak sulit untuk mencari Reynand karena dia cukup dikenal. Siapa yang tidak mengenalnya? Pilot muda dengan segudang prestasi yang memiliki paras yang tampan.
Kini wanita tersebut berdiri di depan pintu. Dia sedikit merapikan rambut dan juga pakaiannya sebelum mengetuk pintu. "Permisi?" ucap wanita itu.
"Siapa, ya?" gumam Elang ketika wajahnya menoleh ke pintu. "Masuk!" jawab Elang dengan suara lantang.
Elang mengernyitkan dahi ketika sosok wanita cantik berada di balik pintu yang kini telah terbuka. Sedangkan ekspresi lemas, terlihat dari wajah Reynand.
Dia lagi, ucap hari Reynand ketika wanita itu melangkah mendekat ke arahnya.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Elang ketika wanita itu telah berdiri di sampingnya.
"Maaf, saya ingin bertemu dengan Reynand," ucap wanita itu yang membuat Elang sedikit tersenyum pada Reynand.
"Oh ... silakan duduk." Elang menyuruh dengan ramah. "Rey, gue ke ruangan." Elang pun gegas berjalan meninggalkan Reynand dan wanita cantik tersebut.
Wanita itu tersenyum walau melihat ekspresi Reynand yang seolah tidak suka. Wajahnya terlihat tidak begitu ramah. Apalagi, Reynand masih kesal perkara istrinya yang menjadi tidak menyukainya hanya karena wangi parfum.
"Mau apa kamu mencariku?" ketus Reynand.
"Namaku Mala." Wanita itu menyebutkan namanya.
"Udah tau. Kan, dulu kamu sendiri yang memperkenalkan ketika ada di Jepang," ucap Reynand yang membuat bibir Mala tersenyum.
"Rupanya kamu masih mengingat namaku. Baiklah. Aku ke sini hanya ingin mengantarkan benda kecil ini. Pin ini punya kamu, kan?" tanya Mala yang menyodorkan pin berbentuk sayap berwarna gold di meja Reynand.
__ADS_1
Mata Reynand melihat pada benda pin tersebut. Kemudian, dia melihat ke baju bagian dada di mana biasanya benda tersebut tertancap di sana.
Benar saja, ternyata pin yang dia kenakan tidak ada di bajunya dan kemungkinan terbesar benda yang ditemukan oleh wanita itu merupakan miliknya.
"Hallooo ... pin ini milikmu, bukan?" Wanita itu melambaikan tangan tepat di wajah Reynand untuk memastikan karena Reynand yang seolah melamun.
"Kemungkinan iya. Karena seluruh pilot mempunyai benda ini. Terima kasih sudah mau mengembalikan pin ini," ucap Reynand.
"Aku Mala." Wanita itu kembali mengulurkan tangannya.
Rey melihat tangan yang kini terulur ke arahnya. Dia pun menjabatnya karena merasa wanita itu telah berjasa.
Sesungguhnya bukan sifat Reynand yang sombong. Dia tidak begitu suka dengan wanita yang terlalu agresif dan kepo terhadapnya. Mala mungkin termasuk wanita yang agresif di mata Reynand, sehingga pria tersebut kurang nyaman ketika Mala ada didekatnya.
"Ya sudah, aku permisi." Mala berdiri dari tempat duduknya.
"Oke! Sekali lagi, terima kasih."
Mala tersenyum lalu lalu meninggalkan ruang kerja Reynand.
Reynand meraih pin berbentuk sayap itu lalu mengingat saat-saat awal bergabung di penerbangan. Dari mulai bertemu Elang yang terlihat sombong. Bertemu Pak Wahyu–– Seorang lelaki menjabat sebagai Captain yang membimbing Reynand dari pilot pemula––co pilot hingga menjadi Captain untuk menggantikan posisi Wahyu yang telah pensiun.
"Jo?" Mata Reynand membulat ketika membaca sebuah nama yang ada dalam layar ponsel miliknya.
"Belum juga satu jam aku ninggalin dia, ternyata udah nelpon aja," kata Rey yang lalu menggeser screen ponselnya.
"Haii ... Sayang?" sapa Reynand ketika wajah cantik kini terlihat dalam layar ponselnya.
"Rey, aku mau minta izin mau ke rumah Papa, Mama, ya?" ujar Jovanka.
"Kapan?"
"Hari inilah. Aku ingin mengabarkan kehamilanku," kata Jovanka dengan seulas senyuman.
"Gak!"
"Loohhh ... kenapa?" Seketika ekspresi Jovanka terlihat sedih mendengar jawaban dari suaminya.
"Jangan sekarang, Sayang. Kamu mau ke rumah Papa Mama sama siapa?"
__ADS_1
"Kan aku bisa bawa mobil sendiri. Kalau enggak, pun, aku bisa diantar si Mamang," ujar Jovanka bermaksud memanggil nama security yang ada di rumah Reynand.
"Enggak!"
"Kok gitu, sih?" Bibir Jovanka mengerucut.
"Mulai saat ini, kamu gak boleh kemana-mana kalau enggak sama aku!"
"Rey, tapi aku mau ke sana pagi ini," rengek Jovanka yang membuat Reynand memutar bola matanya.
"Ya sudah. Tunggu di rumah biar aku pulang detik ini juga!"
"Eeehhhh ... jangan!"
"Ya, kan, buat antar kamu. Aku pulang dulu daripada membiarkanmu pergi ke rumah Papa Mama sendiri atau bahkan sama orang lain."
"Tapi, kan, Rey––"
"Sekali enggak, ya, enggak!"
Astaga, ni orang kenapa, sih, jadi galak begini? Mana posesif pula. Batin Jovanka dengan menatap kesal wajah Reynand.
"Pokoknya tunggu aku sampai pulang. Kalau tidak mau menunggu, aku yang akan pulang sekarang juga!" ucap Reynand tegas.
"Ya udah, ya udah. Aku nunggu kamu pulang kerja aja. Bye!" Jovanka menutup panggilan video call-nya dengan perasaan kesal.
Mata Reynand membulat ketika melihat wajah cantik istrinya yang menghilang karena memutuskan sambungan video call-nya.
"Laahhh ... kok dimatiin?" gumam Reynand sambil melihat layar ponsel yang ada dalam genggamannya.
Masih ada waktu sekitar lima belas menit untuk bersiap menuju pesawat. Hati Reynand merasa tidak tenang karena Jovanka menutup percakapannya dengan bibir mengerucut. Akhirnya, Reynand memilih untuk kembali menghubungi Jovanka daripada harus penasaran setengah mati yang mengakibatkan kurangnya konsentrasi ketika dia mulai mengemudikan pesawat terbang.
Rey kembali meraih ponsel lalu mengaktifkannya setelah dia me-non aktifkan sebelum memulai pekerjaannya. Kini, dia akan menghubungi Jovanka dan hendak meluruskan semuanya. Namun, Elang memintanya untuk bersiap-siap karena ada satu hal yang hendak dicek dalam pesawat.
"Ealllaahh ... Bang. Gue mau call dulu istri bentar, lagi ngambek dia," ucap Reynand setelah layar ponsel kembali aktif.
"Kagak bisa. Sekarang kita harus ke pesawat. Sepertinya ada system' baru di sana yang harus dibahas."
"Astaga! Ya udahlah." Reynand pun kembali me-non aktifkan ponselnya lalu bergegas mengikuti langkah Elang yang jauh lebih dulu berjalan.
"Tunggu!" Reynand memekik sambil berlari mengejar Elang.
__ADS_1
Kini, keduanya berjalan berdampingan hingga akhirnya berada dalam kabin pesawat. Semuanya telah siap dan Elang melihat pada raut wajah Reynand seperti ada yang dipikirkan.
"Untuk sementara, simpan yang rapi urusan rumah tangga lu. Fokus pada pekerjaan lu yang beresiko tinggi membawa nyawa banyak orang," kata Elang yang membuat hati Reynand merasa tersentil.