
Langkah kakinya terayun ke arah angkot yang berada di seberang jalan. Akhirnya, Rey mendapatkan pekerjaan yang sama sekali tidak mengganggu pelajaran di sekolahnya.
Rey bersyukur, di tengah kesulitan ekonomi, ia mendapatkan pekerjaan sebagai guru les anak-anak.
Di sepanjang jalan, kendaraan roda dua lebih mendominasi. Sepintas, bayangan Rey melayang.
‘Seumpama aja, Gue punya motor,’ gumam dalam hatinya.
.
“Kiri, Bang!”
Mobil angkot berhenti di depan gerbang kost yang cukup besar.
Rey melangkahkan kaki keluar dari pintu mobil angkot yang sesak dengan penumpang.
“Udah balik, Lu?” ucap Vicky yang sedang makan di depan teras kamarnya.
“Udah.”
“Rey.” Panggil Vicky.
Rey menoleh.
“Jo suka ya, sama Lu?”
“Kepo!” Rey masuk dalam kamar.
“Tu anak, kalau masalah cewek tertutup banget, hadeuh!” Vicky lanjut menyuapkan nasi yang ada di piring.
.
Di seberang sana. Jovanka membayangkan wajah Rey yang sedang tersenyum. Di atas ranjang besarnya, Jo menghempaskan tubuhnya dan memeluk boneka beruang kesayangannya.
“Sugar, (nama boneka beruang) Kamu tau gak? Aku tuh lagi jatuh cinta sama seseorang. Wajahnya tampan, kulitnya putih, berhidung mancung dan badannya tinggi banget. Entah dari kapan Aku telah menyukainya. Apakah ini yang dinamakan cinta pertama? Aku hanya bisa cerita sama Kamu, Sugar.”
Jo memeluk boneka beruang yang ia panggil Sugar dan berbaring di atas ranjangnya.
***
Selepas shalat magrib. Salsa datang ke rumah Jovanka. Ia merasa penasaran tentang cerita Tristan.
Ting ... Tong .... (Suara bel)
CKLEK (Pintu dibuka)
“Non Salsa?” ucap asisten rumah tangganya Jo.
“Jo ada, Bi?” Tanya Salsa dengan senyuman ramah.
“Ada, Non. Di kamarnya. Mari masuk.”
Bi Mumun dan Salsa masuk dalam rumah yang mewah. Rumah seorang pengusaha sukses di Kota Bandung.
“Loh, kok kosong, Bi? Pada ke mana?” Tanya Salsa dengan bola mata yang melihat ke tiap sudut ruangan.
“Belum pada pulang, Non. Biasanya larut malam. Mari Bibi antar ke kamarnya Non Jovanka.”
Bi Mumun berjalan menuju tangga mengarah ke kamarnya Jo, sedangkan Salsa mengekor dari belakang.
“Udah, biar Salsa yang ketok, Bi. Bibi lanjut kerja aja,” pungkas Salsa.
“Baiklah, permisi Non.”
Bi Mumun melenggangkan kaki menuju tangga dan Salsa mengetuk pintu kamar Jovanka.
“Jo ....” Sambil mengetuk pintu.
“Ya!” Jo menyahut dari dalam kamar.
CKLEK (Pintu terbuka)
“Masuk, Sa!” ucap Jo.
Jo dan Salsa masuk dalam kamar. Kamar yang besar dengan perabotan yang serba besar. Kasur yang besar dan lemari pakaian yang besar juga.
Kamar Jo di cat dengan warna pink yang mendominasi. Dengan beberapa poster cowok ganteng yang menempel di dinding kamarnya. Foto-foto Jovanka pun juga banyak yang terpasang dengan bingkai yang manis.
Mereka mengobrol di atas ranjang dengan boneka yang mereka peluk.
“Jo, Gue penasaran cerita Tristan. Dia ngapain Lu, sih?” Netra Salsa menatap tajam.
Jo tertunduk.
Hening sesaat.
Jo menarik napas panjang. Seakan ketika menceritakan hal tentang Tristan, memerlukan energi yang besar.
Jo membuang napas “Hufff.”
“Tristan, hampir menodai Gue dalam kamar hotel, Sa. Ketika Gue masih berhubungan baik dengan Fanya.”
“Kok, bisa? Karena hal ini, Lu jadi jauh dari Fanya?” tanya Salsa memastikan.
Jo mengangguk.
“Waktu itu. Fanya ngajak Gue nongkrong di Cafe, ternyata Fanya telah janjian dengan Tristan di Cafe itu. Setelah Tristan datang, Fanya pergi. Gue gak tau kalau Tristan kasih obat tidur di minuman Gue. Gue tertidur dan dibawa ke hotel. Di kamar hotel itu, Tristan hampir menodai Gue yang sedang tidur karena pengaruh obat tidur.” Air mata Jo menetes.
“Terus?”
“Rey, yang nolong Gue. Entah dia tahu dari mana. Tiba-tiba saja Rey telah adu jotos sama Tristan dalam kamar hotel itu.”
“Astaga, Jo! Sorry, Gue gak nyangka kalau Tristan seberengsek itu. Fanya juga! Kenapa Dia berbuat seperti?” Fikiran Salsa menerawang.
“Entah.”
“Ya udah, jangan sedih lagi. Main ke tempat Rey, yuk?” Ajak Salsa.
“What?”
“Ke tempat Rey,” ucap Salsa dengan nada santai.
__ADS_1
“Lu tau dari mana?” Tanya Jo menyelidik.
“Mis Kepo mah selalu up to date masalah beginian, Neng ... haha.”
Jo mendelik. Heran.
“Udeh! Cepet ganti baju yang cantik, sana!” Perintah Salsa.
Dengan segera, Jo turun dari ranjang yang banyak dengan boneka. Ia membuka almari yang besar, membuka pintu lebar-lebar. Matanya tengah fokus memilih baju yang menurutnya akan menunjang penampilannya di mata Rey, orang yang ia sayang.
“Yang ini, enggak!” Jo melempar baju je ranjang.
“Yang ini, udah norak ah!” Dilempar lagi bajunya ke ranjang.
“Yang ini terlalu fullgar. Salsaaaa! Tolongin Gue!” Teriak Jovanka meminta bantuan.
Jo sedang bersiap memilih baju dengan bantuan Salsa yang memilih baju dan memoles sedikit wajah cantik Jovanka.
“Sip! Perfect!” ucap Salsa.
Jo menatap wajahnya di depan cermin. Ia agak sedikit malu ketika melihat wajahnya dalam cermin.
“Gimana? cantikkan, riasan make up Gue? Gak berlebihan, natural look deh jatuhnya.”
Jo tersenyum.
“Makasih, ya, Sa. Lu emang sahabat terbaik Gue” Jo memeluk Salsa, sahabatnya.
Jo tampil dengan mini dres yang tidak terlalu pendek. Memberi kesan kasual dengan mini dress yang panjangnya masih menutupi lutut. Rambut Jo yang hitam dan panjang biasanya diikat bak ekor kuda, sekarang di gerai dan disematkan jepit kecil pada rambutnya menambah cantik pada wajahnya.
Jo menambahkan jam tangan dan sepatu sneakers yang memberikan kesan santai. Tak lupa tas selempang kecil sebagai alat untuk menyimpan hape dan dompetnya.
***
Rey yang berada di kamar kost-nya sedang menikmati permainan game dalam laptop. Tak terasa, Rey telah meninggalkan Kota Jakarta sekitar dua bulan.
“Rey.” Vicky menghampiri Rey yang tengah asyik dengan laptopnya.
“Paan?” Mata Rey masih terpaku ke layar laptop.
“Lu cinta gak sih sama kak Jo?”
“Ish! Kepo lah, Kau!” Rey masih memainkan game dalam laptop.
“Emang, tipe Lu kek mane? Gue penasaran.”
Rey masih fokus memainkan game yang ada dalam laptopnya.
“Heleh! Malah asyik sendiri!” Vicky berlalu pergi.
Tak berselang lama, ada mobil yang memasuki pintu gerbang dalam kost Reynand.
Terlihat, dua pasang kaki wanita yang keluar dari kedua pintu samping kiri dan kanan. Vicky menatap kedua wanita yang kini tengah menghampirinya.
“Ka Jo, Kak Salsa?” Mata Vicky membulat seolah mau loncat dari tempatnya.
“Hai, Vic. Reynand ada?” Tanya Salsa dengan senyum manisnya.
“A - ada Kak. Silakan duduk. Saya panggilkan Rey,” ucap Vicky yang bergegas masuk dalam kamar.
“Re ... Rey!” Kata Vicky yang memanggil dengan terbata.
“Hem.” Ucap Rey yang masih memandang layar laptop.
“Jovanka datang!”
“Jangan ngasal, Lu!” masih sibuk dengan layar laptop.
“Suer! Gue serius!” Vicky mengangkat dua jarinya.
“Di mane?” Pertanyaan Rey masih santai, karena Rey mengira Vicky sedang mengerjainya.
“Di luar.”
Rey menutup laptopnya dan bangkit dari kasurnya.
“Lu ganti dulu baju kek, mau ketemu cewek cantik juga.”
“Heleh!” Rey keluar kamar menuju teras depan dengan kaos oblong warna putih dan celana jeans di bawah lutut.
Mata sipit Rey terbelalak ketika melihat Jo dan Salsa yang sedang duduk di kursi tamu. Langkah kakinya seolah mematung ketika melihat penampilan Jo yang terlihat berbeda pada malam ini. Semakin cantik.
Balik lagi gak, ya? Ucap dalam hati Reynand.
Namun, Salsa telah melihat Rey yang tengah berdiri dari sudut ruangan.
“Rey?” ucap Salsa.
Rey tersenyum dan Jovanka menoleh ke arah Reynand. Akhirnya, Rey melangkahkan kakinya maju ke arah Jo dan Salsa.
“Malem Kak,” ucap Rey sambil tersenyum.
“Malam, Rey. Sorry, Kita ganggu Lu gak, Rey?” Tanya Salsa.
“Enggak. Emang ada apa?” tanya Reynand.
“Nongkrong bentar, yuk? Jo katanya bete,” ucap Salsa tersenyum.
“Ish! Kok malah Gue?” Lengan Jo menyenggol Salsa.
“Oh, ya udah. Tunggu bentar ya, Kak. Gue mau ambil jaket bentar.”
“Oke!” jawab Salsa.
Rey melangkahkan kaki, masuk dalam kamar. Ia mengambil jaket dan mengetok pintu kamar Vicky yang berada di samping kamarnya.
“Vic!” Tok ... Tok ... Tok ....
“Paan?” Vicky membuka pintu.
“Temenin Gue jalan, yok? Kak Salsa ngajak jalan Gue. Gue malu, masa jalan sama cewek-cewek.” Ajak Reynan.
__ADS_1
Vicky mendelik. Matanya mengintai dan mengamati baju yang dipakai oleh sahabatnya itu.
“Lu yakin mau berangkat dengan pakaian begini?” Tanya Vicky dengan sinis.
“Lah ... emangnya salah?”
“Sini, Lu!” Vicky menarik tangan Rey masuk dalam kamarnya.
“Mo ngapain, Lu?” tanya Reynand.
“Diam, Lu! Nurut aja, napa?”
Vicky membuka lemari pakaiannya dan mengambil beberapa koleksi baju kemeja miliknya.
“Tuh! Lu mau pakek yang mana?” Vicky menyuruh Rey untuk memilih kemejanya.
“Buat apa sih? Ribet ah!” Elak Reynand.
“Ayok pilih! Kalo enggak, Gue juga gak mau ikut pergi bareng Lu!” Ancam Vicky.
“Tuh, sekalian ganti celana Lu! Serah mau ambil yang mana.” Timpal Vicky lagi.
Rey menggaruk kepala. Heran kepada Vicky yang harus seribet itu? Dengan terpaksa, Rey menurut. Mengambil kemeja warna hitam dan jeans warna blue-black.
“Sip!” ucap Vicky.
Mereka keluar dari pintu kamar Vicky. Rey memakai sandal jepit dan hendak melangkahkan kakinya ke arah teras depan.
“Stop!” ucap Vicky menahan langkah kaki Reynand.
Vicky masuk dalam kamar dan mengambil sepatu miliknya.
“Sepatunya buat Lu. Pakek aja Gue udah gak pakek kok,” ucap Vicky.
“Oke! Thank’s, Bro!”
Jo terkesima melihat penampilan Rey yang semakin terlihat keren dengan wajah tampannya.
"Biasa aja, sih! gitu banget ngeliatinnya?" Salsa menyenggol tangan Jovanka.
"Idih, apaan sih?" Jo berkilah.
Akhirnya Reynand, Vicky, Jo dan Salsa meluncur dengan mobil milik Salsa. Tepat di salah satu Cafe di Braga, mobil Salsa diparkirkan.
“Ayok!” ucap Salsa.
Rey memandang wajah Jo yang semakin cantik menggunakan polesan make up natural look, gak berlebihan. Bajunya juga sudah mulai rapi gak terlalu seksi lagi seperti dulu. Mereka berempat duduk di satu meja.
“Ayok pesan apa? Gue lagi ulang tahun, Nih.” Salsa tersenyum.
Mata Jo melebar dan berbisik pelan ke telinga Salsa.
“Sejak kapan ultah Lu jadi dua kali dalam setahun?” tanya Jo berbisik.
“Sejak hari ini,” ucap Salsa menjawab dengan berbisik.
“EDAN! (GILA!)” celetuk Jovanka.
“Mau pesan ... Aww!” Kaki Vicky di injak Reynand.
“Kami ngikut aja,” ucap Rey tersenyum.
Mata Vicky mendelik kesal.
Makanan dan minuman pun telah di pesan. Mereka menunggu agak lama karena makanan yang mereka pesan lumayan banyak.
“Vic, anter Gue ke mini market Yuk?” Ajak Salsa.
“Mau ngapain?” Tanya Vicky santai.
“Beli sesuatu.” Lengan Vicky di tarik oleh Salsa tanpa menunggu persetujuan dari Vicky.
Mereka berlalu. Tinggallah Jo bersama Reynand dalam meja itu.
Keadaan menjadi canggung.
Hening.
Mereka mematung tanpa kata. Hanya sesekali tersenyum tatkala netra telah saling pandang. Lengkungan senyum yang terukir, seakan menjadi ajang salam sapa mereka.
Setelah lima belas menit berlalu. Akhirnya Salsa dan Vicky kembali dan bergabung di meja mereka.
***
“Balik, yuk! Udah malem.” Ucap Jo.
“Oke!” Jawab Salsa.
Perjalanan di tempuh pada malam ini. Malam yang indah yang terlewatkan hanya dengan berkomunikasi lewat pandangan dan senyuman.
Ada rada menyesal di hati Rey ketika mulut terasa terkunci karena grogi yang mendera.
‘Lain waktu mungkin Gue bisa ngobrol sama Jo. Walau, entah waktunya kapan?’ ucap hati Reynand.
Mobil terparkir di halaman Kost Reynand.
Rey dan Vicky membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.
“Rhiena?” ucap Reynand dengan mata terbelalak melihat gadis yang duduk di kursi teras depan kost-nya.
Terlihat muka kesal pada wajah Jo ketika melihat gadis cantik, muda dan tinggi bak seorang model profesional.
“Balik, yu, Sa!” Ajak Jo.
Salsa melihat ekspresi Jo yang seperti cemburu, akhirnya ia menuruti ajakan Jo tanpa bertanya.
“Rey! Kita pulang, ya? Thank’s waktunya malam ini.” Ucap Salsa dan berlalu pergi.
Bersambung..
Rhiena itu siapa lagi, ya?🤔
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁