Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 26. Mengorek Rahasia Rey.


__ADS_3

Rey berkemas memasukkan kembali beberapa potong pakaian yang ia bawa. Tak lupa, ia membawa sedikit buah tangan untuk Vicky sahabatnya.


Rhiena mengantar Reynand sampai stasiun kereta api.


“Bang, hati-hati, ya?”


Rhiena tampak sedih melihat Reynand, mungkin batinnya merasakan apa yang saudaranya rasa saat ini. Netranya terlihat berkaca-kaca.


“Kamu kenapa, Na?” tanya Rey.


“Entah. Aku merasa sedih dengan keadaan abang. Abang baik-baik saja, kan?” Rhiena memastikan.


“Abang baik-baik saja, Na.” Rey berbohong.


Hening.


Air mata Rhiena kembali menetes. Mungkin itu merupakan ikatan persaudaraan. Terlebih mereka merupakan saudara kembar, lahirnya pun hanya berbeda tiga menit saja.


“Hey ....”


Rey mengangkat dagu dan memandang lekat wajah adiknya yang sedang tertunduk sedih.


“Abang gak papa kok, Na. Nana tenang aja,” elak Reynand.


“Abang jangan bohong! Nana tau, ada yang abang sembunyikan dari Nana.”


Rhiena memandang dengan sorot mata yang tajam.


Rey terdiam.


Ia merunduk sehingga Rhiena semakin percaya kalau saudara kembarnya itu sedang mempunyai masalah.


“Apa abang sakit?”


Rey menggelengkan kepala.


“Terus apa? Jangan bo’ongin Nana, bang. Nana janji, akan jaga rahasia dari siapa pun termasuk mama!”


Kereta masih belum sampai. Waktu pemberangkatan yang tertera pada tiket kereta api menujukan pukul delapan pagi, sedangkan sekarang baru jam tujuh. Rhiena masih punya satu jam untuk mengorek Rahasia di balik Reynand, saudara kembarnya.


“Nana janji, akan jaga rahasia abang?” ucap Reynand.


“Iya. Abang percaya sama Nana, kan? Kalau Nana bukan orang yang bocor?”


Tatap Rhiena dengan sorot mata tajam.


“Sesungguhnya, ....” ucapan Rey terhenti. Lidahnya terasa kelu untuk bercerita masalah pribadinya yang ia simpan rapat-rapat.


Rhiena menunggu, sampai Reynand mau bicara.


“Abang sedang sedih.”


Mata Rhiena membulat, tapi ia masih sabar menunggu kelanjutan cerita dari saudara kembarnya itu.


“Sebenarnya abang udah punya pacar di Bandung tapi terhalang restu orang tuanya, terlebih papanya,” terang Reynand.


Hufffff ...


Rhiena membuang napas, “pantesan, abang enggak mau Nana jodohin sama Princess,” ucap Rhiena. “Terus sekarang bagaimana?” sambungnya lagi.


“Dia sudah dijodohkan dengan orang lain.”


“Abang diam aja? Abang gak berusaha yakinin papanya, gitu?”


“Sudah.”


“Lalu?”


“Papanya tidak memberikan kesempatan untuk abang.”


“Kenapa?” Dahi Rhiena mengernyit.


“Karena abang hanya seorang siswa, sedangkan laki-laki yang dijodohkannya itu merupakan seorang dokter muda dan sudah mempunyai klinik, berat buat abang, Na!”


“Abang mestinya ungkap siapa keluarga kita. Kalau memang papanya seorang pengusaha, pasti dia tahu tentang perusahaan kita. Karena, perusahaan mama kan menyuplai banyak barang ke Bandung, pasti dia tau. Paling engga, sudah pernah mendengar nama perusahaan keluarga kita!” ucap Nana panjang lebar.


“Udah, Na. Abang tidak mau membahasnya.”


“Tapi, bang ....” ucapannya terpotong oleh Reynand.


“Udah. Biarlah ini menjadi rahasia perjalanan hidup abang. Kalau memang dia jodoh abang, pasti akan dipersatukan,” ucap Rey dengan penuh keyakinan.


Tuttttt ....


Suara kereta api, yang menandakan bahwa kereta akan datang.


Rey bangkit dari kursi stenlis itu. “Abang berangkat ya, Na?”


“Hati-hati, bang.” Rhiena memeluk erat saudara kembarnya itu.


Rey membalas pelukan adik kembarnya dan melepaskannya perlahan karena kereta sudah ada di depan mata.


“Udah, jangan nangis lagi.”


Rey mengusap air mata di pipi adik kembarnya dan sedikit mengacak rambut adiknya.

__ADS_1


“Dah ... Na, jaga diri baik-baik dan jagain mama juga, ya?”


“Selalu bang. Tanpa abang minta. Abang juga jaga diri baik-baik di sana. Doa Nana selalu yang terbaik buatmu.”


Rey masuk dalam gerbong kereta api. Ia melangkah mencari nomor tempat duduk sesuai dengan tiket yang ia punya.


Terlihat Nana masih menunggu. Ia berdiri dengan tatapan yang entah.


Nana melambaikan tangannya ketika kereta api telah melaju. Rey pun melambaikan tangannya hingga sosok Nana semakin mengecik bahkan sudah tak terlihat dari pandangannya.


***


Sementara di sisi lain, ada Jovanka yang semakin sibuk dengan sekolahnya. Persiapan ujian nasional telah banyak menyita waktu untuk belajar.


Hari-hari Jovanka habiskan dengan belajar, ikut les mata pelajaran yang akan diikut sertakan ujian nasional dan sesekali bertemu dengan Alexy.


.


Sengaja Rey ingin menemui Jovanka di sekolah. Dari Stasiun kereta api, ia langsung menuju ke sekolah dimana kekasihnya menimba ilmu.


Sebenarnya, Rey ingin mencurahkan rindu pada kekasihnya. Ia bersemangat walau tubuhnya didera lelah.


Sesungguhnya, Rey telah membawa bingkisan kecil yang akan di berikan untuk kekasihnya itu.


.


Bel sekolah telah berbunyi pertanda waktu sekolah telah berakhir. Jo dan Salsa berjalan di koridor sekolah. Melewati ruang kelas yang sudah ditinggal oleh siswanya, kosong. Tinggal beberapa yang masih ada dalam kelas.


“Naura!” Alexy melambaikan tangannya.


“Ciee ... Sekarang dijemput calon suaminya, nih?” goda Salsa.


“Dih, apaan sih!” elak Jovanka.


Terlihat rona merah pada pipi Jovanka walau ia baru mencoba membuka hati untuk Alexy. Mungkin, Jo senang karena Rey sedang tidak ada di sampingnya, sehingga adanya perhatian Alexy membuatnya bahagia.


“Hai,” sapa Alexy.


Jo teraenyum.


“Hai juga, om. Jo, aku balik duluan, ya?” ucap Salsa.


“Oke!”


Alexy menjemput Jo dengan mobilnya.


Rey melihat kekasihnya yang akan menaiki mobil. Ia ingin berteriak tapi di sana banyak orang. Ia tidak ingin mengganggu orang lain, terlebih itu merupakan tempat umum.


Rey berlari mengejar Jo yang terlihat akan memasuki mobil. Ketika itu, Rey tidak melihat Jo dengan siapa. Karena terhalang oleh siswa yang masih banyak melewati mereka.


Bruk!


“Rey?” Mata Salsa membulat melihat Rey berada di sana.


Rey pun terhenti karena bingkisan itu terjatuh. Tapi, ternyata bukan hal itu yang membuatnya mematung. Rey melihat seorang laki-laki yang telah menjemput pacarnya.


“Jo,” gumam Rey pelan, bahkan hampir tak terdengar.


Salsa bisa melihat kesedihan di mata Reynand. Sehingga ia melupakan barang miliknya yang ia jatuhkan kala itu.


Rey berbalik arah dan berjalan tanpa menyapa Salsa.


“Rey, tunggu!” Salsa mengejar langkah kaki laki-laki jangkung itu. Namun sayang, Salsa gagal mengejar Reynand yang sudah naik mobil angkot.


“Sialan!” pekik Salsa ngos-ngosan.


Salsa melihat paper bag kecil yang Reynand tinggalkan. Awalnya ia bingung harus berbuat apa dengan paper bag itu. Akhirnya, ia berinisiatif untuk mengembalikannya pada Rey.


Salsa masuk dalam mobilnya dan meluncur ke kost Reynand walau ia sedikit lupa. Karena Salsa baru satu kali ke kost-nya Reynand.


***


Di dalam angkot, Rey melihat Emillia yang sedang membuka kap mobil dengan bersusah payah, sehingga Rey berinisiatif untuk membantunya.


“Kiri, bang!” ucap Rey memberhentikan angkot.


Angkot pun menepi di pinggir jalan dan Rey membayar ongkos angkot itu. Rey menyeberang, karena mobil Emillia ada di seberang jalan.


“Mobilnya kenapa, tan?”


Emillia tertegun. Ia tidak percaya kalau yang ia dengar itu seperti suara orang yang ia sukai.


Apa aku mimpi? Atau kah aku salah dengar? Umpat dalam hati Emillia.


Emillia memastikannya. Ia menoleh ke arah sumber suara yang ia pikir itu merupakan suara laki-laki yang ia sayang.


“Rey?”


Mata Emillia membulat sempurna ketika laki-laki jangkung itu sedang berdiri di sampingnya.


“Mobilnya kenapa, tan? Boleh Rey bantu?” tanya Rey ramah.


“I-iya, Rey. Entah kenapa mobilku tiba-tiba tidak bisa distater,” ucap Emillia.


Rey membuka kap mobil itu. Ia mengecek mesin mobil dan yang lainnya.

__ADS_1


Rey tersenyum.


“Kenapa mobilnya, Rey? Kok tersenyum?” tanya Emillia heran.


“Tante kebiasaan. Air radiatornya habis.” Rey kembali tersenyum.


Emillia malah hanyut ketika melihat senyum Rey yang mengembang dengan mata yang semakin menyipit. Matanya terpaku melihat Reynand.


“Mana airnya, tan?”


Rey mendongak dan mengulurkan tangannya. Meminta air radiator pada Emillia.


Rey melihat mata sayu Emillia yang sedang menatap matanya yang sipit. Rey melambaikan telapak tangannya tepat di wajah Emillia.


“Tante? Hei ....” Rey melambaikan tangannya lagi.


Emillia baru tersadar ketika telapak tangan Rey sudah ada di depan wajahnya.


“Eh, iya. Gimana-gimana? Maaf aku gak denger, Rey.” Emillia tersipu malu.


“Air untuk radiator,” ucap Rey sambil tersenyum.


Emillia membuka pintu mobilnya dan mengambil air minum dalam botol kemasan.


“Ini.” Emillia menyerahkan.


Tak berselang lama. Setelah air itu di tuang ke dalam radiator mobil, Emillia menstaternya.


Greng!


Suara mobil kembali menyala.


“Udah beres, tan!” ucap Reynand.


“Oke!” suara Emillia dalam mobil.


“Rey, makan siang yuk? Sebagai tanda terima kasih aja,” ujar Emillia setelah ia turun dari dalam mobil.


“Gak usah tante. Rey iklas kok Rey juga gak laper kok,” bantah Reynand.


Krukkkkk ....


Suara bunyi perut Reynand.


Ya ampun nih perut malu-maluin aja! Pekik dalam hati.


Emillia tersenyum.


Tanpa banyak bicara, Emillia menggandeng lengan Reynand dan menyuruh ia agar masuk ke dalam mobil.


“Tan, maaf, ya? Malah jadi merepotkan,” ucap Reynand.


“Yang ada juga aku yang makasih. Tanpa kamu, mungkin aku masih kepanasan di pinggir jalan. Makasih ya, Rey.”


Reynand tersenyum.


.


Emillia mengajak Reynand ke salah satu restoran yang cukup mewah di kota Bandung.


“Mau pesan apa, Rey.”


“Terserah tante. Rey ikut aja.”


Emillia pun memesan makan dan minuman. Sembari menunggu pesanan datang, Emillia menceritakan tentang Jovanka pada Reynand.


“Rey, tau gak kalau setelah Jovanka lulus sekolah. Dia akan dinikahkan sama Alexy?”


Entah apa maksudnya, tiba-tiba Emillia berucap seperti itu.


Mata Rey terbelalak mendengar kabar itu. Kabar yang teramat buruk dalam hidupnya.


“Rey gak tau, tan.”


“Masa, sih? Memangnya Jo enggak bilang sama kamu?” ucap Emillia santai.


Rey menggelengkan kepala.


Lengannya sudah mengepal di bawah meja yang ia sembunyikan. Tak kuasa mendengar kabar itu.


Enggak, enggak mungkin! Pasti tante Emillia bohong. Tapi kenapa juga tadi dokter Alexy menjemput Jovanka? Umpat Rey dalam hati.


“Iya. Rencananya, Jo akan dinikahkan dengan dokter Alexy. Setelah itu, Jo akan kuliah mengambil jurusan kedokteran. Karena, keluarga Alexy hampir semuanya dokter.”


“Maaf tante, Rey pamit ada perlu.” Rey beralasan.


“Mau ke mana, Rey?” tanya Emillia.


Rey berlalu pergi tanpa mendengar pertanyaan Emillia. Ia memutuskan pulang sebelum makanan yang di pesan datang. Rey terlalu sakit hati mendengar kabar berita itu.


Apa memang Jovanka bukan jodohku, Tuhan? Pekik dalam hati ketika Rey berjalan menyusuri trotoar.


..


Bersambung..

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2