
Waktu telah menunjukkan jam tujuh pagi. Di apartemen Jovanka semuanya telah bersiap untuk sarapan. Di meja makan telah tersaji menu sarapan yang terlihat lezat dan kebanyakan sayur bersantan yang aroma rempahnya cukup kuat.
Rey begitu antusias melihat masakan yang tersaji di meja itu. Berbeda dengan Jovanka yang malah terlihat eneg melihat menu masakan yang tersaji. Padahal, Meli sengaja memasak semua menu yang disukai Jovanka.
"Cukup atau tambah?" Jovanka bertanya pada Reynand untuk nasi yang telah dia ambilkan ke piring suaminya.
"Udah, cukup, Sayang."
"Lauknya mau sama apa?"
"Opor," jawab Rey dengan seulas senyuman. Terlihat sekali dia begitu menyukainya. Padahal, awalnya Rey tidak terlalu suka dengan masakan bersantan.
Jovanka tersenyum pada Reynand. Barisan gigi rapi nan putih itu kini terlihat begitu menawan karena lengkung bibir merah muda yang seolah candu. "Kamu ambil sendiri, ya?" kata Jovanka yang membuat bibir Meli tersenyum di balik telapak tangan yang menutupinya.
"Jo, kenapa kamu tawari kalau tidak mau mengambilkan?" Rendi berucap spontan.
"Hehehe ... mmm ... itu, Pa, Jo––" Jovanka tersenyum, dia tidak meneruskan ucapannya.
"Enggak papa, Pa. Rey ambil sendiri. Setelah Jo mengandung, dia emang sepertinya tidak suka dengan aroma masakan yang tercium begitu kuat," ucap Reynand.
"Oh ... saya kira dia hanya berbasa-basi saja. Yang sabar, ya?" ucap Rendy yang membuat Reynand tersedak.
'Uhukk!!!'
Belum juga makan atau pun minum, Rey sudah tersedak karena perkataan Rendy. Dia begitu kaget saat Rendy berucap seperti tadi. Tidak banyak memang yang Rendy ucapkan. Namun, bagi Reynand hal itu begitu membahagiakan. Satu langkah dinyatakan berhasil karena membuat sikap Rendy mulai melunak.
"Minum dulu, Sayang." Jovanka memberikan satu gelas air mineral.
Reynand meraih lalu meminumnya. Tenggorokannya terasa perih, tapi hatinya begitu bahagia.
Apa ini tandanya Papa akan menerimaku? Batin Reynand saat dia selesai meneguk minuman yang diberikan oleh istrinya.
__ADS_1
"Makasih, Sayang. Maaf, Pa, Ma," ucap Reynand dengan pipi memerah.
Meli tersenyum, begitu pun dengan Rendy. Reynand semakin bahagia karena di pagi itu dia merasa diakui sebagai anggota keluarga Rendy.
Suara denting sendok dan garpu yang beradu dalam piring menjadi simfoni indah pagi itu. Kebersamaan mereka menghangatkan suasana. Canda tawa terlontar saat mereka selesai sarapan. Walau belum seluruhnya, karena Reynand dan Rendy masih terlihat kaku. Namun, paling tidak mereka sudah terlihat sedikit akrab.
Satu hari penuh Jovanka dan Reynand menghabiskan waktu di apartemen papa dan mamanya. Apartemen yang tidak terlalu besar, tetapi begitu berkelas dengan barang-barang mewah sebagai isi perabotannya karena perekonomian Rendy mulai membaik.
Hingga waktu menjelang sore dengan ditandai langit berwarna jingga nan indah, Reynand dan Jovanka bergegas pulang. Pelukan hangat dari Meli dan Rendy seolah menjadi perpisahan hari itu.
"Kamu baik-baik, ya, Jo?" pinta Meli pada putrinya.
"Iya, Ma. Mama juga sehat-sehat, ya?"
Meli mengangguk lalu menatap Reynand.
"Rey, tolong jaga baik-baik Jovanka dan bayi yang ada dalam kandungannya. Tolong lebih sabar lagi menghadapi Jovanka, ya, Nak?" ucap Meli dengan mata berkaca-kaca.
Meli tersenyum mendengar ucapan yang merupakan janji dari menantunya. Sedangkan Rendy tidak banyak bicara. Namun, ada satu hal yang membuat Reynand benar-benar mematung. Di mana Rendy memeluk dengan diiringi tepukkan pada pundak menantunya.
What? Apa ini mimpi? Ucap dalam hati Rey dengan mata yang membulat.
Pelukan yang hanya sebentar itu merupakan hal paling indah dalam hubungan Reynand dengan Rendy. Bukan hanya Reynand yang kaget, sepasang mata Jovanka pun membulat ketika melihat adegan yang terlihat 'wow' karena sedari dulu, Rendy memang tidak menyukai Reynand.
Apa ini beneran Papa? Batin Jovanka yang menyaksikan papanya memeluk suaminya dengan cukup hangat.
"Ya sudah, kalian berdua hati-hati," ucap Rendy ketika telah melepaskan pelukannya dari Reynand.
"Ba–baik, Pa," ucap Reynand terbata. Dia masih belum menyangka dengan apa yang baru saja dialaminya.
Reynand mengulurkan tangan pada Jovanka. Bersama hati yang senang, Jovanka pun menggenggam tangan Reynand yang mengulur padanya. Keduanya melangkah berdampingan setelah pamit pada orang tua Jovanka.
__ADS_1
Langit senja yang begitu indah bersama burung-burung yang mulai masuk ke sarangnya di pohon telah terlihat dari ujung jalan sana merupakan pemandangan indah saat mobil Reynand telah terparkir di depan apartemen.
Reynand membuka pintu mobil untuk Jovanka. Calon ibu itu masuk ke mobil dengan seulas senyum dan telah berucap kata 'terima kasih' terhadap Reynand.
Reynand pun masuk dari pintu sebelahnya. Dia kini telah duduk di kursi kemudi lalu menyalakannya hingga terdengar deru mesin mobil.
Rey masih tidak percaya akan kejadian yang dia alami tadi bersama papa dari Jovanka. Hatinya benar-benar bahagia saat Rendy memeluk tubuhnya dengan hangat.
"Sayang? Kenapa malah melamun?" tanya Jovanka karena Rey masih terdiam. Dia tidak menjalankan mobilnya.
"Eh, maaf, Sayang," jawab Reynand lalu menjalankan laju kendaraan.
Mobil telah melesat jauh dari apartemen. Di sepanjang jalan, Reynand terus mengulum senyuman ketika mengingat Rendy memeluk dirinya. Ah ... seperti orang yang sedang jatuh cinta saja, terkenang ketika orang memeluknya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Jovanka karena dia memperhatikan suaminya yang terus mengulum senyum di bibirnya.
"Aku bahagia, Sayang. Aku gak nyangka Papa memelukku sehangat tadi. Apa itu artinya hubungan kami akan membaik?"
"Aamiin ... aku pun kaget melihat Papa seperti tadi yang tiba-tiba memeluk kamu. Mungkin, bukan kaget, ya. Lebih kepada takjub. Aku pun berharap demikian," ungkap Jovanka yang sama-sama tidak menyangka.
Perlahan, Rey meraih tangan Jovanka lalu menggenggamnya erat dengan sepasang mata yang tetap berfokus ke jalanan. Terlebih, Mama dan papanya Jovanka telah memberikan tanggung jawab untuk Reynand agar bisa menjaga Jovanka.
Sepanjang jalan, mereka berdua saling menggenggam tangan dengan hangat. Senyum manis di bibir pun seolah menghiasi kebahagiaan mereka berdua.
Langit jingga telah berganti hitam. Sinar mentari kini berganti oleh cahaya bulan yang menyejukkan. Lampu-lampu berwarna oranye yang ada di pinggir jalan telah menyala menerangi perjalanan mereka berdua. Hingga akhirnya mobil telah terparkir di halaman rumah Nadin.
Tangan Jovanka hendak membuka pintu. Namun, Reynand mencegahnya. Pria itu keluar lalu berjalan menuju depan mobil lalu membuka pintu yang ada di sisi Jovanka.
"Silakan, Tuan putri," ujar Reynand dengan seoasang mata sipit memandang teduh wajah Jovanka. Tangannya mengukur dan Jovanka pun turun dari dalam mobil dengan tangan digenggam erat oleh Reynand.
Hari itu hari membahagiakan yang dirasakan oleh Reynand dan Jovanka, karena Rendy sedikit berubah menjadi lebih hangat.
__ADS_1
Semoga pelukan tadi merupakan perbaikan hubunganku dengan Pak Rendi yang tidak lain mertuaku. Semoga Tuhan segera meluluhkan hatinya sebelum anakku lahir .... Batin Reynand dengan penuh harap.