Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 11 ( Kecewa )


__ADS_3

Di sepanjang jalan, Vicky membisu. Tak ada ucapan apa pun dari bibirnya. Kesepian malam ini begitu terasa ketika sahabatnya yang bernama Vicky sedang patah hati.


Sampailah mereka di depan gerbang kost. Rey langsung memasukkan motor.


Vicky melangkah gontai menuju kamarnya tanpa ada kata. Menutup pintu kamarnya dan mematikan lampu dalam kost-nya.


Begitu pun dengan Rey. Ia masuk dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Drett ... Drett ....


Hand phone yang masih ada dalam saku celananya bergetar. Rey merogoh dan membuka layar hand phone-nya.


‘Rey, besok malam jalan, yuk?’ isi pesan dari Jovanka.


‘Oke! Tapi Gue ngajar les Nourma dulu, ya?’ balas Rey.


‘Oke! See you.’ Balasan dari Jo mengakhiri.


Rey tidur dengan mengenakan kaos oblong dan celana jeans pendek. Ia tertidur pulas sampai hand phone-nya berdering dengan bunyi alarm yang ia pasang.


Dengan mata yang masih lengket. Rey meraih hand phone yang ada di lantai dan mematikan alarm yang terdapat dalam aplikasi hand phone.


Rey bergegas mandi dan berganti baju seragam putih-abu. Ia memasukkan buku dan perlengkapan lain ke dalam tas-nya.


Tok ... Tok ... Tok ....


Rey mengetuk pintu kamar Vicky.


“Masuk, gak dikunci kok!” terdengar suara Vicky dari dalam kamar.


Rey melihat, Vicky masih tergeletak di atas tempat tidurnya.


“Lu, kenapa?” tanya Rey kepada Vicky.


“Gue gak sekolah dulu, Rey! Nanti Gue mau ke Dokter aja. Gue panas dingin,” jawab Vicky dengan bibir gemetar.


“Ya Tuhan! Badan Lu panas, Bro! Ayok sekarang Kita ke Rumah Sakit!” Ajak Rey pada Vicky.


“Gak usah. Lu pergi sekolah aja. Gue bisa sendiri, kok. Lagian, bukannya sekarang pengumuman kapten basket di kelas sepuluh, ya?” tanya Vicky.


“Iya. Tapi keadaan Lu lebih penting, Bro! Lu satu-satunya yang Gue anggap seperti saudara Gue di sini!” jawab Rey.


Rey membawa Vicky ke klinik membawa FU milik Vicky dan masih mengenakan seragam putih-abu.


Di Klinik masih sepi. Mungkin karena masih pagi. Namun, dengan sigap pelayanan di klinik ini sangat cepat.


“Mas Vicky!” Salah satu stap memanggil nama Vicky setelah Rey mendaftarkan namanya.


Rey dan Vicky beranjak dari kursi tunggu pasien. Melangkah menuju ruangan dokter.


Tok ... Tok ... Tok ....


Rey mengetuk pintu ruangan dokter.


“Masuk!” Suara ramah dari seorang dokter yang ada di dalam ruangan.


“Permisi,” ucap Rey yang masih merangkul kawannya yang tengah sakit.


“Silakan duduk,” ucap dokter dengan ramah.


Rey dan Vicky duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan dokter. Tertulis nama Dr. Alexy Abinaya. Seorang dokter yang bertugas di pagi ini. Ia bertugas sif malam. Namun, gara-gara dokter penggantinya belum datang. Jadi, Dokter Alexy masih stay di klinik.


Dokter Alexy mempunyai wajah yang tampan. Usianya belum terlalu tua bagi seorang dokter. Wajahnya berwibawa namun tetap trendi, mungkin karena penampilannya sebagai seorang dokter yang masih muda. Usianya sekitar 32 tahun, ia masih singgel.


“Keluhannya apa?” tanya dokter Alexy.


“Panas, Dok. Katanya panas dingin,” ucap Rey menjelaskan.


“Dari kapan?” tanya dokter.


“Dari pagi tadi, Dok.”


“Silakan naik ke atas tempat tidur. Saya akan memeriksa pasien.”


Rey merangkul temannya yang tengah tak berdaya karena lemas. Dokter pun melakukan pemeriksaan menyeluruh. Ternyata, Vicky harus di rawat di rumah sakit.


“Gue gak mau, Rey!” ucap Vicky dengan bibir gemetar.


“Jangan gitu, Vic! Gimana Lu mau sembuh?” ucap Rey.


“Gue hubungi orang tua Lu, ya?” ucap Rey.


“Jangan!” bantah Vicky.


“Kenapa?” tanya Rey, heran.

__ADS_1


Vicky membisu.


“Gue gak mau orang tua Gue sampai tau. Gue gak mau mereka menjadi khawatir.”


“Ya udah, Lu dirawat, ya? Nanti Gue yang bantu jagain, Lu. Tenang aja.”


Akhirnya, Vicky bersedia dirawat di klinik itu. Jam telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sekolah mereka pun tidak jauh dari klinik tempat Vicky di rawat.


“Rey, Lu berangkat sekolah aja,” ucap Vicky.


“Tapi, gimana dengan Lu, Kuya?” Rey berbalik tanya.


“Santai aja kalik! Di sini ada perawat juga.” Sangga Vicky tersenyum.


“Beneran, Lu bisa?” tanya Rey memastikan.


“Iya! Udah sana, sekolah!”


“Ya udah. Gue berangkat. Hubungi Gue kalau ada perlu, ya?” ucap Rey sebelum berangkat sekolah.


“Iya!” ucap Vicky mengakhiri.


Rey beranjak dari kursi yang ada di sisi ranjang tempat Vicky terbaring lemah. Rey melangkahkan kaki menuju pintu dan membuka handle pintu ruangan Vicky dirawat.


“Rey!” Suara berat Vicky memanggil namanya.


Pandangan Rey kini mengarah pada Vicky, “Kenapa?” ucap Rey.


“Thank’s ya, Rey!” terlihat lengkungan kecil pada bibir Vicky yang sedang terbaring lemah.


Rey tersenyum dan kembali menghampiri temannya itu.


“Cepat sembuh ya, Bro! Sepi, kalau Lu sakit. Gak ada yang nasehatin Gue kek Emak-Emak!” Rey menepuk pelan lengan atas Vicky.


Vicky tersenyum.


***


Persahabatan Rey dan Vicky terbilang masih seumur jagung. Namun, kedekatan mereka sudah seperti saudara sendiri. Hidup di rantau orang yang memaksa mereka untuk dapat hidup mandiri.


Rey memarkirkan motor FU milik Vicky yang ia bawa. Rey langsung masuk dalam kelas. Tak berselang lama, akhirnya pelajaran pertama dimulai.


.


“Jo!” Rey memanggil ketika istirahat.


Jo berbalik badan, sedangkan Rey berlari ke arah Jovanka. Salsa merasa bingung dengan keadaan ini. Di mana adik kelasnya memanggil dengan sebutan Jovanka, karena di sekolah itu terdapat peraturan untuk menghormati kakak kelasnya dengan sebutan Kak di depan nama siswa/siswi yang mau ia panggil.


“Iya,” Jo menjawab santai. Sedangkan Salsa mengernyitkan dahi melihat mereka.


“Sorry, Kak Salsa. Gue ada perlu sama Jo.” Rey tersenyum.


“O ... oke!” Salsa tersenyum.


Rey menarik lengan Jo agak menjauh dari Salsa.


“Ada apa?” tanya Jo.


“Sorry, Jo! Malam ini Gue gak bisa jalan bareng, Lu,” jawab Rey.


“Kenapa?” Terlihat wajah kecewa pada Jo.


“Gue mau jaga Vicky di Klinik.”


“Memangnya Vicky sakit apa? Gak ada keluarganya gitu yang jagain Dia?” ucap Jovanka.


Rey menggelengkan kepala.


Jo melangkahkan kaki, menjauh dari Rey.


“Jo! Lu, marah?” Teriak Rey.


Kaki Jo terhenti masih membelakangi Reynand.


“Sorry, Jo!” Satu kata itu yang keluar dari bibir Reynand.


“Ya udah! Mau gimana lagi?” ucap Jo tanpa memandang wajah Rey dan berlalu pergi.


***


Sepulang sekolah, Rey langsung meluncur ke tempat tante Emi. Ia bermaksud memberikan les lebih awal pada Nourma.


Rey memarkirkan motor FU di halaman rumah tante Emi.


Ting ... Tong ....

__ADS_1


Rey memencet bel.


“Kok, Om udah datang jam segini?” tanya Nourma dari balik pintu.


“Iya, Om mesti buru-buru ke Rumah Sakit,” ucap Rey menjelaskan.


“Om sakit apa?” tanya Nourma.


“Teman yang sakit. Ia di rawat di Klinik.”


“Ya udah. Masuk, Om.” Nourma membuka pintu lebar.


Rey langsung memberikan materi les untuk Nourma. Dengan sigap, Nourma mulai mengerjakan materi les yang Rey berikan.


KRUKK ... KRUKK ....


Bunyi perut Norma yang baru saja mengerjakan tiga soal les dari Rey.


Rey tersenyum, “Kamu laper?”


“Iya, sebentar ya, Om. Nourma mau pesan makanan online,” ucap Nourma sambil tersenyum.


“Memang mau pesan makan apa?” tanya Rey.


“Mau pesan nasi goreng, Om.” Nourma meraih hand phone-nya.


“Gak usah pesan! Mending buat, yuk?” Ajak Reynand.


“Emang, Om bisa?” Terlihat wajah Nourma yang meragukan.


“Kita buat, yuk? Om gak bisa bilang jago, kalau Kamu belum rasain nasgor buatannya Om Rey. Ada nasi gak?” ucap Reynand.


“Ada, ya udah. Ayok!” Nourma berdiri dari tempat duduknya.


Nourma meletakan kembali gawainya di atas meja yang penuh dengan buku les.


Mereka melenggangkan kaki menuju dapur. Nourma menunjukkan tempat bumbu dan nasi yang ada di dalam magicom.


Rey mulai mengiris beberapa bahan untuk membuat nasi goreng. Tak lupa, ia menambahkan telur dan beberapa sayuran untuk di tumis bersama bumbu.


Nourma tidak menyangka. Baunya yang begitu wangi, membuat perutnya semakin keroncongan.


“Wangi banget, Om!” celetuk Nourma.


Rey tersenyum sambil mengaduk nasi yang berada dalam wajan.


“Boleh gak, Nourma coba mengaduk nasi gorengnya?” Pinta Nourma.


“Boleh.” Rey memberikan pengaduk wajan pada Nourma.


Anak kecil yang beranjak ABG ini senang diajari masak oleh Rey. Sesekali Norma memandang wajah Rey.


Kok, Om Rey terlihat ganteng, ya? Terbesit dalam hati Nourma.


Rey dan Nourma tengah asyik memasak di dapur. Tanpa mereka sadari, tante Emi sudah masuk dalam rumah. Karena, pintu rumah memang sengaja tidak di tutup.


“Emm ... Kok Mama mencium nasi goreng yang enak.” Tante Emi mendekat.


“Eh, Mama udah pulang?” ucap Nourma yang sedang mengaduk nasi yang ada dalam wajan.


“Udah. Perut Mama jadi keroncongan mencium wangi nasi goreng. Sejak kapan anak Mama bisa masak?” Goda tante Emi yang tak lain Mamanya Nourma.


Nourma tersenyum.


“Yang masak, Bang Rey, Ma. Bukan Nourma,” ucap Nourma dengan tersenyum malu.


Rey mengernyitkan dahi. Ia heran dengan panggilan bang yang terlontar dari mulut gadis kecil ini.


“Emmm ... Sejak kapan panggil Om Rey dengan sebutan Abang?” tanya tante Emi.


“Sejak hari ini. Kan, usianya masih di bawah Kak Jovanka,” Nourma berkilah.


.


Mereka makan bersama dalam satu meja. Diam-diam, ibu dan anak ini bergantian mencuri pandang terhadap Rey.


Rey sama sekali tidak menyadari akan hal itu.


Ada debar pada Nourma si gadis kecil yang baru mau tumbuh menjadi ABG. Begitu pun pada ibunya, yang telah menjanda sekitar dua tahun. Membuatnya menjadi kesepian tanpa adanya pasangan hidup untuk mencurahkan kesedihan dan kesenangan terhadap pasangannya.


Perasaan itu tumbuh, ketika awal pertemuan dengan Rey yang telah membantu memperbaiki mobilnya yang rusak. Rey terlihat tampan, apa lagi dengan keringat yang mengucur ketika membantu memperbaiki mobilnya dan ia mengelap keringat pada dahi laki-laki itu. Dari situlah dokter yang berstatus janda itu mulai merasakan jatuh cinta lagi.


Bersambung..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2