
Meli––ibu dari Jovanka pun tersenyum. Dulu ketika hamil dia memang tidak seperti itu. Meli lebih santai dengan kehamilannya. Mungkin, setiap wanita akan berbeda-beda yang dirasakan saat kandungan memasuki usia muda.
Meli mendekati putrinya lalu memegang pipi Jovanka. Sepasang mata Jovanka kini melihat ke arah Meli yang bibirnya mulai tersenyum. Jemari Meli mengusap lembut rambut Jovanka lalu menyelipkan pada telinganya.
"Sayang, itu namanya Rey peduli terhadapmu dan bertanggung jawab atas bayi yang ada di perutmu," ucap Meli pelan.
"Tapi, Ma. Jo seperti terkurung saat ini. Jo lagi hamil dan Jo tidak mau stres. Walau Jo bukan seorang Bidan, tapi tau kalau stres di masa kehamilan itu tidak baik."
"Iya, Sayang, wajar kamu beransumsi seperti itu. Tapi Mama minta sama kamu, tolong saling mengerti. Pahami suamimu yang sebenarnya hal yang ditunjukkannya itu perhatian, tapi mungkin caranya yang belum mengerti. Turuti saja, nanti Rey juga akan memahamimu." Meli mengusap pundak Jovanka.
Jovanka menarik napas lalu mengembuskan perlahan. Dia mencoba menelaah semua yang diucapkan oleh ibunya.
"Jo coba, Ma," ucap Jovanka bersuara pelan.
"Harus. Kamu pasti bisa, ingat, Rey itu sesungguhnya ingin melindungimu dan janin yang ada di rahimmu. Dia begitu menyayangimu, Jo. Kamu beruntung."
Empat cangkir teh panas dan beberapa camilan telah siap. Meli dan Jovanka berjalan ke ruang tamu. Mata Jovanka membulat ketika suaminya terlelap seorang diri di sofa. Bahkan, dengkur halus pun terdengar.
"Lihatlah, Rey tertidur. Dia kecapean, Sayang," tutur Meli berbisik pada Jovanka.
Jovanka menelan salivanya. Hatinya tersentuh oleh semua obrolan yang dilontarkan oleh sang ibu ketika di dapur. Kini, sepasang matanya telah terbuka saat Reynand terlelap di sofa dengan posisi duduk.
"Ya udah, Mama ke kamar dulu. Sepertinya Papamu ada di kamar," ujar Meli.
Jovanka berjalan perlahan dengan membawa minuman juga camilan yang telah dibuat oleh tangannya bersama Meli.
Minuman dan makanan itu diletakan perlahan di meja, dia duduk di samping Reynand. Jovanka memandang wajah suaminya yang memang terlihat lelah. Jemari lentiknya meraih tangan Reynand lalu mengecupnya dengan hangat.
Reynand yang telah terlelap pun terbangun, dia kaget ada air yang membasahi lengannya. "Jo?" Suara serak Reynand yang baru bangun tidur.
"Maafin aku," kata Jovanka yang masih menangis.
"Maaf? Kamu kenapa, Sayang?" tanya Reynand sambil membenahi posisi duduknya.
"Aku malah sering marah-marah sama kamu ketika aku tau sedang hamil. Aku juga enggak tau kenapa bisa seperti ini. Aku––" ucap Jovanka terhenti.
"Ssttt ...." Telunjuk Rey mendarat di bibir Jovanka. "Aku sudah sering bilang, tidak usah mengatakan maaf, Sayang."
"Tapi aku ngerasa salah. Aku egois, Rey. Ternyata benar apa yang dikatakan Mama kalau kamu itu––"
Reynand mengangkat satu alisnya. "Aku kenapa?"
"Kamu itu menyayangiku," ucap Jovanka terdengar parau.
__ADS_1
"Bukan hanya itu, aku menyayangimu lebih dari apa pun."
Kata-kata Reynand sungguh membuat hati Jovanka tenang dan bahagia. Dia merasa menjadi wanita paling beruntung saat itu. Ditambah aroma tubuh Reynand yang membuatnya begitu betah berada di samping dan menghirupnya.
Lain dengan yang dirasakan oleh Reynand. Dia sesungguhnya merasa risih dengan badan lengketnya. Dia membayangkan air mengucur dari shower menerpa tubuhnya dan membuatnya merasa nyaman. Ah, entah jam berapa dia bisa mandi.
"Oh, iya, diminum dulu, yuk?" ajak Jovanka pada Reynand.
Reynand pun mengangguk lalu mengambil cangkir teh manis yang mulai menghangat karena ditinggalkan mengobrol oleh empunya.
"Kok, Papa gak kelihatan?" ucap Jovanka yang baru saja meneguk teh manis.
'Uhuk!'
Reynand batuk mendengar pertanyaan istrinya.
"Pelan-pelan, Sayang."
Bagaimana bisa pelan? Pertanyaan Jovanka membuat Reynand syok, secara, hubungan Reynand dan Rendy memang belum membaik hingga detik itu.
"Maafin aku, Jo. Aku belum bisa meluluhkan hati Papa."
"Papa udah tau kalau aku hamil?"
"Aku belum sempat memberi tahu kabar bahagia itu. Papa keburu masuk kamar tadi, kami bener-bener masih kaku, Jo."
Jovanka meraih tangan Reynand lalu menaruhnya di dada Jovanka. Detak jantung pun terasa bergetar di tangan Reynand. Pria itu melihat wajah istrinya yang tanpa kata. Reynand terlihat heran, karena hingga beberapa detik menunggu, Jovanka tidak mengucapkan apa pun.
"Jo?" Reynand memecah keheningan.
"Kamu rasakan ada yang berdebar?" tanya Jovanka.
"Iya. Detak jantung kamu."
"Selama detak ini masih ada, aku akan selalu bersamamu, Rey. Percayalah, apa pun yang mungkin menghalangi kebahagiaan kita. Aku akan selalu bersamamu, Rey."
"Tapi ini Papamu, Jo."
"Sekalipun Papa."
"Aku berusaha meraih restunya tetapi belum juga bisa."
"Sayang. Lihat mataku dan rasakan debar jantungku." Jovanka memandang lekat mata Reynand dan tangan Reynand di letakkan di dadanya. "Di sini hanya Papa yang mungkin belum merestui kita. Tapi Mama? Nana? Dan Mama Nadin? Mereka merestui kita, Sayang. Yakinlah, lambat-laun, Papa juga pasti akan merestui pernikahan kita."
__ADS_1
"Semoga."
"Pasti! Aku yakin Papa sesungguhnya telah melunak. Hanya saja mungkin dia masih gengsi."
**
Sementara di kamar, ada Rendy yang sedang duduk di tepi ranjang. Meli menghampiri suaminya lalu menggenggam tangannya. Dia begitu mengenal suaminya, ketika marah atau kesal pasti akan duduk di tepi ranjang menyendiri. Mungkin itu cara dia menenangkan dirinya sendiri, karena setiap orang mempunyai cara yang berbeda-beda.
"Papa kenapa?" tanya Meli pelan sambil sedikit memijat pundak suaminya.
"Gak papa. Hanya ingin sendiri."
"Bukan karena Rey?"
Rendy melirik pada Meli. Dia menatap tajam wajah istrinya.
"Kenapa? Apa pertanyaan Mama itu benar?" tanya Meli dengan mata menyipit.
"Apa aku harus menjawab?"
Hening.
Meli tidak ingin membuat keadaan semakin memanas. Dia memberikan kesempatan untuk suaminya meredam amarah yang seharusnya tidak ada. Marah untuk apa? Segala pasilitas di apartemen itu milik Reynand pun dengan jabatan tinggi yang diberikan oleh keluarga Reynand untuknya.
Lagi-lagi ego telah mengalahkan semuanya. Ego Rendy menutup semua kebaikan itu, bahkan kebaikan-kebaikan yang mungkin tidak dia sadari.
"Sesungguhnya mereka ke sini membawa kabar baik, Pa," ucap Meli bernada pelan.
Rendy tidak menggubris. Dia masih terdiam dengan ekspresi marah dari sorot matanya.
"Kita akan menjadi kakek dan nenek, Pa," ujar Meli lagi.
Mata Rendy melirik pada istrinya, "Maksudnya?" Mata Rendy menyipit ketika memandang wajah istrinya yang kini tertunduk.
"Jovanka hamil, Pa. Dia sedang mengandung cucu kita," ujar Meli dengan mata berkaca-kaca.
"Apa?"
Meli mengangguk, "Jo sedang hamil, Pa." Meli menitikkan air mata.
Saat itu juga tubuh Rendy seolah lemah. Bukan karena menyesal dengan kabar yang dia dengar. Namun, dia menyesal karena hingga detik itu dia masih belum bisa berdamai dengan masa lalunya. Di mana ayah Reynand telah mengakhiri hidup Papanya walau tanpa kesengajaan.
Dia masih sakit hati pada Reyvan Adam karena di hari kematian papanya, Reyvan yang menabrak malah tidak menghadiri acara pemakaman papanya. Sialnya, wajah Reyvan begitu mirip dengan anaknya yang bernama Reynand, sehingga Rendy seolah terbayang-bayang sosok Reynand seperti Reyvan––pria yang telah mengakhiri hidup papanya dulu.
__ADS_1