
Mobil melesat ke arah rumah Jovanka. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir mereka. Alexy yang fokus pada kendali mobil, sedangkan Jo yang meruncingkan bibirnya, karena ia masih merasa kesal dengan lelaki yang baru saja ia jumpai di bioskop tadi.
“Kamu kenapa? Kok bibirnya ditekuk gitu?” tanya Alexy yang sedang menyetir.
“Gak papa,” ujar Jo ketus.
“Apakah ada sangkutannya denganku?” Alexy melirik Jovanka.
Jo menggeleng, “Enggak ada, cuma agak bete ketika di bioskop!”
“Kenapa?”
“Masa Om Alex disebut Om-om sama dia?”
"Sama siapa?"
"Entah, orang yang ada di samping aku ketika di bioskop tadi, aku juga baru pertama kali ketemu orang itu, tapi langsung menjengkelkan!"
Alexy tersenyum dan memarkirkan mobilnya ke pinggir. “Lah ... kalau dibandingkan dengan usiamu, memang aku udah Om-om, Jo,” ujar Alexy.
“Tapi aku gak suka!” ujar Jo dengan bibir mengerucut.
“Ya udah, sih. Jangan diambil hati, biarin aja. Udah, jangan ngambek lagi, nanti Mama nanya-nanya lagi di rumah,” ujar Alexy dengan mengusap sedikit rambut Jovanka.
Mobil kembali melesat. Menembus pekat malam, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
.
Ceklek!
Pintu rumah terbuka.
“Udah jalan-jalannya?” ujar Meli, Ibu dari Jovanka.
“Udah. Jo masuk kamar duluan, Om!”
Tanpa menunggu jawaban, Jo langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu lalu memejamkan mata. Tidak berselang lama, pintu kamar Jo terbuka. Netra itu langsung membulat, tatkala telinga mendengar suara pintu yang terbuka.
Om Alex? Umpat hati Jovanka.
Jo langsung bangkit dari tidurnya.
“Loh ... Belum tidur?” ujar Alexy.
“Belum, Om,” bohong Jovanka.
“Ya sudah, tidurlah sudah larut malam.”
Alexy membuka lemari, mengambil baju dan celana lalu masuk ke kamar mandi. Tidak berselang lama, Alexy ke luar dari kamar mandi dengan wajah dan rambut yang basah.
Alexy menggantungkan handuk lalu ia melangkahkan kakinya ke tepi ranjang.
Waduh, Om Alex mau ngapain? Umpat hati Jovanka.
“Kok belum tidur?” tanya Alexy lagi.
Jo tersenyum kecut, seperti ada ketakutan dalam dirinya. Ternyata, Alexy mengerti arti dari senyuman Jo. Ia membawa bantal dan bangkit dari ranjang itu.
“Tidurlah, matikan lampunya,” ujar Alexy yang lalu pergi ke sofa.
Klik!
Lampu pun dimatikan.
***
Alexy sudah bersiap untuk pergi ke klinik begitu pun dengan Jovanka yang sudah bersiap untuk berangkat kuliah.
Jo memakai kemeja dan celana jeans panjang. Tak lupa ia mengikat rambutnya dan menyemprotkan parfum cherry blossom.
“Udah siap?” ujar Alexy.
Jo mengangguk.
Mereka pun ke luar dari dalam kamar dan menuruni anak tangga. Kedua orang tua Jo pun tersenyum melihat keduanya berbarengan ke meja makan.
“Nah ... Gitu dong kalau suami isrti!” ujar Meli.
Jo dan Alexy hanya tersenyum, lalu duduk untuk menikmati sarapan di pagi hari.
Jo hanya mengambil dua lembar roti tawar yang diolesi dengan selai strawberry. Setelah semuanya selesai, Jo mengambil tas yang ia cantelkan di kursi dan membawa banyak buku tebal di lengannya.
Alexy dan Jo kembali beraktivitas setelah berpamitan pada orang tua Jovanka. Jo duduk di kursi mobil, samping Alexy. Mobil itu pun melesat ke kampus untuk mengantarkan dulu Jovanka.
.
“Makasih ya, Om?” ujar Jo ketika hendak turun dalam mobil.
“Sama-sama. Kalau ada apa-apa, telpon atau kirim pesan aja, ya?” ujar Alexy.
“Iya!”
Jo pun turun dari dalam mobil dan buru-buru masuk ke kampus.
Wahhhh ... Akhirnya, aku jadi mahasiswa, bye putih-abu! Umpat hati Jovanka sambil tersenyum.
Brukkk!
“Aww!”
__ADS_1
Hand phone yang ada dalam genggaman terjatuh.
“Sorry, sorry!” Jo mengambil hape yang terjatuh, “Yah ... Layarnya retak! Nanti aku servis deh, atau mau aku ganti aja, ya?” Nerta Jo melihat ke wajah lelaki yang ia tabrak barusan.
Lelaki itu tersenyum.
“Kamu? Ngapain di sini? Ngikutin aku sampe sini? Kamu gila?” cerocos Jovanka.
“Udah nanyanya? Baik, gue akan jawab pertanyaan lu, satu persatu. Pertama, ya ini gue Davin. Yang kedua, gue kuliah di sini. Yang ketiga, mau ngapain gue ikutin lu? Yang keempat, gue sehat dan gak gila. Satu hal yang pen gue tanya ke elu!” ujar Davin.
“Apa?”
“Hape gue mau lu servis atau beli yang baru?” ujar Davin tanpa basa-basi.
“Kamu maunya gimana?”
Jo kembali bertanya.
“Lu serius nanya itu ke gue?”
Jo mengangguk.
“Ya beli yang barulah!”
“Dasar, matre!”
“Lah ... Kok lu ngomongnya gitu?”
“Jawabannya kamu aja gitu, ya berarti kamu cowok matre!”
“Terserah! Lu mau servis atau beliin gak masalah, tapi sim card gue balikin dulu!” Davin mengulurkan tangannya, meminta kartu teleponnya untuk dikembalikan.
Jo memberikan hand phone itu pada Davin. Davin pun membuka hape dan mengambil kartu itu lalu mengembalikan hand phone yang layarnya retak pada Jovanka.
“Gak usah!” Jo menolak.
“Kenapa? Katanya mo servisin? Gak jadi, nih?” Davin mengernyitkan dahi.
“Gak, aku akan belikan kamu hape baru!”
“Yes! Thankyou, cantik!”
Davin menyentuh dagu Jovanka dengan cepat lalu bergegas pergi meninggalkannya.
Jo hanya terdiam melihat perlakuan Davin padanya.
“Sumpah! Tu orang, nyebelin banget!” gerutu Jovanka.
.
Setelah selesai jam kampus. Jo bergegas ke konter yang cukup besar.
“Siang, Mbak. Ada yang bisa dibantu?” ujar seorang wanita, mungkin pekerjanya.
“Sebentar ya, Mbak,” ujar wanita itu.
Jo menunggu di kursi sambil mengotak-katik hand phonenya. Termasuk info kampus.
“Hah! Ini kan si Davin? Gak salah? Ternyata dia berprestasi di kampus.”
Tidak berselang lama, wanita itu datang membawa hand phone baru, sesuai dengan yang dipinta oleh Jovanka.
“Ini hand phone-nya, Mbak. Dicek dulu aja.”
Wanita itu memberikan hand phone baru itu pada Jovanka, dengan pilihan tiga warna. Jo pun mengecek hape baru itu.
“Ya sudah, Mbak. Saya ambil yang hitam ini,” ujar Jovanka.
***
Di tempat lain ada Reynand yang sedang menghabiskan sore hari dalam kamarnya.
“Bang, ke luar, yu?” ajak Rhiena.
“Enggak, ah! Abang males, Na!”
“Abang belum ke mana-mana sejak datang ke Jakarta. Abang gak bosen tinggal terus dalam kamar?”
Rey menggeleng.
“Ya udalah, Nana mau ke tempat Kak Vicky aja!”
“Alasan aja ajak Abangnya, ternyata mau pacaran!” Ledek Reynand.
“Biarin!”
Rhiena berlalu pergi, sedangkan Rey tengah asyik menghabiskan waktu dalam kamarnya.
Cukup lama Rey berada dalam kamar. Perutnya terasa lapar, akhirnya ia pergi ke dapur. Hanya ada dirinya dan beberapa orang yang bantu-bantu di rumah itu.
Langkah kaki Reynand menapaki anak tangga dan berjalan ke dapur. Ternyata di dapur ada Bi Weni yang sedang mencuci piring.
“Den, mau apa? Apa ada yang bisa Bibi bantu?” ujar Weni.
“Gak ada, Bi. Rey hanya ingin masak mi goreng,” jawab Reynand.
“Ya sudah, Bibi yang buatin, Den Rey duduk aja di kursi aja.”
“Gak usah, Bi. Bibi lanjut aja kerjaan Bi Weni. Rey bisa masak sendiri.” Reynand tersenyum.
Akhirnya, Weni pun melanjutkan pekerjaannya di dapur. Mulai dari cuci piring, mengelap meja makan dan lainnya. Tiba-tiba, suara bel berbunyi.
__ADS_1
Ting ... Tong!
“Tolong bukain pintunya, Bi,” ujar Reynand.
Weni pun ke luar dari dapur menuju pintu ruang utama. Sedangkan Rey tengah asyik menikmati mi goreng di meja makan.
Reynand tersenyum ketika menyuapkan mi goreng dalam mulutnya. Rey teringat ketika masih mengontrak, ia sering sekali makan sama mi goreng ketika uang yang ia punya hampir habis. Suapan demi suapan pun telah masuk dalam perut dan akhirnya satu porsi mie goreng sudah berpindah dari piring ke perut Reynand.
“Den! Tolongggg!” teriak Weni.
“Bi Weni?”
Rey langsung berlari menuju arah suara Weni berada.
“Bi Weni?” Rey melihat Princess tergeletak di pangkuan Bi Weni. “Dia kenapa, Bi?” sambung Reynand.
“Enggak tau, Den! Tiba-tiba aja Neng Princess terjatuh lalu pingsan.”
Akhirnya, Reynand menggendong Princess masuk, ia membaringkan Princess di sofa tamu.
“Tolong ambilkan minyak angin, Bi!” ujar Reynand.
“Baik, Den!”
Weni mengambil botol minyak angin lalu menyerahkannya pada Reynand.
“Ini, Den! Bibi buatkan teh anget ya, Den?”
Reynand mengangguk.
Rey mendekatkan minyak angin itu ke hidung, untuk dihirup oleh Princess. Tidak lama kemudian, ia pun siuman. Matanya mulai terbuka dan lengannya memegang kepala.
“Arrgghhhh ... Bang Reynand?”
“Iya, ini aku. Kamu kenapa?” tanya Rey pada Princess yang baru sadar.
“Gak papa, Bang. Nana nya ada?”
“Nana lagi ke luar rumah. Ada apa?”
“Ada perlu, ya udah deh, Bang. Aku pulang aja,” ujar Princess.
“Kamu bawa mobil?”
Princess mengangguk.
“Ya udah, mobilnya biar aku yang bawa.”
Netra Princess membulat. Ia merasa tidak percaya kalau Reynand mau mengantarkannya pulang.
Apakah aku bermimpi? Umpat hati Princess.
Netra bulat itu masih memandang pada wajah tampan Reynand, bahkan tanpa berkedip.
“Hey ....?”
Reynand melambaikan tangannya tepat di depan wajah Princess. Princes pun tersadar dari lamunan.
“Iya, Bang?”
“Mana kunci kontaknya?” pinta Reynand.
“Ini.”
Princess memberikan kunci mobilnya pada Reynand.
Akhirnya, Princess bangkit dari sofa dan berdiri dari sofa itu. Tapi, tubuh Princess masih lemah, ia malah kembali terjatuh ke atas sofa.
Reynand tersenyum.
“Ya sudah, jangan dipaksakan. Kamu di sini dulu aja, aku akan telpon Nana biar cepet balik. Kamu minum tehnya dulu aja. Bentar, ya? Aku mau telepon Nana.”
Rey pun berlalu pergi.
Tidak terlalu lama, akhirnya Rhiena pulang. Reynand memilih masuk dalam kamar dan membiarkan mereka mengobrol bersama.
Jo, apakah kamu bahagia? Aku kangen, Jo! Umpat hati Rey ketika ada di atas balkon kamarnya.
Rey menutup mata. Merasakan hilir angin yang membelai tubuhnya.
Tiba-tiba ada yang memeluk hangat dari belakang.
“Jo?”
Nama yang keluar dari bibir Reynand.
Rey berbalik dan membuka matanya, “Princess?”
“Jo? Mantan Abang, ya?”
Rey melepaskan tangan yang melingkar di pinggangnya dan memalingkan pandangan tanpa menjawab pertanyaan dari Princess.
“Aku terima kok, kalau Abang masih belum bisa move on dari mantan Abang. Tapi, aku mohon, kasih aku kesempatan untuk bisa dekat sama Abang!” pinta Princess.
“Aku gak bisa, Princess. Aku tidak ingin menyakitimu!”
“Aku siap sakit hati, yang penting Abang mau kasih kesempatan aku untuk dapat lebih dekat denganmu dan memberikan kesempatan aku untuk dapatin hati kamu, walau aku tidak tau kapan kamu akan benar-benar sayang sama aku!”
“Enggak, Prin!” Rey menggeleng.
“Ya sudah, aku tidak mau memaksa sekarang. Tapi, aku akan tetap mengejar cinta Abang. Maaf, aku udah masuk kamar Abang. Aku pamit!”
__ADS_1
Princess ke luar dari balkon kamar Reynan.
Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Hatiku masih terikat dengan Jovanka. Aku sadar, ia telah menjadi milik orang. Apakah aku salah, apabila masih menyayanginya? Ataukah, aku memberikan kesempatan untuk Princess dan membuka hati baru untuknya? Umpat hati Reynand yang sedang kalut.