Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
133. Pria Misterius.


__ADS_3

Mentari pagi menyapa dengan hangat. Tubuh Rhiena terasa sedikit sakit kala itu. Suhu badannya pun sedikit hangat dari suhu normal. Entah karena masuk angin atau hanya kecapean semata.


Rhiena bangkit dari ranjang karena harus bekerja. Tubuhnya dipaksa kuat agar segala aktivitasnya bisa terlaksana dengan baik. Masih ada beberapa target yang hendak dia capai. Salah satunya bertemu dengan pengusaha besar pagi itu.


Gadis yang masih mengenakan pakaian tidur itu pun bangkit lalu meraih handuk untuk segera mandi. Rhiena menggantung handuknya lalu segera menyalakan shower. Seketika tubuhnya basah dan aktivitas itu tidak berjalan lama. Hanya sekadar meluruhkan keringat saja, terlebih semalam dia hanya mengganti pakaian tidurnya saja tanpa membersihkan wajahnya yang masih mengenakan make-up.


Rhiena kembali meraih handuk untuk mengeringkan tubuhnya lalu memakai handuk yang berbentuk kimono di tubuhnya hingga tubuhnya tertutup oleh handuk yang cukup memberikan kehangatan.


Kaki-kaki yang bertelanjang itu pergi meninggalkan kamar mandi lalu mengarah pada lemari. Di sana dia meraih blouse sebagai atasannya dan memadukannya dengan skinny pants sebagai bawahannya.


Penampilan Rhiena terlihat santai tetapi masih terkesan formal. Sebagai wanita karier yang usianya masih muda. Penampilan merupakan hal utama baginya. Setelah semuanya usai, dia pun meraih tas lalu menyampirkannya di pundak.


Kaki Rhiena berjalan menuju pintu lalu menuju ruang makan. Di sana sudah ada Nadin yang menikmati menu sarapan pagi yang telah tersaji di meja makan.


"Pagi, Ma?" Rhiena menyapa Nadin.


Nadin pun tersenyum ketika melihat putrinya yang semakin terlihat cantik pagi itu. "Pagi, Sayang."


Rhiena mulai meraih sandwich sebagai menu sarapan pagi itu dan segelas susu hangat yang cukup memberikan kehangatan di tubuhnya yang masih terasa dingin.


Nadin memperhatikan wajah cantik putrinya yang sedikit pucat dan dia pun mulai bertanya ketika melihat satu gelas susu hangat telah diteguk habis oleh putrinya.


"Na? Kamu gak enak badan?"


"Aku baik-baik aja, kok, Ma. Hanya sedikit pegal saja."


"Kalau belum sehat betul, kamu gak usah berangkat, Nak. Istirahatlah aja."


"Enggak, Ma. Aku baik-baik saja," ucap Rhiena mengakhiri percakapan.


Nadin dan Rhiena bangkit dari kursi lalu sama-sama menyampirkan tas branded pada pundaknya. Keduanya sudah terlihat rapi dan trendi pagi itu.


Mereka melesat dengan mobil yang sengaja dibeli di Surabaya untuk kepentingan kantor dan sehari-hari. Hanya satu mobil Saha yang mereka miliki karena untuk saat itu, baik Nadin atau pun Rhiena hanya menganggap persinggahan saja karena rumah utama mereka ada di Jakarta.


Sial! Baru saja setengah perjalanan, mobil berwarna merah itu malah mogok. Nadin dan Rhiena pun berunding untuk membagi waktu agar kesempatan bertemu dengan pengusaha besar asal Surabaya itu tidak lepas.

__ADS_1


"Gini, yang berangkat ke kantor, Nana atau Mama?"


"Mama aja, deh. Kamu yang urus mobil. Mama biar ke kantor menggunakan taksi saja."


"Oke! Hubungi Nana kalau Mama udah sampe di kantor, ya?" ucap Rhiena dengan ekspresi wajah khawatir. Jelas saja, karena selama di Surabaya mereka selalu bersama-sama.


Rhiena memesankan taksi online dan tidak berselang lama, taksi tersebut telah sampai di lokasi.


"Mama berangkat, ya?" ucap Nadin dengan seulas senyum.


"Iya, hati-hati, Ma."


Mobil mogok di tempat yang sepi. Rhiena cukup kesulitan untuk mencari bantuan. Dia mencoba untuk menghubungi beberapa nomor dari karyawan yang bekerja di kantornya.


Cukup lama Rhiena menunggu. Sehingga gadis itu memilih untuk berselancar di dunia maya. Melihat akun media sosial hingga email kantor untuk mengerjakan apa saja yang dapat dia lakukan saat menunggu datangnya pertolongan.


Perlahan, baterai ponsel pun mulai menipis dan mobil dari bengkel telah sampai di tempat kejadian.


Ada dua orang pria yang turun dari mobil itu. Nampaknya, mereka dari bengkel yang tadi dihubungi oleh Rhiena. Namun, tidak berselang lama satu orang itu membawa mobilnya pergi karena ada pekerjaan di lain tempat. Jadi, mereka memutuskan untuk berbagi tugas.


Rhiena hanya melihat montir yang sedang mengerjakan mobilnya. Namun, dia dikejutkan oleh dering ponsel yang ada di genggamannya.


"Kak Vicky?" gumam Rhiena. Dia langsung menggeser kunci layar ponselnya. "Halo, Kak?"


"Halo, Mbak? Apa Mbak mengenal pria pemilik ponsel ini?"


Rhiena tiba-tiba terdiam sejenak ketika menyadari suara pria yang ada dalam ponsel bukanlah Vicky.


"Maaf, Anda siapa?"


"Saya orang yang menemukan Mas pemilik ponsel ini, Mbak. Mas-nya belum sadarkan diri dari semalam," ucap si pria misterius yang menemukan Vicky.


"Tidak sadar? Maksudnya?"


Pria itu pun menceritakan awal mula menemukan mobil Vicky dengan bemper mobil yang rusak. Pengemudi yang pingsan akhirnya dibawa ke rumah sakit.

__ADS_1


"Lalu? Sekarang keadaannya gimana?"


"Saya belum tau, Mbak. Tadi masih belum sadarkan diri, Mbak datang saja ke sini," ucap si pria sambil menyebutkan nama rumah sakit.


"Baiklah. Tolong jaga Kak Vicky hingga saya tiba di sana," ucap Rhiena gegas mematikan ponsel.


Rhiena bangkit dari duduknya. Dia terlihat tergesa-gesa ketika berpamitan pada montir untuk meninggalkan dirinya.


Rhiena berjalan ke ujung jalan dan berharap ada kendaraan umum yang melintas. Tangannya tetap memegang ponsel. Dia berusaha untuk memesan taksi online.


"Kiri!" Rhiena memberhentikan mobil taksi yang melintas. Namun, sepertinya ada penumpangnya dan mobil tersebut tetap berjalan tanpa berhenti ketika Rhiena memanggil.


"Berhenti!" Lagi, Rhiena berteriak ketika ada mobil melintas.


"Ya Tuhan ....."


Rhiena kembali berjalan semakin menjauh dari mobil yang sedang diservis.


Untung saja ada mobil taksi kosong yang melintas. Rhiena bersegera naik mobil itu lalu melesat menuju rumah sakit. Sial, ketika Rhiena ingin menghubungi Nadin, ponselnya malah mati.


Hingga akhirnya mobil taksi berhenti di depan rumah sakit. Rhiena langsung turun dan berjalan terburu-buru setelah membayar taksi yang dia tumpangi.


Rhiena langsung berjalan cepat menuju resepsionis rumah sakit itu. Pelayanan ramah pun didapat olehnya. Tidak berselang lama ada pria uang berdiri di sampingnya. Sepertinya dia sengaja berdiri di sampimh Rhiena.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Rhiena pada pria tersebut.


"Mbak Rhiena, ya?" tebak si pria.


Darimana dia tahu namaku? Batin Rhiena dengan sorot mata menyipit ketika memandang pria asing yang ada di hadapannya.


"Iya, namaku Rhiena. Anda belum menjawab pertanyaanku tadi."


Pria itu tersenyum, dia meminta maaf karena malah membuat Rhiena berpikir. Dia mulai menceritakan lalu memberitahu Vicky yang masih terbaring di ruang ICU.


Seketika kaki Rhiena terasa lemah seakan tidak dapat menopang tubuhnya sendiri. Namun, dia sadar kalau Vicky begitu membutuhkannya.

__ADS_1


__ADS_2