Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Parr 48. Syal Maron.


__ADS_3

Selepas pulang dari kampus. Jo bermaksud membelikan mainan untuk Olsend disalah satu pusat perbelanjaan.


“Akhirnya, dapat juga mainan robot super hero buat Olsend. Dia pasti senang!”


Jo kembali berjalan dalam koridor Mal. Matanya melirik pada barang-barang, yang sebenarnya tidak begitu ia butuh kan. Langkah kakinya terhenti ketika melihat syal berwarna merah maron.


Ia mendekat dan memegang syal itu, “Cantik!” cetusnya ketika memegang syal tersebut.


“Silakan dipilih, Mbak. Gratis bordir nama kalau membeli syal ini,” ujar seorang laki-laki.


“Boleh, aku minta yang ini, Bang!”


Jo memilih syal warna merah maron.


“Baiklah. Mau dikasih nama apa buat bordirnya?”


Jo masih berpikir, kira-kira namanya apa yang ia sematkan pada syal itu?


“ReyAbadi, itu aja tulisannya, Bang!” ujar Jovanka.


“Oke! Ditunggu sebentar ya, Mbak?”


Lelaki itu masuk ke dalam untuk membordir nama sesuai permintaan dari Jovanka. Sementara Jo sedang asyik melihat gawainya, bahkan ia melihat foto dan video yang pernah ia up load ke jejaring sosial miliknya.


Kenapa aku minta nama Rey yang tersemat pada syal itu? Padahal, suamiku ‘kan Alexy bukan Reynand. Mati aku! Pekik dalam hati Jovanka.


Jo bangkit dari kursi tunggu, bermaksud untuk meminta agar nama pada syal tersebut diganti. Tapi sayang, lelaki itu sepertinya sudah selesai mengerjakan pesanannya.


“Ini, Mbak. Sudah jadi,” ujar lelaki itu sambil menyerahkan syal warna maron yang sudah tersemat nama ReyAbadi.


Mati aku! Malah udah jadi lagi! Umpat hati Jovanka.


“Oh ... Iya, makasih ya, Bang!”


Jo meraih dan membayarnya.


Ia berjalan untuk kembali ke rumah, karena barang yang ia cari sudah didapat.


“Jo!”


Terdengar suara laki-laki memanggil namanya. Jo pun menoleh, mencari ke sumber suara.


Ya Tuhannnn! Si Davin lagi? Kenapa 'si, makhluk absurd ini selalu muncul di mana-mana? Umpat hati Jovanka.


“Nyahut, kek kalau denger!” protes Davin dengan napas terengah-engah karena berlari.


“Dih ... Udah bagus, aku tungguin! Kenapa?” tanya Jovanka.


“Anterin gue ke bengkel, nyok? Motor gue ada di sana!” ujar Davin.


“Maaf, aku punya urusan lain!” elak Jovanka.


“Jo, plissss!”


Davin memohon sambil merapatkan kedua tangannya.


“Enggak bisa Davin! Aku ada perlu! Ya udah, kamu naik taksi aja. Nanti aku yang bayarin,” ujar Jovanka.


“Gitu banget! Padahal dulu gue pernah loh nolongin, lu!” gerutu Davin.


“Yaelah, mulai deh, ngungkit!”


Davin tersenyum. Jo semakin ingin menoyor kepala Davin. Kalau saja dia adik tingkatku, udah habis aku toyorin dia! Umpat hati Jovanka.


“Ya udah, iya. Aku anter!” ujar Jo dengan terpaksa.


“Nah! Gitu, dong! Dari awal kek. Kan gue jadi ungkit pertolongan dulu, malah kagak dapat pahala jadinya!” protes Davin.


“Hilih!”


Akhirnya, Jo mengantarkan Davin ke bengkel. Di perjalanan, Davin tak hentinya menatap Jovanka yang sedang fokus menyetir mobil.


“Ngapain kamu liatin aku seperti itu?” celetuk Jovanka tanpa menoleh.


“Dih ... Siapa juga yang lihatin kamu? Ge’er!” elak Davin.


“Terlihat dari kaca spion, Davin!” ujar Jovanka.


“Berarti, bukan cuma gue yang liatin, tapi lu juga diam-diam liatin gue!” Davin terkekeh.


“Ya bukan gitu!” elak Jovanka.


“Udah, si! Ngapain ngeles mulu? Lu sebenarnya suka ‘kan, sama gue?” ujar Davin.


Jo tersenyum, “Vin, aku tuh udah punya suami. Mana mungkin aku suka sama cowok lain? Apalagi cowoknya kamu, gak akan pernah mungkin! Ingat itu!” tandas Jovanka.


“Hem ... Hati orang siapa yang tau!”


Davin memutar bola matanya.


Hening.


Tidak ada lagi suara perdebatan dari dua insan ini. Hanya bunyi klakson motor dan mobil yang meramaikan perjalanan mereka. Hingga disalah satu bengkel yang cukup besar, akhirnya Davin meminta agar Jo berhenti.


Ssrreett!


Mobil pun berhenti di samping bengkel tersebut.


“Jo, jangan pulang dulu, ya? Takutnya motor gue belum beres,” ujar Davin.


“Terus? Aku harus nungguin kamu, gitu? Gak mau!” jawab Jovanka.


“Plisss! Kalau enggak mau, gue juga gak mau turun dari mobil, lu!” ancam Davin.


“Dih ... Kamu ngancam aku?”

__ADS_1


Jo membulatkan matanya.


“Terserah, kamu anggap ini apa! Yang jelas, gue gak akan turun!” ujar Davin.


“Davin!”


“Jovanka!”


“Davin!”


“Jovanka!”


“Oke, Fine! Aku akan tungguin, cepetan ke luar!” ujar Jovanka.


“Gue menangkan? Kalau gue menginginkan sesuatu, pasti gue akan dapatkan! Kecuali, gue yang mau mengurungkan!” tegas Davin dengan tatapan serius.


Serah! Umpat Jo. Ia hanya bisa menelan salivanya.


Tidak lama, Davin kembali menghampiri Jovanka yang masih ada dalam mobil. Ia mengetuk kaca mobil Jovanka. Jo pun menurunkan kaca mobilnya.


“Kenapa?” tanya Jovanka.


“Motor gue udah beres. Thank’s buat tumpangannya!” ujar Davin.


“Ya udah, gue balik!”


Jo memacu mobilnya menuju rumah. Entah kenapa, hari mulai gelap dan terasa dingin.


BYUR!


Hujan turun dengan sangat deras. Langit hitam dan petir yang menyambar semakin terasa mencekam. Netra Jovanka tertuju pada sosok wanita yang sedang duduk sendiri di halte bus dengan membawa satu travel bag besar di sisinya.


“Kasihan sekali Ibu itu.”


Jo menepikan mobilnya, “Ibu Nadin?”


Netra Jo terbelalak dan ia akhirnya membuka payung dan turun dari mobilnya menuju halte.


“Bu Nadin lagi apa?” ujar Jovanka.


“Eh, saya kira siapa. Kamu, Jovanka ‘kan?” ujar Nadin.


Jo mengangguk.


“Saya mau ke bandara.”


“Ya sudah, Jo antar saja,” ujar Jovanka.


“Gak usah, Nak! Ibu selalu merepotkanmu. Lagian, masih cukup banyak waktu,” elak Nadin yang merasa tidak enak.


“Udah, gak papa, Bu. Mari, ikut Jo. Takutnya, jalanan akan banjir, nanti semakin susah untuk dilewatin kalau sudah banjir.”


“Benaran, Ibu gak ngerepotin kamu?” ujar Nadin.


“Iya, ayo!”


Jo kembali memacu mobilnya menuju bandara. Jo melihat Nadin yang seperti kedinginan. AC mobil pun ia matikan.


“Ibu masih kurang Vit, ya?” ujar Jovanka.


Nadin tersenyum, “Dikit lagi juga sehat.”


Akhirnya, mobil Jo sudah terparkir di depan Bandara.


“Makasih ya, Nak Jo?” ujar Nadin dengan senyuman manis.


“Sama-sama, Bu!”


Ceklek!


Pintu mobil terbuka.


“Bu?”


Nadin menoleh, “Iya, Nak?”


“Sebentar.”


Jo mengeluarkan syal yang ada di paper bag. Ia melilit lembut di leher jenjang wanita paruh baya itu.


“Ini, buat Ibu. Sepertinya, Ibu sangat kedinginan,” ujar Jovanka.


“Loh ... Ini ‘kan punya Jovanka,” elak Nadin.


“Gak papa, Bu. Anggap aja kenang-kenangan dari Jo,” ujar Jovanka.


“Tapi, Ibu gak bisa kasih apa-apa buatmu, Nak!”


“Enggak papa, Bu. Jo juga tidak mengharapkan balasan. Jo suka liat Ibu pakai syal itu, cocok!” puji Jovanka terhadap Nadin.


“Hem ... Bisa aja, kamu. Semoga kelak, kita dapat berjumpa lagi, ya, Jo!”


Jo mengangguk dan tersenyum. “Hati-hati ya, Bu? Maaf, Jo tidak dapat mengantar Ibu sampai ke dalam,” ujar Jovanka.


“Iya, gak papa, Sayang!”


Nadin memeluk Jovanka. Jo pun membalas pelukan dari Nadin hingga beberapa saat sebelum Nadin ke luar dari dalam mobilnya.


Jo memacu mobilnya setelah tubuh wanita paruh baya itu sudah tak terlihat. Jo kembali memacu mobilnya, melesat dab menembus hujan yang turun semakin deras.


***


Ddrrttt!


Ponsel Rey bergetar. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu menggeser layar hand phonenya.

__ADS_1


“Mama?”


Rey membuka pesan di dalamnya.


[Rey, jemput Mama di Bandara!]


[Oke!]


Rey membalas.


Rey melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. Ia meraih jaket dan kunci mobil yang tergeletak, di atas nakas.


“Abang mau ke mana?” tanya Rhiena.


“Jemput Mama di bandara!”


“Nana ikut, ya?”


“Ya, ayok!”


“Sebentar, Nana mau mandi dulu!” elak Rhiena.


“Ya enggak keburu, Nana! Udahlah, Abang berangkat sendiri, ya?”


“Ya udah, deh! Hati-hati ya, Bang!” pekik Rhiena.


Hujan masih turun, tetapi tidak sederas yang tadi. Hanya menyisakan rincikan gerimis yang masih lebat.


Rey memacu kendaraannya, melesat dengan kecepatan tinggi untuk sampai di bandara.


.


Ia memarkirkan mobil dan ternyata, Nadin telah menunggunya di luar.


“Mama?”


Rey memeluk Nadin. Ada rasa rindu dengan sosok Mama yang kuat baginya.


“Rey? Nana gak ikut?” tanya Nadin.


“Nana mau mandi katanya, Ma! Makanya, Rey tinggal.”


Nadin tersenyum, “Dasar, kebiasaan adikmu, Rey. Dari dulu paling susah di suruh mandi!” ujar Nadin yang seperti sedang bernostalgia dengan masa lalunya.


“Ya sudah, mari kita pulang?” ujar Reynand.


Nadin mengangguk, ia masuk dalam mobil. Sedangkan Reynand memasukkan koper itu ke dalam bagasi. Mobil kembali melesat menuju rumah.


Ceklek!


Pintu rumah terbuka.


“MAMA!”


Rhiena berlari dan langsung memeluk tubuh Mamanya yang ia rindukan.


“Nana kangen!” ujar Rhiena sambil menitikkan air mata.


“Loh ... Mamanya pulang kok malah nangis?”


“Nana sudah sangat rindu sama Mama. Mama sehat-sehat ‘kan?”


“Iya, Mama sangat sehat, Na.”


Nadin tersenyum dan kembali memeluk erat putrinya yang kini beranjak dewasa.


Rey memilih untuk masuk ke dalam kamar. Ia melangkahkan kakinya menuju balkon kamar.


Rey menikmati rintik hujan yang masih jatuh. Terasa sejuk apabila menyentuh kulit. Dari hujan, Rey belajar untuk ikhlas. Sebagaimana hujan yang turun. Walau berkali-kali ia terjatuh, ia tidak akan mengeluh pada takdir Tuhan.


Hingga tidak terasa, malam telah tiba. Mama dan adik kembarnya, bahkan sudah tidak terdengar lagi suaranya.


Rey bergegas membereskan buku-buku yang akan ia bawa esok hari ke Deraya Flying School. Ia naik ke atas ranjang setelah selesai merapikan buku dan ia mencoba memejamkan mata.


Embusan angin masih terasa menusuk tulang. Rey menarik selimut dan mendekap bantal gulingnya. Rey memejamkan mata.


“Jovanka!”


Baru juga akan tidur pulas. Rey sudah terkejut dengan mimpi yang membuatnya menambah resah. Rey mengambil ponsel.


“Jo, kamu baik-baik saja ‘kan?”


Kata itu, hampir saja aku kirim melalui pesan singkat dalam ponsel. Tetapi, Rey tidak mengirimnya. Ia masih sadar, lalu menghapus kata yang telah ia ketik di ponsel.


ΦΦ


Malam ....


Satu kata yang membuatku gelisah.


Di mana aku merasakan seorang diri, tanpa teman.


Malam ....


Gelap dan dingimu, bagaikan hatiku saat ini.


Kita sama-sama melangkah tanpa hati. Hampa terasa waktu yang dijalani.


Malam ....


Engkau diibaratkan hatiku.


Gelap, dingin dan mencekam jiwa.


ΦΦ

__ADS_1


~Zank Lee~


__ADS_2