
Sore itu, Davin mengantar Jovanka ke kampus untuk mengambil mobilnya.
“Ambil gih, mobil lu!” ujar Davin ketika sudah sampai di kampus.
“Kamu gak balik, Dav?” tanya Jovanka heran.
“Itu mah mau lu, kalau gue berlama-lamaan di sini,” jawab Davin pede.
“Dih ... Siapa juga yang bilang seperti itu? Ge’er kamu!” ujar Jovanka.
“Heleh, tapi bener ‘kan?”
Davin memainkan alisnya naik turun membuat Jovanka semakin sebal dibuatnya.
“Udah, ah! Aku mau ambil mobil, bye!” Jovanka berlalu. Ia terlalu kesal terhadap sikap Davin yang terlalu percaya diri.
Tapi, memang bener sih! Sebenarnya aku ingin Davin tinggal di sini. Aku merasa ada kawan kalau ia di sisiku, dih! Ngomong apa, sih aku? Umpat hati Jovanka.
Jo melesat dengan kecepatan tinggi, sedangkan Davin mengikuti dari belakang. Jo baru tersadar ketika di perempatan sebelum masuk ke dalam rumahnya, ternyata Davin mengikutinya. Jovanka memarkirkan mobil dan ke luar dari dalam mobil merah itu.
“Kamu kenapa gak pulang? Malah ngikutin aku!” ujar Jovanka jutek.
“Gue cuma takut lu kenapa-kenapa di jalan. Ya sudah, sekarang kan udah hampir deket rumah. Gue baik, ya?” ujar Davin sambil mengusap pucuk kepala Jovanka.
“Rey?” ujar Jovanka sambil menatap wajah Davin.
Davin tersenyum, “Sayangnya, gue bukan Rey, Nona!” Davin mencubit hidung Jovanka.
“Ups!” Jovanka menutup bibirnya, “Sorry, Dav!” ujar Jovanka merasa tidak enak.
“Sante aja, Jo. Ya sudah gue pamit, bye?”
Davin berbalik, membelakangi Jovanka.
“Dav?”
Jo menahan lengan Davin.
“Iya.”
Davin memandang netra sendu itu.
“Thank’s!” Jovanka memeluk Davin, “Maaf,” ujar Jo sambil melepaskan pelukannya yang terjadi hanya dalam waktu beberapa detik saja.
Davin pun berlalu pergi, senyuman yang sedari tadi terukir di bibir Jovanka kini telah kembali tenggelam, tergantikan oleh rasa sedih yang mendominasi hati.
.
Jo bergegas tidur karena esok hari ia akan wisuda.
Ya Tuhan ... Esok wisudaku sekaligus ulang tahun Rey. Rey, aku sangat merindukanmu! Umpat hati Jovanka.
Klik!
Jovanka mematikan lampu dan bergegas tidur.
.
Ddrrtt!
Alarm dalam ponsel bergetar.
Jovanka pun bangkit dari tidurnya.
Meraih handuk yang tergantung dan melangkah menuju kamar mandi.
Setelah prosesi mandi pagi itu. Jo berjalan ke depan lemari baju untuk mengambil kebaya berwarna coklat mocca yang telah dipersiapkan untuk dipakai ketika hari wisuda, serta bawahannya rok yang seperti jarik. Tak lupa juga ia mengenakan make up natural untuk menyempurnakan penampilannya pagi ini.
“Wahh ... Putri Mama cantik sekali,” puji Meli.
Jo tersenyum, “Makasih Ma.”
Pelukan hangat pun terjadi.
Mama dan Papanya berangkat ke kampus untuk menghadiri acara wisuda putrinya.
Serangkaian acara pun telah dimulai, hingga prosesi puncak yaitu lempar topi wisuda, meluapkan kebahagiaan mereka karena sudah menyelesaikan pendidikan mereka di kampus.
Foto-foto manis pun telah terekam di dalam kamera digital yang di bawa oleh Papanya Jovanka. Ternyata, Nadia, Angel dan Olsend pun datang untuk memberikan selamat pada Jovanka.
__ADS_1
“Selamat ya, Sayang.”
Pelukan hangat Dari Nadia.
“Makasih, Ma!” ujar Jovanka sambil mendekap erat tubuh wanita paruh baya itu.
Acara sudah selesai. Keluarga Jovanka beserta Mama mertuanya ikut ke rumah untuk makan malam bersama, sebagai rasa syukur karena Jo sudah lulus kuliah.
Makan malam pun telah terhidang dari atas meja. Mereka semuanya menikmati sajian masakan malam itu. Tapi, di tengah mereka sedang menikmati makan malam, tiba-tiba ada telepon dari Michae pada hand phone Nadia.
Ddrrrttt!
Gawai yang terletak di atas meja bergetar.
“Mas Michael?”
Netra Nadia membulat.
“Maaf, saya angkat telepon dulu, ya?” ujar Nadia.
“Silakan,” kedua orang tua Jo menyahuti.
[Halo, Pa?] jawab Nadia dalam teleponnya.
“Ma, load sepaker, Jo mau denger,” ujar Jovanka setengah berbisik.
Nadia mengangguk, ia mengerti apa yang dimaksud Jovanka. Ada rasa rindu pada putranya.
Klik!
Ia me-load speaker ponselnya.
[Ma, Alexy sudah ditemukan.]
Semua orang yang ada di depan meja makan ikut terharu dan bahagia mendengar kabar yang dibawa Michael, terlebih Jovanka.
[Tapi ....] katanya terpotong.
[Tapi? Tapi kenapa, Pa?]
[Alexy tidak selamat, Ma!]
Seketika, raut bahagia pada wajah mereka berubah menjadi duka. Ruangan hening seakan di meja makan itu kosong. Pembicaraan telah hilang seiring datangnya kabar buruk dari Michael.
Hwaaaa!
Tangis Jovanka membuncah, ketika ia mendengar kabar akan membawa jasad suaminya kembali ke Indonesia.
Tut!
Nadia mematikan telepon dari suaminya.
Tanpa ada kata, Jo merasakan seluruh ruangan itu terasa gelap dan ia sudah tidak sadarkan diri. Begitu pun dengan Nadia, ia jatuh pingsan ketika ia masih duduk di depan meja makan. Semua orang sibuk karena kedua wanita itu pingsan.
“Mang Wawan! Tolongin Bu Nadia!” pekik Rendy, Papa Jovanka.
Wawan pun datang, “Iya, Pak! Angkat ke mana?” tanya scurity itu.
“Bawa ke sofa ruang tamu saja, agar tidak terlalu jauh,” ujar Rendy yang sedang menggendong anaknya yang juga tidak sadarkan diri.
Jo dan Meli dibaringkan di sofa ruang tamu. Semua orang menjadi panik seketika.
Ting ... Tong ....
Tiba-tiba ada orang yang memijit bel entah disengaja atau tidak, Emillia berkunjung ke tempat Rendy sore itu beserta suami dan juga putrinya, Nourma.
“Ini kenapa?” tanya Emillia.
“Mi, tolong Jovanka dan Bu Nadia!” ujar Rendy pada adiknya.
Dengan sigap, Emillia memeriksa satu persatu orang yang sedang terkapar tidak sadarkan diri. Sementara, Angel tidak dapat membantu karena harus menenangkan Olsend, putra laki-lakinya yang sedari tadi menangis.
Olsend memang dekat dengan Alexy, tak ayal ia terus menangis dan meraung menyebutkan nama Alexy, hingga Angel sendiri bingung untuk memberhentikan jeritan dan tangisan dari sang anak.
Seketika, kebahagiaan itu berubah menjadi duka. Dibalik kebahagiaan telah lulus wisuda menyimpan tangis dari tragisnya kematian Alexy.
***
Ceklek!
__ADS_1
Pintu rumah terbuka.
“Tumben sepi, tadi katanya nyuruh pulang cepet?”
Keadaan di rumah tampak sepi. Padahal, waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Seharusnya, baik itu Rhiena atau pun Nadin sudah ada di rumah.
Rey melangkahkan kaki menuju tangga. Ia mulai menapaki satu persatu anak tangga. Hingga kini ia berada tepat di depan pintu kamarnya.
Ceklek!
Pintu kamar di buka.
“SURPRISE! Happy brith day to you ....”
Rhiena dan Nadin kompak menyanyikan lagu ulang tahun.
“Selamat ulang tahun ya, Bang?”
Rhiena memeluk Rey.
“Selamat ulang tahun, Sayang!”
Nadin pun ikut menimpali.
“Makasih, Ma, Na!” ujar Rey sambil memeluk dua wanita yang paling berharga dalam hidupnya kini.
“Maaf, kami baru ngucapin hari ini. Mama gak tega kalau ngucapin malam-malam karena kini kamu sudah bekerja,” ujar Nadin.
“Gak masalah, Ma. Rey malah lupa kalau hari ini tanggal kelahiran Rey.”
“Abang, tiup dong lilinnya, tapi make a wish dulu,”
Rhiena berkata.
Aku ingin suatu saat dapat bersatu dengan Jovanka. Dalam ikatan suci pernikahan! Rey menyebutkan permintaan itu dalam hati.
Fiuh!
Lilin bertuliskan angka sembilan belas pun telah padam.
“Yee ... Potongan kue yang pertama buat siapa?” ujar Rhiena.
Sebenarnya, potongan kue ini untukmu Jo tapi karena kamu gak ada aku kasih buat Mama, umpat hati Rey.
Rey memberikan dan menyuapkan potongan kue yang pertama untuk Nadin.
“Makasih ya, Ma? Mama udah rawat kami sejak Papa tidak bersama kita di sini. Di rumah ini,” ujar Reynand.
“Ish! Gak usah diingat, Sayang. Kamu boleh sayang Papa, tapi tidak usah diingat apabila malah melukai hatimu, cukup disimpan untuk kenangan hidupmu, Sayang.”
Nadin memeluk Rey, begitu pun Rhiena yang ikut larut dalam dekapan sang Kakak.
Rhiena pun sudah menyelesaikan pendidikan SMAnya. Ia berencana meneruskan kuliah di salah satu Universitas di Jakarta. Mengambil jurusan bisnis karena ia lah yang akan meneruskan usaha sang Mama. Rey sudah angkat tangan dari awal, ia ingin menjadi seorang Pilot karena itu adalah cita-citanya dari kecil.
Kenapa Rey tidak berbisnis saja? Jawabannya simpel, ia tidak ingin mengikuti jejak Papanya. Ternyata Rey menyimpan rasa sakit yang mendalam ketika Papanya lebih memilih wanita lain dibandingkan dengan Nadin, Ibu mereka yang akhirnya menjadi Janda.
Entah untuk ke depannya, karena tidak menutup kemungkinan juga kalau suatu saat Rey beralih profesi menjadi seorang pengusaha. Nikmati saja yang sekarang sedang dihadapi.
.
Malam telah tiba. Rey begitu merindukan Jovanka, berulang kali dirinya membuka ponsel hanya untuk melihat nomor telepon Jovanka yang ia simpan dalam kontak telepon.
Rey masih berdiri di balkon kamar, menikmati embusan angin malam. Rasa rindu yang mendera di hati tidak dapat teralihkan pada yang lain.
Jo apakah kamu ingat ulang tahunku? Rey berucap dalam hatinya.
Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk dilalui seorang diri. Rasa rindu yang semakin menggunung seakan tidak bisa ia tahan.
Apakah aku pergi ke Bandung untuk menemui Jovanka? Rasa rindu ini sudah terlalu lama kupendam dalam hati. Ah, tapi tidak mungkin, nanti rumah tangga Jo malah berantakan karena ulahku. Mungkin cinta itu tak harus memiliki. Tapi, kenapa hati ini tidak rela? Apakah kata itu hanya sebuah omong kosong? Nyatanya, apa yang kurasa saat ini menginginkan untuk kembali dengan Jovanka. Apakah aku harus memperjuangkan cintaku? Ya Tuhan, aku memikirkan ini bagaikan berputar dalam lingkaran yang tidak menemukan celah untuk keluar, umpat hati Reynand.
Rey masuk dalam kamar dengan segala pikiran yang semrawut di otaknya.
Andai kau di sini, Jo. Bersamaku, menemani hidupku hingga azal yang memisahkan kita, umpat hati Reynand.
Rey mencoba memejamkan mata dan berharap diulang tahun yang sebentar lagi akan habis, ia dapat memimpikan Jovanka. Ia begitu ingin menemuinya walau hanya lewat mimpi.
Klik!
Rey mematikan lampu kamar dan memejamkan mata.
__ADS_1
Sial! Kenapa hati ini masih gelisah? Sebenarnya apa yang terjadi pada Jovanka? Aku benar-benar merindukannya. Kenapa malam ini susah sekali untukku memejamkan mata? Padahal, badanku sudah sangat lemah ingin beristirahat, umpat hati Reynand.
Rey masih gelisah, ia terus berganti-ganti posisi tidur. Tapi nihil, semuanya tidak berguna. Matanya masih terjaga hingga waktu menunjukkan pukul dua dini hari.