
"Siapa, ya?" Jo berbasa-basi.
"Entah," jawab Rey dengan suara berat.
Rey bangkit dari kasur dengan wajah yang begitu kesal. Bagaimana tidak? Hal yang harusnya terjadi, tiba-tiba terhenti hanya karena ketukan pintu yang mengganggu.
Tangan Rey menarik daun pintu dan dari balik pintu itu terlihat punggung seorang wanita.
Siapa dia? Batin Rey tatkala melihat sosok wanita memunggungi di depan kamarnya.
Wanita itu pun berbalik dengan anggun. Ternyata seorang wanita cantik dan entah dia siapa.
"Good night?" sapa wanita tersebut memakai bahasa asing. Namun, wajahnya terlihat Indonesia sekali. Rambut ikal sepunggung dan dia mengenakan kemeja putih tersenyum pada seorang lelaki yang masih memegang daun pintu.
"Night, cari siapa?" jawab Rey dengan raut wajah heran penuh tanya. "Upss ... sorry," sambung Rey. Dia tidak sengaja menggunakan Bahasa Indonesia.
"Kamu orang Indonesia?" jawab si wanita dengan seulas senyum.
Rey hanya mengangkat sebelah alis karena heran. Hatinya penuh tanya, sebenarnya apa yang ingin dibicarakan perempuan itu?
Percakapan pun terjadi, ternyata wanita itu salah nomor kamar. Yang harusnya nomor 52, dia malah mengetuk pintu nomor 25. Ah, hanya karena itu Rey harus menunda malam pertamanya.
Wanita yang mempunyai wajah ayu itu ternyata masih berkewarganegaraan Indonesia. Di sana dia hanya bekerja dan ingin bertemu dengan sahabatnya yang ternyata menginap di nomor 52.
"Tidak ada lagi yang hendak di bahas?" kata Rey dengan nada jutek.
"Enggak ada. Maaf, ya. Aku mengganggu istirahatmu. Namaku Mala." Wanita berparas ayu itu mengulurkan tangan putihnya.
Rey hanya menatap sesaat. Dia tidak menjabat tangannya. Baginya, itu semua seolah modus saja untuk berkenalan. Namun, sepertinya memang hal itu tidak direncanakan.
__ADS_1
"Upss ... maaf kalau kamu merasa terganggu dan tidak ingin menjabat tanganku. Paling tidak, tolong beritahu namamu. Karena kita sama-sama satu kewarganegaraan," kata si wanita yang selalu menebar senyum ramah.
Rey sedikit berpikir, untuk apa juga dia mengetahui namaku? Mungkin ada baiknya kalau aku menggunakan nama belakang saja, Rey berbicara dalam hatinya.
"Namaku Adam," ujar Rey yang menggunakan nama belakangnya saja.
"Adam? Oke! Next time, semoga kita berjumpa lagi. Permisi." Mala melenggang pergi.
"Akhirnya pergi juga," ucap Rey ketika punggung wanita itu semakin menjauh.
Rey Kembali menutup pintu lalu menguncinya. Dia berjalan menuju istrinya yang ternyata sedang duduk di tepi ranjang.
Raut wajah Jovanka terlihat semakin cantik. Terlebih ketika bias lampu kamar berwarna oranye redup itu bersinar tepat mengenai wajah cantiknya.
Rey berjalan pelan dengan debar yang kembali terjadi. Sedangkan di pinggir ranjang, Jovanka terlihat resah ketika langkah kaki si jangkung semakin mendekat ke arahnya.
Reynand kembali duduk di samping Jovanka, tanpa ada aba-aba lagi, Rey mengulum bibir kemerahan istrinya. Tubuh Jovanka terlihat kaku ketika Rey tengah asyik mengulum bibir istrinya yang sudah menjadi haknya.
"Jo, aku mencintaimu," ujar Rey sesaat bibirnya melepaskan ciuman dari leher putih Jovanka. Mata mereka saling bertatap.
Risleting yang telah terbuka sedari tadi, kini dibuka oleh tangan Rey. Kini, punggung putih nan mulus disertai wangi parfum yang tercium lembut membuat jiwa kelelakian Rey meronta dan tidak dapat terkontrol lagi.
Rey mulai mengecup lembut dan hangat dari punggung atas hingga ke bawah dengan begitu liar. Entah apa yang dirasakan Jovanka saat itu. Rasa, geli, takut dan malu kini bercampur menjadi satu. Namun, tidak dipungkiri gadis itu merasakan bahagia ketika dicumbui oleh Reynand. Dia sudah lebih santai.
"Izinkan aku memilikimu seutuhnya, Jo," bisik Rey dengan napas hangat yang dirasakan Jovanka sehingga gadis itu hanya bisa mengangguk, pasrah.
Rey menyibak gaun putih itu dan matanya membulat yang disertai Saliva yang dia telan dengan susah payah. Lelaki itu mengagumi keindahan tubuh Jovanka yang kini tidak terbalut oleh apa pun. Bahkan, sehelai benang pun tidak menghalangi tubuh indahnya.
Jo terlihat malu ketika Rey menatapnya seperti itu. Seolah harimau yang telah siap menerkam mangsa, begitulah Jovanka melihat ekspresi Rey malam itu sehingga gadis itu menyilangkan tangannya di dada, menyembunyikan sesuatu yang indah dari pandangan Reynand.
__ADS_1
"Kenapa ditutup, Sayang?" tanya Rey dengan suara berat. Wajahnya terlihat kecewa ketika keindahan itu harus tertutup oleh tangan istrinya.
"Aku malu, Rey. Kamu menatapku seperti itu," jawab Jovanka pelan dengan bibir bawah yang dia gigit semakin membuat Rey semakin gemas.
Rey meraih tangan Jovanka dan keindahan itu kini kembali terlihat di kedua tatapan mata sipitnya.
"Biarkan seperti itu. Aku suka," kata Rey yang membuat pipi Jovanka memerah.
Setelah puas memandang, lelaki itu mulai mencumbu bagian tubuh istrinya yang tersembunyi. Dia terlihat lahap mencumbu tubuh Jovanka.
Sudah cukup Rey bermain-main sebelum melepas semuanya. Akhirnya lelaki itu menyatukan tubuhnya dan Jovanka. Mereka berpelukan erat hingga akhirnya menemukan hal yang belum mereka rasakan. Nikmatnya surga dunia kini mereka rasakan. Namun, ada yang membuat Rey cukup tidak percaya ketika dia melihat bercak kemerahan yang cukup banyak di seprey putih. Dia menatap istrinya yang ternyata masih perawan.
Perawan?
Iya. Jovanka memang seorang janda. Namun mahkota tersembunyi itu tidak pernah tersentuh oleh Alexi––mantan suaminya. Terdengar mustahil memang, mana mungkin seorang istri tidak terjamah oleh suami sahnya? Namun, itulah yang terjadi pada pernikahan Jo dan Alexi waktu lalu. Di mana pada saat rumah tangga mereka berjalan berapa minggu, Alexi harus dikirim keluar negeri untuk tugas yang dia emban sebagai dokter. Setelah beberapa saat ketika hendak pulang ke Indonesia, Alexi malah mengalami kecelakaan pesawat yang mengabarkan bahwa dirinya telah meninggal dunia.
Namun, ternyata itu hanyalah sebuah isu karena nyatanya Alexi selamat dalam kecelakaan tersebut. Dia hanya menderita amnesia. Sedangkan di Indonesia, Alexi telah dianggap meninggal dunia oleh keluarga Jovanka dan keluarganya sendiri.
Hingga akhirnya masa itu telah tiba. Tabir terungkap semuanya bahwa Alexi ternyata selamat. Dia masih hidup. Akan tetapi, semua seolah mimpi karena ternyata Alexi jatuh cinta pada seorang gadis yang menyelamatkannya dari kematian.
Entah hal itu menjadi keuntungan atau kerugian untuk pernikahan Jo dan Alexi. Semua telah terjadi dan ternyata di balik semua itu malah menyatukan Rey dan Jovanka, juga Alexi dengan belahan jiwanya––perempuan yang benar-benar mencintainya dengan tulus.
Tuhan memberikan takdir indah untuk mereka. Di mana dua pasang hati yang berselisih pasangan, kini telah kembali dipersatukan oleh-Nya. Tuhan begitu indah memberikan warna pada perjalanan cinta mereka semuanya yang berujung bahagia.
"Terima kasih, Sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ujar Rey setelah apa yang dia inginkan telah didapatkan.
Jovanka hanya mampu mengangguk dengan pandangan yang masih tertunduk malu.
"Ke marilah," pinta Rey yang diiringi oleh wajah Jovanka yang terangkat menatap sepasang mata indah suaminya.
__ADS_1
Jovanka beringsut mendekati Rey kemudian dengan hangatnya, Reynand menenggelamkan wajah sang istri dalam dekapannya. Rey memeluk erat Jovanka dalam balutan selimut berwarna putih.