Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
136. Cemburu


__ADS_3

Dokter itu terdiam ketika Jovanka menyela pembicaraannya. Maklum saja, banyak juga pasangan yang tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayinya. Terkadang mereka sengaja minta dirahasiakan agar terasa surprise ketika bayi tersebut lahir. Walaupun memang hasil dari USG tidak melulu akurat.


Keadaan ruangan itu tiba-tiba sunyi meskipun ada tiga orang dewasa di dalam sana dan satu janin yang masih ada dalam perut Jovanka. Detak jantung si bayi masih terdengar tatkala ketiganya membisu.


"Kenapa, Sayang?" tanya Reynand pada istrinya.


"Aku ingin dirahasiakan aja jenis kelamin bayinya."


"Loh ... kenapa?" tanya Reynand tampak lesu karena hal inilah yang ditunggu oleh Reynand.


"Biar terasa surprise, Sayang. Aku ingin melihat bayi kita tanpa mengetahui jenis kelaminnya. Mau dia perempuan atau pun lelaki, aku tetap akan sayang sama dia," ujar Jovanka mengutarakan keinginannya.


"Tapi, kita bisa mempersiapkan lebih matang seumpama tau jenis kelaminnya, Sayang. Tidak mungkin, kan, misalkan kita mendekorasi kamar bayi bernuansa pink tetapi lahirnya bayi laki-laki? Apa mau jadi pinky boy?"


"Iya bukan begitu, Sayang."


"Lalu?" Reynand mengangkat satu alisnya.


Sejenak Jovanka berpikir tentang apa yang Reynand utarakan. Sepertinya ada benarnya kata, Rey. Tidak mungkin juga aku mendekorasi kamar bayi dengan nuansa pink atau violet, misal yang keluarnya bayi laki-laki. Batin Jovanka.


Jovanka melihat raut suaminya yang terlihat lesu karena berbeda pendapat dengannya, tetapi Jovanka mengetahui kalau sesungguhnya suaminya ingin mengetahui jenis kelamin dari calon bayi mereka nanti.


"Yaudah, deh, gak papa, Dok. Saya ingin mengetahui jenis kelamin bayi saya," ujar Jovanka yang akhirnya mengalah.


"Baik, Bu. Saya lanjutkan pemeriksaannya, ya? Soalnya tadi belum terlihat," kata dokter.


Alat untuk USG kembali ditempelkan pada perut Jovanka yang mulai membuncit. Perlahan, alat tersebut bergeser lembut pada permukaan perut Jovanka. Dokter itu terlihat mencari sesuatu. Namun, posisi jenis kelamin si janin tidak dapat terlihat.


Rey begitu antusias melihat layar monitor. Tangannya selalu menggenggam jemari Jovanka dan bibirnya terus tersungging manis.


Nampaknya Rey seneng banget akan hal ini. Dia terlihat ingin sekali tau jenis kelamin putranya. Batin Jovanka ketika melihat ekspresi Reynand.


Dokter terlihat menggeleng. Bukan cuma satu kali, beberapa kali dia menggeleng lalu membersihkan gel yang ada di perut Jovanka.


"Maaf, Bu, Pak. Jenis kelaminnya belum terlihat karena posisinya menghalangi kelamin janin."


"Oh ... gitu, ya, Dok?" ujar Jovanka.


"Iya, Bu. Mungkin bulan depan bisa dicoba lagi sekalian pemeriksaan rutin bulanan," kata dokter.


Jovanka tersenyum, sedangkan Reynand terlihat diam saja. Sepertinya pria itu kecewa karena apa yang dia angankan tidak tercapai.


Rey dan Jovanka memutuskan pulang setelah berpamitan pada dokter. Di sepanjang koridor rumah sakit, Rey terlihat diam saja sama seperti ketika dia ada di dalam ruang pemeriksaan.


"Sayang?" Jovanka memanggil Reynand.


"Iya?" Reynand menoleh.


"Maafin aku, ya?" ucap Jovanka ketika ada di lobby parkir.

__ADS_1


"Kenapa minta maaf?" tanya Reynand. Tangannya bertengger di pundak Jovanka, ketika istrinya tertunduk.


"Karena aku, jenis kelamin calon bayi kita tidak dapat terlihat."


"Bukan karena kamu, Sayang."


"Tapi, kalau saja tadi aku tidak menyela ucapan Dokter, mungkin saja jenis kelamin calon bayi kita akan terlihat."


"Hmmm ... itu masih mungkin, kan?" tanya Reynand sambil membimbing dagu Jovanka yang sedari tadi tertunduk seolah tidak berani menatap Reynand. Hanya sebentar saja dia menatap suaminya ketika menjawab pertanyaan Reynand.


"Tapi––"


"Ssttt ... aku tidak marah sama kamu, Sayang," ucap Reynand yang lalu mengecup pucuk kepala Jovanka dan mendekapnya hangat.


***


Mobil melesat ke pusat kota. Melewati banyak gedung yang menjulang tinggi, lampu-lampu terang yang menerangi bangunan-bangunan yang ada di kiri dan kanan jalan serta temaram warna oranye yang menyinari aspal hitam yang mereka lewati.


"Sayang," panggil Jovanka ketika jarak perjalanan masih separuhnya.


"Iya."


"Aku laper," ucap Jovanka dengan suara pelan.


Reynand tersenyum, "Kamu mau makan apa?"


"Entah. Aku bingung, mau makan tapi takut mual."


"Boleh. Tapi aku mau yang di pinggir jalan, bukan yang di restoran atau kafe-kafe tongkrongan. Aku––"


"Iya, aku paham. Gerobak yang ada tendanya di pinggir jalan, kan? Seperti dulu kita sering makan di Bandung ketika sekolah," ujar Reynand.


Jovanka mengangguk.


Sejenak Reynand teringat ketika sekolah dulu. Reynand yang seorang anak kost mengajak Jovanka yang notabene anak pengusaha kaya di Bandung untuk makan malam mie ayam di pinggir jalan. Gerobak dan tenda yang didominasi berwarna biru berdiri di pinggir jalan menggunakan bambu sebagai penyanggah tenda.


Bibir Reynand tersenyum ketika melihat Jovanka yang mau masuk ke warung tenda tersebut tanpa ada protes ataupun keluhan dari seorang anak orang kaya. Dari sana juga, Reynand mulai menaruh kekaguman akan sosok gadis cantik yang memang tidak memandang derajat.


Ketika itu, Jovanka tidak mengetahui kalau ternyata Reynand merupakan anak dari bos papanya. Dia hanya mengenal Reynand sebagai seorang pelajar yang mencari ilmu di Bandung dan mengontrak di sana.


"Idih ... kok senyum-senyum dari tadi?" tanya Jovanka ketika melihat suaminya yang sedari tadi tersenyum tanpa kata.


"Gak papa."


"Hayooo ngaku. Kenapa?" Lagi, Jovanka bertanya pada suaminya.


"Aku hanya teringat masa lalu."


"Masa lalu? Pasti sama mantan pacar kamu di sini," ujar Jovanka dengan bibir mengerucut dan lengan yang dia lipat di dada.

__ADS_1


Reynand spontan mengerem mobilnya mendadak yang membuat Jovanka kaget.


"Benar seperti itu, kan? Kamu pasti ingat bayang-bayang mantan pacar kamu hingga senyum-senyum seperti tadi. Ayo ngaku!"


"Dari mana kamu tau––"


"Tuuuhhh, kaaannn ...." Jovanka semakin kesal.


"Astaga, aku belum selesai ngomong, Sayang. Maksud aku, kamu tau dari mana kalau aku punya mantan di sini?"


Jovanka terdiam dengan bibir mengerucut kesal.


"Jo? Sayang? Kamu tau dari Nana?"


"Gak penting!"


"Sayang?" Reynand masih berusaha mencari informasi.


"Kamu tau, gak, feeling cewek itu kuat?"


Reynand menggeleng.


"Ya ... intinya feeling aku menangkap kalau kamu senyum-senyum itu terkenang kenangan indah dengan manatan pacar kamu. Iya, gak?" tanya Jovanka dengan sorot mata tajam dan wajah yang kini sudah begitu dekat dengan Reynand.


Pandangannya begitu sengit menatap Reynand seolah musuh baginya.


Reynand tersenyum.


"Jawab!" Jovanka memukul pelan dada Reynand.


"Enggak."


"Ngaku!"


"Apa yang harus aku akui?"


"Reynand!"


"Iya, Sayang ...." jawab Reynand dengan intonasi mesra.


"Ish!" Jovanka memalingkan pandangannya, tetapi tidak dengan jaraknya yang masih berdekatan.


Reynand tersenyum ketika melihat kecemburuan pada wajah istrinya. Perlahan, pria tersebut membimbing wajah Jovanka agar kembali menatapnya.


Dua pasang mata kini berada dalam titik yang sama. Namun, tatapan Jovanka masih terlihat kesal.


"Aku tidak tau harus dimulai dari mana. Yang aku ingin kasih tau kalau aku hanya mencintaimu dan tidak pernah mengingat mantan pacarku." Reynand mencoba menerangkan pada Jovanka.


"Bohong!"

__ADS_1


"Serius."


"Bagaimana mungkin aku percaya terhadapmu? Kamu di sini pasti terkenal karena kamu lahir dan besar di kota ini. Tidak mungkin juga wanita tidak mengejarmu? Aku tidak––" ucapan Jovanka terhenti ketika bibir Reynand membungkamnya.


__ADS_2