Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 28. Air mata Jovanka.


__ADS_3

Di dalam kelas, Jo tampak murung. Salsa bisa melihat dari sorot mata yang kosong. Kelas mulai ramai dengan siswa dan siswi yang sudah berdatangan untuk menimba ilmu di sana.


Tak berselang lama, guru pun datang dan memberikan pelajaran, terutama pelajaran yang diikut sertakan dalam ujian. Waktunya ditambah dua kali lipat agar murid-muridnya lebih siap untuk menjalankan ujian nasional.


“Jo, kamu kenapa?” bisik Salsa.


“Gak papa,” ucap Jo singkat.


Ia mengeluarkan buku tulis berserta peralatan tulisnya dari dalam tas.


Salsa masih memperhatikan. Jo memang pandai menyembunyikan perasaan sedihnya, ia tidak bicara apa pun ketika pelajaran sedang dimulai, apalagi pelajaran matematika yang menuntutnya untuk lebih berkonsentrasi tinggi.


Siswa dan siswi menerima pelajaran dengan serius. Tidak ada canda atau pun tawa di kelas itu, hingga menciptakan hening dalam kelas. Hanya suara kapur tulis yang menari-nari di atas papan yang berwarna hitam, dentum jam dinding yang terasa semakin cepat berlalu hingga tak terasa bel sekolah berbunyi.


“Makan, Jo?” ajak Salsa.


“Enggak, Sa. Aku gak laper.”


Jo menyenderkan punggungnya ke tembok kelas yang berwarna putih bersih.


“Aku tau, kamu lagi ribut sama Rey, kan?” tanya Salsa menodong.


Hening.


Dalam waktu kurang dari lima menit, air bening itu kembali jatuh di sudut mata Jovanka.


“Ceritalah, Jo. Masalahnya apa? Mungkin aku bisa bantu. Paling enggak, perasaanmu akan lebih membaik jika kamu membagi kesedihanmu padaku,” terang Salsa.


“Rey udah tau kalau aku akan segera menikah, setelah lulus sekolah,” terang Jo.


Ari mata itu kembali jatuh di pipi Jovanka.


Mata Jovanka semakin sayu karena tangis sendu di hari itu. Pipi yang memerah telah menghiasi wajahnya, mungkin Jo merasa marah. Tapi harus marah terhadap siapa?


Ini memang murni karena perjodohannya dengan Alexy oleh kedua orang tuanya.


“Kok bisa tau?” dahi Salsa mengernyit, heran.


“Tante Emillia yang kasih tau.”


“Loh ... kok tante Emi gitu?”


“Entah. Tapi ada bagusnya, Rey jadi tahu. Sehingga, aku tidak perlu memberi tahu hal yang mungkin tidak sanggup untuk ku sampaikan. Bibirku terasa kelu apabila mengungkapkan rasa itu.” Air mata itu kembali terjun bebas di pipi mulusnya.


“Jo, sebenarnya. Waktu kemarin itu Rey melihatmu di jemput sama om Alex. Mungkin itu salah satu pemicu Rey marah. Rey sepertinya ingin mempertahankanmu. Ia ingin membuktikan pada orang tuamu. Tapi, kamu sendiri yang bilang kalau papamu tidak mengizinkan Rey untuk membuktikan keseriusannya padamu,” terang Salsa panjang lebar.


Hening.


***


Bel sekolah telah berbunyi. Saatnya terbebas dari pemikiran yang dipaksa untuk bekerja keras menyerap ilmu, akhirnya berakhir seiring dengan bunyi bel sekolah pertanda pulang. Sementara kelas dua belas masih ada jam tambahan untuk pelajaran yang diujiankan.


“Rey, tunggu!” ujar Vicky dan berlari.


Rey tetap berjalan tanpa menoleh.


“Lu kenapa si, Rey? Ada masalah sama Jovanka?” tanya Vicky menodong.


“Bukan urusan, lu!” jawab Rey ketus.


“Rey!” Vicky menarik lengan Rey. “Jelas itu menyangkut sama gue, gue sahabat lu! Gue punya hak buat lu bisa berkonsentrasi supaya nilai lu gak anjlok. Lu udah ke terima di DFS sebagai peraih beasiswa pintar!”


Rey menatap tajam mata Vicky.


“Lu sendiri yang bilang, kalau lu mau jadi seorang pilot. Lu mau bikin nyokap lu bangga. Tapi, karena masalah ini, lu abaikan tekad lu untuk bahagia in nyokap lu, hah?”


Vicky berbicara dengan leher yang mengeras, mungkin ia bermaksud menyadarkan sahabatnya.


Rey tertunduk.


“Ayok balik,” suara Rey terdengar melemah.


Vicky memegang kendali membawa motor FU miliknya. Karena ia tahu kalau sahabatnya itu sedang mempunyai masalah yang mengakibatkan konsentrasinya menurun.


.


Srettt.


Vicky memarkir motor di halaman kontrakan. Rey duduk di kursi teras, kebetulan suasana di kost sedang sepi. Rey memutuskan untuk bercerita pada Vicky di teras itu sambil menikmati embusan angin di sore hari.


Rey menghela napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.


“Jo mau menikah, Vic,” ucap Rey parau.


“What? Kok bisa? Sama siapa? Berarti selama ini dia hanya manfaatin, lu?” tanya Vicky kepo.


“Entah. Dulu, Jo pernah ajak kabur dari rumah. Tapi gue gak mau.”

__ADS_1


“Kenapa? Bukannya kalian saling cinta?”


Rey mengangguk.


“Lalu? Kenapa lu gak lakuin? Kalau gue jadi lu, udah gue lakuin dari dulu. Apalagi, lu juga orang kaya di Jalarta.”


“Sstttt!” Rey membekap mulut Vicky. “Jangan kenceng-kenceng! Bisa berabe kalau ada yang tau,” sambung Rey lalu melepaskan lengannya.


“Gue masih bingung, Rey. Hidup lu penuh dengan teka-teki.”


Rey tersenyum.


“Karena, Gue gak mau nikah tanpa restu dari orang tua, Vic. Gue ingin bahagia hidup dengan orang yang Gue cinta. Gue juga percaya, kalau jodoh gak bakal ke mana.”


“Tapi, sampe kapan Lu menunggu?”


“Entah.” Rey mengakhiri.


***


Rey sibuk mempersiapkan kepindahan sekolahnya ke DFS sedangkan keluarga Jovanka telah sibuk mempersiapkan fiting baju pernikahan, memilih WO dan hotel berbintang di kota Bandung.


Jo masuk dengan langkah kaki yang gontai. Menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam kamarnya.


“Jo, calon pengantin kok lesu?” tanya Emillia yang sedang berkunjung ke rumahnya.


Jo hanya mendelik melihat Emillia. Hatinya terasa sedikit sakit dengan omongannya terhadap Rey.


Mungkin saja tante Emillia melebih-lebihkan pembicaraannya kepada Rey, sehingga Rey begitu marah terhadapku, pekik dalam hati.


“Gabung sini, Jo!” ajak Emillia.


“Gak, tante. Makasih!”


Jo melangkahkan kakinya menuju kamar tanpa menghiraukan tantenya, yang dulu sangat dekat dengannya.


Tak berselang lama. Emillia menyusul Jo yang berada di dalam kamar. Ia merasa ada yang tidak beres dengan ponakannya itu.


Tok ... Tok ... Tok ....


Emillia mengetuk pintu kamar Jovanka.


“Jo, boleh tante masuk?”


“Masuk aja!”


Ceklek.


Emillia melangkah, dan duduk di tepi ranjang Jovanka.


“Jo, kamu kenapa? Kamu sedih?”


“Gak papa, Tan. Mau apa ke sini?”


“Jo. Maafin tante karena udah bilang pernikahanmu sama Rey. Tante gak ada maksud apa-apa, Tante hanya ingin perjodohanmu lancar. Orang tuamu memberikan yang terbaik untukmu, Jo.”


Jo tersenyum masam.


“Yang terbaik bagi orang tua, belum tentu baik untuk Jo, Tan!”


“Maksudnya?” Dahi Emillia mengernyit.


“Menikah tanpa cinta itu akan menjadi apa? Jo tidak dapat membayangkan.”


“Percayalah, Alexy itu orang yang baik, Jo.”


“Iya. Jo tau! Jo kasihan terhadap Om Alexy kalau sampai Jo tidak bisa kasih hati Jo untuk dia.”


“Cinta akan datang seiring kalian hidup bersama, Jo.”


Lagi-lagi, orang-orang di sekitarnya berbicara seperti itu. Jo hanya menghela napas dan selalu berharap diberikan yang terbaik untuk jodohnya. Teman hidup, disisa umurnya.


Tuhan, seandainya Rey tahu, kalau di hatiku hanya ada dia, dia dan akan hanya ada dia di hatiku. Pekik hati Jovanka.


Hening.


Tak ada ucapan lagi antara Emillia dan Jovanka. Hanya kebisuan yang terjadi di kamar yang cukup luas itu. Jo tetap memeluk erat boneka beruangnya, tanpa menatap Emillia yang ada di sampingnya.


Akhirnya, Emillia ke luar dari kamar itu dan Jo merebahkan badannya dan memejamkan mata. Angannya masih melayang, ia selalu ter bayangkan kebersamaannya bersama Reynand. Orang yang telah mencuri hatinya, bahkan namanya telah melekat dalam pikiran dan memenuhi seluruh ruang di hati Jovanka.


“Rey, aku kangen kamu,” ucap Jovanka sambil memejamkan mata dan meneteskan air mata.


***


Drrttttt ....


Hand phone Jo bergetar.

__ADS_1


Jo membukakan mata, Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Dengan mata yang sangat berat, akhirnya Jo meraih hand phone yang terletak di atas nakas. Jo menggeser layar hand pbone.


“Salsa?”


Jo membuka pesan singkat dari salsa.


(Jo besok bisa ketemuan, gak? Penting!) isi pesan dari Salsa.


(Boleh, di mana?) balas Jovanka.


(Aku ke rumahmu besok. Jangan ke mana-mana, ya?) pesan dari Salsa.


(Ok! See you.) Pungkas Jovanka.


Jo kembali teringat tentang kebersamaannya dengan Rey. Di malam yang gelap itu, Jovanka membuka jendela kamarnya. Ia melihat ke pintu gerbang, di mana dulu Rey menunggunya di situ ketika Jo marah terhadapnya. Jo juga mengingat tentang perlindungan dan rasa nyaman yang selalu Rey berikan padanya.


“Ya Tuhan, apakah aku bisa melangkah bersama orang lain? Bisakah aku hidup tanpa cinta dari Rey setiap harinya?”


Jo kembali meneteskan air mata. Ia memilih duduk di balkon kamarnya. Menikmati hilir angin malam menjelang pagi yang menusuk tulang.


“Tak pernah terpikir olehku


Tak sedikit pun ku bayangkan


Kau akan pergi tinggalkanku sendiri


Begitu sulit kubayangkan


Begitu sakit kurasakan


Kau akan pergi tinggalkanku sendiri.”


Air mata itu tak terbendung lagi, terus mengalir di pipinya. Bahkan, beberapa kali Jo mengusapnya, air itu kembali meluncur bebas di pipinya. Nyanyian itu seakan tercurah dari lubuk hati terdalamnya. Ia merasa akan ditinggal oleh Rey, entah mereka akan bertemu lagi atau tidak, setelah Jo menikah dan Rey pindah sekolah. Semakin berat untuk mereka bisa bersama.


.


Sampai pagi hari, Jo tidak dapat tidur hingga terlihat lingkar matanya sedikit hitam karena kurang tidur.


Tok ... Tok ... Tok ....


“Non Jovanka, ada Non Salsa,” ucap asisten rumah tangganya di balik pintu.


“Masuk aja!” teriak Jo dari balkon kamarnya.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka.


“Jo?” sapa Salsa.


“Iya, Sa. Ada apa?”


Jo masih melihat ke luar gerbang dengan tatapan kosong.


Salsa mendekat dan melihat Jo. Salsa merasa prihatin dengan keadaan sahabatnya. Ia tidak menyangka, perjalanan hidup sahabatnya bisa serumit ini. Salsa teringat ketika mereka masih berempat, selalu ceria dan senyum selalu mengembang di bibir Jovanka.


“Aku mau kasih ini ke kamu, Jo. Ini milikmu.” Salsa memberikan paper bag putih itu.


“Ini apa?”


Jo memandang dengan tatapan yang entah.


“Buka aja.”


Jo membuka paper bag kecil dan mengambil benda yang ada di dalamnya. Benda warna merah terang yang berbentuk hati itu dibuka oleh Jovanka.


Jo terpana melihat kalung berbentuk hati. Ia mengambil dan membuka liontin itu.


“Rey?”


Air mata Jo kembali luruh di pipinya.


“Apa maksudnya, Sa?”


“Kamu baca saja kertas pink itu. Rey menulis sesuatu,” ucap Salsa.


Jo membuka kertas kecil dan membaca isi surat itu. Pandangan Jo tiba-tiba menjadi gelap, hitam lalu ia tak sadarkan diri.


“TANTE!!!” Salsa teriak histeris.


..


Bersambung..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁

__ADS_1


__ADS_2