Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 49. Fobia


__ADS_3

Udara pagi ini sangat terasa dingin. Di rumah Reynand belum terlihat aktivitas apa pun. Nadin juga tampaknya belum bangun. Karena ini hari minggu, semua masih terlelap dalam mimpi.


Sang mentari pagi sudah menyelinap melalui celah lubang kecil kamar. Hangatnya mentari pagi, seakan menjadi pelukan hangat ketika semalam bumi telah diguyur hujan.


Rey bangun dari tidurnya. Melihat jam yang tertempel di dinding dan segera bangkit dari ranjangnya. Rey berjalan ke kamar mandi dan meraih handuk yang berwarna putih.


Ritual mandi pun telah usai. Rey membuka lemari, mengambil kaos berwarna putih dan memakai celana pendek. Ia melangkahkan kakinya ke meja makan, perut yang keroncongan telah membawanya ke depan meja makan untuk sarapan.


“Tumben, belum ada yang makan?” ujar Reynand ketika sudah ada di meja makan.


Tidak ambil pusing, Rey langsung mengambil roti tawar pandan yang diolesi dengan selai coklat.


“Bi, tolong buatin hot capuchino!”


“Baik, Den!”


Tidak berselang lama, asisten rumah tangganya pun kembali membawa satu cangkir hot capuchino.


“Ini capuchino panasnya, Den! Ada lagi yang bisa Bibi bantu?”


“Enggak, Bi. Makasih.”


Rey menikmati sarapan paginya sendiri. Hanya roti tawar yang diolesi selai dan hot capuchino yang menemaninya saat ini.


Setelah roti tawar dan hot capuchino telah bersemayam di perut Reynand. Ia pun memutuskan untuk pergi ke pantai. Menikmati hari liburnya sebaik mungkin, untuk menghilangkan rasa stres ketika otak yang harus diforsir dengan segala bentuk aktivitas di sekolahnya.


Rey meraih jaket dan kunci mobil, ia berjalan menuju garasi dan mengeluarkan mobil hitamnya.


“Mau ke mana, Den?” tanya scurity rumahnya.


“Ke pantai. Kalau Mama atau Nana nanyain, bilang aja ke pantai ya, Mang?” ujar Rey sebelum melesat bersama mobilnya.


“Baik, Den!”


Rey melesat dengan kecepatan tinggi di bawah langit cerah yang menaungi.


Rey memarkir mobilnya di pinggir pantai yang dihalangi oleh tembok semen. Ia ke luar dalam mobilnya dan duduk menikmati hangatnya mentari dan hilir angin laut yang membelai tubuhnya.


Rey duduk seorang diri dan ia memejamkan mata untuk sekedar merelaksasi pikiran dan hatinya. Hilir angin pantai dan hangatnya mentari pagi, membuatnya lebih tenang.


“Kak Rey?”


Suara wanita menyebut namanya dengan lembut.


Jovanka? Umpat hati Reynand.


Netranya kini terbuka dan melirik ke arah suara seorang gadis, “Adara?” Netra Rey membulat.


Bibir merah muda itu tersenyum. Langkah kakinya pun semakin mendekat dan ia duduk di samping Reynand.


“Kakak lagi ngapain?” sapa Adara.


“Menikmati hangatnya mentari pagi, lu sendiri?” tanya Rey.


“Aku suka ke sini. Kadang, seminggu sekali. Tapi ....”


“Tapi kenapa?” tanya Reynand.


“Sudah berapa minggu ini, aku tidak pernah ke sini. Baru hari ini, aku diperbolehkan menikmati udara pantai,” jelas Adara.


“Dilarang sama Papamu?”


Adara mengangguk.


“Oh.”


“Memang kalau libur Kak Rey suka ke sini?” tanya Adara.


“Enggak selalu sih. Tapi, kalau lagi boring biasanya ke sini. Gue suka mendengar debur ombak yang menerjang karang, menikmati belaian angin laut di bawah langit cerah.”


Adara tersenyum.


Mereka mengobrol banyak hal. Hingga tidak terasa matahari sudah naik ke atas.


“Lu laper gak, Adara?” tanya Rey.


“Enggak. Panggil Dara aja, Kak!” pintanya.


“Oke! Tapi, gue laper. Cari makan, yuk?” ajak Reynand.


“Enggak, Kak. Makasih,” ucap Adara malu-malu.


“Lu naik apa ke mari? Rumah lu 'kan cukup jauh sampai ke tempat ini, Dar?”


“Naik taksi on line, Kak. Ya sudah, katanya laper? Cari makan, gih!” ujar Adara.


“Oke! Gue cari makanan dulu, ya? Lu mau dibeliin apa?”

__ADS_1


“Gak usah. Aku gak mau ngerepotin Kakak,” elaknya.


“Ya udah. Beneran lu gak mau ikut?” tanya Rey menegaskan.


“Iya. Aku tunggu di sini aja, Kak.”


Rey melesat mencari warung nasi di sekitar pantai tapi tidak ada yang buka. Hanya ada bakso, mi ayam dan bubur ayam yang berjajar di sana. Itu pun hanya beberapa saja, tidak banyak yang berjualan di situ.


Akhirnya, Rey memarkirkan mobilnya di mini market. Ia membeli beberapa roti dan camilan kecil, tak lupa membeli dua botol air mineral.


Rey kembali memacu mobilnya ke pantai, setelah melakukan pembayaran. Langit yang cerah, seketika mendung tertutup oleh awan hitam.


“Sial! Adara masih di sana gak, ya?”


Rey memacu mobilnya dengan kencang, sebab gerimis pun mulai turun rintik-rintik.


Ternyata Adara masih duduk di tembok itu. Matanya terlihat masih menikmati pemandangan pantai walau gerimis sudah mulai turun.


“Dara!”


Rey memanggil namanya.


Adara menoleh.


“Sini!” pekik Rey yang ada dalam mobil.


Adara bangkit dari duduknya. Ia melangkah, mendekati mobil Reynand.


Ceklek!


Rey membuka pintu mobil, “Masuk!” ujar Reynand.


Tanpa ada ucapan, Adara masuk ke mobil Reynand. Wajahnya terlihat basah karena terkena gerimis. Bibirnya sedikit bergetar karena menahan hawa dingin pada tubuhnya.


“Lu mau sakit?” tanya Rey.


Adara terdiam.


Bibirnya masih gemetar dan tubuhnya mulai sedikit menggigil.


Rey mengambil tisu yang ada di atas dashboard mobil dan ia mengusap wajah cantik itu perlahan. Entah apa yang ada dalam pikiran Rey, hingga ia menenggelamkan wajah Adara ke dadanya. Rey mendekap Adara.


Kak Rey, kamu mengingatkanku pada seseorang! Ia persis seperti kamu. Gaya bicaranya, hangat dekapanmu membuatku kembali terbayang ke masa lalu, umpat hati Adara.


Dekapan itu terjadi beberapa menit. Baik Adara dan Rey merasa sama-sama nyaman.


“Sorry, gue gak ada maksud apa-apa,” ujar Reynand yang melepaskan dekapannya dari Adara.


Keadaan menjadi canggung ketika Rey menyadari bahwa dirinya telah mendekap gadis yang baru ia kenal hanya dalam hitungan jam saja.


Kenapa gue sampai berani memeluknya sih? Padahal, Adara bukan siapa-siapanya gue. Arggghhh! Bodoh! Pekik hati Reynand.


Hening.


“Yaudah, gue antar lu ke rumah, ya? Baju lu basah. Takutnya malah sakit nanti,” ujar Reynand.


Adara mengangguk.


Rey memacu mobilnya menuju rumah Adara. Hujan pun semakin deras. Rey terpaksa menepikan mobilnya karena arah ke rumah Adara biasanya melewati titik banjir.


“Dara, kita tunggu hujan sedikit reda, ya? Biasanya di depan sana suka banjir. Percuma, mobil gue gak bisa lewat karena di sana biasanya banjir cukup dalam,” ujar Reynand.


“Iya, tak apa, Kak,” jawab Adara lembut.


“Makan dulu nih. Lumayan buat ganjal perut.” Rey memberikan satu kantong keresek makanan dari mini market.


Adara merainya. Ia mengambil roti isi coklat, “Ayok, Kakak juga makan.” Ajak Adara.


“Iya santai saja.”


Rey hanya memperhatikan Adara melewati kaca spion mobil. Entah kenapa, ia menyukai sikap Adara yang mirip sekali dengan Jovanka. Bedanya, Adara itu merupakan adik kelas Reynand.


JEDER!


Petir menyambar, dengan suara menggelegar, sehingga roti yang sedang Adara makan terhempas dari genggamannya. Tangannya segera menutup telinga, sepertinya Adara fobia terhadap petir.


“Dara, lu kenapa?” Rey memegang tangan Adara yang sedang menutup telinga.


Wajah Rey kini begitu dekat dengan Adara. Matanya masih tertutup tapi tangannya bisa merasakan hangat dari genggaman lengan lelaki yang baru ia kenal.


Adara menyandarkan kepalanya di pundak Rey. Tangannya pun melingkar di tengkuk Reynand.


Rey dapat merasakan degup yang kencang pada Adara. Sepertinya dia memang fobia terhadap petir.


Rey mengusap rambutnya, “Tenang aja, ada gue! Gak usah takut!” ujar Rey berbisik pada Adara.


Adara mengangguk dan mulai melepaskan pelukannya dari tengkuk Reynand.

__ADS_1


“Maafin Dara, Kak Rey. Dara ... Dara takut sama kilatan petir,” ujar Adara.


Rey tersenyum, “Iya, gak papa. Ya sudah, lanjut perjalanannya, ya? Semoga tidak terhalang oleh banjir.”


Adara mengangguk.


Kembali, mobil hitam itu berpacu dengan gemercik air hujan.


.


Srett!


Mobil telah sampai di rumah Adara.


“Masuk dulu, Kak?”


Adara berbasa-basi.


“Makasih, gue langsung balik aja. Cepetan lu mandi dan ganti baju, biar gak masuk angin,” ujar Reynand.


“Iya, Kak. Makasih atas hari ini ya, Kak?”


Rey mengangguk.


Kini tubuh mungilnya telah ke luar dari dalam mobil Reynand. Ia kini telah masuk ke dalam rumah dan Rey kembali pulang.


.


Malam telah tiba. Rey masih merasa dekapan gadis yang sedang ketakutan tadi. Adara, nama itu sedikit mengobati kerinduannya akan sosok Jovanka.


Klik!


Rey mematikan lampu kamar dan segera tidur, karena esok hari harus kembali sekolah.


***


Drrttt!


Ponselnya bergetar.


Rey meraih ponsel itu dengan mata yang masih tertutup. Ia membuka matanya ketika ponsel sudah berada dalam genggamannya, lalu mengusap layar ponsel untuk mematikan alarm yang terpasang pada aplikasi hand phonenya.


Rey bangkit dari tempat tidur. Seperti biasanya ia meraih handuk dan bergegas mandi.


Rey memakai seragam DFS menambah pesona ketampanannya. Semprotan wangi parfum maskulin telah melekat di tubuhnya.


Semuanya sudah siap. Rey melangkahkan kaki menuruni anak tangga menuju meja makan.


“Mana Nana, Ma?” ujar Rey sambil menarik kursi yang ada di ruang makan.


“Barusan berangkat sekolah,” ujar Nadin yang memakai syal warna maron pemberian Jovanka.


“Em ... Mentang-mentang syalnya baru. Dipakai teroosss!” goda Reynand, meledek Mamanya.


“Ini pemberian dari gadis yang Mama bilang, Rey!”


“Oh ....” Tanggapan Rey. Sambil menikmati sandwich di pagi ini.


“Ini baru ia beli loh, Rey. Ia kasih ke Mama karena melihat Mama kedinginan, Mama jadi terharu. Kapan, ya. Mama bisa berjumpa lagi dengannya?” curhat Mamanya.


“Entah!”


Rey kembali menyuapkan sandwich ke mulutnya.


“Ternyata ada bordirnya, Rey!” celetuk Mamanya.


“Heleh! Paling cuma merek, Ma!” ujar Rey tanpa menoleh.


“Mungkin,” ujar Mamanya, “ReyAbadi. Kok nama depannya sama kamu, Rey?” ujar Nadin.


“Kebetulan kalik, Ma.”


Rey menyeruput capuchino.


“Enggak tau. Ini dari gadis calon dokter itu, Mama mau punya menantu seperti Jovanka,” ujar Nadin.


UHUK!


Rey terbatuk mendengar nama itu.


“Kamu kenapa, Sayang?”


Rey meneruskan minumnya.


“Gak, gak papa, Ma. Coba Rey liat syalnya?” pinta Reynand.


Nadin memberikan syal warna maron itu pada Reynand. Rey tersentak dengan huruf yang tertulis pada syal maron itu. Rey ingat betul ketika Jovanka mengukir tangan Rey dengan bolpoin, nama itulah yang ia ukir. ReyAbadi.

__ADS_1


~Visualisasi REYNAND ADAM~



__ADS_2