Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
118. Malu


__ADS_3

Cahaya lampu dari sudut meja tersebut tidak terlalu terang. Namun, Davin dapat melihatnya dengan jelas. Dia begitu mengenal sosok Jovanka yang hingga saat itu mengisi relung hatinya.


Seketika konsentrasinya harus bubar ketika suara Mala memanggil namanya, "Davin!"


Dengan cepat Davin menoleh pada arah Mala yang ternyata sudah duduk di hadapannya.


"Mala? Kamu dari tadi?"


"Enggak. Baru saja aku duduk. Oh, iya. Gimana? Berapa uang yang kamu mau?" tawar Mala santai.


"Kita bahas nanti saja, La. Aku harus memperhitungkan dengan matang agar meminimalisir bila mana ada kebangkrutan."


"Baiklah. Oh, iya. Pulang, yuk? Aku ada keperluan lain," pinta Mala.


"Oke!"


Bibir Davin berucap, tapi tidak disertai dengan tindakan. Separuh pikirannya masih tertinggal di sana. Dia masih memikirkan Jovanka.


"Davin! Ayo," rengek Mala lagi.


Davin tidak menyahut. Dia berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mengikuti Mala dengan hati yang entah.


Sedangkan di dalam restoran sana, Reynand dan Jovanka sedang asyik menikmati keromantisan di sela senggang waktu. Maklum saja, keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tak ayal, waktu malam harilah yang mereka pergunakan untuk menjalin keromantisan.


"Sayang ...." Reynand memanggil, pria itu masih menggenggam tangan istrinya.


"Iya."


"Di klinik suka ada yang godain kamu, gak?" tanya Reynand yang seperti firasat.


Kenapa Rey bertanya seperti itu? Apakah dia ada rasa curiga terhadapku? Batin Jovanka menerka-nerka.


"Yank? Kok gak dijawab?" Rey kembali bertanya.


Jovanka tersenyum layaknya tidak terjadi apa-apa. Dari pihak Jovanka memang tidak terjadi apa-apa. Namun, dari pihak lain tidak seperti itu. Seperti Davin yang sesungguhnya dari dulu mencintai Jovanka.


"Kalau aku tidak. Entah dengan orang lain," jawab Jovanka seolah teka-teki untuk Reynand.


"Berarti ada?"


"Gak tau. Perasaan orang lain, kan, enggak aku tau, Sayang. Lagian, tumben-tumbenan kamu bertanya seperti itu? Kenapa?" Jovanka bertanya dengan santai walau hatinya sedikit gusar. Bagaimana tidak? Dia sesungguhnya mengetahui perasaan Davin terhadapnya.


"Ingin tau aja. Secara istriku, kan, cantik," puji Rey tapi dengan bibir mengerucut.


Jovanka tersenyum melihat ekspresi suaminya. Dia mencubit pipi Reynand dengan cukup kuat.


"Awww! Sakit, Jo." Reynand meringis sambil memegang tangan Jovanka yang masih menempel di pipinya.

__ADS_1


"Rasain! Makanya gak usah cemburu seperti itu," pinta Jovanka sambil berusaha melepaskan tangan Reynand yang menggenggamnya.


"Wajar, dong, kalau aku cemburu?" ucap Rey sambil mengecup jemari lentik yang sedang dia genggam.


"Idih ... malu, Rey." Pipi Jovanka bersemu merah. Dia merasa malu dengan sikap Rey.


"Tapi suka, kan?" ucap Rey yang kembali mengecup jemari itu dengan bertubi-tubi.


Tidak dipungkiri perasaan Jovanka pun terlampau bahagia. Kecupan kecil di tangannya membuat dirinya bahagia. Kebersamaan seperti itu yang selalu Jovanka nantikan. Di mana hanya ada dia dan Reynand bersama keromantisan-keromatisan yang ditunjukkan oleh Reynand.


Jovanka dan Reynand menikmati sajian makan malam. Mata Reynand tidak henti-hentinya memandang wajah cantik Jovanka. Dia begitu bersyukur telah diberikan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang menjadi impiannya sejak berseragam putih-abu.


Cinta Reynand memang tidak lekang oleh waktu. Seiring waktu yang dulu memisahkan mereka membuat pribadi Rey bertambah romantis untuk Jovanka.


"Rey." Jovanka memanggil di sela makan malamnya.


"Iya?" Reynand menjawab, tetapi tidak menatapnya.


"Janji sama aku, ya?"


'Uhukk!'


Reynand terbatuk. "Janji apa, Sayang?"


"Janji kalau kamu gak akan selingkuh dari aku."


"Ya ... jangan!"


"Eh ... perasaan orang mana ada yang tau?" ucap Rey yang membuat Jovanka kesal. "Kok, cemberut?" tanya Rey lagi ketika melihat bibir istrinya mengerucut.


"Aku gak suka," gumam Jovanka.


Reynand tersenyum melihat istrinya ketika merajuk seperti itu. Rey memegang dagu Jovanka yang sedang tertunduk.


Kini, pandangan mereka telah saling bertatap mesra. Tidak ada kata dari bibir keduanya. Hanya tatapan lekat yang seolah menjadi alasan keduanya untuk saling percaya.


Dari dulu tatapan matamu bisa membuat aku luluh, Rey. Batin Jovanka kala melihat mata sipit berwarna hitam memandang wajahnya.


Reynand melepaskan tangannya dari dagu Jovanka. Dia berdiri lalu memiringkan wajahnya ketika berada di depan bibir Jovanka. Sontak, degup Jovanka kian mengencang saat napas Reynand terasa hangat menyapu bibirnya.


"Re-Reyy, kamu mau apa?" tanya Jovanka terbata dengan suara begitu pelan.


Namun, bibir Reynand menjauh lalu mendekat pada pipi Jovanka.


"Aku tidak dapat mengontrol perasaan orang lain terhadapku. Tapi, aku yakinkan tidak akan ada yang dapat masuk dalam hati dan hidup aku. Aku sudah diberikan berlian, alangkah bodohnya kalau aku membuang berlian yang begitu berharga dalam hidupku," bisik Reynand dengan diakhiri kecupan hangat pada pucuk kepala Jovanka.


Jovanka begitu bahagia dengan sikap dan perkataan dari suaminya yang begitu menyejukkan.

__ADS_1


Reynand memang benar. Siapa orang yang dapat mengontrol hati orang lain? Semua itu akan mengalir begitu saja kalau memang Reynand tidak menanggapinya.


Mempunyai rasa terhadap orang lain pun tidaklah salah. Namun, yang harus digarisbawahi adalah posisi kita sebagai apa? Karena sesungguhnya mempunyai rasa suka terhadap lawan jenis sangatlah normal. Asal bisa mengendalikan dari rasa suka berlanjut sayang yang akan membuat keadaan menjadi berubah.


Jovanka melingkarkan tangannya di pinggang Reynand. Rey dan Jovanka tidak menyadari kalau kemesraan yang mereka perlihatkan itu ada di tempat umum.


"Ehm!" Seseorang berdehem ketika hendak melewati Rey dan Jovanka.


Seketika pelukan Jovanka terlepas, pun dengan kecupan Rey pada Jovanka. Keduanya terlihat malu ketika ada seorang pria paruh baya memandang mereka dengan seulas senyum.


"Dilanjut di rumah saja. Kasihan kalau di sini ada yang belum halal," ucap pria paruh baya masih dengan seulas senyum.


Baik Rey dan Jovanka tidak ada yang menjawab. Namun, dengan pipi yang bersemu merah telah menjawab semuanya bahwa mereka sadar dan malu telah lupa mencurahkan rasa sayang mereka di ranah umum.


Pria paruh baya itu pun melenggang elegan menuju pada salah satu meja yang ternyata sudah ada orang di sana. Sepertinya pria itu pebisnis.


"Kamu, sih, Rey, gak liat-liat tempat," ucap Jovanka dengan pipi yang masih bersemu merah.


Rey mengangkat satu alisnya ketika memandang Jovanka.


"Dih ... gitu banget liatinnya?" Jovanka masih tersenyum.


"Emmm ... kalau gitu, kita pulang sekarang, yuk?" ajak Reynand dengan mata berkedip satu yang terlihat genit.


"Idih ... mau apa coba? Baru juga jam delapan," protes Jovanka.


"Mau melanjutkan yang tadi, apa lagi?"


"Enggak-enggak. Masih sore."


"Dari pada aku lakuin di sini?" ancam Reynand.


"Gak!"


"Ya udah, ayok, pulang."


"Iihhh ... aku masih mau makan," elak Jovanka.


"Ya sudah, habiskan dulu makananmu, biar aku tunggu."


Jovanka hanya melirik kesal, sedangkan Reynand kembali mendekat pada telinga Jovanka.


"Ehhh ... mau apa lagi?" Jovanka mulai gerogi karena bisa saja suaminya nekat. Bagi Jovanka, Reynand seperti berondong yang bisa saja melakukan hal di luar nalar.


"Aku menyuruhmu makan yang banyak agar punya banyak tenaga ketika di atas ranjang," bisik Reynand.


Mata Jovanka membulat dengan Saliva yang ditelan terasa begitu sulit setelah mendengar ucapan Rey yang terkesan seperti ancaman untuknya.

__ADS_1


__ADS_2