Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
107. Elang Kepo


__ADS_3

Rey dan Jovanka telah kembali beraktivitas. Rey kembali dengan pesawat yang mengharuskannya terbang mengantar tiap penumpang sampai tujuan, pun dengan Jovanka yang masih bertugas di klinik bandara tempat Reynand bekerja.


Melesat dengan mobil sport warna hitam, Rey memacu mobilnya dengan kecepatan cukup kencang. Namun, tidak berlaku ketika telah memasuki pusat kota atau ketika melewati pasar tradisional yang mengharuskannya memacu si hitam itu dengan pelan.


"Sayang, kamu makin cantik," puji Reynand ketika melirik istrinya dengan ujung mata. Bahkan, Rey sering mencuri pandang melihat wajah Jovanka yang terlihat di kaca spion mobil bagian dalam.


"Gombal," jawab Jovanka yang terlihat malu-malu.


Pipi Jovanka bersemu merah. Dia tidak berani menatap wajah Reynand yang memuji dirinya. Jovanka yang memakai kemeja polos berwana peach dengan rok selutut memang terlihat begitu cantik. Ditambah rambut hitam yang sedari dulu dibiarkan panjang menutupi punggung.


Bibir Reynand tersenyum manis ketika lampu merah telah menyala yang otomatis mobil dipaksa harus berhenti. Lelaki itu kini leluasa melihat wajah istrinya yang cantik.


"Jo." Reynand menggenggam jemari lentik Jovanka.


"Iya."


"Aku sayang kamu." Reynand mendekatkan bibirnya pada kening Jovanka. Dia tidak menyadari kalau lampu merah di sana hanya 15 detik saja.


"Ish! Jangan aneh, deh. Ini di jalan, Sayang."


"Aku hanya ingin mengecup keningmu saja."


"Enggak. Mana ada kamu cium doang, nanti ke yang lain-lain."


Reynand mengulum senyum karena memang hal itu yang biasa terjadi padanya. Berawal dari cium, raba lalu rasa, hallah!


Reynand terperanjat ketika klakson mobil dan motor yang ada di belakangnya telah ramai berbunyi saling bersahutan. Secepat kilat, Rey menepikan mobilnya.


"Tuh, kan. Nakal, sih," ucap Jovanka dengan seulas senyum.


"Kecup doang, Sayang," rengek Rey seperti anak kecil.


"Gak!"


"Kecup."


"Enggak!"


"Ayolahhhh ...."


Cup!


Jovanka mencium pipi Reynand dan bibir lelaki itu pun tersenyum lebar.


"Nahhh ... gitu, dong. Kasih semangat buat aku kerja," kata Rey yang kembali menancap mobil sportnya.


Jovanka tersipu, sesungguhnya dia ingin tertawa ketika melihat pipi Reynand yang ada lipstik bekas bibirnya. Tanda bibir kecil walau terlihat samar karena Jo memakai warna yang tidak menyala.


"Kamu kenapa?" tanya Reynand ketika melihat istrinya yang sedang tersipu.


"Enggak."

__ADS_1


"Hmm ...." Rey hanya berdehem. Dia memang tidak suka memaksa, terlebih pada istrinya. Cukup bagi Rey ketika melihat Jovanka tersenyum ceria. Kecuali bermanja. Rey cukup memaksa untuk hal ini. Maklum, masih baru dan hangat-hangatnya.


Hingga akhirnya mobil telah sampai di lobby parkir bandara. Rey membuka handle pintu mobil. Baru saja pintu itu sedikit terbuka, Jo langsung menarik lengan suaminya.


Rey mengernyitkan dahi, "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rey kala melihat tangan Jovanka lalu beralih pada wajah istrinya.


Jovanka kembali tersenyum


Ceria sekali dia pagi ini. Ada apa sebenarnya? Batin Reynand.


"Mmm ... itu." Jovanka menunjuk pipi Rey malu-malu.


"Hm?" Kening Rey mengkerut pertanda heran.


"Hihihi ...." Jovanka malah tertawa geli. "Sini!" pinta Jovanka sambil meraih kedua pipi Reynand.


Mata sipit Reynand membulat ketika wajah mereka berdekatan dengan sedikit jarak. Bahkan, hangat napas Jovanka pun kini telah dia rasakan. Jantung Reynand berdebar begitu kencang. Hingga akhirnya tersadar ketika jemari lentik istrinya menyentuh pipi.


Jemari Jovanka begitu lembut dan hangat membuat degup Reynand semakin tidak menentu dan liar. Jovanka mengusapnya pelan.


"Udah selesai," kata Jovanka yang masih menangkup kedua pipi Reynand.


"Apanya?"


"Tadi ada gambar bibir bekas lipstik aku di pipi kamu."


"Owalah ... hanya itu?"


"Jo?"


"Iya."


"Boleh aku meminta sesuatu?"


"Apa?" jawab Jovanka begitu halus dan tatapan mata mereka begitu intens.


"Cium lagi, dong," pinta Rey sambil nyengir. Bahkan, barisan gigi putihnya sungguh terpampang jelas.


"Ish! Kumat!" ketus Jovanka yang membuat Rey tertawa. "Udah, ah. Aku kesiangan nanti." Jovanka membuka pintu mobil lalu bergegas keluar.


"Tunggu!" Reynand menahan Jovanka dengan menarik tangannya.


"Apa lagi?"


"Emm ... nanti malam, ya?"


"Hadeuhh ...." Jo memutar bola matanya dan seketika Reynand tersenyum melihat ekspresi wajah sang istri.


***


Bunyi mesin-mesin pesawat yang sudah beroperasi kini kembali terdengar di telinga Reynand. Aktivisnya kembali di tengah-tengah sahabat dan juga para penumpangnya di pesawat.

__ADS_1


"Weiii! Pengantin baru," goda Elang sambil menepuk pundak Reynand yang sedang menikmati secangkir latte.


"Eh, lu, El. Gue kira siapa? Latte, Kuy!" ajak Rey sambil mengangkat cangkir berisi air hangat dengan warna cokelat mirip seperti moccha.


"Hallah, gak maen! Americano, dong! Lebih strong!" katanya sambil berteriak meminta dibuatkan.


Rey hanya tersenyum. Masalah kopi, Rey memang menyukai rasa yang lembut seperti latte. Bahkan, latte saja baru dia minum ketika sudah bekerja. Ketika sekolah, dia samasekali tidak pernah meminum kopi jenis apa pun. Berbeda dengan Elang yang memang pecinta kopi espresso.


Reynand dan Elang sama-sama menikmati secangkir kopi pagi itu dengan celotehan Elang yang kepo masalah malam pertama.


"Nikah dulu makanya, biar lu paham," jawab Reynand ketika menanggapi pertanyaan Elang.


"Yaelah, kisi-kisi dulu nape? Biar gue sedikit tau."


"Bukan untuk diumbar. Gila aja gue ngumbar malam pertama gue sama istri?"


"Bukan itu maksud gue."


"Lalu?" Rey menyipitkan mata.


Elang mendekatkan bibirnya pada pipi Reynand. Eits, bukan juga untuk mencium pipinya. Dia hanya berbisik karena pertanyaannya sedikit sensitif alias memalukan untuk ditanyakan.


"Gimana caranya bikin istri lu relaks? Kata orang-orang malam pertama itu sulit untuk menembus gawang pertahanan si istri," bisik Elang dengan sangat pelan yang membuat Reynand terbatuk ketika meminum latte.


'Uhukk!!!'


Latte di mulut Reynand tersembur.


"Jawab! Malah batuk," kesal Elang dengan sorot mata sinis.


"Yaelah, El. Pertanyaan lu yang bikin gue syok. Udah, nikah aja dulu, entar juga masalah malam pertama, mah, lancar, bisa sendiri kagak usah ada kisi-kisi," ujar Rey yang lalu bangkit dari kursi.


"Lu mau ke mana?"


"Bayar!" Rey berlalu pergi.


"Punya gue bayarin, ya?!" Elang berucap setengah berteriak.


"Wokay!"


Sedangkan di ruangan lain, ada Jovanka yang sudah siap di meja kerjanya. Dinding ruangan berwarna putih serta alat-alat kedokteran yang terlihat di dalam sana. Terutama stetoskop yang selalu menggantung mengalungi tengkuknya.


"Jo?" sapa seorang lelaki.


Jovanka yang sedang memegang ball point' pun mendongak. "Davin?"


Ternyata hari ini jadwal Davin yang bertugas.


Bibir Davin tersenyum. Sesungguhnya, lelaki ini sempat menaruh rasa pada Jovanka ketika dia jauh dari kekasihnya yang masih begitu muda.


Adara masih berusia belasan tahun dan saat ini baru saja masuk kuliah. Perbedaan usia Davin dan Adara sekitar 8 tahun dan saat ini telah mendapat restu dari ayahnya yang tidak lain atasan Reynand. Lucunya, Adara pun sempat suka pada Reynand waktu dulu.

__ADS_1


Hmm ... akankah mereka bekerja secara profesional? Ataukah akan ada debar lain yang menyinggahi mereka di sela kesibukan melanda pekerjaan? Semua itu bisa terjadi, terlebih karena telah terbiasa yang akan menimbulkan kesan nyaman.


__ADS_2