
Langkah Rhiena terasa lemah ketika berjalan mendekati Vicky yang sedang terbaring. Ruangan yang didominasi warna putih serta peralatan medis yang tidak diketahui namanya oleh Rhiena sungguh sangat mengerikan. Sementara pria yang menolong Vicky telah pamit setelah menyerahkan ponsel milik Vicky pada Rhiena.
Jarum yang tertancap pada pergelangan tangan menjadi jalan untuk memasukkan cairan infus pada tubuh tegap yang kini terbaring lemah tidak berdaya. Mata yang terpejam serta napas yang cukup teratur dari Vicky membuat Rhiena merasa bersalah.
Apa ini semua gara-gara aku, Kak? Batin Rhiena yang disertai air bening yang mengalir pada pipinya.
Rhiena duduk di kursi tepat di samping Vicky. Wanita itu meraih tangan Vicky lalu menempelkannya di pipi. "Maafin aku, Kak," ucap Rhiena beserta air mata yang masih mengalir.
Tidak ada aktivitas di dalam sana. Hanya gumaman penyesalan dari Rhiena, detik jarum jam yang terus berputar dan bunyi 'bib' dari komputer yang terhubung untuk mengetahui detak jantung pasien yang ada di dekatnya.
Sudah lebih dari tiga jam Rhiena duduk menemani Vicky hingga dia lupa dengan ibunya yang bisa saja mengkhawatirkannya karena tidak kunjung datang ke kantor.
"Astaga! Aku belum menelpon Mama," ucap Rhiena kala dia tersadar.
Rhiena melepaskan genggaman tangan Vicky lalu berjalan untuk meminjam telepon rumah sakit karena ponselnya lowbat.
"Halo?" Terdengar suara Nadin dari dalam telepon ketika pihak rumah sakit memberikan ijin pada Rhiena untuk menghubungi ibunya.
"Ma?" ucap Rhiena terhenti.
"Na? Ini kamu, sayang?" tanya Nadin memastikan. Dia memang mengenali suara putrinya, tetapi karena nomor yang masuk bukan nomor putrinya, Nadin menegaskan kembali.
"Iya, ini Nana, Ma."
"Astaga, Na. Mama menelponmu berulang kali tapi ponselmu enggak aktif-aktif. Kamu di mana, Nak? Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Nadin yang terdengar begitu mengkhawatirkan putrinya.
"Nana baik-baik aja, Ma. Nana lagi di rumah sakit."
"Apa? Kamu kenapa, Sayang? Di rumah sakit mana? Mama mau segera ke sana," ucap Nadin terdengar buru-buru.
"Tenang dulu, Ma. Nana enggak apa-apa, kok. Baik-baik malah."
"Lalu, sedang apa kamu di rumah sakit, Sayang?"
"Menemani Kak Vicky. Dia kecelakaan."
"Astaga! Sekarang gimana keadaannya? Mama ke sana, deh." Nadin terdengar cemas.
"Jangan. Bukankah setengah jam lagi, Mama ada meeting, ya?"
"Iya, biar sama asisten aja. Mama mau nengokin Nak Vicky," ujar Nadin.
"Jangan, Ma. Nanti Nana kabari lagi aja. Mama di kantor aja, biar Kak Vicky sama Nana. Nanti juga Nana coba hubungi keluarganya."
"Yakin, Mama gak perlu ke sana?"
"Iya. Semua baik-baik aja, kok, Ma."
Setelah ada sedikit perdebatan, akhirnya sambungan telepon pun berakhir. Sesungguhnya ada rasa takut dalam diri Rhiena, karena sesungguhnya dia pun tidak mengetahui keadaan Vicky saat itu.
Gagang telepon berwarna putih itu kini telah kembali ke tempatnya. Rhiena pun pergi menemui dokter setelah mengucapkan kata 'terima kasih' karena diperbolehkan untuk meminjam telepon rumah sakit.
"Permisi!" ucap Rhiena sambil mengetuk pintu warna putih.
__ADS_1
"Masuk!" Suara lelaki terdengar dari dalam.
Rhiena memutar kenop pintu lalu mendorongnya. Di sana terlihat seorang pria mengenakan kemeja yang didobel dengan jas praktik rumah sakit serta stetoskop yang melingkar di tengkuknya.
"Silakan duduk," ucap si pria dengan seulas senyuman dan ucapan yang begitu sopan.
"Terima kasih, Dok," ucap Rhiena sambil menarik kursi lalu duduk.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria yang kini ada di hadapannya.
"Iya, Dok. Saya ingin menanyakan tentang keadaan pasien yang dirawat di ruang ICU atas nama Vicky," papar Rhiena.
Dokter pun menjawab, dia menerangkan keadaan Vicky dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Jadi, Kak Vicky bisa saja amnesia, Dok?" tanya Rhiena dengan ekspresi penuh tanya.
"Kami belum bisa menyimpulkan sebelum pasien sadar. Namun, sejauh pemeriksaan kami, memang ada luka di kepala Pak Vicky."
"Yaa ... Tuhan ...." Rhiena menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia benar-benar menyesal saat itu karena merasa Vicky celaka karena penolakannya.
Rhiena berjalan gontai menuju ruang ICU. Dia melihat wajah tampan kekasihnya dengan mata yang masih terpejam.
"Kak, bangun, dong. Kenapa Kakak seperti ini?" gumam Rhiena dengan segala kesedihan dan ketakutannya.
Waktu menunjukkan hampir jam dua belas siang. Rhiena masih setia menemani Vicky meskipun perutnya terasa perih, Rhiena tidak beranjak mencari makan. Dia begitu takut dan menyesal karena hingga siang hari, Vicky masih belum sadarkan diri.
"Naaa ...." Suara Vicky begitu lemah dan serak serta ada pergerakan tangan yang dirasakan oleh Rhiena.
"Kak Vicky?" Mata Rhiena membulat. Dia tidak menyangka kalau Vicky telah sadar. "Sebentar, aku panggilkan Dokter," ucap Rhiena yang langsung melepaskan genggaman tangan lalu berlari mencari dokter untuk memeriksa keadaan Vicky yang telah sadar.
Cukup lama Rhiena menunggu di kursi stenlis. Beberapa kali juga dia bangkit dan berjalan mendekati pintu hanya untuk mengintip keadaan di dalam ruang ICU.
Setelah cukup lama, pintu ruang ICU pun terbuka. Terlihat dokter itu tersenyum pada Rhiena.
"Gimana keadaan Kak Vicky, Dok?"
"Maaf, pasien belum bisa saya tanya lebih banyak karena mengeluh kepalanya sakit. Nanti saya akan kembali setelah satu jam."
"Apa dia amnesia, Dok?"
"Kami belum bisa memutuskan. Harap menunggu satu jam lagi, ya, Mbak."
"Tapi, saya masih boleh masuk, kan, Dok? Saya ingin menemani Kak Vicky."
Dokter itu tersenyum lalu mempersilakan Rhiena untuk masuk.
Perasaan Rhiena bercampur aduk, antara senang dan khawatir keadaannya. Langkahnya semakin mendekat ke arah Vicky yang masih memejamkan mata.
Rhiena terisak ketika melihat Vicky. Pria itu pun akhirnya membuka matanya perlahan lalu melihat ke arah Rhiena.
"Kak Vicky?" ucap Rhiena ketika melihat mata Vicky yang terbuka.
Vicky tidak menjawab, keningnya mengernyit tatkala melihat wajah wanita yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Kakak ingat aku, kan?"
Vicky masih terdiam.
"Kak? Kakak masih ingat aku, kan? Please, jawab," pinta Rhiena dengan jantung berdebar kencang. Namun, Vicky masih terdiam.
Ya Tuhan ... apa mungkin Kak Vicky amnesia? Batin Rhiena dengan telapak tangan menutup bibirnya sendiri.
Vicky malah memalingkan pandangannya. Dia sepertinya belum mengingat Rhiena.
"Aku Rhiena, Kak. Kekasih Kakak. Masa Kak Vicky gak inget?"
"Kekasih?" tanya Vicky ketika memandang wajah Rhiena.
Rhiena mengangguk, "Iya. Ini aku, Rhiena, kekasihmu yang semalam kamu lamar. Ingat?"
Vicky menggeleng dan hal itu sungguh membuat Rhiena sedih.
Ya Tuhan ... aku telah menyakiti Kak Vicky. Batin Rhiena.
Rhiena bangkit dari duduknya. Dia hendak ke luar karena ingin meluapkan sedih dengan cara menangis. Namun, saat hendak melangkah, Vicky menarik tangannya dan membuat Rhiena bingung.
"Mau ke mana?" tanya Vicky ketika menatap wajah Rhiena.
"Aku mau keluar, Kak. Aku mau na––" ucap Rhiena terjeda.
"Di sini aja, Na," pinta Vicky.
"Kak Vicky? Kakak udah inget aku?" Wajah Rhiena terlihat heran.
Vicky mengangguk dan Rhiena kembali duduk.
"Kata dokter, kemungkinan Kakak amnesia." Mata Rhiena menyipit.
"Kepalaku memang sakit, sepertinya aku amnesia."
Mata Rhiena semakin menyipit.
"Amnesia ketika kamu menolak aku, Na."
"Kak Vicky?"
"Iya amnesia ketika aku mendengar kata penolakan darimu dan aku berharap, kamu mau menerima aku, Na."
Rhiena bangkit dari kursinya, lagi-lagi Vicky menarik tangan Rhiena.
"Lepasin! Kakak jahat!"
"Jahat kenapa? Wajar, kan, kalau aku ingin amnesia tentang penolakanmu? Aku ingin lupa dan ingin mendengar––"
"Mendengar apa?"
"Mendengar kata––yes i do, aku mau menjadi istrimu," kata Vicky yang membuat Rhiena tercengang menatap wajah Vicky.
__ADS_1
"Terima aku, ya?" kata Vicky lagi dengan wajah mengharap. Dia masih belum menyerah untuk meyakinkan Rhiena.