
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Rey bersiap untuk mempersiapkan kepulangannya. Rhiena membantu membereskan barang-barang Rey selama berada di rumah sakit. Sementara Nadin membereskan segala administrasi dan obat yang harus ditebus.
“Udah semua ‘kan, Bang? Nggak ada yang ketinggalan?” tanya Rhiena memastikan.
“Udah kek nya. Mama mana, Na?”
“Lagi membereskan administrasi Abang,” jawab Rhiena.
“Ohh ....”
Tidak berselang lama, pintu kamar pun terbuka. Terlihat sosok Nadin yang berada dari balik pintu itu.
“Udah beres semua, Sayang?” tanya Nadin.
“Udah, Mam!” jawab Rhiena.
“Ya sudah, Mama pinjam kursi roda dulu, ya?” ujar Nadin.
“Buat apa, Mam? Rey udah kuat jalan kok!” elak Reynand menolak.
“Yakin?”
Netra Nadin mendelik, memastikan.
“Iya, Ma!” jawab Rey, tanpa keraguan.
“Baiklah.”
“Sini, Bang. Nana bantu!” ujar Rhiena sambil merangkul tangan Kakaknya.
Mereka berjalan melewati kamar-kamar yang berjajar rapi. Menembus kerumunan manusia yang berlalu lalang di koridor klinik itu. Hingga akhirnya, mereka sampai ke parkiran mobil.
Ceklek!
Pintu mobil terbuka.
Rey, Rhiena dan Nadin. Masuk ke dalam mobil. Rhiena ‘lah, yang menjadi pengemudi mobil dan melesat dengan kecepatan sedang menuju rumah.
.
Rey akhirnya bisa bernapas lega. Bisa menghirup udara yang terbebas dari bau obat rumah sakit. Tubuhnya terkulai di sofa, ia belum sanggup untuk menaiki tangga. Tubuhnya masih terasa lemas.
“Ma, Rey tidur di kamar tamu aja, ya? Masih lemes kalau harus naik tangga,” ujar Reynand.
“Iya, nanti Mama suruh Bibi untuk beresin kamarnya.”
Rey tertidur di sofa. Entah hingga berapa lama, ia terbangun ketika keringat membasahi punggungnya.
“Kok rumah sepi? Pada ke mana? Bi!”
Rey memanggil asisten rumah tangganya.
“Iya, Den!”
Asisten rumah tangganya terlihat menghampiri dari dapur.
“Mama sama Nana ke mana, Bi?” tanya Reynand.
“Nyonya ada urusan katanya, Den. Kalau Neng Nana katanya ada perlu sama temannya. Ada yang bisa Bibi bantu, Den?”
“Oh ... Enggak, Bi. Cuma nanyain aja. Ya sudah Rey mau ke kamar aja. Udah diberesin ‘kan, Bi?” tanya Reynand.
“Udah beres, Den. Silakan!”
Rey mengangguk dan melangkahkan kaki, masuk ke kamar tamu.
Rey kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang cukup nyaman. Ia menyalakan AC dan kembali terpejam.
Jo, apakah kamu tidak merasakan rindu terhadapku? Umpat hati Reynand ketika ia memejamkan mata.
“Bi!” pekik Rey di pintu kamar.
“Iya, Den!”
Asisten rumah tangganya menghampiri.
“Tolong ambilkan baju dan celana pendek, Rey di lemari ya, Bi? Rey masih lemas kalau harus naik turun tangga,” ujar Reynand.
“Tapi, baju dan celananya yang mana, Den?”
“Terserah Bibi aja. Yang penting baju pendek dan celana pendek ya, Bi? Panas banget soalnya,” ujar Reynand.
“Baiklah, nanti Bibi antarkan.”
Asisten rumah tangganya berlalu, menaiki anak tangga dan mengambil satu baju dan celana pendek, sesuai dengan yang dipesan Reynand. Tidak berselang lama, Bibi itu turun dan memberikannya pada Reynand.
“Ini, Den!”
“Makasih ya, Bi?”
“Sama-sama. Bibi lanjut beres-beres ya, Den?”
“Iya, Bi.”
Rey bergegas masuk ke kamar mandi, membasuh badanya yang terasa lengket karena keringat.
“Ah ... Segar!”
__ADS_1
Rey kembali naik ke atas ranjang karena tubuhnya belum benar-benar vit.
Ia mengambil gawai dan ear phone. Klik! Ia mulai mendengarkan lagu-lagu dalam play list ponselnya. Mata Rey terpejam sesekali ia terdengar ikut bersenandung mengikuti lagu yang ia dengar.
Tok ... Tok ... Tok ....
Pintu diketuk.
Rey melepaskan ear phone yang menempel di telinganya.
“Siapa?”
“Bibi, Den! Ada tamu nyariin Den Reynand,” ujar Bibi.
“Sebentar, Bi. Suruh tunggu dulu! Nanti Rey ke situ.”
“Baik, Den!”
Rey bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas melangkahkan kaki menuju ruang tamu.
Rey melihat wajah cantik. Ia duduk di sofa sambil memangku sebuah parsel buah yang berukuran sedang.
“Adara?” ucap Rey ketika sudah jelas melihat gadis itu.
Adara tersenyum.
“Kak Rey?”
Ia bangkit dari sofa, menaruh parsel itu di atas meja lalu membantu memapah Rey untuk duduk di sofa.
“Makasih, ya?” ujar Rey ketika ia duduk di sofa.
“Sama-sama. Gimana keadaannya, Kak?”
“Mulai membaik.”
“Oh, iya. Ini, aku bawakan parsel.”
Adara menyerahkannya pada Reynand.
“Makasih, ya? Jadi ngerepotin,” ujar Reynand.
“’Ah, tidak Kak Rey. Oh iya, Kak Nana ke mana? Kok rumah sepi Kak?”
“Lagi ada urusan. Mama juga lagi ngurisin kantornya, kemarin ‘kan sempat tidak terkontrol sama Mama ketika gue lagi sakit.”
“Oh ... Kak Rey, duduk di teras luar, yuk?” ajak Adara.
“Boleh, tapi gue ....”
“Oke!”
Adara membantu Rey untuk berjalan ke teras depan. Di sana mereka menikmati suasana siang menuju senja. Cukup terik memang, tapi kebersamaan mereka tetap intens. Canda tawa pun terukir jelas di bibir mereka.
Seandainya ini memang Jovanka, sempurna sudah hidupku, Tuhan! Umpat hati Rey.
***
Di sisi lain ada Jovanka yang sedang berada di pesta pernikahan Emillia.
Emillia?
Yap! Seorang janda yang berprofesi sebagai dokter, kini ia kembali menata hidupnya bersama Arman, bekas suaminya dulu.
Mereka merajut kembali rumah tangga yang sempat kandas karena perceraian. Kini, mereka mencoba kembali untuk berumah tangga demi putri mereka, Nourma.
Tidak ada pesta yang berati memang. Mereka mengikat janji suci itu di KUA. Setelah itu, mereka mengadakan syukuran atas pernikahan mereka di rumah Emillia.
Tidak terlalu banyak orang yang menghadirinya. Karena Emillia hanya mengundang keluarganya dan beberapa staf rumah sakit di mana ia bekerja, itu pun hanya orang-orang terdekat saja.
“Selamat ya, Bu Dokter!”
“Samawa ya, Dok!”
“Awas, jangan terpisah lagi!”
Doa-doa pun meluncur dari bibir rekan kerja dan saudara Emillia.
“Tan, selamat, ya?” ujar Jovanka.
“Makasih, Sayang!” jawab Emillia.
“Tante cantik banget pakai kebaya ini, Jo suka.”
“Ini kebaya yang dulu Tante pakai menikah dengan Om Arman. Eh, sekarang malah dipakai lagi.” Emillia terkekeh.
.
Jo memilih untuk ke luar dari dalam pesta itu. Ia lebih suka berada di luar rumah Emillia. Baginya, pesta pernikahan ini mengingatkan pernikahannya bersama Alexy. Walau dirinya sudah menerima keberadaan Alexy menjadi suaminya. Tapi, tak mengubah sama sekali posisi Rey yang ada di hatinya.
Semua tamu undangan menikmati hidangan yang tersedia di sana. Di tengah pesta pernikahan itu, Jovanka merasa sendirian.
“Kak Jo? Ngapain di sini sendirian?” ujar seorang gadis yang menggandeng seorang pria.
Jo mendongak, “Nourma?” Netranya terbelalak.
Nourma tersenyum, “Iya, ini Nourma, siapa lagi?” Nourma terkekeh.
__ADS_1
Nourma sudah menggandeng lelaki sepertinya seumuran, wajahnya seperti seorang play boy.
“Oh, iya. Kenalin Kak, ini Dani. Pacar aku.”
Laki-laki ABG itu mengulurkan tangannya dan menyebutkan nama, “Dani.”
“Jovanka,” jawab Jo singkat.
“Aku tinggal dulu ya, Kak Jo. Mau ambil minuman, titip Dani, dia orangnya pemalu kalau banyak orang!” ujar Nourma.
Nourma pun berlalu pergi setelah pamit. Tapi, apa yang Jovanka nilai ternyata mulai terlihat.
“Kakak cantik deh,” ujar Dani.
Hem ... Dasar ABG labil! Barusan aja cewekmu masuk, udah berani-beraninya menyapa perempuan lain, sodaranya pula! Gerutu Jo dalam hati.
Jo tidak menjawab apa-apa, ia hanya diam dan memandang wajah AGB labil ini dengan pandangan datar.
Kini Nourma sudah kelas satu SMA, wajarlah kalau dia sudah punya pacar, tapi ternyata pacarnya itu tidak beres. Ia terlalu agresif ingin mengenal cewek lain.
“Kok diem aja? Aku mau loh, deket sama Kakak. Apalagi, kalau sampai jadi pacar Kak cantik ini,” ujar Dani.
Ya Tuhan ... Nourma, kamu sepertinya salah mencari pacar! Masa cowok play boy kamu deketin sih! Pekik hati Jovanka.
Kemudian Nourma pun datang. Dani pun langsung menjauh dari Jovanka. Ia berlaku mesra pada Nourma, sedangkan sorot mata Nourma seperti kesal ketika melihat Jovanka.
“Kak, Jo! Udah cukup Kakak ambil Kak Rey dari Nourma! Sekarang, jangan coba-coba deketin Dani! Dia pacar aku!” pekik Nourma.
Ya Tuhan, Nourma kamu salah sangka! Yang ada cowokmu yang deketin Kakak! Umpat dalam hati Jovanka.
.
Jovanka memilih pulang setelah berpamitan pada Emillia dan Arman. Dari pada terjadi kesalahpahaman sama Nourma.
Ternyata Nourma masih sangat kesal sama Jovanka. Karena waktu lalu, Rey lebih memilih Jovanka dibandingkan dengan dirinya.
Jo memacu mobilnya melesat pulang ke rumah mertuanya.
Sebenarnya, Jo sudah ingin menceritakan sosok Dani seperti apa. Tapi, dirinya tidak mempunyai bukti tentang Dani yang dianggap seorang play boy.
Ddrrtttt!
Ponsel yang ia taruh di atas dashboard bergetar. Jo menepikan kendaraannya dan mengangkat video call dari seseorang.
“Mas Alex?”
Dengan cepat, ia menggeser kunci layar ponsel miliknya.
[Hai, Sayang?]
[Hai, Mas .... ]
Jo memasang wajah yang ditekuk karena tadi merasa kesal.
[Loh ... Kok cemberut? Ada apa?]
Alexy mengernyitkan dahi.
[Tadi aku ke rumah Tante Emillia, hari ini dia menikah tapi ....]
[What? Emillia meikah? 'Ckck kenapa gak kabarin aku, ya? Oh, iya. Kesal kenapa, Sayang?]
[Aku kesel sama Nourma, anaknya Tante Emi.]
[Loh ... Emang dia kenapa bisa bikin kesel kamu?]
Akhirnya, Jovanka mencurahkan kekesalannya pada Alexy. Alexy pun menjadi pendengar yang baik, entah dari kapan? Alexy memang selalu menjadi pendengar yang baik bagi semua orang. Tak ayal, Jovanka pun bisa luruh padanya, walau belum seutuhnya.
[Ya sudah, jangan ngambek lagi, lambat laun Nourma pasti tau, Sayang.]
[Iya, Mas. Ya udah, aku balik dulu, ya?]
[Sebentar, Sayang! Kamu masih di rumah Papa dan Mama atau sudah kembali ke rumah kita?]
[Rumah kita? Yang ada juga rumahnya Mas. Aku mana ada hak di situ]
[Rumahku ya rumahmu juga, Sayang.]
Jo terkekeh.
[Iya, iya. Aku udah tinggal di rumah kita, Mas. Di rumah Mamaku hanya seminggu. Cukuplah untuk melepas rindu di tengah keluargaku.]
[Ya sudah, lanjut! Katanya mau pulang? Hati-hati, ya?]
[Iya, Mas!]
Tut!
Telepon pun mati.
Jo kembali memacu mobil menuju rumah mertuanya. Mobil pun sudah terparkir indah di dalam halaman rumah yang luas.
Jo turun dari dalam mobil. Ternyata sudah ada wanita cantik yang menunggunya di kursi teras. Ia tersenyum ketika Jovanka mendekatinya.
Netra Jo membulat ketika melihat gadis yang sedang duduk itu seusianya.
“Salsa?”
__ADS_1