Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 13 (Hanya Rindu)


__ADS_3

Hari ke tiga Vicky dirawat di klinik, bertepatan dengan libur semester di sekolah. Rey telah mengambil rapor milik Vicky.


“Vic, ini rapor, Lu!” Rey menyerahkannya pada Vicky.


Vicky membuka buku rapor dan melihat nilai-nilai mata pelajaran di sekolahnya dengan ekspresi sedih.


“Kenapa?” tanya Reynand.


“Gue sedih, Rey. Gue dipaksa untuk melanjutkan Sekolah Penerbangan kata Bokap Gue!” Wajah Vicky tertunduk lesu.


“Jangan stres, Vic! Kondisi Lu baru stabil, entar malah drop lagi. Semangat ya, Bro! Sebenernya, Gue juga mau kalau bisa masuk sekolah itu,” ucap Reynand.


“Entah, Rey. Gue udah seneng di sini, punya temen baik seperti Lu. Gimana, kalau Lu pindah aja sekolahnya bareng Gue?” Ajak Vicky.


“Gak mungkin! Gue punya biaya dari mana untuk masuk sekolah penerbangan?” Rey tersenyum masam.


“Gue denger, ada seleksi untuk dapat beasiswa bagi siswa yang berprestasi. Lu ajuin aja, masih ada waktu enam bulan ke depan. Nanti Gue bantu. Gue yakin, Lu bisa masuk dengan beasiswa berprestasi, Rey!” ucap Vicky optimis.


.


Rhiena berinisiatif untuk pergi ke Bandung ketika liburan datang. Sebenarnya, dari awal pertemuannya bersama Vicky, Rhiena/Nana sudah suka terhadap Vicky. Apa lagi, Nana tahu kalau Vicky suka membantu Rey yang tak lain saudara kembarnya. Nana bertambah yakin, kalau Vicky adalah laki-laki yang baik.


Akhirnya, Nana meminta izin pada ibunya untuk pergi ke Bandung hanya dalam waktu beberapa hari. Karena, Nana juga tahu, kalau ibunya tidak akan mengizinkan ia pergi terlalu lama.


“Ma, Nana ke Bandung, ya? Hanya satu atau dua hari aja, Kok,” ucap Rhiena meminta izin pada ibunya.


“Mama ikut ya, Na? Mama khawatir,” ucap ibunya.


“Jangan, Nana mau ada tugas sekolah di sana. Kan, Mama juga mesti urusin Kantor.” Nana beralasan.


“Iya, sih! Tapi, liburan kok ada tugas, Na?” tanya ibunya heran.


“Ada, tentang kemandirian hahaha ... Nana bercanda, Ma. Hanya liburan aja sambil Shopping aja. Mumpung libur.” Nana terkekeh.


“Ya udah, hati-hati ya, Sayang,” ucap ibunya memeluk erat dan mencium putrinya yang kini beranjak dewasa.


***


Rhiena melaju menggunakan mobil Ferrari spider. Si merah yang sporty ini ia pacu dengan cepat di jalanan.


Rhiena pun sampai di kost-nya Rey sekitar jam tujuh malam. Rhiena menelepon Reynand. Namun, Rey masih ada di klinik. Rey memberikan alamat klinik tempat Vicky di rawat.


Rhiena kembali memacu si merah menuju alamat yang diberikan Reynand.


Ia memarkirkan mobil dan masuk dalam klinik yang cukup besar.


“Nana!” Rey melambaikan tangan.


Rey sudah menunggu Rhiena semenjak ia memberikan alamat klinik pada Rhiena.


Rhiena mendekat, “Abang,” ucap Rhiena sambil memeluk kakak kembarnya.


Rey membalas pelukan Rhiena dan membawa ia masuk ke dalam kamar Vicky terbaring sakit.


Rey dan Nana sudah ada dalam kamar, Vicky terlihat sedang tidur dengan selang infus yang menggantung dan jarum yang menancap di lengannya.


“Nana? Sejak kapan Kamu di sini?” ucap Vicky ketika ia membuka mata.


“Barusan, Kak Vicky. Gimana keadaan Kakak sekarang?” Rhiena mendekat ke ranjang Vicky.


“Sudah jauh membaik, Na. Mungkin, besok sudah boleh pulang,” jawab Vicky sambil menyenderkan punggungnya di bantal.


“Syukurlah kalau sudah membaik.” Rhiena tersenyum.


Melihat senyum Rhiena dengan dua lesung pipit di pipinya, membuat Vicky terpana. Senyum manis dan semburat merah jambu pada pipi Rhiena ketika Vicky menatap lekat.


Tak jauh dari Rey, kakak kembarannya. Rhiena juga mempunyai tinggi badan yang tergolong jangkung untuk ukuran cewek Indonesia. Walau masih di bawah tinggi badan Rey.


Rhiena mempunyai mata yang sipit, hidung yang mancung, yang membedakan terletak pada senyumannya yang terdapat lesung pipit di pipinya.


“Vic, pinjem motor, ya?” ucap Rey.


“Pakek-pakek aja, sih! Gak usah sungkan,” ucap Vicky yang sedang terbaring.


“Idihhh! ... Abang malu-maluin pinjem terus motor Kak Vicky! Pakek mobil Nana, nih!” Rhiena menyodorkan kunci mobilnya.


“Gak papa, Na. Kan, Kak Vicky juga sedang terbaring di sini. Rey udah Kak Vicky anggap sodara juga. Udah, Rey. Lu pakek aja motor Gue,” ucap Vicky.


“Oke, Bro! Thank’s ya, Vic,” ucap Rey pada Vicky.


“Na, Abang ada janji. Nana tungguin Kak Vicky bisa enggak?” ucap Rey.


“Iya. Memangnya, Abang mau ke mana?” tanya Nana.


“Kepo deh, Adekku ini!” Rey mencubit gemas hidung adiknya.


“Awww! Sakit, tauuu.” Bibir Rhiena meruncing.

__ADS_1


“Ya udah deh. Abang berangkat, jagain temen Abang ya, Na. Kalau nakal, cabut aja selang infusnya! Hehe ....” Pesan Rey dan ngeloyor pergi.


***


Rey melesat memakai motor FU milik Vicky menuju rumah Emillia/tante Emi. Rey memacu kendaraan roda dua dengan kencang karena waktu telah menunjukkan pukul delapan malam.


Nourma tengah bersiap menunggu guru les ganteng pujaan hatinya. Nourma tengah memakai baju yang seksi yang ia anggap menarik apa bila dilihat Rey.


Nourma ke luar kamar. Alangkah terkejutnya Emillia, ketika melihat penampilan putrinya yang terlalu seseksi.


“Nourma?” Mata sayu Emillia terbelalak.


“Nourma terlihat cantik kan, Ma?” tanya Nourma polos.


“Ganti!” Emillia geram.


“Lohhhh ... Kenapa, Ma?” ucap Nourma.


“Rey mau ke sini. Bajumu terlalu seksi, Nourma. Mama gak suka!” ucap Emillia.


Tanpa banyak bicara. Nourma masuk dalam kamar. Bibirnya menggerutu kesal dalam kamar. Ia merasa kecewa kepada ibunya, karena ia telah bersiap satu jam yang lalu untuk Rey. Tapi, ibunya malah memprotesnya.


Dengan mulut yang masih komat-kamit, Nourma membuka lemari dan memilih baju tidur karena waktu juga udah hampir malam.


Rey biasanya mengajari les tidak lebih dari dua jam. Nourma masih kesal terhadap Emillia. Ia keluar kamar dengan bibir yang meruncing.


Tak berselang lama. Bel pintu rumah berbunyi. Ting ... Tong ....


“Bang Rey!” ucap Nourma lirih di depan pintu kamarnya.


Kakinya mulai melangkah menuju pintu depan. Namun, Nourma kalah cepat dengan Emillia yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


CKLEK (Pintu dibuka oleh Emillia).


Terlihat sosok lelaki tampan, yang tak lain guru dari anaknya. Laki-laki itu membawa tas ransel dan memakai kemeja slim fit, yang menyempurnakan penampilannya malam ini.


“Rey?” ucap Emillia.


Rey menyunggingkan senyuman.


Emillia semakin terpesona, melihat senyum yang mengembang pada bibir pemuda tampan yang ada di hadapannya.


Sementara di belakang sana. Ada Nourma dengan bibir yang semakin meruncing. Ia melangkahkan kaki menuju pintu depan.


“Silakan masuk, Bang!” ucap Nourma yang berdiri di belakang Emillia.


Rey melangkahkan kaki, masuk dalam rumah. Nourma sudah duduk dan membuka buku latihannya. Bibirnya masih meruncing.


“Nourma kenapa?” Rey mendekati Nourma.


“Gak papa.” Bibir Nourma masih meruncing.


“Ya udah, Kita mulai saja les matematikanya, ya?” ujar Reynand yang mengeluarkan materi les yang ia telah susun ketika di klinik.


Nourma mengangguk. Ia mulai mengerjakan soal dengan rona wajah yang kesal.


“Nourma.” Rey memanggil lembut namanya.


“Hem.” Nourma berdehem. Netra Nourma masih tertuju kepada buku latihannya.


“Kalau Kamu bisa mengerjakan semua materi yang Abang kasih. Nourma dapat hadiah dari Abang.” Rey memberikan semangat pada Nourma agar tidak cemberut lagi.


“Hadiahnya apa?” Nourma terlihat antusias dengan kata hadiah dari Reynand.


“Terserah! Asal jangan yang mahal, ya?” Rey terkekeh.


“Oke!” Nourma kembali mengerjakan materi dari Rey dengan serius.


Rey menunggu sambil memperhatikan wajah muridnya yang sekarang sudah tidak cemberut lagi.


Syukurlah, ni Bocah sudah semangat lagi. Rey berucap dalam hati.


Nourma mengerjakan soal sekitar tiga puluh menit. Akhirnya, Nourma menyerahkan buku latihannya kepada Rey. Rey pun memeriksa seluruh pekerjaan anak didiknya.


Satu per satu, Rey mulai mengoreksinya.


“Gimana, Bang? Ada yang salah, gak?” tanya Nourma dengan hati yang berdebar.


Hening.


Rey masih memeriksa materi les yang telah Nourma kerjakan.


“Emmm ....” ucapan Rey terpotong.


Nourma menunggu ucapan dari guru gantengnya, dengan hati yang berdebar.


Hening sesaat. Rey sengaja menunda jawabannya.

__ADS_1


Empat,


Tiga,


Dua,


Satu!


Nourma menghitung mundur dalam hati.


“Selamat, Nouma! Semua jawabanmu benar! Mau minta hadiah apa dari Abang?” tanya Rey.


“Apa, ya?” Nourma sedang berpikir.


Matanya memutar melihat apa yang bisa ia pinta dari guru lesnya. Nourma melihat piano yang tersimpan dekat dinding kamarnya. Piano itu dimainkan ketikan papanya masih bersatu dengan Emillia. Papanya sering memainkan piano dan bernyanyi untuknya.


Ada kerinduan Nourma kepada papanya, ketika melihat piano yang selalu tertutup tanpa ada yang memainkan.


“Abang bisa main piano?” tanya Nourma.


“Bisa, tapi gak jago-jago amat. Abang masih amatir.” Rey tersenyum.


“Aku mau, Abang nyanyi satu lagu untukku sambil memainkan piano itu.” Nourma menunjuk piano yang terletak di dekat dinding kamarnya.


“Boleh, lagu apa?” tanya Reynand.


“Hanya Rindu.”


“Boleh,” ucap Reynand.


Rey dan Nourma melangkahkan kaki menuju dinding kamar Nourma. Nourma membuka piano. Rey duduk, tengah bersiap menyanyi. Jarinya mulai lincah menari di atas papan piano milik Nourma.


Nourma menyeret bangku kecil dan duduk di samping Rey.


Saat ku sendiri, ku lihat foto dan video


Bersamamu yang telah lama ku simpan


Hancur hati ini melihat semua gambar diri


Yang tak bisa, ku ulang kembali


Ku ingin saat ini, engkau ada di sini


Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu


Segala cara telah kucoba


Agar aku bisa tanpa dirimu,


Ho-oh


Namun semua, berbeda


Sulitku menghapus kenangan bersamamu


Ku ingin saat ini, engkau ada di disini


Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah


Bukan diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu.


Terlihat netra Nourma berkaca-kaca setelah Rey selesai menyanyikan lagu itu untuk Nourma. Nourma mengedipkan matanya, dan jatuhlah bulir bening dari sudut mata Nourma.


“Kok nangis? Suara Abang gak bagus, ya?” tanya Rey.


Nourma menggelengkan kepala.


“Lalu?” tanya Rey.


“Hanya rindu, sama Papa.” Nourma tertunduk.


Bersambung..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁

__ADS_1


__ADS_2