Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 95. Baju Pengantin


__ADS_3

Makan malam pun sudah dimulai. Mereka berbincang hangat, kecuali Rendy. Ia hanya diam dan sesekali menebar seutas senyum kecil di bibirnya.


Rey memperhatikan sikap Rendy yang tidak nyaman berada di sana. Sedangkan Nadin, Rhiena, Jovanka dan Meli, asyik tenggelam dalam obrolan antar wanita.


“Om, kita ke luar aja, yuk?”


Ajak Reynand waktu itu.


Rendy mendongak.


Sebenarnya dia malas kalau harus bersama dengan Reynand, tapi mau bagaimana lagi? Dari pada mati gaya di depan wanita-wanita yang sedang ngobrol bersama?


Rendy mengangguk, ia mulai bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke luar rumah yang megah.


Ceklek!


Rey membuka pintu.


Rey dan Rendy duduk di kursi teras. Angin malam yang cukup kencang telah mengusap tubuh kekar mereka.


“Om, Rey akan meminang Jovanka dengan segera,” ujar Rey tanpa basa-basi.


“Terserah!” ujar Rendy tanpa ada ekspresi bahagia.


Rendy memang punya rasa malu. Tapi sepertinya itu belum cukup untuk meredam emosinya di masa lalu.


“Rey memang tidak mengerti kenapa Om membenciku sampai seperti ini. Apakah Rey punya salah sama Om Rendy?”


Hening, Rendy diam dengan wajah yang kesal.


“Rey minta maaf kalau memang ada salah. Om Rendy itu akan menjadi Papa mertuaku, Rey sudah kehilangan sosok Papa tujuh tahun yang lalu, ia meninggalkan Rey ketika masih SMP,” ujar Rey merunduk.


“Apa?” Mata Rendy membulat, “Memangnya nama Papamu siapa?”


“Reyfan Adam.”


Ternyata benarkan dugaanku? Rey ini anak dari Reyfan! Wajah mereka mirip sekali bak pinang dibelah dua, umpat hati Rendy.


“Hai! Pada ngomongin apa, sih? Serius amat!” ujar Meli mengagetkan keduanya.


“Mama nih, ngagetin aja!” ujar Rendy.


Rey hanya tersenyum.


Terlebih, ketika melihat calon istrinya yang terlihat semakin memukau dengan gaun putih yang ia kenakan.


“Pulang yuk, Pa?” Ajak Jovanka.


“Kalian sudah ngerumpinya?” ujar Rendy.


“Dih ... Papa, kita ‘kan habis makan malam di sini, malah dikatain ngerumpi!” protes Meli.


“Hmm ... Iya, iya. Ayok pulang!”


Rendy bangkit dari tempat duduknya.


“Biar Rey yang antar, Om!” ujar Reynand.


“Tidak usah!” sangga Rendy.


“Pliss ... Jangan tolak, Om! Hari juga sudah larut malam. Izinkan Rey antar,” ujar Reynand yang bangkit dari temoat duduknya lalu mengambil kunci mobil dari dalam rumah.


“Tuh ... Liat! Lelaki seperti ini, Papa sia-siakan!” ujar Meli setengah menyindir.


Rendy hanya terdiam.


Rey memang putra Reyfan. Tapi, sepertinya Rey berbeda dengan Papanya! Entahlah! Umpat hati Rendy.


Tidak berselang lama. Rey dan keluarganya ke luar dari rumah.


“Makasih sudah menghadiri undangan kami, Jeng!” ujar Nadin pada Meli.


“Sama-sama, semoga dua keluarga ini akan menyatu ketika anak kita sudah terikat tali pernikahan,” ujar Meli.


“Aamiin ....” jawab Rhiena. “Loh ... Kok gak ada yang aminin selain Nana?”


"AAMIIN ....” ujar semuanya.

__ADS_1


Mereka pun tersenyum bahagia.


***


Tidak terasa sudah dua bulan Rey dan Jovanka mempersiapkan acara pernikahan mereka. Waktu pernikahan pun sudah semakin cepat. Mereka masih mengurus baju pernikahan, karena waktu yang terlalu sibuk. Rey dengan penerbangannya dan Jo sebagai dokter di salah satu klinik di bandara.


Hari ini, mereka berencana kembali fiting baju pengantin untuk kembali mengukur bentuk tubuh Jovanka dan Rey, siapa tahu ada perubahan bentuk ukuran tubuh mereka ketika hunting baju pernikahan dua bulan yang lalu.


“Jo, selamat, ya? Akhirnya lu akan nikah juga sama si berondong!” Davin menggoda.


“Dih ... Apaan, sih?” ujar Jovanka memalingkan pandangan.


“Gue jadi inget beberapa tahun lalu, ketika lu masih menjadi istri si Om. Gue ledekin suami lu ketuaan, lu marah besar hingga akhirnya gue goda mending sama gue aja. Lu jawab, aku suka berondong! Ternyata beneran, ya? Lu emang penyuka berondong!” ujar Davin terkekeh.


“DAVIN!” bentak Jovanka membulatkan mata.


Davin hanya tersenyum melihat ekspresi Jovanka.


“Tau gak, Jo?” ujar Davin.


“Enggak. Kan kamu enggak ngomong, bagaimana aku tau?” ujar Jovanka mengesalkan.


“Dulu, gue sempat baper. Karena lu mirip banget sama cewek gue,” ujar Davin sambil menatap mata Jovanka.


“Masa, sih?”


“Iya, nanti gue ajak dia ke pernikahan lu. Makanya, gue diundang dong!” pinta Davin.


“Iya, nanti aku masukan list, tenang aja. Kamu itu sahabat sekaligus Kakak absurd aku!” ujar Jovanka terkekeh.


“Sialan!”


Davin cemberut.


Jovanka terlihat senang, melihat bibir Davin yang meruncing karena kesal.


Davin dan Jovanka kembali bergulat dengan pasien yang datang ke klinik mereka. Banyak sekali tipe-tipe pasien yang mereka hadapi. Kebanyakan yang konsul ke sana, staf/karyawan bandara dan penumpang pesawat. Lain dari itu, biasanya hanya warga sekitar yang rumahnya dekat.


“Oh ... Iya, Jo. Lu udah urus cuti nikah belum?” tanya Davin.


“Oke, good! Semoga lancar semuanya, ya?” ujar Davin.


“Thank you!”


Akhirnya tugas mereka sore ini selesai. Jo bersiap untuk fiting baju pernikahan di salah satu butik langganan keluarga Nadin. Sore ini mereka sudah janji untuk bertemu di sana. Jo sedang menunggu kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


“Ayok, balik! Gak mau balik, lu?” tanya Davin ketika masih melihat Jovanka yang masih ada di meja kerjanya.


“Sebentar lagi, Rey belum datang.”


“Emh ... Emh ... Sekarang udeh mulai dijemput teross!” goda Davin.


“Dih ... Terserah aku dong!”


“Iya, iya! Terserah pengantin baru aja, bye!” ledek Davin dan berlalu pergi.


“Ngeselin!” ketus Jovanka.


Jo masih menunggu Reynand yang belum juga datang. Padahal, seharusnya sudah setengah jam yang lalu ia sudah ada di klinik. Hal ini membuat Jovanka khawatir.


Kenapa Rey belum datang juga, ya? Umpat hati Jovanka.


Ia meraih ponsel yang ada dalam tas. Mengusap layar ponsel itu dan mencari Nama Rey. Jo hendak menghubunginya karena rasa khawatir yang mendera.


Drrttttt!


Tiba-tiba, ponsel yang ada dalam genggamannya bergetar. Ia langsung membuka pesan dari ponsel yang sedang ia genggam.


“Rey?”


Mata Jovanka membulat ketika membaca tulisan nama si pengirim pesan baru.


Klik, ia membaca pesan.


[Jo, aku sudah ada di luar klinikmu.]


Rasa khawatir itu hilang ketika ia membaca pesan singkat dari Reynand. Senyuman bahagia pun telah terpancar dari bibir merah jambu itu.

__ADS_1


Jo membawa jas praktiknya yang berwarna putih, karena esok hari ia sudah mulai cuti dari tugasnya sebagai seorang dokter. Ia ke laur dari klinik. Terlihat sudah lelaki tampan berseragam pilot yang sudah menantinya di kursi tunggu.


“Hai ....”


Jovanka menghampiri.


“Hai, Sayang? Maaf lama, tadi aku mengurus surat izinku, aku masih kerja hingga dua hari sebelum hari H. Baru aku mendapatkan cuti nikah,” ujar Rey.


“Berarti, esok kamu masih kerja?”


“Iya! Ya sudah, ayok! Katanya mau ke butik. Udah atur janjikan sama desainernya?” tanya Reynand.


“Iya, aku udah buat janji kok.”


Rey dan Jovanka melesat ke salah satu butik langganan Mamanya. Di sana memang butik langganan Nadin. Desainernya pun sudah mempunyai nama yang cukup terkenal. Tak ayal, keluarga Adam mempercayakan baju untuk pernikahan putra pertama mereka di sini.


Akhirnya sampai juga di butik langganan Nadin. Butik yang cukup besar dengan banyak koleksi baju di dalamnya.


Ting!


Rey mendorong pintu kaca, terdengar bunyi bel, apabila seseorang mendorong pintu kaca ini.


“Selamat sore ....” sapa seorang karyawati.


“Sore, Mbak. Saya mau bertemu dengan Mbak Dian,” ujar Rey.


“Oh ... Mari ikut saya, Mas, Mbak.”


Karyawati itu berjalan ke salah satu ruangan.


Tok ... Tok ... Tok ....


Dia mengetuk pintu yang memang sudah terbuka. Mungkin Mbak Dian sudah menunggu Rey dan Jovanka.


“Masuk!” jawab wanita dari dalam sana.


“Mari!”


Ajak karyawati itu pada Jo dan Reynand.


“Ada yang mencari Mbak Dian,” sambung karyawati tersebut.


Dian mendongak, “Oh ... Dari keluarga Adam, ya?” ujar Dian.


“Iya, Mbak!” jawab Reynand.


“Oke, Din. Kamu boleh kembali ke ruang kerjamu!” ujar Dian pada karyawatinya.


“Baik, Mbak. Permisi!”


Karyawati itu pun berlalu.


Di dalam ruang kerja Dian yang cukup besar. Banyak sekali sketsa rancangan berbagai baju. Terutama desain baju-baju pengantin.


“Kita lihat baju pengantinnya, yuk?” ajak Dian pada Rey dan Jovanka.


Mereka berjalan ke sala satu ruangan. Di sana terlihat banyak sekali baju-baju pengantin cantik, yang sudah siap untuk dipakai oleh pemiliknya.


“Silakan, dicoba dulu. Siapa tau ada perubahan bentuk ukuran tubuh,” ujar Dian.


Gaun pengantin simpel berwarna putih pun telah diberikan untuk dicoba Jovanka. Ia meraih gaun berdesain simpel tapi terlihat sangat cantik.


Jovanka beranjak ke ruang ganti, dibantu oleh Mbak Dian untuk memakainya. Tidak berselang lama, Jo ke luar dari ruang ganti dan memperlihatkannya pada Reynand.



“Gimana?” ujar Jo meminta pendapat pada Rey.


Rey begitu terpukau, melihat penampilan Jovanka dengan gaun pengantin putih yang telah melekat di tubuhnya.


“Beautiful!”


Mata Rey seperti enggan berkedip.


Jo tersipu malu, wajahnya semakin merona ketika mendengar pujian dan ekspresi kekaguman Rey akan dirinya.


Jovanka memang terlihat cantik dengan busana gaun pengantin dari rancangan Mbak Dian, seorang desainer terkenal di sana.

__ADS_1


__ADS_2