Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 75. Pertemuan Rey dan Rendy


__ADS_3

“Bang! Bangun!” ujar Rhiena sambil mengetuk pintu kamar.


Rey masih tertidur karena ia baru saja terlelap pukul dua dini hari.


“Abangggg!” pekik Rhiena lebih kencang.


Rey menutup mata dan telinga. Tapi, Rhiena tidak menyerah, ia tetap saja menggedor pintu kamar sang Kakak.


“Iya, Na!” sahut Reynand yang sudah tidak bisa tidur.


Rey berjalan malas menuju pintu kamar. Di pikirannya hanya ingin menghabiskan waktu di rumah karena ia sedang libur bekerja.


“Paan?” ujar Rey ketika di depan pintu.


“Mama sakit, Bang Rey suruh ke kamar Mama,” ujar Rhiena.


“What? Sakit apa?”


“Entah, cepatlah ke kamar Mama sekarang!”


Rey langsung berlari menuruni anak tangga dengan tergesa. Ia langsung masuk dalam kamar dan langsung mengecek kening sang Mama.


“Mama sakit apa?” tanya Rey, memandang lekat wajah sang Mama.


“Hanya pusing, Rey. Tapi Mama udah ada janji dengan klien,” jawab Nadin.


“Itu nanti lagi dipikirin, Ma! Yang penting, sekarang kita ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Mama!” ujar Reynand.


“Tapi pertemuan ini juga penting, Nak. Ini tentang kerja sama Mama dengan Klien. Mama sudah terlanjur janji, siang ini bertemu. Hari ini kamu libur ‘kan?” tanya Nadin.


“Iya.”


“Mama minta tolong kamu untuk bertemu dengan klien Mama di Bandung, ya? Nanti Mama ke rumah sakit sama Nana.”


“Mama yakin?”


“Iya.”


“Ya sudah, Rey siap-siap dulu untuk berangkat ke sana.”


“Iya, nanti Mama tulis nama dan alamat kantor baru klien Mama.”


“Oke!”


Rey berjalan menaiki anak tangga dan bersiap untuk menempuh perjalanan ke Bandung.


Ia memakai celana panjang, kemeja yang didobel dengan jas model slim fit yang membuat penampilannya terkesan resmi tapi tetap trendi.


“Ma, Rey berangkat, ya?”


“Iya, ini nama dan alamat baru kantornya, dan ini dokumen yang harus ditandatangani oleh si klien.”


Nadin menyodorkan secarik kertas dan beberapa lembar dokumen yang ada dalam map berwarna biru.


“Oke! Hanya ini?”


“Iya.”


Rey mencium pipi sang Mama dan bergegas berangkat ke Bandung dengan menggunakan mobil sport warna hitam.


Menempuh perjalanan kurang dari tiga jam, akhirnya Rey sampai ke Bandung. Ia membuka kertas yang berisi nama dan alamat baru, kantor si klien.


“Oh, namanya Pak Rendy. Rendy?”


Mata Rey membulat, ia teringat dengan nama Papanya Jovanka yang dulu tidak memberikannya kesempatan untuk membuktikan kalau dirinya benar-benar mencintai putrinya.


“Tidak, tidak! Mungkin, hanya sama namanya saja! Lagian, alamatnya berbeda dengan kantor Papanya Jovanka. ”


Rey menepis prasangkanya.


Ia melanjutkan mencari alamat sesuai dengan kertas yang ditulis oleh Mamanya.


.


“Selamat siang,” sapa Rey pada resepsionis kantor.


“Siang, ada yang bisa dibantu, Mas? Eh, Pak?” ujar si resepsionis yang gagal fokus pada penampilan dan wajah rupawan Reynand.


“Saya mau bertemu dengan Pak Rendy.”


“Oh ... Mari, saya antar,” ujar resepsionis ganjen.


Aneh, biasanya minta diantar oleh scurity. Rey mengumpat dalam hati.


Rey berjalan berdampingan dengan resepsionis ganjen iru. Sepanjang jalan, si resepsionis selalu bertanya. Padahal, baru kali ini ia bertemu dengan Reynand.


“Bapak dari perusahaan mana? Sepertinya saya baru lihat.”


“Dari Jakarta. Saya baru kali ini datang ke sini, biasanya Mama saya yang bertemu dengan Pak Rendy.”


“Pantesan. Bapak juga punya perusahaan di Jakarta?”


“Tidak.”


“Lalu?”


“Saya seorang pilot disalah satu maskapai.”

__ADS_1


“Wwaaahhhh ....” Mulut sang resepsionis menganga dengan mata yang membulat. “Bapak seorang pilot? Ya Tuhan ... Sepertinya Bapak masih sangat muda, tapi ternyata seorang pilot.”


Rey tersenyum.


Yaelah ... Kepo banget nih orang!


Akhirnya, sampailah Rey di depan pintu ruang kerja yang cukup besar.


Tok ... Tok ... Tok ....


“Permisi!” ujar sang resepsionis.


“Masuk!” suara lelaki dari dalam ruangan.


Celek!


Resepsionis itu membuka pintu.


Terlihatlah sosok lelaki paruh baya yang sedang sibuk. Pandangannya tertunduk melihat berkas dokumen di meja kerjanya.


“Ada yang ingin bertemu dengan Bapak,” ujar Resepsionis itu.


Rendy mengangkat pandangannya, matanya kini menyipit melihat lelaki yang berada di depannya.


Sepertinya ia mengingat-ingat wajah lelaki muda yang ada di depannya.


“Pak Rendy?” ujar Reynand sambil mendekati Rendy.


Rendy masih mengernyitkan dahinya, ia masih belum mengingat lelaki tampan yang kini berada tepat di depannya.


“Maaf, Anda siapa, ya?”


“Saya Rey, Pak. Reynand Adam.”


Seketika, wajah Rendy berubah menjadi merah. Entah ia malu atau marah.


Hening.


“Saya pamit ya, Pak?” ujar resepsionis tapi tidak mendapatkan jawaban dari bosnya.


Ia pun keluar dengan perasaan heran ketika melihat kedua orang yang berpenampilan bak seorang bos dengan usia yang berbeda telah saling pandang seperti ada raut permusuhan.


“Rey, yang dulu dekat dengan Jovanka?”


Rey mengangguk.


“Mau apa kamu?” tanya Rendy ketus, “Mau pamer, kalau kamu sudah bekerja di perusahaan orang?”


“Bukan, Pak. Saya hanya di suruh oleh Mama, maksud saya Ibu Nadin untuk menyerahkan dokumen yang harus Bapak tandatangani, Ibu Nadin berhalangan hadir karena sakit,” ujar Rey.


Rey hanya tersenyum.


Ternyata, Rendy masih sama seperti dulu, ia masih tidak suka dengan Rey. Entah apa alasannya.


Rey menyerahkan dokumen itu di meja Rendy. Rendy pun menandatanganinya dengan segera.


“Nih! Bilang sama Bu Nadin, terima kasih sudah bekerja sama dengan saya. Ingat, Bu Nadin bukan Mama kamu!” hardiknya.


“Iya, Pak. Permisi!” ujar Rey masih dengan nada sopan.


Rey berjalan di dalam koridor kantor dengan santai menuju ke parkiran. Menaiki mobil hitam dan melesat kembali ke Jakarta.


***


Di sisi lain, ada Alexy dan Princess yang sedang merasakan hal indah di negara tetangga.


“Mas, sarapan!” ujar Princess yang sudah memasak.


“Iya!”


Alexy ke luar dari dalam kamar.


Alexy dan Princess menikmati sarapan pagi bersama. Di meja makan itu tampak dua insan yang sedang malu-malu saling pandang walau mereka sedang mengunyah makanan.


“Masakanmu enak, Princ!” puji Alexy.


“Mas suka?” tanyanya dengan ragu.


Alexy menggeleng.


“Loh ... Katanya enak, kenapa gak suka, Mas?”


“Gak suka, karena aku sangat, sangat menyukainya.” Alexy tersenyum.


Princess merunduk dengan rona pipi yang memerah.


Tok ... Tok ... Tok ....


“Siapa itu?” ujar Alexy.


“Biar aku liat, Mas. Mas lanjut makan saja,” ujar Princess yang beranjak dari tempat duduknya menuju pintu ruang utama.


Ceklek!


Princess membuka pintu.


“Tante Sarah? Tumben, pagi-pagi ke sini? Ada apa? Mari masuk!”

__ADS_1


Princess membuka lebar pintu rumahnya.


Sarah pun masuk dalam rumah yang cukup besar itu.


“Duduk, Tan!” ujar Princess.


“Makasih.” Sarah pun duduk.


Sarah merupakan istri dari orang yang bertanggung jawab mengurusi warganya di kompleks perumahan itu. Ia pandai berbahasa Indonesia karena Mamanya orang Indonesia.


“Ada apa, Tan?” tanya Princess dengan senyum yang melebar.


“Princ, sebelumnya Tante mau minta maaf,” ujar Sarah.


Princess menyipitkan matanya.


“Tante disuruh suami, kasih tau ke kamu kalau lelaki yang ada di rumah ini harus ke luar karena kamu tidak ada hubungan dengan dia. Kalian bukan suami istri,” ujar Sarah.


“Tapi, Tan. Dia masih hilang ingatan. Wajarlah kalau Princess mau menolong?”


“Iya, Tante ngerti. Tapi sekarang keadaannya beda, Princ. Papa dan Mamamu sudah meninggal. Kamu hanya berdua dengan lelaki itu. Warga resah dengan kehidupan kalian dalam satu rumah yang tidak mempunyai ikatan yang resmi.”


Hening.


Ternyata, Alexy mendengar pembicaraan mereka di ruang makan.


“Kalau kamu tidak menyuruh lelaki itu ke luar dari rumah. Sebaiknya kalian menikah,” ujar Sarah.


“Tapi, kan kami tidak berbuat apa-apa, Tan. Percaya sama Princess, kami tidak melakukan hal buruk dalam rumah ini!”


“Iya, Tante percaya. Tapi warga? Sudah banyak yang komplain, bukan hanya ke suami Tante, ke Tante juga banyak, Princ."


Princess mulai berkaca-kaca. Karena ia tidak ingin Alexy jauh darinya. Di satu sisi, ia pun tidak dapat meminta Alexy untuk menikahinya.


Hening.


“Princ!”


Suara Alexy terdengar dari arah ruang makan.


Princess dan Sarah menoleh ke arah Alexy yang sedang berjalan ke ruang tamu. Ia duduk di samping Princess.


“Izinkan aku menikahimu, Princ!” ujar Alexy sambil menggenggam kedua tangan Princess dan mata yang menatapnya lekat.


“Tapi, Mas belum ingat masa lalunya Mas. Gimana kalau Mas telah mempunyai istri? Aku tidak ingin mengganggu rumah tangga orang! Tan, pliss kasih Princess waktu agar Mas Alex bisa mengingat dulu masa lalunya,” ujar Princess dengan mata berkaca.


“Maaf Princ, Tante gak bisa. Tante kasih waktu satu hari ini pada kalian untuk memutuskan yang terbaik. Tante permisi!” ujar Sarah dan berlalu pergi.


Tinggallah Alexy dan Princess berdua dalam rumah itu. Canda dan tawa kini hilang berganti dengan ketegangan yang menghinggapi mereka.


“Gimana ini Mas?” ujar Princess dengan air mata yang jatuh ke pipinya.


“Princ, Mas kan udah bilang. Kita menikah, ya? Memang, Mas belum mengingat semuanya. Tapi, Mas sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu!” ujar Alexy meyakinkan dan tangannya mengusap air di pipi itu.


“Kalau Mas udah menikah, gimana?”


“Mas akan bersamamu. Mungkin kamu jodoh buat Mas, bukan dia.”


Alexy menggenggam kedua tangan lentik Princess.


Hening.


“Nanti sore kita ke rumah Tante Sarah, ya?” ujar Alexy.


Princess mengangguk dan memeluk erat Alexy, “Makasih, Mas. Kamu sudah tidak meninggalkanku.”


Sesungguhnya, Alexy memang sudah jatuh cinta pada Princess sejak Princess mulai mengurusinya waktu awal ia tersadar dari koma. Ia merasa bahagia dengan segala perhatian yang diberikan Princess padanya saat itu, hingga kini.


Alexy mempunyai cinta yang besar dan terbalas oleh Princess, mungkin Princess memang jodoh Alexy dari Tuhan.


Menjelang sore hari, Princess dan Alexy bersiap untuk pergi ke rumah Sarah.


Ting ... Tong ....


Bel rumah Sarah dipijit.


“Parincess? Hai ....”


Sarah tersenyum pada Princess dan Alexy.


“Hai, Tante!” jawab Princess.


“Masuk, masuk!”


Princess dan Alexy mengekor Sarah dari belakang ke ruang tamu, tapi rumah dalam keadaan sepi.


“Tante sendirian?” tanya Princess ketika sudah duduk di sofa ruang tamu.


“Iya, suami lagi ada urusan di luar. Gimana-gimana? Kalian sudah mengambil keputusan?” ujar Sarah.


“Iya, kami memutuskan untuk menikah, Kak. Bantu kami untuk menikah esok hari,” ujar Alexy yang menjawab.


“Oke! Saya akan urus berkas secepatnya dan saya yang akan menggantikan orang tua Princess dalam pernikahan kalian esok hari.” ujar Sarah.


“Baik, Tan. Masih sebelumnya, maaf Princess udah ngerepotin Tante,” ujar Princess.


“Gak papa, santai aja. Tante udah anggap Princess seperti anak Tante juga.” Sarah memeluk hangat Princess.

__ADS_1


__ADS_2