Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 23 ( Lamaran )


__ADS_3

Minggu siang itu. Jo dan mamanya melangkahkan kaki ke dalam cafe langganan dimana mereka telah berjanjian dengan orang yang dijodohkan oleh kedua orang tua Jovanka.


Mereka langsung menuju meja yang telah dipesan sebelumnya oleh Alexy. Mereka menunggu sambil memesan minuman di cafe itu. Ada rasa cemas pada Jovanka. Bukan cemas dengan sosok yang akan dijodohkan dengannya. Tetapi, Jo takut apabila Rey tiba-tiba muncul di cafe itu. Secara, Rey bekerja di cafe tersebut.


Ting! Suara pintu cafe terbuka.


“Siang Tante, Naura ....” Alexy menyapa.


“Om Alex?” Mata Jo terbelalak ketika melihat sosok dokter yang dimaksud adalah Alexy.


Alexy tersenyum.


“Kalian sudah saling kenal?” tanya Meli yang tak lain ibu dari Jovanka. Mata Meli melirik bergantian pada Jo dan dokter Alexy.


Jo tertegun menelan ludah. Tak menyangka pria yang dijodohkan dengannya adalah dokter Alexy. Yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu lewat Emillia, tantenya.


“Iya, tan. Baru beberapa hari kemarin kita ketemu di sini,” ucap Alexy.


“Oh ... Mari duduk, Nak.” Meli menyuruh duduk.


Alexy duduk tepat di depan Meli dan bersampingan dengan Jovanka. Mereka berbincang layaknya sang calon mertua yang menginterogasi menantunya.


Alexy terlihat sama sekali tidak canggung ketika ditanya tentang kesiapan untuk menikahi putri cantiknya yang bernama Naura Jovanka.


“Saya sudah siap untuk melamar, bahkan untuk meminang putri tante kapan pun.” Ujar Alexy menggebu.


“Tapi, Ma ....” ucapan Jo terpotong tatkala Meli kembali bertanya pada Alexy.


“Tunangan aja dulu, Nak Alex. Untuk pengikat,” ujar Meli.


“Baiklah. Kapan Alex bisa melamar putri tante?”


“Secepatnya. Pertemuan keluarga kita aja,” jawab Meli.


.


Jo yang dari tadi hanya menyimak obrolan mereka menjadi kesal tatkala dirinya tidak diizinkan untuk mengambil keputusan. Padahal, pernikahan itu akan ia jalani sendiri dengan Alexy. Tapi, jangankan didengar. Pertanyaannya pun tidak dapat diutarakan. Kesepakatan itu terjadi antara Meli dan Alexy saja.


“Oh ... Iya, maaf ya, Tan. Tadi klinik lagi ramai jadi saya mesti tunggu dokter jaga yang bertugas di sana.” Alexy menjelaskan.


“Iya, tidak apa-apa, Nak.”


***


Di sisi lain, ada Rey yang telah diusir tanpa diberikan kesempatan untuk memperlihatkan keseriusannya terhadap Jovanka.


Wajar memang. Orang tua Jo menolaknya dan lebih memilih Alexy yang seorang dokter. Karena, tidak akan ada orang tua yang mau melihat anaknya menderita.


Alexy yang seorang dokter lebih menjanjikan untuk bisa membahagiakan putri mereka ke depannya. Sedangkan Rey kerja apa? Ia hanya seorang siswa. Tapi, orang tua Jo lupa, dibalik materi untuk membahagiakan anaknya ada cinta.


Cinta? Klise banget mendengarnya. Kalau alasannya cinta. Cinta itu bisa tumbuh seiring sejalan kalau sudah berumah tangga. Kalau iya, kalau sebaliknya?


Jo mungkin akan bahagia dengan bergelimpangan harta dan materi setelah berumah tangga. Namun, entah dengan cintanya. Apakah kelak ia akan bahagia hidup dengan laki-laki yang dijodohkan oleh orang tuanya? Entah.


Rey berjalan gontai di pinggir trotoar. Ia berpikir, harus dengan cara apa untuk meyakinkan kedua orang tua Jovanka agar mereka bisa memberikan kesempatan untuknya.


Drett ... Drett ....


Getaran hand phone yang telah membuyarkan semua lamunannya. Rey merogoh hape yang ia kantongi dan menggeser layar hape.


“Nana telpon?” Rey menggeser layar gawai untuk menerima panggilan telepon.


(Iya, Na. Ada apa?)


(Mama, bang. Mama sakit) Rhiena terisak.


(Apa?) Rey kaget mendengar kabar dari adiknya (Sakit apa, Na?) sambung Reynand.


(Badan mama panas, bang. Mama gak mau dibawa ke rumah sakit. Mama maunya ketemu abang.) Rhiena menjelaskan.


Ya Tuhan ... Aku harus bagaimana? Keluh dalam hatinya.


(Ya udah, sekarang juga abang berangkat. Tolong bujuk mama agar mau periksa ke rumah sakit.)


Tut! Telepon dimatikan.


***


Tanpa pikir panjang. Rey langsung memutuskan untuk pulang ke Jakarta menaiki kereta api. Ia mengeluarkan buku pelajaran sekolah yang ada dalam ranselnya dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam ransel itu.


“Lu mau ke mana, Rey?” tanya Vicky heran.


“Gue mau balik dulu, Vic. Entah berapa hari.”


“Memang ada masalah apa? Ngedadak banget.”


“Nyokap sakit, bro! Sorry gue buru-buru mau ngejar pemberangkatan kereta api.”

__ADS_1


“Tunggu bentar. Biar gue antar lu ke stasiun, Rey!” Vicky bergegas mengeluarkan motor dan memacu si kuda besi dengan kecepatan tinggi.


.


Vicky memarkirkan motornya dan mengekor Rey untuk membeli tiket kereta api.


“Selamat! Pemberangkatan masih ada waktu sepuluh menit.” Rey bernapas lega.


“Rey.” Vicky memanggil.


“hem.”


“Hati-hati, ya? Jangan panik. Semoga nyokap lu cepet sembuh.” Vicky menepuk pundak Reynand.


“Thank’s ya, bro!” Rey memeluk dan menepuk pundak sahabatnya yang selalu ada untuknya.


Hingga waktunya tiba. Kereta api pun sudah tiba di stasiun. Rey bergegas menaiki kereta itu, berselang lima menit kemudian. Kereta berangkat hingga tidak terlihat lagi oleh mata Vicky.


Rey mengeluarkan ponselnya dan memberitahukan kalau ia tidak dapat masuk kerja dalam waktu beberapa hari ini ke mbak Vina melalui pesan singkat.


Hati Rey tengah diselimuti dengan perasaan cemas ketika mendengar mamanya sakit. Rasa sedih yang ia rasakan saat ini bukan menjadi prioritas utamanya. Ia menuruti apa yang dikatakan oleh Jo, kalau memang berjodoh pasti akan dipersatukan. Entah dengan cara seperti apa? Yang jelas, Rey memang benar-benar mempunyai hati yang tulus untuk Jovanka.


***


Tak disangka, keesokan harinya. Sekitar jam tujuh malam. Keluarga dari dokter Alexy datang ke rumah Jovanka untuk melamar.


Sontak, tidak ada persiapan sama sekali dari keluarga Jovanka untuk menyambut kedatangan Alexy beserta orang tuanya.


“Nak Alex. Kok gak bilang-bilang mau ke sini malam ini? Kami enggak ada persiapan untuk menjamu keluarga Nak Alex, ” ucap Meli.


“Gak papa, tan. Sengaja Alex gak bilang. Alex gak mau merepotkan keluarga tante. Alex ke sini mau membuktikan keseriusan Alex untuk melamar Naura, putri om dan tante.” Alex to the point pada intinya.


“Naura ke mana, tan?” tanya Alexy.


“Lagi ngerjain tugas sekolah di rumah temannya. Sebentar lagi kan ujian nasional, Nak Alex.”


“Oh ... Terus bagaimana dengan niat Alex datang ke mari untuk melamar Naura, tan? Apa harus diundur?” Alex kembali bertanya.


“Bentar ya, Nak. Kami mau berdiskusi untuk memutuskannya.” Pinta Meli.


Meli dan Rendi meninggalkan Alexy beserta keluarganya untuk merembungkan keputusan untuk mengundur atau menerimanya malam itu juga.


Alexy dan keluarganya pun dengan sabar menunggu keputusan dari orang tua Jovanka. Mereka juga memakluminya, karena keputusan ini bukan perkara mudah.


Selang lima belas menit. Akhirnya terlihat juga orang tua Jovanka, melenggang kembali ke ruang tamu.


“Alhamdulillah ....” terucap dari bibir Alexy beserta keluarganya.


“Lalu, bagaimana dengan pernikahan mereka, Pak?” tanya Michael yang tak lain papa dari Alexy.


“Kalau itu. Mungkin menunggu Naura lulus sekolah. Tapi, setelah menikah. Naura bisa melanjutkan kuliah kan? Saya tidak mau anak saya putus sekolah gara-gara pernikahan.” Tegas Rendy.


“Ohh ... Tidak masalah, Pak. Kami juga setuju dengan rencana bapak untuk terus melanjutkan kuliah Naura."


Rendy dan Michael berjabat tangan. Sedangkan Meli dan Nadia berpelukan. Tak berselang lama, keluarga Alexy memberikan satu set perhiasan emas yang terdiri dari cincin, kalung beserta liontin, gelang, dan giwang sebagai simbolik pertunangan sudah dilaksanakan.


***


Jo berjalan gontai menaiki anak tangga yang menuju ke kamarnya. Ia resah karena Rey tidak dapat dihubungi. Tidak ada kabar dari kekasihnya semenjak Jo mengabarkan kalau dirinya telah dijodohkan dengan seorang dokter.


Angannya melayang ketika ia menaiki satu per satu anak tangga. Ia merasa melayang tanpa pijakan saat ini. Tidak ada tempat untuk ia berkeluh kesah.


“Jo ....” Meli memanggil namanya.


“Iya, Mam?”


“Sini, Nak. Duduk sama mama dan papa di sini.” Panggil Meli.


Dengan langkah kaki yang gontai. Jo kembali melangkah menuruni anak tangga menuju ruang keluarga. Dimana ada papa dan mamanya dengan wajah yang serius.


“Ada apa, Ma?” tanya Jo yang telah duduk di samping mamanya.


Hening.


Keadaan semakin menegang tatkala suasana dilanda keheningan.


“Jo ....” ucap papanya.


Jo mendongak. Memandang wajah papanya yang benar-benar terlihat serius.


“Tadi, keluarga Alexy datang ke mari.” Ucapannya terhenti.


“Mereka telah memintamu pada papa untuk bertunangan dan kami telah menerima pertunangan itu.”


“Apa? Papa, mama gak bisa gitu lah! Jo aja belum kasih keputusan mau atau tidaknya!” Jo membantahnya.


“Ini buat kebahagiaan mu, Nak.” Timpal mamanya.

__ADS_1


“Yang mau nikah, kan Jo bukan mama atau papa!” Mata Jo berkaca-kaca.


“Jo!” Papanya membentak.


“Kami sudah putuskan! Tidak dapat diganggu gugat!” ucap papanya lagi.


“Papa jahat!” Jo berlari menaiki anak tangga.


Ia mengunci pintu kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Jo menangis. Tak ada orang yang bisa mengertikan perasaannya saat ini. Kekasihnya pun tidak dapat dihubungi.


Air matanya terus meluncur pada pipi dan lehernya hingga bercampur antara air mata dan keringat.


“Kenapa mama dan papa tega sama aku? Aku gak cinta sama om Alexy! Aku benci dengan keadaan ini, Tuhan!”


Jovanka terus menangis. Rasa marah dengan keadaan ini ia wujudkan dengan air mata tangisan pilu.


“Rey! Kamu di mana? Aku butuh kamu, Rey!” Jovanka terus meraung.


Pertanyaannya telah habis tanpa ada yang bisa menjawab. Ia memejamkan mata hingga terlelap ketika dirinya merasa lelah dengan kenyataan yang sedang ia hadapi.


***


“Ma?” Rey memanggil mamanya yang sedang terbaring di atas ranjangnya.


“Rey?”


Netra mamanya membulat. Tak percaya ketika ia melihat putra laki-lakinya telah ada di hadapannya.


“Iya. Ini Rey, Ma.” Rey menggenggam kedua tangan mamanya.


“Rey? Ini kamu, Nak?” Mata mamanya berkaca-kaca. Haru, yang ia rasa.


Rey menganggukkan kepalanya.


“Rey!”


Nadin memeluk erat putranya. Rasa rindu yang mendera ibu ini akhirnya membuncah dengan larutnya air mata pada pipi Nadin.


Rhiena merasa bahagia di tengah tangis bahagia yang ia saksikan saat ini. Nadin terlalu rindu pada anak laki-lakinya. Anak yang selalu membela dikala dulu sedang ribut dengan papanya sebelum ada perceraian.


Rhiena membiarkan mereka melepas rindu. Ia memilih ke luar kamar. Namun, gawai yang ada di lengannya bergetar.


“Kak Vicky?” Mata Rhiena terbelalak.


Rhiena buru-buru menjauh dari mama dan abangnya. Ia menggeser layar gawai.


(Halo, kak. Ada apa?) jawab Rhiena dalam telepon.


(Hai, Na. Kakak cuma mau memastikan. Rey ada di situ, kan?) tanya Vicky.


(Ada, lagi sama mama, Kak. Ada apa, ya?)


(Enggak papa. Oh iya, gimana keadaan mama, Na?)


(Lagi nangis. Mungkin ia menumpahkan kerinduan pada bang Rey dengan tangisan.)


(Tapi, enggak ada yang mengkhawatirkan kan, Na?)


(Entah. Mama belum mau diperiksa ke dokter, kak. Mungkin nanti kak Rey coba membujuk mama.)


(Ya udah. Semoga cepet sembuh ya, Na. Maaf kak Vicky belum bisa jenguk mama.)


(Iya. Gak papa kak. Ya udah, Nana tutup telponnya dulu ya, Kak.)


.


Rey melangkah ke lantai dua. Ia mencari Rhiena di tempat favoritnya, balkon kamar.


Benar saja. Rhiena sedang menikmati hilir angin yang menghembuskan ke rambutnya.


Rey terus memperhatikan adiknya yang hampir satu tahun ini telah menjaga mamanya seorang diri. Ada rasa bersalah yang Rey rasa pada saat ini.


Rasa bersalah terhadap adik dan juga mamanya karena dirinya tak mampu menjaga mereka. Rey semakin membulatkan tekadnya untuk bersekolah di DFS yang berada di Jakarta, agar ia bisa menjaga mama dan adiknya.


Rey merasa menjadi orang yang tidak berguna untuk orang-orang yang ia sayangi. Bahkan hati perempuan yang ia cintai pun tak bisa ia bahagiakan. Ia telah kalah dengan laki-laki yang jauh lebih mapan darinya.


Apakah uang segalanya di dunia ini?


Drett ... Drett ... Gawai Reynand bergetar.


..


Bersambung..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁

__ADS_1


__ADS_2