
Rey menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Netranya memandang ke langit-langit kamar yang berwarna putih. Senyumannya terus mengembang tatkala ia mengingat kembali pertemuan indah bersama Jovanka.
Jo, kamu buat aku gila! Gila untuk menjalani hidup. Semangatku kini membara, umpat hati Reynand.
Tetapi semua bayangan itu kembali terhempas, tatkala ia mengingat kalau sang pujaan hati telah memiliki suami.
Tapi, ke mana suaminya? Tidak mungkin juga Jo mengontrak seorang diri? Aneh! Rey mengumpat dalam hati.
Tetapi, ia tidak memungkiri kalau hatinya memang sedang berbunga-bunga. Rasa itu seperti awal ketika ia mulai menyayangi Jovanka, malah lebih beras karena dibalut dengan rasa rindu.
Malam semakin larut. Rey pun bergegas tidur, mempersiapkan tubuhnya untuk kerja di hari esok.
***
Sementara di sisi lain ada Alexy yang belum bisa berjalan dengan ingatan yang belum kembali sepenuhnya. Kini, Alexy sudah berada di rumah Princess dan dialah yang merawat Alexy beberapa hari ini setelah ia sadar dari komanya.
Sebenarnya, ia merasa tidak enak dengan gadis yang merawatnya beberapa hari ini. Gadis yang baru ia kenal, tapi gadis itu telah merawatnya dengan baik. Mulai dari menyuapi, mengobrol banyak hal sampai untuk mengelap tubuh Alexy.
“Nona?” ujar Alexy pada si gadis penolong.
Gadis itu menoleh, “Jangan panggil saya dengan sebutan Nona, Om. Nama saya Princess,” ujar gadis itu.
Alexy tersenyum, “Maaf, saya masih sering lupa.”
“Iya, gak papa, Om. Namanya juga proses kembali mengingat. Jangankan nama saya yang baru Om kenal. Masa lalu Om juga belum pulih seutuhnya. Makan dulu, yu, Om?”
Alexy mengangguk.
Princess menyuapi Alexy dengan hati-hati. Diam-diam, lelaki berkaca mata ini melirik wajah si gadis penyelamat baginya.
Cantik ... Baik lagi, eh! Kenapa aku malah sibuk menilai wanita ini? Padahal identitas diriku saja belum aku ingat, umpat dalam hati Alexy.
“Eh, berlepotan.”
Tangan Princess mengambil satu nasi yang menempel di dekat bibir Alexy. Dengan cepat, Alexy meraih tangan Princess. Kini, mata mereka saling berpandangan yang disertai genggaman tangan dari Alexy ke Princess. Ada desir yang mengalir dalam diri Alexy. Terlebih, Alexy sangat berhutang budi pada gadis cantik ini. Walau, gadis itu tidak pernah membahas tentang balas budi pada Alexy. Sepertinya, ia merawat Alexy dengan tulus.
Netra Alexy melihat ketulusan dari gadis muda berparas cantik dan berwajah indo, sama seperti dirinya, rambut yang lurus dan panjang menyempurnakan penampilannya di mata Alexy.
“Om? Tanganku,” ujar Princess sembari melirik ke tangan yang sedang digenggam oleh Alexy.
“Maaf.” Alexy segera melepaskan genggamannya.
Princess tersenyum, “Tidak apa-apa. Saya hanya ingin mengambil obat. Kalau tangan saya terus digenggam, saya jadi gak bisa ambilkan obat,” elak Princess dengan semburat merah di pipinya.
Alexy pun tersenyum melihat guratan memerah pada gadis yang usianya jauh di bawahnya.
“Minum dulu obatnya, Om!” Princess menyodorkan obat dan air putih. Alexy pun meminum obat dari lengan putih nan lentik si gadis penolong.
“Prin, Makasih, ya?” ujar Alexy sambil menggenggam kembali lengan Princess.
“I – iya, sama-sama, Om.”
Princess membuang pandangannya. Ia terlalu takut kalau Alexy melihat kegugupannya ketika kedua matanya menatap laki-laki yang berusia matang di depannya.
“Om?” ujar Princess tanpa menoleh ke wajah Alexy.
“Iya?”
“A – aku mau pergi dulu, ya?” ujar Princess berpamitan.
“Ke mana?”
“Ke tempat Papa dan Mamaku kecelakaan. Aku ingin menabur bunga di sana,” ujar Princes dengan kaca-kaca di matanya.
Alexy memandang wajah gadis muda di depannya, “Sabar, ya? Aku akan selalu bersamamu,” ujar Alexy sambil mengusap air mata yang terjatuh di pipi si gadis.
Gadis itu menatap tajam pada pria berusia matang di hadapannya. Dengan cepat, Princess memeluk dan menangis dalam dekapan Alexy.
Deg!
Kali pertama hati Alexy bergetar ketika gadis penolong itu memeluk Alexy erat.
__ADS_1
“Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Om!”
Princess terisak dalam dekapan Alexy.
Alexy tertegun, entah apa yang ia rasa. Antara kasihan dan debar asmara. Alexy pun mengusap lembut, rambut panjang nan wangi itu.
“Aku janji, akan selalu bersamamu,” bisiknya di telinga Princess. Alexy pun mendekap erat tubuh gadis muda itu.
Kali pertama, Princess didekap hangat oleh seorang laki-laki dan untuk pertama juga dada Alexy dibuat bergetar oleh seorang wanita.
“Sudah, Prin. Saya sedih mendengar kamu menangis,” ujar Alexy dengan menatap wajah yang saling bertatapan.
Alexy mengusap air bening yang bercampur keringat pada wajah Princess. Ia merasa iba dan mulai tumbuh sebuah rasa, yang entah disebut apa. Wajah Alexy dan Princess begitu berdekatan.
Cup!
Untuk pertama kalinya, Princess mendapatkan kecupan di bibir. Ciuman itu pun berlangsung beberapa saat.
“Ma – maaf, Prin!” ujar Alexy membuang muka.
Hening.
Baik Alexy maupun Princess tidak bersua, keadaan menjadi kaku ketika ciuman itu telah terjadi.
“Saya pergi dulu, Om!” ujar Princess yang beranjak dari sisi renjang Alexy.
“Prin?”
Alexy memanggil.
Princess menoleh.
“Bolehkan saya ikut denganmu?” ujar Alexy.
“Tentu. Mari saya bantu ke kursi roda,” ujar si gadis dan membantu tubuh lelaki berkaca mata itu.
Dengan sudah payah, akhirnya Alexy sudah berada di atas kursi rodanya karena Alexy belum dapat berjalan seperti biasa. Mungkin karena luka yang cukup parah di beberapa bagian kakinya.
Mereka melesat ke tempat di mana ia telah kehilangan dua nyawa orang tuannya sekaligus.
“Stpo!”
Princess dan Alexy turun dalam mobil dan berdiri di depan jurang cukup dalam yang telah dibatasi oleh besi.
Princess menabur bunga ke jurang itu. Lagi, air mata gadis itu luruh di pipi.
Alexy hanya dapat menatap si gadis di atas kursi rodanya. Ia mencoba beberapa kali untuk bangkit, tapi selalu terjatuh dan kembali duduk di atas kursi roda itu.
Bodoh! Aku lemah sekali! Kenapa kakiku tidak dapat menopang tubuh ini? Kenapa selalu terjatuh di atas kursi roda sialan ini? Pekik hati Alexy, marah.
Akhirnya, Princess tersadar kalau lelaki yang ada di sampingnya itu sedang berusaha bangkit dari kursi rodanya.
“Om kenapa?” ujar Princess yang kemudian duduk dengan lutut yang menyentuh tanah agar posisi mereka sama.
“Gak papa!”
Alexy memalingkan pandangannya. Sadar, kalau dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk gadis yang telah menolongnya.
“Om?”
Princess mencangkup ke dua pipi Alexy dengan kedua tangannya. Ia memandang lekat wajah lelaki yang sedang kesal itu.
Alexy hanya tertunduk. Mungkin ia malu karena ia tidak dapat berbuat apa-apa. Jangankan menolongnya, membantu untuk mengusap air mata si gadis juga ia tidak mampu.
“Aku lemah! Berdiri pun susah! Bagaimana aku dapat menolongmu?” pekik Alexy di depan wajah Princess.
“Kata siapa lemah? Kalau Om lemah. Dari dulu Om sudah meninggal. Om kuat melewati masa kritis selama tiga bulan kemarin. Apa itu lemah namanya?”
Princess memandang lekat dan bermaksud memberikan motivasi untuk Alexy.
Alexy tertunduk.
__ADS_1
“Saya akan selalu ada dan membantu Om sampai bisa kembali seperti dulu. Bahkan, sampai Om ingat tentang jati diri Om Alexy, walau mungkin nanti Om Alex akan pergi dari hiduku.”
Princess menggenggam kedua tangan Alexy.
Alexy tersenyum dan mengangkat pandangannya.
Cup!
Bibir Alexy mencium kedua tangan Princess sebagai tanda terima kasih.
Entah kenapa. Hal itu mengalir dengan sendirinya. Alexy begitu perhatian terhadap Princess dan Princess pun merasa senang mendapatkan perhatian dari Alexy.
“Aku berjanji, akan selalu ada untukmu, Prin! Walau kelak, semua masa laluku telah kembali.”
Jujur Om, aku merasa takut kalau kamu sudah menikah dan kembali mengingat masa lalumu lagi. Akankah kau akan tetap bersamaku? Akankah janjimu itu akan kau tunaikan? Umpat hati Princess.
Princess hanya tersenyum.
Princess sudah merasa nyaman dengan Alexy. Dulu, ketika dengan Rey hanya dirinya yang mencintai. Tetapi ketika bersama Alexy, ia merasa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan, walaupun, entah perasaan apa yang sedang terjadi di antara mereka saat ini.
Alexy semakin kuat menggenggam lengan Princess ia memberikan semangat pada gadis sebatang kara ini.
“Makasih ya, Om. Sudah baik sama saya?” ujar Princess.
Alexy tersenyum.
Hari pun mulai siang dan perut mulai keroncongan.
“makan, yu?” Ajak Princess.
Alexy mengangguk.
Princess mendorong kursi roda itu di pinggir jalan. Tidak jauh dari jurang itu ada warung nasi yang berdiri kokoh di pinggir jalan.
“Makan di sini, ya?” ujar Princess.
“Iya, aku nurut kamu saja,” ujar Alexy.
Akhirnya, menu makan siang pun mereka pesan. Sebari menunggu pesanan datang, Alexy dan Princess pun berbincang.
“Boleh nanya gak, Princ?” tanya Alexy.
“Iya. Nanya apa?” jawabnya santai.
“Memangnya, Papa dan Mamamu hendak ke mana, waktu menaiki mobil yang masuk ke dalam jurang itu?” tanya Alexy walaupun ada rasa ragu di hatinya.
“Sebenarnya ... Sebenar – nya Papa dan Mama mau ke ....”
Air mata itu kembali tertumpah dan kata-katanya pun terpotong.
Hening.
Princess masih dengan tangisnya dan Alexy pun menunggu cerita dari gadis berparas indo itu.
“Papa dan Mama hendak menemui anak yang akan dijodohkan denganku.”
“Kamu mau dijodohkan?”
Princess mengangguk, “Iya. Tapi aku tidak mau karena aku masih ingin sendiri, aku masih mempunyai cita-cita. Aku belum mau terikat dalam komitmen pernikahan. Tapi, orang tuaku memaksa. Hingga akhirnya aku ribut dengan mereka pada saat sebelum terjadinya mobil yang ditumpangi Papa dan Mama masuk ke jurang.”
“Ribut? Ribut bagaimana?”
Alexy mengernyitkan dahinya, merasa heran.
“Aku tidak ingin dijodohkan. Mereka memaksa dan hendak membawaku ke rumah lelaki itu untuk berkenalan. Tapi aku menolak. Aku memilih kabur dari rumah dengan membawa mobil Papa. Mungkin, Papa dan Mama merasa tidak enak karena sudah mengatur janji dengan keluarga si pria itu, kemudian mereka menaiki mobil travel untuk ke rumah keluarga lelaki itu, hingga akhirnya mobil itu masuk ju ....”
Kata itu tertahan, Princess tidak sanggup meneruskan kata yang membuat hatinya terasa sakit ketika mengingat kejadian lalu. Di mana ia harus merelakan kehilangan kedua orang tuanya sekaligus, masuk ke dalam jurang sampai meninggal.
Noh, ane kasih visualisasi mereka😅✌
__ADS_1