Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
110. Gerimis


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB. Jo dan Rey telah sampai di rumah. Di halaman luas dengan rumput hijau dan lampu taman berwarna putih terang telah menyala. Sapa dan senyum hangat tersungging dari bibir scurity yang bertugas di sana.


Pintu rumah sedikit terbuka, lampu rumah pun terlihat telah menyala karena langit memang sudah mulai menghitam yang disertai angin bertiup cukup kencang.


Rey membuka pintu mobilnya lalu turun dan membuka pintu yang ada di sebelahnya untuk Jovanka. Wanita cantik itu menyunggingkan senyum ketika tangan suaminya mengulur ke arahnya dengan bibir menyunggingkan senyum. Sungguh, Rey begitu tampan dan terlihat begitu menyayangi Jovanka. Sehingga, perlakuan manis selalu ditunjukkan oleh Reynand. Walau tidak dipungkiri, sifat jahilnya memang tidak dapat hilang.


Manusia memang selalu mempunyai dua sisi. Sisi baik dan buruk. Tidak melulu sikap orang itu selalu baik, bukan? Ada kalanya dia terjerumus dan lupa telah melakukan kesalahan.


"Makasih, Sayang," ujar Jovanka ketika jemari lentiknya berada dalam genggaman hangat lengan kekar Reynand.


Rey tersenyum.


Mereka berdua berjalan menuju rumah. Ternyata, di sana sudah ada dua wanita. Siapa lagi kalau bukan ibu dan adiknya yang sedang sibuk mengisi perut? Pakaian mereka pun terlihat begitu rapi seolah hendak berpergian jauh. Bahkan, travel bag pun sudah berdiri tegap di samping kaki Nadin.


"Mama? Nana?" Reynand menyapa ketika hendak melangkah ke meja makan.


"Eh, Rey, Jo. Kalian udah pulang?" Nadin menjawab dengan raut wajah ceria, sedangkan Nana hanya mengangguk diiringi dengan seulas senyum saja.


"Udah, Ma. Kalian mau ke mana? Kok udah rapi? Mana ada koper segala," tanya Reynand.


"Kami mau berangkat ke Surabaya, Rey. Ada sesuatu yang harus kami urus mengenai kantor yang akan buka cabang di sana," ujar Nadin menjelaskan.


"Loh ... kenapa baru kasih tau hari ini kalau kalian mau terbang ke sana?" tanya Rey lagi.


"Mendadak, Bang. Tadi siang Nana dan Mama baru dikasih tau."


"Aneh, kenapa mendadak?"


"Iya, Sayang. Awalnya ada lahan yang bermasalah di sana, tadi siang kami diberitahu bahwa semuanya sudah selesai. Kami tinggal mengecek dan juga menandatangani berkas untuk mendirikan lagi di kota tersebut."


"Oh, ternyata cabang baru lagi?"


"Iya, Abang," ujar Nana.


"Baiklah, aku ganti baju sebentar."


"Eh, mau ke mana?" tanya Nadin.


"Antar kalian ke bandara'lah. Ke mana lagi?"


"Tidak usah. Mama dan Nana diantar sopir, ini tinggal menghabiskan makan saja. Kalian di rumah baik-baik, ya?" ujar Nadin yang dibarengi anggukan dari Jovanka. "Rey?" Nadin memanggil putranya.

__ADS_1


"Iya."


"Jaga Jovanka baik-baik," pinta Nadin.


"Pastilah, Ma. Mana mungkin aku sia-siain?"


"Iya setahu Mama, kamu kan paling jahil," ucap Nadin dengan seulas senyum.


"Nah, itu, Ma. Ini aja barusan dijahilin sama putra kesayangan Mama," ucap Jovanka.


"Enggak, Sayang. Dikit doang yaelah pakek ngadu Mama."


Nadin tersenyum melihat Jo dan Rey yang malah sedikit adu mulut saling membela diri.


"Ya sudah. Mama berangkat, ya? Waktunya tinggal satu jam lagi. Nana, udah selesai, kan, makannya?" ucap Nadin yang diiringi anggukan dari Nana.


Nadin bangkit dari tempat duduk, pun dengan Nana yang ikut bangkit tapi tangannya masih meraih gelas yang berisi susu cokelat hangat.


Nadin dan Nana berjalan menuju pintu yang disusul oleh Jovanka dan Reynand yang menyeret koper di tangannya.


Rey memasukkan koper itu di bagasi mobil. Sedangkan Nadin dan Nana sudah bersiap duduk di belakang sopir. Mesin mobil pun berbunyi lalu berjalan pelan diiringi lambaian tangan Jovanka yang menyertai pemberangkatan mereka ke Surabaya di depan pintu gerbang.


Sedangkan tangan Rey bertengger di pundak Jovanka ketika melihat mobil itu melesat, menjauh, kemudian menghilang dari pandangannya.


"Rey?" ucap Jovanka kala berada di gendongan Reynand.


Rey tersenyum tidak menjawab apa-apa. Pria gagah itu melangkah menggendong istrinya lalu masuk ke rumah. Tidak begitu lama, rintik hujan terdengar lalu Reynand menyuruh istrinya untuk mandi.


"Mandi bareng, yuk?" goda Reynand.


"Enggak!"


"Kenapa?"


"Malulah."


"Sama siapa? Mama? Nana? Mereka baru aja berangkat. Di sini cuma ada kita berdua."


"Kata siapa?" tanya Jovanka.


"Kataku lah."

__ADS_1


"Itu ada Bibi, ada scurity juga."


"Bibi di dapur sedangkan scurity di pos luar rumah."


"Pokoknya enggak mau!" ucap Jovanka yang berlari, lalu masuk ke kamar mandi.


"Eallaahhh!" Reynand berlari mengejarnya. "Yank, Sayang. Buka!" pinta Reynand sambil mengetuk pintu kamar mandi yang ternyata sudah dikunci dari dalam.


"Enggak!"


"Sayang, ayolah ...." Reynand masih merengek. Namun di dalam sana Jovanka masih menguncinya.


Reynand akhirnya menyerah karena tidak ada lagi suara istrinya yang terganti dengan suara shower menyala. Pria itu berjalan lalu memilih untuk merebahkan tubuh jangkungnya di atas ranjang. Matanya terpejam hingga tidak terasa akhirnya terlelap, mungkin karena capek dari aktivitas di bandara. Atau bahkan capek karena Jovanka tidak membukakan pintu kamar mandi?


Baru saja Rey merajut mimpi, terdengar teriakan dari dalam kamar mandi. Siapa lagi kalau bukan Jovanka?


"Sayang! Tolong ambilkan baju ganti, aku lupa bawa," pinta Jovanka sedikit berteriak.


Rey sengaja tidak menjawabnya dia berpura-pura kembali tidur.


"Sayang, kamu denger aku?" Jovanka kembali berteriak.


Diam-diam, Reynand berjalan mendekat pada pintu kamar mandi. Dia berdiri di sana tanpa sepengetahuan Jovanka.


"Rey? Sayang?" Jovanka masih memanggil.


Karena tidak ada jawaban dari Reynand. Jovanka mengira suaminya tengah terlelap. Akhirnya Jovanka hanya melilitkan handuk pendek berwarna putih di tubuhnya. Kulit putih nan mulus itu kini telah tersembunyi di balik handuk nan lembut. Tidak semuanya, hanya bagian tertentu saja yang sanggup ditutupi oleh sehelai handuk kecil.


Baru saja pintu kamar mandi terbuka. Ternyata Reynand sudah menunggunya di depan pintu. Tubuh Jovanka yang hanya terbalut handuk yang diiringi oleh wangi sabun dan shampo yang begitu soft membuat Reynand tergoda.


"Turunin aku!" pinta Jovanka yang kini telah berada dalam gendongan suaminya.


"Enggak!" jawab Reynand dengan senyum nakal.


"Rey, kamu mau ngapain?" tanya Jovanka dengan seribu prasangka ketika menatap ekspresi Reynand.


Reynand tidak menjawab. Dia berjalan menuju ranjang yang seolah siap untuk menjadi tempat mereka berlabuh. Menuai kisah cinta yang membara di atas sana.


"Rey, Rey. Jangan macam-macam," pinta Jovanka. Tangannya makin erat memegangi handuk.


Rey semakin tergoda melihat ekspresi kepanikan istrinya. Wajah serta rambut panjang yang basah begitu menggoda di matanya.

__ADS_1


Perlahan, Rey membaringkan tubuh Jovanka di atas ranjang. Langit yang mulai gelap disertai rintik hujan bagaikan simfoni sore menjelang malam membuat hasrat Reynand semakin menjadi.


Lelaki itu mulai mengecup pucuk kepala Jovanka yang membuat istrinya merasa tenang. Membelai pipi dan berlanjut mengecup bibir. Pelan, kemudian semakin dalam.


__ADS_2