
Imperial Palace East Garden atau dalam bahasa Jepang disebut dengan Kokyo Higashi Gyoen Garden (皇居東御苑) menjadi bagian dari Tokyo Imperial Palace atau Istana Kekaisaran. Luas total taman adalah 7,41 kilometer persegi dan berlokasi di Chiyoda.
Setiap tahunnya, bakal ada berbagai jenis bunga yang akan mekar di sekitar taman ini. Hingga akhirnya, berhasil memikat wisatawan lokal dan mancanegara untuk menyambangi Tokyo. Termasuk Jovanka dan Reynand yang tertarik mengunjungi taman tersebut.
Jo mengenakan dress cantik berwarna biru polos membuat wajahnya terlihat cerah. Sedangkan Rey lebih memilih mengenakan kaos berwarna putih yang didobel menggunakan sweater tidak terlalu tebal berwarna navy.
"Udah siap, Sayang?" tanya Rey pada istrinya yang sedari tadi duduk berias di depan cermin.
"Bentar lagi, Sayang," jawab Jo yang masih mengenakan blush on.
Namun, setelah beberapa saat, istrinya tidak juga selesai berdandan. Jo masih terlihat sibuk dengan dirinya sendiri. Mulai dari merias wajah, menyisir rambut dan mematchingkan pakaian yang dia kenakan. Sehingga, kedua tangan kekar yang melingkar hangat cukup membuat Jovanka kaget.
"Sayang, ngagetin aja," ujar Jovanka.
"Habisnya kamu masih asyik berdandan. Ayolah, ada satu tempat yang pastinya kamu sukai," kata Rey yang sudah gemas karena memunggu terlalu lama.
"Iya, Sayang, iya. Tangannya singkirin dulu, gimana aku mengikat rambutku? Kamu aja nempel-nempel mulu."
"Sini, aku iketin."
Rey mulai menyisir rambut hitam dan panjang milik istrinya. Lembut dan juga wangi tatkala sisir berwarna merah muda itu mulai merapikan helaian mahkotanya.
Rey cukup pandai menata rambut, hingga akhirnya rambut terikat dengan rapi dan wajah Jo semakin terlihat cantik dan menarik.
"Selesai. Kamu makin cantik, Sayang," ucap Rey sambil mengecup pucuk kepalanya dan Jovanka pun tersenyum bahagia.
Terlihat mesra dari pantulan cermin rias tatkala Rey mengecup pucuk kepala istrinya yang disertai bibir merah muda Jo yang tersenyum begitu manis. Perlahan, Rey memutar tubuh Jovanka sehingga posisi mereka kini saling berhadapan.
Rey mulai mendekatkan wajahnya pada bibir Jovanka. Namun, Jo menghentikan aksinya. Jarinya ditempelkan pada bibir suaminya.
"Kalau mau seperti ini terus, kapan perutmu terisi, Sayang? Dari tadi pagi kita hanya mengisi perut oleh roti bakar sama minuman hangat saja," ujar Jo yang membuat Rey tersenyum.
"Tapi––dengan seperti itu pun aku merasa kenyang," kata Rey yang membuat Jo mengulum senyum.
Mulut Rey bicara seperti itu, tetapi tidak dengan perutnya yang tidak dapat diajak kompromi. Perutnya berbunyi cukup nyaring dan hal tersebut sukses membuat wajah Reynand memerah menahan malu. Sedangkan Jo tertawa terbahak karena menganggap suaminya terlalu bucin.
__ADS_1
"Ayok, berangkat!" Jo bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan ke pintu kamar hotel.
"Duuhhh ... lu kenapa gak bisa diem dulu, sih? Kan, gue malu," gumam Rey yang masih di depan cermin.
"Sayang! Jadi makan enggak?" Jo berteriak ketika menyadari suaminya masih ada di depan cermin.
***
Setelah mereka menikmati makan siang, Rey mengajak Jovanka ke Kokyo Higashi Gyoen Garden (皇居東御苑) sebuah taman kekaisaran yang dipenuhi dengan pohon hijau yang rindang juga bunga-bunga bermekaran. Bunga sakura salah satunya.
Kebetulan saat itu sedang musim gugur dan banyak sekali bunga yang berguguran. Jalanan aspal hitam seolah diselimuti oleh banyaknya bunga sakura.
Jo dan Rey melangkah semakin dalam. Di sana sungguh terlihat semakin indah. Ranting pohon bunga sakura, bangunan kekaisaran dan juga ada kolam yang memanjakan pandangan mereka.
"Jo." Rey menyelipkan rambut Jovanka ke telinganya.
"Iya," jawab Jovanka dengan suara lembut.
"Aku gak nyangka kalau akhirnya aku dan kamu bisa bersatu."
"Aku bersyukur bisa dipersatukan denganmu, Rey. Aku bahagia dan tolong, tolong selalu seperti ini, ya? Sampai kapanpun sikapmu jangan berubah," pinta Jo dengan sorot mata teduh.
Mata mereka berdua begitu intens bertatapan beberapa saat hingga akhirnya Rey berbisik, "Kalau saja ada di kamar, aku akan mengecup bibirmu, Sayang. Ciumanmu bagaikan candu buatku."
Pipi Jovanka terlihat memerah karena menahan malu sekaligus senang ketika suaminya memuji.
Tiba-tiba saja dering ponsel dalam saku celana Rey berbunyi cukup kencang. Lelaki itu meminta ijin pada istrinya untuk mengangkat.
"Halo?" jawab Rey setelah mendapatkan anggukkan dari istrinya.
"Rey, kami akan pulang sore nanti." Ternyata yang menelepon itu Nadin––ibunya.
"Loh ... cepat sekali? Katanya bareng Rey, Ma?"
"Ada pekerjaan yang gak bisa dihandle staf. Jadi Mama harus pulang. Karena besok harus sudah sampai di Indonesia," jawabnya dari dalam ponsel.
__ADS_1
"Tapi, mungkin Rey enggak bisa pulang besok, Mam."
"Gak papa. Kamu nikmatin aja bulan madu kalian di sini, toh di kantor pun ada Mama dan Nana yang handle. Tidak perlu khawatir, sayang."
Terlihat wajah lesu Rey ketika menerima panggilan ponsel dari ibunya.
"Rey?" Nadin memecah keheningan dalam ponsel.
"Iya, Mam."
"Tidak usah cemas. Mama dan Nana baik-baik saja. Kantor pun enggak ada masalah, kok. Kamu di sini nikmatin waktu aja, toh dari pekerjaanmu juga masih cuti, kan? Ngapain juga kalau ikut pulang sekarang? Menikmati waktu berdua itu penting, Nak. Terlebih kalian pengantin baru." Nadin begitu perhatian, beruntunglah Jovanka yang menjadi menantunya.
"Iya, Mam. Ya udah, Rey kembali ke hotel saat ini juga."
"Eh ... enggak usah, kalian habiskan waktu saja berdua. Mama cuma pamit ke Indonesia aja. Nanti kita bertemu lagi, kan, di sana?"
Rey hanya menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Ada rasa sedih karena ibu dan adiknya harus kembali beraktivitas. Sementara dirinya seolah bersenang-senang dengan istrinya di negara orang. Padahal, pemikiran itu hanya ada pada hati Rey yang notabene tidak enakkan. Dia merasa menjadi pelindung keluarga semenjak Reyfan lebih memilih istri keduanya dibanding Nadin––ibunya.
Obrolan dalam ponsel terputus. Jo melihat raut sedih pada wajah suaminya.
"Kenapa, Sayang? Tadi yang telepon itu Mama? Ada apa?" Pertanyaan Jo terlalu banyak karena merasa khawatir ketika melihat raut wajah suaminya.
"Mama mau pulang, Sayang," ujar Rey dengan nada lesu.
"Loh ... bukannya minggu depan baru pulang? Bareng kita, kan?"
Rey menggeleng.
"Enggak, Sayang. Mama dan Nana mau pulang sore ini juga. Udah pesan tiket sepertinya. Entahlah, aku gak tau."
Jo melihat wajah sedih suaminya. Tentu saja sebagai seorang istri, dia tidak ingin melihat suaminya bersedih. Lebih baik Jo meninggalkan liburan dan bulan madunya daripada melihat Rey bersedih.
"Ya udah, coba pesan tiket, Sayang. Mungkin bisa. Kita pulang bareng Mama dan Nana," ujar Jo tanpa beban.
"Enggak, Jo. Aku mau habiskan liburan ini bareng kamu. Mama juga enggak maksa kita pulang, kok."
__ADS_1
"Tapi, Rey. Wajahmu terlihat sedih, aku tidak ingin melihatmu sedih. Cukup aku melihat saat aku meninggalkanmu menikah dengan Om Alexi. Aku tidak ingin melihatmu sedih lagi."
"Ssttt ...." Telunjuk Rey menempel di bibir Jovanka. "Tidak usah mengungkit kenangan itu. Aku kini sudah bahagia denganmu, Sayang," pinta Rey dengan tatap mata teduh.