
Deraya Flying School tengah disibukkan oleh para calon siswa yang telah lulus untuk wisuda.
Reynand salah satunya. Ia hanya dua tahun mengikuti pembelajaran di sana, tetapi sudah menyelesaikan waktu target penerbangan dari sekolah tersebut. Tak ayal Rey wisuda lebih dulu dibandingkan dengan Vicky yang berjalan normal.
Rey masuk ke DFS memang karena beasiswa. Kemampuan berpikirnya di atas rata-rata. Memang, seharusnya Vicky juga sudah lulus sekolah tahun ini. Tetapi, karena mereka pindah sekolah dari tingkat SMA ke sekolah penerbangan, menjadikan mereka harus masuk kembali ke awal untuk mengikuti program dan pelajaran baru di penerbangan.
Captain Wahyu pun terlihat mengikuti untuk mempersiapkan acara calon kelulusan sekolah penerbangan ternama di Indonesia. Ia terlihat tampak sibuk, walau netranya terlihat sembap. Mungkin karena ia harus menjaga Adara di rumah sakit. Captain Wisnu pun akhirnya duduk di kursi. Ia menyenderkan punggungnya ke kursi, mungkin dia lelah.
Rey menghampiri dan membawa air mineral dalam kemasan botol.
“Minum, Cap!”
Rey menyodorkan satu botol air mineral.
Cap Wahyu meraih botol itu, “Thank’s, Rey!” ujar Cap Wisnu sambil membuka tutup botol dan meminumnya.
Rey dan Cap Wisnu memang cukup dekat. Tak ayal, mereka sering mengobrol tentang penerbangan. Apalagi, Cap Wisnu sangat berpengalaman.
“Cap, boleh Rey tanya sesuatu?” ujar Reynand.
“Tanya apa?”
Matanya kini menatap pemuda pintar yang ada di depannya.
“Anak Cap Wahyu sakit?” tanya Rey.
“Iya.”
“Oh ...memangnya kenapa, kalau Rey boleh tau?” ujar Rey walau agak ragu.
“Saya memarahinya ketika ia pergi ke pantai tanpa memberi tahu saya,” jawab Cap Wahyu.
“Kan cuma ke pantai, Cap. Apa salahnya?”
“Adara tidak boleh kecapean atau pun stres, Rey. Dulu ia difonis lemah jantung. Tetapi, akhirnya sembuh karena ia ditangani dan mengikuti rangkaian terapi. Saya hanya tidak ingin ia sakit lagi seperti dulu. Tapi, kemarin saya mungkin memarahinya agak keras, sehingga Adara tidak mau makan dan akhirnya tubuhnya melemah.”
Ya Tuhan! Adara ternyata pernah sakit seperti itu? Umpat Rey dalam hati.
“Sekarang keadaannya gimana, Cap?”
“Sudah membaik, makanya saya masuk ke DFS. Ada Mamanya yang menunggu Adara di rumah sakit.”
“Dulu, sebenarnya Adara mempunyai pacar. Tapi, saya tidak merestuinya karena menurut saya, Adara masih sangat kecil untuk mengenal pacaran.”
Rey mengangguk dan kembali mendengar cerita dari Cap Wahyu.
“Adara sempat ingin mengenalkannya pada Saya. Ketika itu, Adara sudah ada masalah pada jantungnya. Dan ia mengatakan kalau semangat hidupnya untuk lelaki yang ia sayang, yang entah dia seperti apa? Karena saya tidak ingin menemuinya pada masa itu. Hal itu yang membuat saya sedih sekaligus menyesali keputusan saya.”
“Cap sama sekali tidak menemui lelaki itu?”
Cap Wahyu menggeleng, “Bahkan, namanya pun saya tidak tahu. Saya sempat bertanya lagi pada Adara dan mau meminta maaf padanya. Tapi, Adara menolaknya dengan alasan pacarnya tidak di Jakarta lagi.”
Rey baru melihat netra seorang Captain yang dikenal tegas bisa berkaca-kaca karena seorang anak dan penyesalan yang mendalam.
“Kalau saja saya dipertemukan dengan laki-laki itu. Saya akan meminta maaf atas tindakan saya selama ini dan mengizinkannya untuk mendekati putri saya. Adara memang sekarang sehat, tetapi jiwanya terasa tidak bersama kami.” Air mata itu meluncur dari sudut mata Cap Wahyu.
Rey hanya terdiam, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Rey hanya menyaksikan jatuhnya air mata Cap Wahyu. Penyesalan seorang Ayah terhadap putrinya, yang berawal dari restu yang tidak ia berikan.
Rey teringat pada masa lalunya. Di mana ia memperjuangkan cintanya tetapi tidak mendapatkan restu dari orang tua perempuan. Padahal, Rey bisa saja mengungkap jati dirinya pada orang tua si perempuan. Tapi, Rey lelaki yang beda, ia percaya dengan jodoh terbaik yang akan diberikan Tuhan padanya. Rey menjalani hidupnya walau terasa berat ketika harus mengikhlaskan wanita yang ia cinta untuk lelaki lain.
“Cap, sebenarnya, Rey sudah kenal Adara beberapa hari yang lalu. Ketika hari ulang tahun Cap. Rey tidak sengaja menjatuhkan kue yang Adara bawa. Maaf,” ujar Reynand.
“Kalian sudah saling kenal?” Cap Wahyu kembali bertanya.
Rey mengangguk, “Iya. Bahkan, ketika di pantai Rey bertemu dengan Adara. Menurut Rey, Adara gadis penurut, Cap!”
“Iya, Adara memang penurut. Apa pun yang saya putuskan, Adara tidak pernah membangkangnya. Hal itu juga yang membuat saya menyesal tidak memberikan kesempatan untuknya mengenalkan lelaki yang menurutnya semangat hidup Adara.”
Ya Tuhan, Adara itu ternyata rapuh, umpat hati Reynand.
“Cap, apa boleh, Rey menjenguk Adara di rumah sakit?”
“Boleh. Semoga kamu bisa menghibur Adara di ramah sakit. Saya minta bantuannya, Rey!” ujar Cap Wahyu.
Rey mengangguk.
“Selepas di DFS selesai, kita berangkat bersama-sama ke rumah sakit,” ujar Cap Wahyu.
“Baik, Cap!”
***
Sementara Jo tengah bersiap untuk menghadiri acara wisuda Davin. Sebenarnya ia ragu untuk datang ke acara wisuda Davin. Tapi, Jo bukan tipikal wanita yang suka ingkar janji. Ia seorang wanita yang teguh akan menepati janjinya pada siapa pun, termasuk Davin. Lelaki rese yang sangat ia benci.
__ADS_1
Ddrrttt!
Gawai Jovanka bergetar di atas nakas.
Ia beranjak dari meja riasnya menuju nakas. Jo mengambil ponsel dan menyentuh layar ponselnya.
“Nomor siapa ini?”
Jo melihat ada nomor yang tidak dikenal mengiriminya pesan singkat.
[Jangan ngecewain gue! Dandan yang cantik!]
“Davin? Pasti ini Davin!” ucap Jovanka sambil menunjuk ponselnya.
Bip!
Pesan baru masuk.
[Foto kan dulu penampilan lu! Kalau belum sempurna, gue masih anggap lu punya hutang!!!]
“Sumpah! Ngeselin banget sih si Davin!” pekik Jovanka.
Akhirnya ia berselfi untuk memperlihatkan penampilannya menghadiri wisuda Davin.
Klik! Send!
Jo mengjrim foto selfinya.
Bip!
Pesan baru masuk lagi.
[Biarkan rambut lu terurai, gak usah diikat!]
“Ya Tuhannn! Bawel banget sih jadi cowok! Untung Rey gak seperti itu!” pekiknya.
Tanpa Jo sadari. Ia selalu membandingkan Davin dengan Rey, bukan dengan suaminya sendiri.
Jo membuka ikat rambut dan mengurai rambutnya. Ia juga memberikan sentuhan curly di rambut bagian bawahnya dan menyematkan jepit kecil yang berbentuk hati di rambutpanjang itu.
Bip!
Pesan baru masuk!
“Tuhannnn! Apa lagi sih maunya si Davin?”
[Udah belum? Kalau sudah fotoin dulu!]
“Cowok rese!”
Jo pun kembali berselfi dan mengirimkan foto selfinya pada Davin.
Bip!
Pesan baru!
[SEMPURNA! Gue tunggu di kampus!]
“DAVINN! Kamu tau gak sih? Kamu itu orang yang paling nyebelin yang pernah aku temui! Tapi kenapa Tuhan selalu membuatku berhutang akan kebaikanmu sih?” pekik Jovanka di depan ponselnya.
Tok ... Tok ... Tok ....
“Jo? Kamu kenapa, Nak? Lagi marah sama siapa, sih?” ujar Mamanya Jovanka sambil mengetuk pintu kamarnya.
“Gak papa, Ma!” teriak Jo dari dalam kamar.
Jo memang sudah kembali ke kamarnya. Kamar yang sederhana apabila dibandingkan dengan kamar Alexy.
Jo sudah memakai kebaya berwarna navy dan bawahannya rok yang menyerupai kain batik. Ia tampil cantik dengan sentuhan make up natural dan rambut yang digerai.
Jo menuruni anak tangga dan bergabung bersama Mama dan Papanya untuk sarapan pagi.
“Jo gimana kabar keluarga mertuamu?” ujar Mamanya.
“Baik-baik, Ma!”
“Kabar Alexy gimana? Kapan dia pulang? Mama ingin sekali menimang cucu!” ujar Mamanya Jovanka.
“Dih, Mama! Jo enggak tau Mas Alex pulang ke Indonesia kapan. Harusnya, beberapa hari yang lalu, ia sudah diperbolehkan pulang. Tetapi, ada satu klinik yang membutuhkan tenaga medis. Jadi Mas Alex sekarang masih berada di Singapur, Ma.” terang Jovanka.
“Hemm ... Berarti, Mama harus lebih sabar lagi menanti hadirnya cucu?”
Jo mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
“Ma, Pa. Jo berangkat dulu, ya?”
“Oh, iya. Memang mau ke mana sih Jo? Bukannya kuliahmu libur, ya?” tanya Mamanya Jovanka.
“Mau ke acara wisuda teman, Ma. Jo sudah janji mau menghadirinya,” terang Jo. “Ya udah, berangkat dulu ya, Ma? Takut telat.”
Jo berangkat ke kampus setelah mencium pipi Mama dan Papanya.
Melesat dengan mobil warna merah ke kampus untuk menghadiri wisuda Davin.
Srett!
Mobil telah terparkir dan Jo ke luar dari dalam mobil.
Ia merapikan sedikit bajunya dan menyelempangkan tas kecil yang berisi ponsel dan dompet. Ia tidak menyadari ada sosok laki-laki memakai toga yang memperhatikannya di atas motor sportnya.
Jovanka mendongak, ketika ia mulai merasa ada seseorang yang memperhatikan langkahnya.
“Davin? Ngapain kamu di atas motor? ‘kan kamu harusnya ada di dalam bergabung dengan wisudawan lain!”
“Gue nungguin, lu!” ujar Davin yang turun dari motor dan menghampiri Jovanka.
“Nungguin aku? Buat apa? Gimana kalau sampai aku telat datang tadi?”
“Gak mungkinlah! Gue akan teror lu lewat pesan.”
“Oh, iya. Dari mana kamu tau nomor ponsel aku?” tanya Jovanka dengan mengerutkan keningnya.
“Ada deh!”
“Hem!” Jo berdehem.
Jo dan Davin berjalan menuju koridor kampus menuju gedung yang dipakai untuk kegiatan wisuda.
Telah banyak para calon wisuda dan keluarga yang menghadiri acara tersebut.
“Dav, keluarga kamu mana?” tanya Jovanka.
“Ini!”
Davin menunjuk pada Jovanka.
“Aku?”
Davin mengangguk.
“Hello! Aku saja baru mengenal kamu! Bagaimana bisa, aku diibaratkan keluargamu?”
Jovanka memutar matanya.
“Gue sebatang kara!”
Mata Jo terbelalak. Ia tidak percaya terhadap apa yang Davin katakan.
“Kamu jangan bohong! Jangan bercanda dalam hal ini, Dav!”
“Enggak ada yang bohong. Memang ini kenyataannya.” Davin merundukkan kepala.
Seketika, Jo merasa sangat bersalah pada Davin si cowok yang menyebalkan ini sekarang menjadi sosok yang bisa mengambil simpatik dari Jovanka.
“Realy?”
Davin mengangguk.
Seketika, nama Davin di panggil ke atas panggung untuk mendapatkan penghargaan sebagai murid berprestasi di angkatannya.
Davin pun berdiri dari tempat duduknya. Riuh tepuk tangan dari para wisudawan dan keluarga yang menghadiri acara tersebut.
“Dav, mana keluargamu yang hadir?” ujar salah satu penyelenggara.
Hening.
Tidak ada satu pun orang yang maju untuk mendampingi Davin di atas sana. Akhirnya Jo bangkit dari tempat duduknya dan maju ke atas panggung.
“Anda saudaranya?” tanya si penyelenggara.
“Bukan. Tapi, saya sahabatnya yang akan mendampingi Davin di acara ini,” ujar Jovanka.
“Jo? Lu mau dampingin gue di sini?”
Netra Davin membulat.
Jo mengangguk, “Iya! Ternyata, kamu gak seburuk dari yang saya sangka, Dav. Maafin aku, ya?”
__ADS_1
Davin tersenyum.
Penghargaan itu pun akhirnya diberikan pada Davin dengan disertai sorak-sorai dari tamu undangan.