
Drrttt!
Ponsel Reynand bergetar. Baru saja ia mengalungkan handuk di lehernya untuk bersiap mandi.
“Siapa, sih!” pekiknya.
Rey kembali meraih ponsel yang terdapat di atas nakas.
“Captain Ardi?”
Rey langsung mengangkat telepon dari atas nakasnya.
[Pagi, Cap?]
Rey menyahut dari telepon.
[Rey, hari ini kamu ikut Elang mendampingi terbang rute Jakarta-Singapura, ya? Co-pilotnya hari ini tidak masuk, sakit katanya.]
[Berarti Rey masuk siang, Cap?]
[Iya. Kamu masuk siang mendampingi Elang ke Singapura.]
[Baik, Cap! Terima kasih infonya, selamat pagi.]
Tut!
Telepon tertutup.
Rey melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Ia malah pergi ke meja makan karena perutnya yang sudah kelaparan.
“Rey, kamu gak kerja, Nak?” tanya Nadin.
“Belum, Ma. Rey masuk siang, barusan di telepon oleh Cap Ardi.” Rey mengambil sepotong sandwich dan menyuapkannya.
“Kok bisa? Masih penerbangan lokal, kan?” tanya Nadin.
“Singapur, Ma.”
“Wahhh ... Singapur? Nana mau ikut ya, Bang?” ujar Nana dengan wajah semringah.
“Mau ngapain? Emang itu pesawat punya Abang bisa ajak orang seenaknya?”
“Yaelah, Bang. Nana bayar kok,” ucap Rhiena.
“Iya, tapi ‘kan Abang cuma kerja bukan main, Nana!”
Rey mendelik sambil masukan sandwich ke mulutnya.
“Yaelah, Ma!” rengek Rhiena.
“Na, kan Abang udah bilang kalau dia mau kerja. Emang Nana mau apa ke Singapur?” tanya Nadin.
“Nana mau kegemu Princess, Ma. Nana kangen!”
“Princess? Bukannya dulu kamu bilang ke Prancis?”
Dahi Nadin mengernyit.
“Enggak, Ma. Princess salah informasi, ternyata Papanya hanya dipindahkan ke Singapur,” ujar Rhiena.
“Ya sudah, kapan-kapan kalau Abangmu ada libur bisa ke sana. Iya gak, Bang?” ujar Nadin.
“Betul itu!”
“Tapi beneran ya, Bang? Mau anter ke sana?” ujar Rhiena memastikan.
“Iya!”
Rey mencubit gemas hidung adiknya.
“Aww! Sakit, Abang!” ujar Rhiena.
Jo?
Kenapa gue teringat Jovanka? Ujar Rey dalam hati.
Rhiena berangkat ke sekolahnya dan Nadin pun bergegas ke kantor, banyak sekali pekerjaan yang mesti diurusnya. Sedangkan Rey masih menikmati kesendiriannya dalam rumah.
.
Waktu telah menunjukkan pukul satu siang. Rey pun berangkat dari rumah menuju Bandara, karena sekitar jam setengah tiga sore ia harus menjalankan pekerjaannya sebagai Co-pilot.
Melesat cepat ke Bandara dengan mobil sport hitamnya, membuat siapa pun wanita yang melihatnya akan terpana. Bagaimana tidak? Paras tampan, menggunakan seragam pilot dan ditopang dengan kendaraan yang cukup mewah pastilah idaman banyak wanita. Ditambah dengan sikapnya yang bersahaja kepada siap pun.
“Woihhh ... Bro! Terbang sama gue hari ini!” Elang menyalami tangan Rey dan menepuk pundaknya pelan.
“Yoi, Bang El!”
“Dih ... Dipanggil Abang lagi. Gue belom kawin, woy!” ujarnya sambil terkekeh.
“Yaelah, Bang. Gue juga belum kawin udah dipanggil Abang sama Adek gue,” elak Reynand.
“Yaelah, itu kan adik lu, Rey.”
“Yaudah, anggap aja gue adik lu, mudah ‘kan?” Rey menaikkan satu alisnya.
“Sa’ae jawaban lu, Tong!”
__ADS_1
Akhirnya mereka tertawa. Rey yang sudah tidak kaku dengan Elang, menjadikan keakraban mereka semakin terasa. Terlebih, ketika tahu bahwa Salsa adalah kekasih Elang.
Mereka mengobrol hangat di kantor dan bergegas menuju pesawat untuk menjalankan tugas hari ini. Semua sudah bersiap, segala sesuatunya pun dalam keadaan siap.
Dan, fiuhhh!
Pesawat terbang dari Jakarta menuju Singapura kurang lebih selama tiga jam, mereka melakukan penerbangan.
Rey dan Elang tampak serius menjalani tugasnya, tiada lagi canda tawa dalam melaksanakan tugas mereka. Hingga tak terasa, pesawat pun akan segera landas di bandara Internasional di Singapura. Pesawat pun mendarat dengan sempurna.
“Wihhh ... Pengalaman memang tidak diragukan!” puji Reynand.
“Heleh, entar juga lu kek gue, Rey! Gue yakin, yang penting lu selalu semangat, gue juga pernah ngerasain di posisi lu. Ingat menjadi Co-pilot itu bukan berarti kedudukan lu di bawah gue. Banyak yang kedudukannya sama bahkan lebih tinggi yang menjadi Co-pilot. Kita berdua mempunyai tanggung jawab yang berat,” ujar Elang.
“Thank’s ya, Bang? Lu udah banyak banget kasih pengalaman ke gue,” ujar Reynand.
Elang tersenyum, “Ya sudah, ayo turun! Kita menikmati secangkir kopi di bandara Singapura!” Elang tertawa.
Seluruh penumpang telah turun, tidak ketinggalan Rey dan Elang turun ketika pesawat telah terhenti di tempatnya.
.
Jeduk!
Rey menabrak seseorang.
“Maaf! Saya tidak sengaja!” ujar Rey merasa tidak enak.
“Lu ngomong pakek bahasa Inggris, di sini bukan Indonesia, kemungkinan Bapak ini bukan dari negara kita,” ujar Elang.
Rey tersenyum.
“Sorry ....”
Seketika, ucapan Rey terpotong oleh lelaki paruh baya yang ditabraknya.
“Saya mengerti bahasa Indonesia, karena saya asli orang Indonesia,” jawab lelaki itu.
Rey dan Elang tersenyum.
“Sekali lagi, maaf ya, Pak? Saya tidak sengaja,” ungkap Reynand.
“Tidak masalah.”
“Oh iya, nama saya Rey dan ini Elang.”
Mereka bersalaman.
“Michael,” jawab lelaki paruh baya itu, “Oh ... Iya, maaf saya terburu-buru. Senang jumpa kalian!” sambung Michael.
Perasaan, gue pernah liat Bapak Michael tadi, tapi di mana? Umpat dalam hati dan mengingat ingat.
“Woy! Malah ngelamun! Lu kenal sama dia?” tanya Elang.
“Entah, Bang! Perasaan pernah liat, tapi di mana?”
“Ya di sini! Barusan ‘kan lu ketemu sama dia di sini.” Elang terkekeh.
“Yaelah, bisa aja lu, Bang!”
Akhirnya Rey dan Elang menuju ke sebuah Kafe di bandara untuk sejenak melepas lelah dan penat ketika menjalankan tugas. Pesawat yang terbang landas menjadi pemandangan mereka setiap harinya.
***
Di Bandung, ada Jovanka yang sibuk dengan segala tugas kampusnya. Sebenarnya ia merasa malas karena otaknya selalu terpikirkan Alexy. Bagaimanapun, Alexy itu merupakan suaminya walau belum memiliki Jovanka seutuhnya.
.
“Ma, kenapa Papa berangkatnya jadi tadi sore? Bukannya Papa harusnya berangkat pagi?” tanya Jovanka.
“Iya. Setelah Papa cek, penerbangan hari itu ternyata tidak ada jadwal pagi, jadi Papa ambil yang sore tadi sekitar jam setengah tiga. Mungkin sekarang Papamu sudah sampai di Singapura,” ujar Mama mertuanya.
“Oh ... Papa belum hubungi Mama lagi?”
“Belum, tunggu saja. Mungkin sebentar lagi,” ujar Mama mertuanya.
Jo semakin merasa sendirian, ketika Mama dan papa kandungnya telah kembali ke rumah mereka. Karena mereka juga mempunyai pekerjaan dan urusan lain.
Drrrtttt!
Ponsel yang tergeletak di atas meja, akhirnya bergetar.
“Papamu, Sayang!” ujar Mama mertuanya.
“Angkat, Ma! Load sepaker, ya? Jo mau denger!” ujar Jovanka, semangat.
[Halo, Ma?]
Terdengar suara Papa mertuanya dalam telepon.
[Iya, Pa. Papa udah nyampe Singapur?] tanya Mama mertua Jovanka.
[Sudah. Maaf, tadi Papa malah bertabrakan sama Co-pilot pesawatnya, jadi Papa malah ngobrol sebentar dengan mereka dan baru bisa kabarin Mama sekarang.]
[Iya, gak papa, Pa! Yang penting Papa kabarin udah sampai sana dengan selamat, Mama udah seneng dan lega, oh iya, gimana kabar tentang Alexy, Pa?]
__ADS_1
[Belum tau, Ma. Ini, Papa baru naik travell menuju kantor jasa mobil yang Alexy tumpangi.]
[Oh, ya sudah. Nanti kabari lagi ya, Pa?]
[Iya, Ma. Oh iya, Jo baik-baik saja ‘kan?]
[Jo baik kok, Pa. Ni Jo lagi dengerin Papa sama Mama ngomong,] jawab Jovanka menimpali.
[Syukurlah, Papa tau, menantu Papa itu wanita yang kuat! Baik-baik di sana ya, Nak. Bantu doa.]
[Pasti, Pa. Jo akan minta doa yang terbaik. Papa juga baik-baik di sana, ya?]
[Iya, Nak! Ya sudah, Papa mau lanjut perjalanan.]
Tut!
Telepon tertutup.
.
Jovanka menapaki anak tangga dan masuk dalam kamarnya. Seperti biasa matanya berkaca ketika memasuki kamar itu.
“Mas Alex ....”
Kembali, air mata itu meluap ketika tidak ada orang lain di sampingnya.
Jo memang pandai menyembunyikan perasaannya. Walau sesungguhnya ia sekarang menjadi gadis rapuh ketika kehilangan kontak dari suaminya.
Jo memandang ke dinding kamar, di mana ada sebuah foto pernikahan mereka yang terpasang di sana. Jo menghampiri lalu mengusap lembut gambar Alexy.
Jo dikejutkan oleh nada dering ponsel yang tergeletak di atas ranjang.
Ia menghampiri benda pipih yang menyala dan menyentuh layar ponsel itu.
“Davin?”
Rupanya Davin video call.
[Hal ...o]
Wajah Davin terlihat kaget dengan mata Jovanka yang semakin sembab.
[Lu kenapa lagi? Ada kabar tentang suami lu?] sambung Davin.
Jo menggeleng, tanpa kata.
[Lu sedih, ya? Atau telepon gue ganggu lu? Maaf, ya?]
[Enggak kok, Dav. Kamu malah sering membuat aku tersenyum.]
[Ya elah, Jo. Gue bisa liat wajah sedih lu. Sorry, ya? Paling, gue bisa ke Bandung minggu depan ketika jatah libur di rumah sakit.]
[Iya, gak papa. Jaga kondisi badan, Dav.]
[Ecieeee ... Lu perhatian sama gue sekarang?] goda Davin dalam telepon.
[Dih ... Mulai 'kan, ge’ernya keluar?]
[Hahaha ....]
Jovanka dan Davin mengobrol cukup lama. Mereka berbincang ke mana-mana. Mulai dari pekerjaan Davin yang sekarang menjadi seorang dokter dan kehidupannya di Jakarta. Jo hanyut dalam setiap candaan yang dilontarkan oleh Davin. Lelaki ngeselin yang malah membuatnya tersenyum kala ia sedang terpuruk sendiri.
Pertemanan mereka menjadi lebih akrab ketika telah jauh. Dulu, ketika satu kampus, Davin itu sangat menyebalkan. Tapi, ketika jauh, justru dialah orang yang dapat menghibur hati Jovanka.
Davin tetaplah Davin. Dia bisa menghibur hati Jovanka yang saat ini sedang sedih. Tapi, dia tidak dapat menggantikan posisi Rey di hatinya.
Ponsel pun akhirnya mati. Karena waktu sudah larut malam.
“Dav, ternyata kamu lelaki yang baik. Aku percaya, kamu akan mendapatkan perempuan yang sama baiknya denganmu. Doaku selalu yang terbaik untukmu, Dav! Aku merasa bersyukur, ketika sedang seperti ini, Tuhan mengirimkan seseorang untuk bisa membuat aku tersenyum, walau sementara. Makasih, Dav,” ucap Jovanka ketika telepon sudah dimatikan.
Kenapa tidak ngomong langsung ketika ditelepon? Mungkin, karena Jo malu untuk mengutarakan rasa terima kasihnya pada orang yang ia anggap paling menyebalkan di kampus saat itu.
Jo kembali mengambil diary yang berwarna ungu. Ia mulai menuliskan sesuatu di dalamnya. Sebuah perasaan sayang, rindu, kehilangan semuanya ia curahkan pada diary itu.
____
Dear, Diary.
Malam ini, aku sangat bersyukur, karena Tuhan masih mengirimkan orang-orang baik di sekitarku. Namanya Davin, lelaki paling menyebalkan ketika di kampus yang kini menjelma bak super hero untukku.
Aku mengaguminya. Tapi, hanya sebatas kagum, tidak lebih. Di saat aku merasa kehilangan sosok suami, Davin yang selalu ada untukku.
Diary, sesungguhnya rencana apa yang Tuhan rangkai untukku?
Aku mulai menerima Alexy sebagai suami, tapi Dia menjauhkannya dariku. Kenapa juga hati ini selalu mengingat satu nama?
Sebuah nama yang tidak dapat hilang dari hati dan jiwaku. Anganku selalu bersamanya, walau raganya entah di mana.
Diary, kapan aku bahagia? Hingga kini, kebahagiaanku entah berada di mana.
Rey.
Satu nama yang telah tinggal dalam diri! ReyAbadi
____
Jovanka mulai memejamkan mata setelah menuliskan kepingan perasaan yang sedang ia rasa.
__ADS_1
Semoga hari esok lebih bersinar!