Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 52. Ibarat Cermin


__ADS_3

Selesai sudah acara wisuda Davin. Ia lalu mengajak Jovanka untuk makan siang.


“Mobil lu taruh sini aja,” ujar Davin.


“Loh ... Kenapa?”


“Gue mau ajak lu makan siang, sebagai tanda terima kasih buat lu, Jo!” ujar Davin.


“Modus ya, kamu?”


“Yaelah, kagak! Anggap aja perpisahan. Kan esok kita gak bakal ketemu, Jo.”


“Iya juga, ya? Ya udah aku ikut kamu.”


Jo naik ke jok motor Davin walau dengan sedikit bersusah payah, karena Jo memakai rok.


“Ayok berangkat!” ujar Jovanka setelah naik di jok belakang motor Davin.


“Lu udah naik?”


“Udah, lah!”


“Kok gue gak kerasa, ya?”


“Ish! Ngeledek, ya?”


“Kagak! Ya udah, pegangan,” ujar Davin.


”What?”


“Ck! Selalu bilang seperti itu. Jangan salahin gue kalau saja lu sampai jatuh, gue udah peringatin lu ya, Jo!”


“Hem!”


Jo tidak menuruti apa kata Davin.


Davin memacu motornya dengan sangat kencang, melesat ke salah satu restoran.


“DAVIIINNNN, BERENTI!!!” pekik Jovanka.


“Kan udah gue bilang!”


Akhirnya lengan Jovanka melingkar di perut Davin.


Yes! Dapat pelukan ‘kan gue! Umpat hati Davin sambil menyunggingkan senyuman ketika ia melesat kencang dengan motornya.


Akhirnya, sampai juga mereka disalah satu restoran yang cukup terkenal. Tapi, lengan Jovanka masih melingkar di perut sixpack Davin dengan debar dada yang masih kencang.


“Lu masih betah peluk gue, Jo?” Davin terkekeh.


“Hah?”


Jo melihat ke tangannya sendiri, ia baru sadar kalau tangannya masih melingkar di perut lelaki yang paling menyebalkan, ia segera melepaskan pelukannya dari lelaki itu yang meninggalkan rona wajah memerah karena malu.


“Sorry, Dav aku eng ....”


“Enggak sengaja? Iya gue tau kok. Mau lu sengaja juga gue gak akan marah.”


“Davin!”


Mata Jovanka membulat.


“Ya udah, ayok! Memangnya kita mau makan di atas motor apa?” ujar Davin.


“Eh, iya.”


Jo tersenyum dan langsung turun dari motor sport itu.


Ya Tuhan, sekali nyebelin ya tetap aja nyebelin! Umpat hati Jovanka.


Mereka berjalan ke restoran itu dan memesan cukup banyak menu makanan lezat.


“Udah masuk ke restoran segede gini, lu cuma pesan gado-gado kek gitu?” ujar Davin.


“Ini salad Davin, bukan gado-gado!” elak Jovanka.


“Sama aja menurut gue, malah lebih enak gado-gado dibanding itu.”


Jo tersenyum.


Ya Tuhan, Jo! Lu tuh manis banget, sumpah!! Umpat hati Davin.


Mereka kembali melanjutkan makan. Sesekali Jo pun memandang Davin. Pria jangkung yang mempunyai paras tampan.


Esok, Davin tidak ada di kampus. Sepi enggak, ya. Tanpa dia? Umpat hati Jovanka.


Mereka menghabiskan waktu hingga sore hari bersama Davin. Keakraban mereka terjalin ketika Davin sudah selesai kuliah.


“Dav, esok kamu kerja di mana?” ujar Jovanka.


“Cieee ... Gak rela lu, ya. Jauh dari gue?” ujar Davin.

__ADS_1


“Enak aja!”


Bibir Jovanka mengerucut.


“Jo? Gue punya lagu buat lu. Dengerin, ya?” ujar Davin.


Jo tidak menjawab, hanya mendelik dengan bibir yang masih mengerucut.


**Mulia, indah, cantik berseri


Kulit putih, bersih, merah di pipimu


Dia Aisyah, putri Abu bakar


Istri Rasulullah


Sungguh sweet Nabi mencintamu


Hingga Nabi minum di bekas bibirmu


Bila dia marah, Nabi 'kan bermanja


Mencubit bibirnya.**


Davin bernyanyi sambil mencubit bibir Jovanka dengan lembut.


____


“Davin!” pekik Jovanka kesal.


“Apa, Jo? Kan gue menirukan lagunya, biar menghayati gitu,” ujar Davin.


“Iya, tapi kamu salah lirik!”


Akhirnya tawa Jo tak tertahan lagi, ia tertawa gara-gara kelakuan Davin yang seenaknya merubah lirik lagu.


“Emang yang bener kek mane?”


Davin menyangga dagu oleh tangannya.


“Harusnya, liriknya itu begini : Bila dia marah Nabi ‘kan bermanja mencubit hidungnya, bukan bibirnya, Dav!”


Jovanka tertawa sambil menutup bibirnya dengan telapak tangan.


Keceriaan Jovanka merupakan obat mujarab untuk Davin yang sedang merindu kekasihnya. Davin sangat bersyukur ketika di penghujung kuliah, ia bisa berbaikan pada Jovanka. Entah hari esok yang akan datang.


“Pulang, yuk?” ajak Jovanka.


Jo bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju motor sport yang terparkir di depan restoran.


“Jo!”


Davin menarik lengan Jovanka.


Jo mendelik lengan yang digenggam oleh Davin. Ia teringat ketika Rey melakukan itu ketika dirinya akan menikah dengan Alexy. Dengan cepat, Davin menarik lengan dan mendekap tubuh kecil Jovanka dalam dekapan tubuh pria jangkung.


“Apa gue sanggup jauh dari lu, Jo? Apa gue bisa kehilangan untuk yang kedua kalinya?” ucap Davin.


Jo hanya terdiam. Ia merasa seperti ada dalam dekapan Reynand.


“Gue gak mau jauh dari lu, Jo! Lu mirip sekali dengan Adara!” ujar Davin.


“Adara?”


Jo mendorong dada Davin.


“Maaf, Jo! Lu persis sekali dengan kekasih gue dulu. Tapi, kami gak direstui oleh orang tuanya. Bahkan, untuk bertemu pun, mereka tidak mau. Begitu hina ‘kah gue di depan mata orang tuanya?”


Jo menatap ekspresi Davin. Seperti menyimpan kekesalan yang teramat dalam, mungkin dia dendam? Entahlah.


“Waktu itu, gue menjalin hubungan ketika awal masuk kuliah dan ia baru masuk SMP. Dia wanita yang ceria, sama sepertimu!” Davin merunduk.


Ya Tuhan, kenapa kisahnya sama denganku? Apakah hal ini juga yang dirasakan oleh Reynand dulu? Jo mengumpat dalam hati.


Jo mendengar keluh kesah Davin. Walau orang tuanya tidak merestui, tapi gadis itu selalu ada di hatinya. Pantas saja, walau banyak gadis cantik yang tergila-gila dengannya. Davin tidak pernah merespon, ia begitu cuek.


Wajah Adara yang mirip sekali dengan Jovanka, menjadikannya tidak ingin berpisah dengan Jo, walau ia tahu Jo sudah memiliki suami.


Entah, rasa apa yang dimiliki Davin untuk Jovanka. Mungkin, hanya karena mirip sifat dan wajahnya saja. Entahlah.


“Jo sebelum gue pergi dari Bandung, gue mau bertemu dengan lu. Mungkin yang terakhir kalinya. Bisa?”


Seketika netra Jo berkaca-kaca dan Davin bisa melihat kesedihan Jovanka. Lagi, Jo kembali jatuh dalam dekapan tubuh si jangkung, Davin.


Jo menangis, bahkan air matanya membasahi baju kemeja Davin. Davin pun mengusap rambut Jovanka, ia merasa Adara yang sedang memeluknya saat ini.


“Aku merasa kehilangan yang ketiga kalinya, Dav. Pertama kekasihku, sama sepertimu terhalang restu. Kami tidak pernah berhubungan lagi sampai detik ini setelah aku menikah dengan suamiku, Alexy. Setelah aku mulai menerima Alexy hadir dalam hatiku, ia juga pergi ke Singapura entah sampai kapan. Dan ketiga kamu, orang yang menurutku paling menyebalkan! Kenapa Tuhan selalu menjauhkan orang-orang yang membuatku nyaman, Dav? Apakah aku tidak ditakdirkan untuk hidup bahagia?”


Air mata itu semakin deras tertumpah. Davin pun dapat merasakan debar yang ada di dada Jovanka karena ia juga merasakan debar yang sama. Perasaan mereka ibarat cermin, Jo bisa melihat perasaan Rey dari Davin dan Davin pun bisa melihat diri Adara di wajah Jovanka.


***

__ADS_1


Di sisi lain, ada Rey dan Cap Wahyu yang meluncur dengan mobil masing-masing ke rumah sakit.


Dalam kamar yang berukuran cukup besar, Rey melihat Adara yang sedang terbaring lemah. Sedangkan Mamanya entah ke mana.


“Adara tidur, Cap!”


“Iya. Saya titip Dara ya, Rey? Mau mencari Mamanya.”


“Baik, Cap!”


Cap Wahyu berjalan ke luar kamar. Sementara Rey menunggu Adara di samping tempat tidurnya. Tidak berselang lama, Adara bangun dari tidurnya. Mata indah itu mulai terbuka.


“Kak Rey?” ujar Adara.


Rey tersenyum, “Gimana keadaan lu, Dar?”


“Aku udah lebih baik, Kak.”


“Tuh, kan! Gue bilang apa? Besok lagi, lu gak boleh hujan-hujanan, ya?”


Adara memalingkan wajahnya, “Pasti Papa udah bilang sama Kak Rey, ya?”


Rey tersenyum, “Cap Wahyu itu sangat sayang sama lu, Dara! Gue bisa lihat itu.”


“Lihat apa?”


Adara mengernyitkan kening.


“Ketika di Deraya, Cap Wahyu menitikkan air mata, ketika membicarakan kesehatan lu!”


Adara tersenyum sinis, “Kakak gak usah bohong! Gak mungkin seorang Captain menangis? Apalagi, Papa memang tidak pernah menangis di depanku!” ujar Adara bernada sinis.


“Entah. Tapi, hal itu yang gue lihat, Dar! Di balik sifat tegas Cap Wahyu, menyimpan kasih sayang yang tulus, dan hati yang teramat lembut untuk seorang laki-laki.”


Hening.


Adara sibuk dengan pemikirannya sendiri.


“Kak?”


“Hem!"


“Beneran, Papa nangis karena khawatir sama aku?” tanya Adara dengan tatapan tajam.


Rey mengangguk, sebagai pengganti kata iya!


Mereka berbincang dengan cukup intens. Waktu pun terasa cepat berlalu. Rey merasakan kebahagiaan bisa menemani Adara, gadis yang mirip dengan kekasih yang selalu ia rindukan.


“Permisi!” suara perempuan masuk dalam kamar Adara.


Rey dan Adara menoleh lalu tersenyum.


“Ini, obatnya dan ini menu untuk makannya. Dihabiskan ya, Mbak. Biar cepet sehat,” ujar perawat.


“Baik, terima kasih,” ujar Rey.


“Sama-sama, mari?” perawat itu ke luar dari kamar Adara.


Adara meraih nasi dan sayur yang ada dalam nampan. Tapi, Rey menahannya.


“Biar gue yang suapin!” ujar Rey.


Kak Rey, kenapa Kakak mirip sekali dengan Kak Davin? Laki-laki yang aku sayang, hingga detik ini. Perasaanku tetap sama, bahkan selalu bertambah untuknya. Kerinduanku kini semakin membuncah, terlebih aku bisa melihat sosok Kak Davin dalam diri Kak Reynand. Tuhan ... Aku harus apa? Akan ‘kah, aku kembali bertemu dengan Kak Davin? Akankan kami bisa bersama? Menghabiskan sisa umur ketika senja. Umpat hati Adara.


“Aaa ... Malah ngelamun!” ujar Reynand dengan menyodorkan satu sendok nasi di sendok.


Adara pun terperanjat, ia lalu membuka mulutnya, mengikuti seperti yang Reynand perintahkan.


“Maaf ya, Kak. Dara jadi ngerepotin!”


Rey menggeleng, “Enggak, santai aja, Dar!”


Suapan demi suapan telah meluncur ke mulut gadis yang mirip dengan kekasihnya. Kini makanan pun beralih dari atas piring lalu bersemayam dalam perut.


Obat pun tak luput dari pandangan Reynand. Ia memberikannya pada Adara. Sudah cukup lama, Rey dan Adara berbincang. Ngomong ke mana-mana. Papa dan Mamanya pun, akhirnya kembali ke kamar Adara.


“Giamana keadaanmu, Sayang?” ujar Cap Wahyu.


“Mulai membaik, Pa. Barusan Kak Rey bantuin Adara suapin nasi dan kasih obat,” terang Adara.


“Waahhh ... Makasih ya, Rey?” ujar Cap Wahyu.


Rey mengangguk, “Sama-sana, Cap!”


“Oh iya, kenalin. Ini Mama ya Adara, namanya Lidya.”


“Halo, Tante?” Rey mengulurkan tangannya.


“Hai, Rey! Makasih udah jagain putri Tante, ya?” ujar Lidya, mereka pun bersalaman.


Rey larut dalam perbincangan keluarga kecil ini. Di mana ada Cap Wahyu yang tegas dan Tante Lidya seorang wanita yang lembut. Mungkin, siakap Adara lebih cenderung seperti Mamanya, lembut. Hingga ia tidak dapat menyakiti hati orang-orang yang ada di dekatnya. Salut!

__ADS_1


__ADS_2