Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
116. Takut


__ADS_3

Keadaan siang itu cukup terik. Jo dan Davin sedang berada di kantin yang berada di dekat klinik tempat mereka bekerja.


Davin tampak sibuk berbalas pesan hingga dia tidak mempunyai waktu untuk mencuri pandang pada Jovanka. Padahal, jangankan ketika waktu senggang sedang beristirahat. Ketika kerja pun, tatapan Davin selalu terfokus pada wajah cantik Jovanka.


"Dav, aku udah makannya. Tumben, makananmu masih tersisa?" tanya Jovanka kala melihat soto yang menjadi menu makan siang Davin masih tersisa cukup banyak di mangkuk.


"Eh, iya, Jo. Aku masih ada urusan. Ya sudah, kita balik ke klinik aja," ajak Davin tanpa melepas pandangannya dari ponsel yang sedang dia genggam.


Jovanka lebih dulu berjalan keluar kantin. Sementara Davin membayar menu yang telah mereka makan.


Davin masih terus melihat ponsel dengan jemari yang begitu lincah mengetik keyboard yang ada dalam screen ponselnya. Hingga tidak terasa, Davin dan Jovanka telah masuk ke klinik.


"Aku duluan, Jo." Davin masuk ke ruang kerjanya.


"Tumben?" gumam Jovanka. Namun, wanita itu tidak mengambil pusing. Dia lebih memilih untuk masuk ke ruang kerjanya sendiri.


Bibir Davin tersungging ketika menerima pesan dari seorang wanita.


"Aku sudah berada di bandara, kok. Makanya aku bisa berbalas pesan denganmu." Isi pesan masuk di ponsel Davin.


Mata Davin membulat ketika membaca pesan tersebut.


"Mau aku jemput, La?" tawar Davin dalam balasnya.


"Tidak usah. Aku mau ke rumah, taksi sudah menungguku. Sampai ketemu, Davin."


"Oke! Nanti aku hubungi kamu, La."


Davin menyimpan ponselnya di atas meja. Punggungnya dirapatkan pada kursi dengan bibir terkembang dan hati bahagia.


"Mala, akhirnya kamu kembali." Davin memejamkan mata, dia mengingat gadis yang seumuran dengannya.


Gadis yang dulu pernah mencintainya. Namun, kini mereka lebih menjunjung tinggi persahabatan sehingga komunikasi masih berjalan hingga kini. Walau dulu pernah terputus beberapa saat.


Davin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan ketika dia menyadari sikapnya pada Jovanka.


Hmm ... sepertinya tadi Jovanka merasa aku cuekin, jadi dia menyapaku lebih dulu. Apa ini artinya dia pun mempunyai rasa terhadapku? Batin Davin menerka.


***


Jovanka telah bersiap ke rumah. Dari siang tadi, Davin memang terlihat begitu sibuk dengan pasien dan juga ponselnya yang seolah tidak dapat lepas dari tangannya.

__ADS_1


Ponsel terlepas ketika ada pasien saja. Selebihnya, mata Davin kembali terfokus pada benda pipih berwarna hitam miliknya.


"Jo! Aku pulang duluan, ya?" pamit Davin.


Eh, tumben. Ini orang kenapa? Batin Jovanka.


"Oke! Hati-hati!" ucap Jovanka sedikit berteriak kala Davin yang keluar lebih dulu dari ruang kerjanya kemudian meninggalkan klinik tersebut.


Jovanka membereskan peralatan klinik yang dia pakai hari itu. Setelah meja dalam keadaan rapi. Wanita cantik yang menyandang gelar dokter serta istri dari seorang pilot muda yang berprestasi itu kini berdiri dari singgasananya.


Jovanka sedikit merapikan kemeja serta sempat mengambil kaca kecil dari tasnya.


"Astaga, kucel sekali," ucap Jovanka yang lalu menyimpan kembali tasnya di meja. Gegas, Jovanka pergi ke toilet setelah sabun wajah yang dia bawa ke toilet.


Rey masih beberapa menit lagi ke kliniknya. Masih cukup waktu untuk sekadar mencuci muka dan membubuhi makeup sekadar bedak dan lipstik saja. Kebetulan, Jovanka memang tidak terlalu ribet dalam urusan berdandan.


Wajahnya kini terlihat fresh setelah mencuci dengan busa sabun berwarna putih dan juga lembut. Jovanka menekan-nekan wajahnya dengan saputangan yang dia bawa lalu mengeringkannya dengan tisu.


Jovanka kembali duduk di kursi kerjanya. Ruang kerjanya masih tertutup karena dokter pengganti yang praktik saat itu ada di ruang kerja Davin.


Jo mulai membuka bedak padat lalu membubuhi pipinya dengan bedak dengan warna soft hampir seperti warna kulitnya. Setelah itu, dia memoles bibirnya kemudian mengatup-atupkan bibir atas dan bawahnya secara bersamaan.


Setelah menikah, Jovanka memang terlihat semakin memperhatikan penampilannya. Dia ingin selalu terlihat cantik di depan suaminya. Apalagi, pekerjaan Rey yang bersinggungan dan dikelilingi banyak wanita cantik dengan tubuh proporsional.


"Rey? Apa itu Rey?" gumam Jovanka yang masih melihat cermin kecil di tangannya.


Pintu kembali diketuk dengan suara yang sama. Bahkan, terdengar semakin kencang karena di dalam sana, Jovanka tidak menyahuti jawaban Reynand.


"I-iya, sebentar!" ujar Jovanka terbata kala menjawab panggilan suaminya.


Gegas Jovanka menaruh sembarang cermin dan peralatan make up lainnya di atas meja kerja kemudian berjalan cepat untuk membuka pintu.


"Rey?" ucap Jovanka ketika melihat suaminya dari pintu yang telah terbuka.


"Iya, ini aku."


Jovanka tersenyum.


"Tumben, kamu sampai masuk ke sini? Biasanya nunggu di luar," tanya Jovanka yang masih memegang daun pintu.


"Sayang, coba lihat jam di dinding," ucap Rey sambil menunjuk ke dinding yang terpasang jam berbentuk bulat berwarna putih.

__ADS_1


Astaga! Ternyata aku berdandan sudah lewat dari setengah jam. Jovanka berkata dalam hatinya.


Wanita itu tersenyum lalu membuka pintu lebar menyuruh agar suaminya ikut masuk dulu karena makeup yang masih tercecer di meja kerja setelah dia pakai.


"Astaga ... Sayang, kamu itu ngapain? Kok make-up berantakan di meja kerja?" tanya Rey dengan seulas senyum.


"Emm ... itu, Sayang. Anu. Aku––" ucap Jovanka terjeda.


Rey menyipitkan mata ketika melihat ekspresi wajah istrinya yang malah terlihat gelagapan.


Jovanka menarik dalam napasnya kemudian mengempaskan perlahan. Dia terlihat begitu gugup menjawab pertanyaan suaminya.


"Aku?" Rey kembali bertanya.


"Aku takut kamu tergoda oleh wanita lain. Makanya aku ingin selalu terlihat cantik di depanmu," gumam Jovanka yang merundukan pandangannya dari Reynand.


Rey tersenyum bahagia karena ternyata Jovanka begitu takut kehilangan dirinya.


Reynand memegang kedua pipi Jovanka. Kini, wajah Jovanka terangkat dan pandangan mereka berada di titik yang sama.


"A–aku, aku gak mau kehilangan ka––" kata Jovanka terhenti ketika telunjuk Reynand mendarat di bibirnya.


"Ssttt ... tidak usah diteruskan, Karen aku tidak akan pernah seperti itu," ucap Rey meyakinkan.


"Serius?" Jovanka memastikan dengan suara terdengar pelan. Bahkan, hampir tidak terdengar kalau saja Reynand tidak melihat bibir Jovanka.


Reynand tersenyum.


"Dih ... kok, malah senyum? Jawab," rengek Jovanka merasa kesal.


"Aku manusia biasa, Jo. Aku memang tidak menjanjikan, tapi aku akan melaksanakan. Aku tidak akan berpaling dari kamu walau sedikit pun. Apabila hal itu terjadi, tolong. Tolong ingatkan aku yang mungkin salah, karena aku hanyalah manusia, tepat salah dan khilaf." Rey menggenggam kedua tangan Jovanka lalu mengecupnya hangat.


"Apakah kamu akan mendengar keluhku ketika aku menegurmu nanti?"


"Pasti!" Reynand memastikan.


"Kalau enggak?" tanya Jovanka dengan mata menyipit.


"Terserah, kamu mau apakan aku."


"Potong tikusmu?" ujar Jovanka sambil mengangkat satu alisnya.

__ADS_1


"Astaga! Jangan!" Mata Rey membulat dengan tangan yang refleks memegang celana.


__ADS_2