
Pelukan hangat pun terjadi, ketika sahabat lama telah kembali.
“Dari mana kamu tau aku di sini, Sa?” ujar Jo.
“Aku tadi ke rumah Mamamu dan kata Mamamu kamu sudah tinggal sama suaminya. Aku dikasih alamat ini deh, akhirnya.”
“Oh ....”
“Jo, rumah segede gini sepi banget,” ujar Salsa.
“Beginilah, Sa. Biasanya hanya ada si kecil yang bermain di sini.”
“Si kecil? Kamu udah punya anak?”
Salsa menyipitkan mata.
“Bukan. Dia ponakan Mas Alex, namanya Olsend. Dia suka panggil aku Mama.”
“Oh ... Kirain kamu udah punya anak.”
Salsa tersenyum.
Perbincangan hangat pun terjadi sampai sore hari dan Salsa berpamitan karena ia harus kembali ke Jakarta.
“Jo, aku pamit, ya?” besok aku harus bersiap kembali ke Jakarta,” ujar Salsa.
“Hati-hati ya, Sa? Thank’s banget sudah meluangkan waktu untuk mengunjungiku,” ujar Jo dan kembali memeluk Salsa.
.
Malam telah tiba. Jovanka sudah bersiap untuk tidur, ia teringat akan Alexy. Jo meraih gawainya dan kemudian mencoba menghubungi Alexy.
‘Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif.’
Jo kembali meletakan ponselnya ke atas nakas, dengan rasa kecewa akhirnya ia memilih untuk tidur.
Ddrrrttt!
Gawainya bergetar.
“Apa ini sudah jam lima? Perasaan, aku baru tidur,” gerutu Jovanka dengan mata yang masih terpejam ia meraih gawai yang ia letakan di atas nakas.
Matanya mulai terbuka ketika gawai itu benar-benar telah berada dalam genggamannya.
“Mas Alex?”
Seketika netra Jo membulat membaca tulisan yang ada di ponselnya.
[Hai, Sayang? Tadi kamu telepon, ya? Maaf jaringan di sini lagi gak stabil. Ada apa?]
[Oh ... Gak da papa kok, Mas. Cuma mau ngobrol aja. Mas belum tidur?]
[Belum. Lagi piket, jam tujuhan pagi waktu sini, baru aku pulang. Kabarmu baik-baik ‘kan?]
[Iya. Aku baik-baik, Mas.]
[Ya sudah. Oh iya, belajar yang rajin, biar cita -citamu cepat tercapai!]
[Iya, Mas. Tahun ini aku wisuda.]
[Kamu loncat kelas?]
[Iya, setahu lebih celat, Mas.]
[Waw ... Keren! Selamat, ya?]
[Makasih, Mas. Ya sudah aku lanjut tidur ya, Mas?]
[Iya.]
Jo meletakan kembali gawainya di atas nakas, karena waktu masih menunjukkan pukul dua dini hari.
***
Sementara di Jakarta ada Reynand yang sudah menjadi seorang co-pilot di salah satu maskapai yang berlogo burung di Indonesia.
Ia tersenyum ketika melihat dirinya memakai seragam pilot, karena itu merupakan cita-citanya sedari kecil.
“Wah ... Putra Mama keren banget pakai seragam pilot, tambah ganteng!” ujar Nadin memuji.
Rey tersenyum dan melangkah menuju Nadin lalu memeluknya hangat.
“Ma, makasih, ya? Berkat doa dan dukungan dari Mama, Rey bisa menjadi seorang pilot sesuai dengan keinginan Rey waktu kecil. Walau sekarang baru bisa jadi co-pilot,” ujar Reynand.
“Iya, Sayang. Mama yakin, ketika usiamu mencukupi, kamu pasti langsung mendapatkan posisi menjadi pilot. Mama selalu doain!”
“Makasih, Ma. Ya sudah, Rey berangkat ya, Ma? Gak enak kalau di hari pertama saja sudah telat,” ujar Reynand.
“Iya, Sayang. Hati-hati!”
Rey melesat menggunakan mobil soprt hitamnya menuju Bandara Internasional di Jakarta.
Perkenalan pun terjadi sebelum pemberangkatan dimulai. Rey dikenalkan pada seluruh karyawan di sana oleh Captain Ardi sebagai ketua dari maskapai di sana.
Setelah perkenalan selesai, semuanya kembali ke lapangan untuk melaksanakan pekerjaannya.
Fieww!
Pesawat melesat terbang, untuk kali pertama kali Rey menjadi seorang co pilot.
.
__ADS_1
Selesai sudah pekerjaannya hari ini. Ada rasa capek yang ia rasakan, tapi semuanya seakan tidak ia rasa, ketika ia melirik pakaian yang ia kenakan.
“Woy! anak baru,” sapa seorang teman laki-laki Rey di sana.
Rey menoleh.
“Bang Elang?”
Elang merupakan salah satu pilot terbaik di maskapai itu tetapi beda pesawat dengan Reynand.
“Iya, ini gue. Gimana pengalaman terbang perta lu, bro?” tanya Elang yang duduk di depan meja Reynand.
“Seru, Bang!”
“Capek kaga?”
“Ada rasa capek, tapi setelah kembali melihat seragam kebanggaan, capek terasa hilang.”
“Haha ... Bagus ‘lah! Oh iya, panggil gue Elang aja. Berasa tua banget gua kalau di sebut Abang!” elaknya.
“Ya udah, panggil El saja, ya?”
“Terserah lu!”
Mereka mengobrol banyak hal tentang penerbangan. Maklum, usia mereka tidak terpaut jauh. Mungkin hanya berjarak tiga atau empat tahun. Elang juga dulu gabung di maskapai itu tergolong masih muda, sekarang ia sudah cukup mempunyai pengalaman dalam penerbangan karena ia sudah menjadi seorang pilot.
Tak terasa mereka mengobrol cukup lama, hingga langit biru berubah menjadi jingga. Mereka asyik mengobrol di kantin yang berada di terminal dua. Di sana banyak sekali karyawan yang makan atau hanya memesan kopi.
“Ya sudah, gue balik dulu, ya?” pamit Elang, “Awas, jan lupa pulang, lu terlalu betah di bandara.” Elang terkekeh dan berlalu pergi.
Elang memang sepertinya agak sombong. Tetapi, setelah mengobrol banyak dengan dia, hal itu terbantahkan. Elang merupakan tipikal orang yang welcome terhadap siapa pun, terlebih anak baru, ia tidak segan membagi pengalaman terbangnya pada mereka.
“Yaahhh ... Sudah tidak ada!” ujar wanita mengeluh di depan meja Reynand.
Rey yang sedang memainkan gadgetnya pun mendongak. Ia memperhatikan wanita yang ada di depannya itu.
Sepertinya gue kenal dengan orang ini? Tapi, siapa dia? Umpat hati Reynand yang masih memperhatikan.
Wanita itu masih berdiri di depan meja Reynand dan ia memainkan gawainya seperti sedang menghubungi seseorang dengan bibir yang mengerucut, mungkin ia kesal.
“Bang Elang! Kamu di mana, sih? Nomornya juga tidak aktif. Apa dia sudah pulang, ya?” Wanita itu malah menggerutu lagi di depan Reynand.
“Bang Elang barusan pulang, Mbak!” ujar Rey yang sedari tadi memperhatikan wanita itu.
Wanita cantik berpenampilan elegan ini menoleh pada Reynand. Matanya menyipit ketika melihat Reynand.
“Rey?” ujar wanita itu.
Rey mengangkat alisnya sebelah, menandakan ia bingung dengan orang yang baru saja menyebutkan namanya.
“Mbak siapa? Kok tau nama gue?” jawab Reynand.
Rey malah menyipitkan matanya. Sejenak, ia pun berusaha mengingat. Tapi, nihil! Ia benar-benar lupa.
“Aku Salsa, teman Jovanka dulu!”
Senyuman merekah pada bibir Salsa.
Deg!
Hati Rey berdebar kencang ketika mendengar nama Jovanka di telinganya.
“Rey? Hey!”
Tangan Salsa melambai di depan wajah Reynand.
“Hah?”
Rey tersadar dari lamunannya.
“Dih ... Malah melamun.” Salsa terkekeh, “Gimana kabarmu, Rey?”
“Baik, Kak. Gimana kabar Kak Salsa?”
Rey berbalik tanya.
“Baik, gak usah panggil Kakak ‘kan udah gak sekolah lagi.”
“Oke!”
Rey kembali menyeruput sedikit moccachino yang tersisa dalam gelasnya.
“Kemarin aku ketemu sama Jovanka,” ujar Salsa.
Uhukk!
Rey terbatuk.
Salsa tersenyum, “Kamu masih sayang ya, sama Jovanka?” tebak Salsa sembari tersenyum.
“Gue ... Gue ....”
Ucapan Rey terpotong ketika ada seseorang memanggil namamya.
“Kak Rey!”
“Adara?”
Rey terbelalak, sedangkan Salsa mengernyitkan kening, merasa heran.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Reynand.
__ADS_1
“Habis beli ini.”
Adara menunjukkan minuman dalam cup.
“Dih ... Minuman seperti itu ‘kan banyak di pinggir jalan, ngapain beli sampe sini?”
“Aku sekalian ikut Papa ke mari.”
“Oh ... Iya, kenalin, Dar. Ini Salsa, sahabat Kakak waktu sekolah di Bandung dulu,” ujar Rey pada Adara.
“Itu pacar Kakak? Tapi perasaan namanya bukan Salsa,” ujar Adara berbisik di telinga Rey.
Sssttt!
Rey mendelik pada Adara. Memberi kode supaya tidak diteruskan. Adara pun mengangguk, ia mengerti.
“Hai Kak Salsa, aku Adara.”
Adara mengulurkan tangannya.
“Salsa.”
Sambil meraih tangan Adara, mereka bersalaman.
“Ya sudah, Dara pergi dulu. Takut Papa nyariin, bye!”
Adara berlalu pergi meninggalkan Rey dan Salsa.
“Rey, kamu gak bisa move on dari Jovanka, ya?” tebak Salsa.
“Kata siapa? Sok tau, ah!”
“Gue bisa melihat Rey. Walau sudah lama kita tidak berjumpa. Tetapi, kamu masih seperti yang dulu. Hatimu masih setia terhadap Jovanka.”
Rey terdiam.
“Adara mirip sekali sama Jovanka. Dia pacar kamu?” tanya Salsa.
“Bukan. Dia anak dari Captain Wahyu, pengajar dulu di DFS.”
Salsa hanya tersenyum.
Tiba-tiba, gawai Salsa bergetar.
“Bentar ya, Rey?”
Rey mengangguk.
Salsa menerima telepon dan Rey membayar semua yang ia pesan dan kembali ke meja. Salsa terlihat masih menelepon.
“Rey, aku balik, ya?” ujar Salsa.
“Oke!”
Salsa berlalu pergi, begitu pun dengan Reynand. Ia melesat memacu mobil hitamnya menuju rumah.
Rey pulang disambut dengan senyuman dari Mama dan adik kembarnya. Mereka berbincang sebentar di ruang keluarga. Hingga akhirnya Rey memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Rasa lelah yang menderanya seakan terobati dengan senyuman hangat yang menyambutnya di rumah.
Rey menyambar handuk dan bergegas mandi.
Ia duduk di balkon kamar dan menikmati langit yang sudah menjadi gelap. Rey memejamkan mata dan merasakan embusan angin malam yang membelai tubuhnya.
Rey membuka akun medsosnya dan mulai mengetikan sesuatu untuk menjadi statusnya.
____
Namamu selalu tertulis dalam hati
Aku selalu menyayangimu sampai kapan pun.
Untaian kata tak mampu mengibaratkan
Rindu yang terlalu dalam untukmu.
Adakah di sana kau merindu?
Janji kita untuk bersama
Orang tuamu menjadi penghalang
Visualisasi wajahmu selalu menghantuiku
Akan ‘kah kita dapat bersatu?
Nantikan aku datang untuk membawamu
Kau, satu-satunya wanita terbaik
Aku selalu setia untukmu.
_____
Klik!
Dalam sekali pijit, puisi akrostik itu telah menjadi status di media sosialnya.
Banyak yang memberikan reech dan komentar di sana. Rey hanya tersenyum membaca komentar dari teman-teman satu akunnya. Tapi, satu nama itu tidak mungkin berkomentar, karena Rey telah menghapus pertemanannya di media sosial. Ia terlalu takut tidak bisa melupakan Jovanka. Walau akhirnya, Rey memang tidak dapat lari dari bayang Jovanka walau hanya satu detik. Namanya selalu ada dalam hati dan ingatannya. Jiwanya kosong tanpa Jovanka, hidup Reynand terasa sepi.
Akhirnya, Rey kembali ke atas ranjang. Membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Tapi, wajah cantik Jovanka tidak dapat hilang. Walau sudah lebih dua tahun, bayangan cantik Jovanka selalu ada dalam ingatannya.
Jo, aku yakin. Sekarang kamu bertambah cantik, kenapa aku selalu teringat wajahmu, Jo? Padahal, aku sudah tidak pernah menghubungimu lagi. Terlalu besarkah rasa sayang yang kupunya untukkmu? Umpat Reynand dalam hati
__ADS_1