Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
129. Morning Sickness


__ADS_3

Waktu terus berganti seakan berputar begitu cepat. Reynand yang sibuk dengan pekerjaannya, begitu pun dengan Jovanka yang mempunyai kesibukan di klinik tempat dia bekerja. Keduanya begitu sibuk, tetapi bukan berarti mereka tidak mempunyai waktu berdua untuk bermesraan. Terlebih usia kandungan Jovanka yang memasuki bulan keempat. Tubuh Jovanka makin berisi, kedua pipinya mulai chubby, perut langsingnya kini mulai terlihat membesar.


"Sayang, bangun ...." Jovankan membangunkan Reynand. Namun, pria itu sama sekali tidak bergerak.


Jovanka yang telah memasak dengan pembantunya di dapur, masih sesekali terlihat mual ketika memasak apa yang diinginkan Reynand. Terkadang, Jovanka pun heran dengan kehamilannya. Di mana hampir semua yang dia sukai, semenjak dinyatakan hamil malah menjadi tidak suka bahkan terkesan membenci. Termasuk dengan tubuh Reynand yang tercium wangi sabun/parfum setelah mandi.


Reynand melihat istrinya yang sedang duduk di meja rias, semakin terlihat cantik saat menyisir rambut panjangnya. Diam-diam, Reynand turun dari ranjang lalu mendekap tubuh istrinya yang masih mengenakan gaun tidur dari belakang.


"Cantiknya istriku ...." Reynand berkata bersama kecupan yang meluncur di pucuk kepala Jovanka.


Jovanka menutup matanya, sesaat kecupan hangat dari Reynand yang terasa hangat dan cukup lama. Jovanka menimpali tangan suaminya dengan lembut.


Kemesraan mereka kini telah kembali, setelah beberapa saat seolah saling mengekang karena rasa khawatir yang berlebih. Kini, kehidupan mereka mulai kembali normal. Reynand yang tidak terlalu posesif dan Jovanka yang tidak terlalu sensitif.


"Mandi, gih," titah Jovanka saat tangan suaminya masih betah memeluk dirinya pun dengan bibir yang tidak henti memberikan kecupan-kecupan kecil pada pucuk kepala dan juga pipi Jovanka.


"Masih mau seperti ini," ucap Reynand yang masih bergelayut manja pada istrinya.


Jovanka hanya tersenyum saat menyikapi perihal suaminya yang begitu manja. Dia seolah dihadapkan dengan anak kecil sebelum bayi yang ada dalam perutnya lahir.


Reynand itu ibarat bayi. Walaupun usianya sudah menapaki angka dua puluh empat tahun, tetapi dia masih sering bermanja-manja pada Jovanka. Wanita berusia dua tahun di atasnya yang kini menjadi istrinya.


"Nanti kamu kesiangan, loh, Sayang." Jovanka kembali mengingatkan.


"Yaa ... kalau kesiangan gak usah Keja," ucap Reynand yang benar-benar seperti anak kecil.


"Ehh ... harusnya lebih rajin dalam kerja biar kita punya tabungan menyongsong kelahiran putra kita, Sayang," ucap Jovanka.


"Tabungan kita udah banyak, kok. Cukup, bahkan berlebih."

__ADS_1


"Iya, memangnya setelah anak kita lahir nanti, semuanya udah usai? Yang ada juga baru mulai, Sayang. Dia harus membeli susu, baju-baju, menyiapkan tabungan anak buat sekolah, dan masih––" Ucapan Jovanka terhenti saat Reynand membekap bibir Jovanka dengan bibirnya.


Tidak ada yang bisa Jovanka lakukan, saat kecupan suaminya meluncur begitu saja. Tangan Reynand yang begitu kuat memegang tangan Jovanka, sehingga istrinya tersebut tidak dapat berkutik untuk memberontak.


Reynand melepaskan kecupannya kemudian menempelkan lututnya di lantai. Pria itu menggenggam hangat jemari lentik istrinya lalu memandang wajah wanita yang menurutnya paling cantik di muka bumi setelah Nadin––ibunya.


"Iya, Sayang. Aku mengerti, kok. Tetapi, entah kenapa aku ingin selalu ada di sampingmu. Terlebih, mengusap perutmu yang mulai terlihat membesar," ucap Reynand sambil mengelus perut Jovanka.


Jovanka begitu bahagia karena di masa kehamilannya, Reynand selalu ada untuknya dan memberikan kasih sayang yang melimpah untuk calon buah hatinya.


"Oh, iya, sore nanti jadwal kamu periksa kehamilan, kan?" tanya Reynand ketika menatap hangat wajah Jovanka.


"Iya, Sayang. Kalau bisa, jangan terlalu lama di tempat kerjanya, ya? Nanti kita malah kemalaman lagi di tempat praktik Dokter Susan," ucap Jovanka.


"Iya. Pokoknya selepas kerjaanku usai. Aku akan cepat-cepat ke klinik untuk menjemputmu, Sayang."


Cermin yang ada di depan mereka seolah saksi ketika mereka berdua saling mengerti, mengingatkan serta mencintai dengan cara mereka. Cermin itu menjadi saksi bisu kemesraan mereka saat keduanya saling melempar senyum, saling memuji dan saling mendukung. Sungguh, kedua pasangan ini seolah membuat iri di mata pasangan lain.


Jovanka menata makanan di meja. Sementara, Reynand yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di perut kini berjalan mendekati ranjang karena di sanalah pakaian Reynand telah bersiap.


Kemeja putih berlengan panjang kini melekat di tubuhnya beserta celana panjang berwarna hitam yang telah usai dikenakan. Reynand tampak berwibawa di depan cermin. Tubuh jangkung yang telah lengkap berseragam pilot itu kini tampak gagah, serta wajah tampan yang semakin menyempurnakan penampilannya.


Sepatu pantofel warna hitam mengilat pun telah Reynand kenakan. Pria itu keluar kamar setelah meraih tas berwarna hitam lalu pergi ke ruang makan dengan dasi yang belum rapi dia kenakan. Maklum saja, pria itu sudah terbiasa dipakaikan dasi oleh istrinya.


"Pagi, Sayang ...." Jovanka yang membawakan sayur matang untuk sajian menu sarapan. Dia meletakkan sayur itu sambil mencium pipi suaminya.


"Pagi," jawab Reynand yang membalas kecupan kecil di bibir Jovanka.


Jovanka mulai membenahi dasi Reynand di ruang makan bersama kursi yang mereka duduki berdampingan, jemari lentik Jovanka mulai membenahi dasi suaminya. Tidak memerlukan waktu lama, karena tugas seperti itu sudah menjadi rutinitas dirinya setelah menikah bersama Reynand.

__ADS_1


"Udah selesai. Kamu mau makan sama apa, Sayang? Biar aku ambilkan," ucap Jovanka.


"Aku makan roti aja, Sayang."


"Oh ... baiklah. Pakai selai apa?"


"Cokelat."


Jovanka meraih dua lembar roti tawar berwarna hijau dengan aroma pandan di atas piring keramik berwarna putih lalu mulai mengolesinya dengan selai cokelat.


"Makanlah, aku mau berganti pakaian sebentar," ucap Jovanka yang berlalu ke kamarnya.


Nafsu makan Jovanka memang belum kembali seutuhnya. Dia sering membawa sarapannya ke klinik karena di pagi hari dia terkena morning sickness yang mengakibatkan rasa mual di pagi hari apabila mengonsumsi makanan.


Jovanka terlihat cantik mengenakan rok pendek dan atasan kemeja berlengan pendek. Dia mengikat rambutnya bak ekor kuda lalu meraih sepatu tanpa heels. Jovanka meraih tas selempang lalu gegas kembali ke ruang makan.


"Udah siap?" Rey bertanya ketika melihat istrinya yang sudah duduk di sampingnya.


"Iya."


"Makan dulu, lah, walau sedikit," pinta Reynand.


"Aku udah bawa sandwich, kok. Nanti aku makan agak siang aja, Sayang. Perutku masih terasa mual," ucap Jovanka yang membuat Reynand merasa kasihan.


"Ya udah, gak usah masuk ke klinik aja, izin, bisa, kan?"


"Enggak enak lah, Sayang. Lagian, aku udah jauh lebih baik, kok. Hanya kalau pagi hari emang terasa mual. Hanya itu."


"Ya sudah, tapi jangan terlalu memaksakan, ya? Kamu mending minta cuti saja kalau memang tidak dapat masuk kerja. Lebih baik kehilangan pekerjaan daripada terjadi apa-apa sama kamu dan calon anak kita."

__ADS_1


"Enggak semudah itu, Sayang. Aku mempunyai tanggung jawab untuk menolong orang ketika sakit. Itu sudah menjadi sumpah dokter untuk mengabdi dan melayani. Aku janji, akan selalu kuutamakan kesehatanku tanpa mengabaikan tanggung jawabku sebagai seorang dokter," ucap Jovanka yang kemudian meraih jemari Reynand dengan seulas senyuman.


Kalau sudah seperti itu, Reynand bisa apa lagi? Tunduk ketika dia melihat senyuman sang istri. Karena baginya, senyum Jovanka merupakan hal yang paling berharga dari apa pun.


__ADS_2