
Rey mengambil hand phone yang ada dalam saku celananya. Ia menggeser layar pada hand phone itu.
“Jo?”
Matanya membulat ketika melihat nama Jovanka yang muncul di layar hand phonenya.
“Siapa bang?” tanya Rhiena.
“Bukan siapa-siapa, abang angkat video call dulu ya, Na?”
Rhiena menganggukkan kepala dan kembali menatap langit.
Rey bergegas ke luar dari balkon kamar adiknya menuju teras rumah. Untuk sekedar menikmati udara malam hari.
(Iya, Jo. Ada apa?) Rey mengangkat video call.
(Kamu ke mana aja sih, Rey? Beberapa kali aku menghubungimu. Hapemu selalu gak aktif.) Cerca Jo setelah Rey mengangkat video call darinya.
(Maaf Jo dari kemarin aku lupa casin hape.) Elak Rey.
(Ajak aku pergi dari sini, Rey! Aku gak mau dijodohin!) Pekik Jo bernada lirih.
Rey terdiam. Memang dia mengetahui perjodohan Jovanka waktu itu. Tapi, dengan keadaan Nadin yang lagi sakit. Rey lebih mengutamakan kesehatan Nadin yang telah melahirkannya.
Bukan Rey tidak menyayangi Jo. Rey juga telah berusaha meyakinkan papanya Jovanka, namun hasilnya nihil.
Rey sadar diri, ia hanya seorang siswa. Walau sesungguhnya, Rey merupakan penerus dari perusahaan Nadin yang besar di Jakarta.
Tapi, Rey bukan orang yang suka memamerkan kekayaan orang tuanya. Ia memilih diam ketika papanya Jovanka mulai membandingkannya dengan Alexy.
Hening.
Rey tidak menjawab ajakan dari pacarnya itu.
(Rey ....)
Rey mendongak menatap layar gawainya.
(Kenapa sih, kamu gak mau usaha untuk cinta kita?) ucap Jo kesal. (Apa selama ini, kamu hanya berpura-pura mencintaiku?) sambungnya lagi.
(Jo!) Bentak Rey.
Jo tersenyum sinis. (Ternyata kamu seorang laki-laki pengecut yang tidak berani memperjuangkan cintanya!) Jo menyimpulkan.
(Bukan gitu, Jo. Sekarang aku sedang mengurus tanteku yang sedang sakit. Sebelum ke Jakarta, aku pun sudah ketemu sama papamu dan berusaha meyakinkan kalau aku benar-benar mencintaimu. Tapi nihil! Papamu tidak memberi kesempatan untukku.)
(Alasan!)
Tut!
Jo mematikan sambungan video callnya.
Rey sudah berusaha meyakinkan kekasihnya itu. Tapi Jo belum bisa menerima alasan dari kekasihnya. Mungkin, karena Jo sedang kalut dengan perasaannya sekarang , ia menolak untuk dijodohkan.
Rey hanya menghela napas panjang dan menghempaskannya perlahan. Untuk sekarang prioritas utamanya hanya Nadin.
Sebenarnya, bisa saja Rey meminta Nadin melamarkan Jo untuknya. Tapi itu bukanlah sifat Rey yang suka bersembunyi di balik orang tuanya yang berpengaruh di salah satu perusahaan besar yang ada di Jakarta.
Rey, yakin dalam hati. Kalau memang Jo adalah jodohnya, kelak ia akan dipersatukan kembali dengan Jovanka. Ia yakin akan rencana Tuhan yang indah dan Tuhan akan memberikan jodoh yang terbaik untuknya.
***
Di sisi lain ada Jovanka yang menelan pahitnya kenyataan. Sudah dijodohkan, kekasihnya malah terkesan hanya mengikhlaskan begitu saja. Hanya kemarahan dan rasa kecewa yang menggelayut dalam hatinya saat ini.
.
Jo bertekat untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Ia berangkat sekolah seperti biasanya namun ada satu hal yang agak berbeda. Ia melupakan sarapan paginya.
“Jo, sarapan dulu sayang!” sahut Meli.
“Gak, ma. Jo udah telat.” Elaknya.
Jo ngeloyor pergi dengan membawa tas di punggungnya dan segera meluncur menembus beberapa titik kemacetan di kota Bandung.
Jo memacu mobilnya dengan begitu kencang. Apalagi, hari ini Rey tidak menghubunginya sama sekali, menambah kekesalan pada diri Jovanka.
Sret!
Jo memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Salsa yang baru saja ke luar dari dalam mobilnya.
“Kamu kenapa, Jo?” tanya Salsa heran.
Jo keluar dari dalam mobil dan memeluk erat sahabatnya itu.
“Kamu kenapa, Jo? Jangan bikin aku khawatir!” Salsa membalas pelukan Jovanka yang sangat erat.
Kebetulan, jam masuk sekolah masih cukup lama. Salsa mengajak Jo ke bangku taman untuk menceritakan permasalahan yang terjadi dengan sahabatnya itu.
“Ceritalah,” ucap Salsa ketika mereka sudah duduk di bangku taman sekolah.
Awalnya, Jo hanya terdiam. Mungkin, ia bingung harus mulai bercerita dari mana. Hingga akhirnya, bel sekolah berbunyi sebelum Jo bercerita.
Akhirnya, mereka bangkit dari kursi taman menuju kelas mereka yang sudah ramai oleh siswa dan siswi di kelas itu.
Tidak ada guru pengajar yang masuk kelas. Siswa dan siswi masih ribut dengan berbagai canda dan tawa yang menghiasi kelas tersebut.
Berselang lima belas menit, ada guru yang masuk dalam kelas itu, tapi ia hanya membawa buku latihan untuk dikerjakan oleh siswa dan siswi yang sebentar lagi akan menggelar ujian nasional.
“Hufff ... Untung gurunya gak dateng, Jo!” Salsa menghempaskan napas lega.
__ADS_1
Jo hanya tersenyum dan mengerjakan tugasnya dengan cepat. Entah dia teliti atau tidak dalam mengerjakan soal-soal latihan itu. Jo menutup buku latihannya.
“Udah beres?” tanya Salsa.
“Udah.”
Mata Jo memandang lekat ke arah lapangan basket. Di mana hari ini biasanya Rey sedang berolah raga. Jo mengingat kenangan indah bersama Rey. Hingga tanpa ia sadari, air matanya meluncur bebas di pipi.
Salsa melirik ke arah Jo. Sebenarnya, ia merasa tidak tega melihat kesedihan yang ada dalam diri sahabatnya. Ia mengusap lembut punggung Jovanka.
“Cerita, Jo,” ucap Salsa setelah tugasnya selesai.
Jo hanya mengusap air mata yang berkali-kali terjun bebas di pipinya. Sedangkan Salsa hanya bisa ikut larut melihat kesedihan sahabatnya tanpa ia mau bercerita.
Bel istirahat berbunyi. Seluruh kawan-kawannya berduyun-duyun menuju kantin.
“Ke kantin, yuk?” Ajak Salsa.
“Gak, Sa. Aku di sini aja.” Tolak Jovanka.
Walau perutnya lapar. Salsa menemani Jo yang terlihat sedih. Salsa setia mendampingi Jo di sisinya.
Tiba-tiba Jo menangis lagi di pelukan Salsa. Salsa tertegun melihat Jo yang tidak pernah seperti itu sebelumnya. Salsa masih diam, ia memberikan waktu untuk sahabatnya menangis di pelukannya.
“Aku dijodohin, Sa.” Akhirnya kata itu keluar dari bibir Jovanka.
“Apa?”
Jo melepaskan pelukannya perlahan dan menganggukkan kepalanya di depan Salsa.
“Sama siapa, Jo?”
“Dokter Alexy.” Air mata Jo kembali menetes.
“Lalu dengan, Rey?”
Jo menggelengkan kepalanya. “Entah. Ia sedang mengurus tantenya yang sedang sakit.”
“Apakah Rey tidak melakukan apa-apa untukmu? Adakah pengorbanan yang ia berikan terhadapmu, Jo?” tanya Salsa.
“Entah. Dia bilang sudah bertemu papa dan mencoba untuk meyakinkan papa.”
“Terus?”
“Papa gak kasih kesempatan. Entahlah, Sa. Mungkin itu cuma alasan dia. Nyatanya dia akan melanjutkan sekolah di Jakarta.”
“Apa?”
Jo tidak menjawab pertanyaan Salsa, karena teman-temannya sudah kembali masuk ke dalam kelas. Jo memilih mengakhiri perbincangannya dengan Salsa.
***
Sudah lebih dari tiga hari. Rey tidak masuk sekolah. Lambat laun, Jo malah membenci Rey karena ia pergi tanpa membawa dirinya.
“Jo.”
Meli memanggil sembari mengetuk pintu kamarnya.
“Masuk, ma,” ucap Jo dalam kamar.
“Ada Alexy, sayang. Mau ajak kamu jalan katanya.”
Jo memutar bola mata. Kesal mendengar hal itu.
“Jo banyak tugas, ma!” bantahnya.
“Bentar aja, Nak. Itung-itung pendekatan sebelum kalian menikah.” Ujar Meli.
Karena Jo sudah bosan menghadapi kedua orang tuanya. Ia bangkit dari tempat tidur dan mengambil baju dari dalam lemari.
Jo mengambil kaos dan celana panjang serta sepatu kets.
“Kok pakai baju yang itu?” Meli mulai protes.
“Memang kenapa, Ma?”
“Yang sopan dong, sayang. Alex mau mengajakmu makan malam. Kok pakaiannya seperti mau hangout sama temen-temen, sih?”
Jo mulai kesal. “Ya udah, pilihin sama mama aja!”
Meli beranjak dari tempat tidur Jo dan memilih dres yang bertumpuk di dalam lemarinya. Ia mengeluarkan dres berwarna salem yang cantik dalam lemari dan memoles wajah putrinya agar terlihat semakin mempesona.
Jo keluar dari dalam kamar didampingi oleh Meli menuju ruang tamu. Dimana Alexy telah menunggunya. Alexy begitu terpesona melihat penampilan Jovanka yang sangat sempurna di matanya.
“Berangkatlah, Nak Alex. Mumpung belum larut malam,” ucap Meli.
“Oh ... Iya, tante. Alex pamit.” Alexy mencium tangan Meli.
Jo melangkahkan kaki lebih dulu ke luar rumah dan Alexy mengekor dari belakang. Suasana malam yang bertabur bintang begitu terasa indah dirasakan oleh Alexy, tapi tidak untuk Jovanka.
Alexy membuka pintu mobil untuk Jovanka dan mobil mereka melesat ke salah satu restoran mewah di kota Bandung.
.
Alexy menarik kursi untuk Jovanka.
“Makasih,” ujar Jovanka.
Alexy tersenyum.
__ADS_1
Alexy memanggil waitress untuk memesan makanan. Tanpa meminta persetujuan dari Jo. Ia memilih menu makanan sehat untuk Jovanka.
“Naura, mulai malam ini, kamu harus membiasakan makan makanan sehat, ya? Kamu sebentar lagi mau ujian nasional. Good luck, ya? Semoga berhasil,” ucap Alexy memberi suport pada Jovanka.
“Makasih, Om.”
Pada awalnya. Jo merasa keberatan dengan pesanan makanan sehat yang dipilihkan oleh Alexy, namun Jo berpikir mungkin ada benarnya juga, terlebih dirinya kini begitu stres memikirkan keadaan ini.
Jo mencoba membuka diri untuk Alexy yang memang sosok orang yang baik. Alexy mulai dapat mencairkan suasana yang membeku di malam itu.
Canda tawa pun kini mulai menghiasi malam hari yang mereka lewati.
***
Matahari mulai menembus jendela kamar Reynand. Rasa hangat sinar sang surya telah memantul ke tubuhnya. Rey membuka mata dan duduk sebentar di atas tempat tidurnya. Rey bangkit dari tempat tidur dan bergegas mandi.
Tok ... Tok ... Tok ....
Rey mengetuk pintu kamar Nadin.
“Masuk,” suara Nadin begitu jelas dari dalam kamar.
Cklek.
Rey membuka pintu kamar.
“Mama mau ke mana?” tanya Reynand.
“Mau ke kantor,” jawab mamanya sambil memperbaiki riasan di wajahnya.
“Gak boleh! Mama kan lagi sakit!” bantah Rey dan mendekati Nadin.
“Mama udah sehat kok.”
Rey mengernyitkan dahi dan memandang lekat pada Nadin. Tak lupa, ia juga mengecek keadaan wanita paruh baya itu.
“Iya kan? Mama udah sehat, sayang,” ucap Nadin sambil tersenyum.
Rey membalas senyuman Nadin dan mengizinkan untuk berangkat ke kantor.
“Tapi mama jangan capek-capek di kantor, ya?” Pinta Rey.
“Iya, sayang. Mama bahagia sekali kalau kamu kumpul lagi sama mama dan adikmu di sini, Rey.” Nadin mengusap lembut pipi putranya itu.
Rey hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa.
.
Rey, Nadin dan Rhiena telah menikmati sarapan paginya. Banyak menu makanan yang tersaji di atas meja. Mereka bertiga hanyut dalam canda tawa yang baru terjadi lagi di pagi ini.
“Abang, nanti antar Nana sekolah, ya?” Pinta Rhiena.
“Dih ... Manja bener adek abang!” Rey mencubit hidung Reynand.
Rhiena tersenyum begitu pun dengan Nadin yang teramat bahagia melihat kedua anak kembarnya yang beranjak dewasa dan saling menyayangi.
“Ya udah, berangkat sana. Nanti kesiangan,” ucap Nadin.
Rey bangkit dari kursinya dan mengambil kunci mobil, sedangkan Rhiena mengekor dari belakang setelah berpamitan pada Nadin.
Rey dan Rhiena melesat ke sekolah mengendarai Ferarri spider warna merah.
.
Rey menghentikan mobilnya di samping pintu gerbang masuk sekolah. Rhiena pun turun dari mobil itu.
Ternyata, ada gadis cantik yang sudah menunggu Rhiena di samping pintu gerbang masuk sekolah.
Ia mempunyai paras yang cantik. Berhidung mancung, wajah tirus, bermata bulat dan mempunyai tubuh yang bagus nyaris sempurna.
Ia tersenyum ketika Rhiena membuka pintu mobilnya.
“Hai ... Na.”
Gadis itu tersenyum manis pada Rhiena yang masih duduk dalam mobil.
“Hai, Princess,” jawab Rhiena.
“Ayok, turun!” ucap Rhiena pada Rey.
Rey pun ikut ke luar dari dalam mobil dan mengekor di belakang adik kembarnya.
“Kenalin, Cess. Ini kembaran aku. Namanya Reynand."
“Hai ....” ucap Princess sambil menjulurkan lengan lentiknya.
Rey tersenyum dan meraih tangan lentik itu untuk sekedar berjabat tangan.
“Princess,” ucap gadis cantik itu menyebutkan namanya.
##
Sorry, Ane baru up cerita lagi. Lagi rada sibuk✌😅
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
__ADS_1