
Seperti hari biasanya, Jovanka masuk kampus. Walau keadaannya sudah sangat berbeda ketika masih ada Davin, dunianya terasa berwarna. Walaupun Jo selalu emosi dengan sifat Davin.
Waktu pun terus berlalu, tak terasa jam kampus sudah selesai. Jo mengemas buku-bukunya dan berlalu dengan mobil merahnya. Tapi, ketika di tengah perjalanan, netranya tertuju ke mini market. Ia teringat Olsend yang menginginkan ice cream beberapa hari yang lalu, tapi dirinya belum bisa membelikan ice cream itu.
Ia pun memarkirkan mobil merah itu di depan mini market.
Ceklek!
Pintu mobil terbuka dan Jo ke luar dari dalam mobil.
Kakinya melangkah masuk ke dalam mini market. Tidak banyak yang ia beli, hanya membelikan dua ice cream con untuk Olsen.
“Dua puluh dua ribu rupiah, Mbak!” ujar si kasir ketika Jo menyodorkan dua ice cream itu.
“Ini, makasih.”
Jo memberikan uang pas dan berlalu pergi.
Jo kembali melesat menuju rumah mertuanya. Mobil pun terparkir di halaman rumah.
“Tumben, semua mobil sudah terparkir? Apakah Mas Alex udah pulang?”
Jo melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
Ceklek!
Pintu rumah terbuka.
Jo melihat semua keluarga telah berkumpul. Ada Mama dan Papa mertuanya, Tante Angel, Olsend dan kedua orang tuanya pun ada di sana. Mereka duduk dengan mata sembab, terutama Mama mertuanya.
Jo mendekat, “Ada apa ini? Kok pada ngumpul jam segini?” tanya Jovanka, masih berdiri.
Hening.
Tidak ada satu orang pun yang menjawab.
Jo menatap wajah satu persatu orang yang ada di sana dan Jo mendekat pada Olsend, karena menurutnya, anak kecil paling gampang untuk bicara.
“Olsend, Sayang. Ada apa? Kok semuanya pada ngumpul?” tanya Jovanka lembut pada anak laki-laki itu, tapi Olsend malah menyembunyikan wajahnya pada dada Angel, sang Mama.
“Tan, jawab Jo!”
Netra Jovanka membulat.
“Alexy, Jo. Alexy ....”
Katanya tertahan karena Angel malah menangis.
Jo semakin bingung dengan keadaan di rumah itu. Banyak orang tapi tidak ada satu orang pun yang dapat menjawab pertanyaannya.
“Kalian semua kenapa, ‘sih!” pekik Jovanka karena sudah terlalu lelah ia bertanya.
Hening.
“Tidak ada 'kah, orang yang bisa menjawab pertanyaan Jo?”
Jo menatap wajah satu persatu.
Jo menghampiri Mamanya, “Ma kenapa Mama sama Papa ada di sini? Ada apa? Apa yang terjadi di rumah ini?”
Jo kembali bertanya, dengan harapan mendapatkan jawaban.
“Mobil yang ditumpangi Alexy masuk dalam jurang, Nak!” jawab Papa mertuanya.
“Apa?”
Seketika, mata Jovanka membulat memandangi wajah Papa mertuanya.
Jo tersenyum.
“Kalian semuanya bohong ‘kan? Ini pasti hanya sekedar gurauan! Mas Alex sudah datang, ya? Di mana dia? Di mana!”
Hening.
“Mas! Mas Alex! Ke luar, Mas! Jo kangen sama Mas Alex!” pekik Jovanka sambil mencari ke setiap sudut ruangan.
“Oh ... Pasti Mas Alex di dalam kamar!” ujarnya, Jo hampir naik ke atas tangga tapi lengannya ditahan oleh Papanya, Jo pun memandang ke wajah sang Papa.
“Jo, apa yang dikatakan Papa mertuamu memang benar. Mobil yang ditumpangi Alexy masuk jurang,” ujar Papanya.
“Jo gak percaya! Lepasin!”
Jovanka menghempaskan genggaman tangan Papanya dan segera berlari menaiki anak tangga lalu menuju kamarnya.
Ceklek!
Pintu terbuka lebar.
“Mas?”
Dengan napas yang masih terengah, Jovanka mengharapkan ia menemukan Alexy di dalam sana. Matanya mencari ke setiap sudut kamar. Tapi dirinya tidak menemukan Alexy.
“Oh ... Mungkin Mas Alex bersembunyi di balkon.”
Jo berlari dan membuka pintu balkon kamar.
“Mas Alex?” Lagi, ia tidak menemukan sosok Alexy.
Jo tidak patah semangat, ia meneruskan mencari Alexy ke seluruh sudut kamar dan yang terakhir ke kamar mandi. Kakinya melemah, ia terjatuh di depan pintu kamar mandi dan meraung sekuat tenaga.
__ADS_1
“MAS ALEX!!!”
Suaranya begitu menggelegar hingga semua orang yang sedang bersedih di ruang tamu, bergegas naik ke kamar untuk melihat Jovanka.
“Jo!”
Mereka melihat Jovanka sudah terkapar, tak sadarkan diri.
***
Jo sudah ditidurkan di atas ranjang. Papa dan Mama mertuanyalah yang memeriksa keadaan Jovanka.
“Jo hanya terpukul, sebentar lagi juga pasti siuman. Angel, tolong ambilkan minyak angin,” ujar Mama mertua Jovanka.
“Baik!”
Angel berlalu pergi. Tidak berselang lama, ia pun kembali membawa minyak angin dan menyerahkannya pada Kakak iparnya.
“Mas Alex,” gumam Jovanka dengan mata yang masih terpejam.
“Nak, sadar Sayang,” ujar Mamanya lembut sambil menepuk pipinya pelan.
Jo mulai membuka matanya, ia mulai menatap wajah satu persatu orang yang ada di sekitarnya.
“Pa? Mas Alex mana? Papa jangan bohongin Jo,” rengek Jovanka seperti anak kecil.
“Jo, memang ini baru kabar, Sayang. Kami akan terbang ke Singapur untuk memastikannya,” ujar Papa mertuanya.
“Jo ikut ya, Pa?”
“Jangan, Sayang. Kamu harus melanjutkan kuliah, karena itu yang selalu Alexy pesankan pada Papa,” jawab Papa mertuanya.
“Tapi, Mas Alex suami Jovanka, Pa! Boleh, ya Jo ikut?” Jovanka masih merengek.
Papa mertuanya masih menggeleng. Tidak mengizinkan Jovanka untuk ikut ke Singapura.
.
Keadaan semakin mencekam ketika malam tiba. Berulang kali Jovanka menelepon ponsel milik Alexy.
‘Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.’
“Kamu di mana ‘sih, Mas?” gerutunya, lalu mencoba menelepon kembali.
‘Nomor yang Anda tu ....’
Jo menutup teleponnya dan menyimpan di atas nakas.
Malam semakin larut, udara di luar bertambah dingin. Seluruh penghuni rumah sudah terlelap, kecuali Jovanka.
Ia duduk di tepi ranjang. Terlintas kenangan tentang Alexy yang kala itu mencium bibirnya dengan lembut.
Jo berjalan ke balkon kamar, ia terus melihat ke ponsel yang ada di atas nakas dari balkon kamar itu. Biasanya ponselnya menyala. Tapi, nihil! Ia menunggu sampai jam tiga pagi ponsel itu masih saja tetap mati, tak ada yang menghubunginya.
Bip!
Notifikasi baru masuk, layar ponsel pun menyala.
“Mas Alex?”
Seketika Jo langsung berlari ke arah ponsel yang tergeletak di atas nakas.
Dengan cepat, Jo menyentuh layar itu dan membaca pesan yang masuk.
“Sial! Ini cuma pesan dari operator telepon!”
Jo kembali meletakan ponsel itu ke atas nakas. Waktu telah menunjukkan jam setengah lima pagi, Jo belum terpejam sama sekali. Lingkar di matanya menjadi agak hitam karena ia tidak tidur.
Jo bergegas mandi dan bersiap pergi ke kampus.
“Sarapan dulu, Sayang!” ujar Mama dan Mama mertuanya.
“Enggak, Ma. Jo enggak laper. Papa ke mana?”
“Papa langi bersiap untuk ke bandara,” ujar Mama mertuanya.
“Ma, Jo boleh ikut Papa, ya?”
Jo mulai merengek kembali.
“Sayang, tadi ‘kan Papa udah bilang jangan ikut. Kamu fokus kuliah saja. Sambil doain semoga semuanya baik-baik saja,” ujar Mamanya.
Jo hanya mendengkus kesal. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya ia memutuskan untuk berangkat kuliah dengan perut kosong.
“Makan dulu, Sayang!”
“Jo gak laper, Ma!”
Jo berlalu pergi. Membawa tas dan buku-buku tebal di tangannya.
***
Jo berjalan gontai dalam koridor kampus. Langkahnya terasa tidak menapaki tanah. Hatinya terasa koyak tatkala mendengar kabar buruk yang menimpa suaminya.
Tuhan, Engkau jauhkan dia dari aku. Apakah sekarang Engkau benar-benar memisahkan aku darinya? Pekik hati Jovanka.
Jam kampus telah dimulai. Nihil, semua mata kuliah hanya masuk di kuping kiri lalu ke luar dari kuping kanan. Sama sekali tidak ada yang singgah di otaknya. Dalam pikirannya hanya bergelayut tentang Alexy, Alexy dan hanya Alexy.
“Jo, lu gak balik?”
__ADS_1
Teman satu kelasnya menyenggol tangan Jovanka.
“Eh, maaf! Kenapa? Aku gak dengar.”
Jovanka tersenyum.
“Lu ngelamun, ya? Jam pelajaran udah habis, noh liat? Anak-anak juga udah pada ngilang. Gue balik duluan, ya? Jangan ngelamun, lu! Horor!”
“Oke! Hati-hati!” ujar Jovanka.
Kembali, Jo masih dengan angannya.
Andai saja Rey di sini atau pun siapa saja yang bisa membuat hatiku menjadi tenang. Ah ... Tapi itu semua tidak akan mungkin, aku kini tidak punya teman! Keluh Jo dalam hati.
Ia berjalan menapaki ubin putih yang terbuat dari keramik. Melangkahkan kaki ke parkiran kampus dengan langkah kaki yang gontai.
“Jo!”
Terdengar suara lelaki memanggil namanya.
Mata Jovanka bergerak, mencari sumber suara itu. Ia melihat ke arah parkiran motor dan ternyata ada sosok lelaki di atas motor.
“Siapa dia?”
Jo menyipitkan mata.
Lelaki itu pun tampak menghampiri ke arah Jovanka.
“Davin?”
Netra sendu itu terbelalak melihat Davin yang tiba-tiba ada di kampus.
“Kamu ngapain ada di sini?” tanya Jo merasa heran.
“Buat lu. Gue merasa, lu lagi butuh seseorang untuk menghibur,” jawab Davin dengan pedenya.
Entah dia hanya bergurau atau memang ia mempunyai feeling terhadap Jovanka.
“Kepedan, kamu!”
Jo beranjak pergi walau sesungguhnya, Davin itu berkata benar. Tapi, Jo tidak menghiraukannya. Ia tidak ingin membuat Davin menjadi ge’er.
Entah kenapa, Jo tidak dapat menahan tangisnya. Ia merasa egois, ketika ada yang mau menghibur, ia malah berpura-pura baik-baik saja.
Jo mendekat ke mobilnya. Dengan cepat, Davin melingkarkan tangannya ke bahu Jovanka dari belakang.
“Mau lu bohong seperti apa pun, gue tau, jo!”
Akhirnya air mata itu terjun bebas ke tangan Davin.
Kenapa kamu selalu tahu hati aku, Dav? Apa Tuhan mengirimkan kamu untuk menghibur aku? Umpat hati Jovanka.
Lagi, air mata itu terjun bebas membasahi tangan Davin.
Dengan pelan, Davin mengubah posisi Jovanka menjadi berhadapan dengannya. Davin tidak banyak bicara, ia menyeka air bening yang ada di pipi Jovanka.
“Mana kunci mobil, lu?” pinta Davin.
“Buat apa?” ujar Jovanka.
“Jangan banyak nanya! Mana?”
Davin meminta kunci mobil Jovanka.
Jo pun memberikan kunci mobilnya pada Davin.
Ceklek!
Ia membuka pintu mobil merah itu.
“Masuk!” titah Davin pada Jovanka.
Davin membawa mobil merah itu ke luar dari kampus. Ia menurunkan kaca pintu mobil ketika di depan pos satpam kampus.
“Pak, saya titip motor, ya? Ada di parkiran,” ujar Davin.
“Siap Dokter Davin!”
Sambil terkekeh.
“Nih, Pak!”
Davin melempar sebungkus rokok pada scurity itu.
“Sip, Dok! Makasih!” ujarnya dan Davin berlalu pergi.
.
“Katanya dokter? Kok malah kasih rokok sama orang lain?” ujar Jovanka.
“Sebagai tanda terima kasih aja. Karena gue menitipkan motor,” elak Davin.
“Kan bisa dengan cara lain,” ujar Jovanka.
“Contohnya?” tanya Davin.
“Uang. Mungkin itu lebih berarti untuk keluarganya,” ujar Jovanka.
“Gak enak. Gue takutnya gimana, kalau ngasih duit yang tidak seberapa.”
__ADS_1
Davin terkekeh dan Jovanka kembali merengut.