
Malam dingin setelah diguyur gerimis yang cukup lebat akhirnya Rey dan Jovanka pulang menggunakan taksi. Mereka sudah duduk manis di belakang kemudi dan koper yang sudah ikut masuk dalam bagasi.
Mobil melesat cukup kencang di atas aspal hitam nan basah. Lampu-lampu jalan yang menyinari berwarna oranye, cukup terlihat hangat memanjakan mata ketika sekelebat bayangan mobil melintas melaluinya.
Hingga akhirnya Jo dan Rey kini berada di rumah orang tua Rey. Mereka masih bersatu dalam rumah yang sama.
Sambutan hangat terjadi saat mereka sampai di sana. Peluk hangat dan senyum ramah telah menyambut Jovanka dari si pemilik rumah.
"Ayok, masuk," ajak Nadin saat melihat anak dan menantunya berada di luar pintu.
Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan sebelum hal buruk terjadi menimpa Reynand.
Mereka bertiga mengobrol cukup lama hingga Rhiena pun keluar kamar. Dia bangun dari tidurnya walau dia telah terlelap karena dia merindukan sosok Rey––abangnya.
"Ya sudah, ini udah larut malam. Kalian istirahatlah. Kamar kalian juga udah siap," titah Nadin.
"Baik, Ma," jawab Rey dengan seulas senyum yang diikuti oleh Jovanka.
"Na, kamu juga tidur. Besok harus bekerja, kan?" ucap ibunya.
"Iya, Ma. Ya udah, Nana tidur duluan, ya?" Rhiena bangkit dari tempat duduknya kemudian berlalu pergi untuk masuk ke kamarnya yang diikuti Nadin.
Di dalam ruang makan menyisakan Reynand dan Jovanka, keduanya masih asyik bertatap pandang bersama senyum indah yang terukir indah di bibir mereka.
"Ke kamar, yuk?" ajak Rey pada istrinya yang dibarengi anggukkan dari Jovanka.
Rey dan Jovanka bangkit dari kursi lalu berjalan menaiki anak tangga. Kamar yang besar dan nyaman kini bertambah hangat karena Rey kini tidur bersama Jovanka, istrinya yang telah sah.
Rey menyimpan koper itu di dekat lemari baju agar nanti Jovanka tidak jauh ketika membereskan pakaian mereka. Sedangkan Jovanka memilih untuk membersihkan wajah ke kamar mandi.
Rey berjalan lalu duduk di tepi ranjang. Tidak lama dari duduk, dia merasakan hal aneh yang terjadi pada perutnya. Sakit.
"Aduh, kenapa gue?" gumam Reynand dengan tangan sedikit meremas perutnya.
__ADS_1
Awalnya hanya sedikit rasa mulas. Namun, semakin Reynand tahan, perutnya semakin sakit dan ingin buang air besar.
"Jo, udah belum, Sayang?" tanya Rey ketika dia telah merasakan sakit perut yang semakin menjadi.
"Bentar lagi, Sayang!" jawab Jo sedikit berteriak dari dalam toilet.
Awalnya Rey masih bisa menahan. Namun, kata 'sebentar' dari mulut perempuan itu terkadang tidak singkron dengan kenyataan. Jo masih betah berada dalam toilet.
"Jo, bisa dipercepat enggak, Sayang? Perutku mules," pinta Rey dengan suara yang mulai melemah karena dia takut akan ada yang keluar dari bawah sana.
Ish! Gak sabaran banget. Pasti cuma inginkan hal itu, dasar Reynand! Kesal Jovanka dalam hatinya.
Jo akhirnya keluar dari kamar mandi dan Rey buru-buru masuk ke sana tanpa berbicara apa pun pada Jovanka.
Jo masih berdiri di depan pintu toilet dengan bibir yang mengerucut kesal. Apalagi, pada saat berpapasan, Rey sama sekali tidak menyapanya walau mereka bersenggolan tangan.
Jo memilih untuk mengganti baju lalu gegas tidur. Dalam benaknya dia berkata, 'Awas saja, enggak ada jatah untuk malam ini!!!'
Rey keluar dari toilet dengan wajah sumringah. "Legaaaa ...." ucapnya sambil mengusap perut.
Baru saja tangan Reynand hendak menyentuh tubuh istrinya, tiba-tiba saja rasa mulas terjadi menyerangnya.
Aduh! Batin Rey kemudian kembali bangkit dari tepian ranjang.
Setengah berlari, Rey memasuki kembali toilet yang baru saja dia tinggalkan. Perutnya bertambah sakit pada malam itu. Jovanka awalnya tidak menyadari akan hal buruk yang menimpa suaminya. Hingga akhirnya perempuan yang sedang merajuk itu membalikkan tubuhnya. Dia menangkap sosok Rey yang sudah terduduk lesu di pintu toilet dengan wajah pucat pasi.
"Rey? Kamu kenapa?" tanya Jo yang lalu bangkit dari tempat tidurnya lalu berlari menghampiri Reynand.
"Sayang? Kamu kenapa?" Lagi, Jovanka bertanya karena Reynand tidak menjawab apa-apa. Keadaannya melemah.
Ternyata bukan satu atau dua kali dia bolak-balik ke toilet. Kakinya mulai lemah setelah dia kehabisan banyak cairan dalam tubuhnya. Hingga Jovanka membantu untuk memapahnya kembali ke atas ranjang.
Tubuh jangkung Rey mulai terbaring lemah. Tidak ada ucapan apa-apa dari bibirnya, yang menyisakan hanya wajah lemah beserta pucat yang membuat Jovanka sedih melihatnya. Dia merasa bersalah karena telah kesal pada suaminya.
__ADS_1
"Kamu pucat sekali, Sayang. Kamu kenapa? Apa yang kamu rasakan, Rey?" tanya Jovanka dengan menahan tangis.
Rey hanya menggeleng lemah.
"Rey. Sayang, coba katakan yang terjadi, kenapa?" Jovanka masih membujuk Reynand agar mau berbicara dan mengakui apa yang telah menimpanya malam itu.
Mati! Masa aku bilang semua pada Jovanka? Batin Reynand.
Untung saja alat-alat medis sudah siap di kamar Rey, termasuk infusan. Jo memeriksa keadaan Rey yang ternyata mengalami dehidrasi. Jovanka memasang jarum infus pada pergelangan tangan Rey.
Cukup lama, wajah Rey kembali berseri, tidak sepucat ketika awal dia terduduk di depan pintu toilet. Senyum pun kini merekah di bibirnya ketika melihat wajah sang istri yang terlihat mengkhawatirkannya.
"Kok malah senyum? Apa kamu udah baikan, Rey?"
"Udah. Kenapa? Kamu khawatir?" goda Rey dengan seulas senyum manis.
"Lebih dari itu! Sebenernya kamu kenapa? Kok, sampai mengalami dehidrasi seperti ini?" Jovanka bertanya tanpa basa-basi.
Reynand kembali tersenyum ketika mengingat hal konyol yang dia lakukan di kafe yang terletak di samping bandara.
"Rey! Jangan membuat aku khawatir!" Jovanka sedikit menyentak bersama bibir mengerucut kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh suaminya.
"Sebenarnya, aku––" ucap Rey terhenti dan lagi-lagi bibirnya malah tersenyum.
"Apa? Coba katakan, jangan bikin aku khawatir, Sayang," pinta Jo sambil menggenggam tangan kanan suaminya.
Rey pun menceritakan hal yang terjadi saat berada di kafe tempat mereka membeli bakso untuk makan malam mengganjal perut yang lapar setelah perjalanan.
"Waktu itu, kamu pamit ke toilet. Jujur aja, awalnya aku hendak mengganti bakso punyamu dengan yang baru. Hanya saja, yang memesan cukup banyak sehingga aku harus masuk dalam antrean. Aku membatalkannya. Karena enggak mungkin memesan yang baru dengan waktu sesingkat itu. Jadi––" ucap Rey terjeda.
"Jadi?" Jovanka bertanya dengan ekspresi cemas.
"Jadi, aku tukar bakso milikmu dengan punyaku."
__ADS_1
Sepasang mata Jovanka berkaca-kaca ketika melihat wajah suaminya. Sepertinya dia terharu dengan pengorbanan Rey, hingga bulir-bulir bening hampir terjatuh dari sudut mata Jovanka.