Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 61. Pantai


__ADS_3

“Dav, kamu mau ajak aku ke mana ‘sih?” tanya Jovanka karena cukup jauh Davin mengendarai mobil.


“Udah lu diem aja!”


“Jangan bilang, kamu mau nyulik aku?”


Davin tersenyum.


“Davin! Jawab aku! Kamu mau ajak aku ke mana?”


“Nanti juga lu tau. Kalau lu ngantuk, tidur aja.”


“Enggak! Nanti kamu apa-apain aku lagi!”


“Ck! Emang gue semesum itu apa?”


Hening.


Davin masih mengendalikan laju mobil, cukup lama di perjalanan. Akhirnya sampai juga di pantai indah berpasir putih, yang bernama Pulau Peucang yang bertempat di Pandeglang Banten. Wajar saja kalau Jo merasa lelah karena perjalanan yang cukup jauh.


Ceklek!


Pintu mobil terbuka.


“Ayo, turun!” titah Davin.


Tanpa banyak bicara, Jovanka pun ikut dengan Davin ke pantai yang berpasir putih.


“Waw ... Indah sekali, Rey!” ujar Jovanka ketika melihat Davin.


“Rey?”


Davin mengernyitkan dahi.


“Sorry ....”


Jovanka merunduk.


Ia teringat akan Reynand yang sangat menyukai pantai.


Kenapa Davin mirip sekali sama Rey? Aku malah jadi teringat dia. Rey, kamu di mana, Sayang? Umpat hati Jovanka.


“No problem!”


Davin tersenyum sambil menikmati indahnya pantai pada senja ini.


Ddrrttt!


Ponsel Jovanka bergetar.


“Mama?” Netra Jo membulat, “Dav, Mama telpon, kamu diam, ya?” pinta Jovanka.


“Woke!” sambil mengangkat jempol tangannya.


[Halo, Ma?]


[Sayang, kamu di mana?]


[Jo lagi ngerjain tugas kampus di rumah teman, mungkin Jo pulang larut malam, karena harus menyelesaikan tugas kampus.]


[Oh ... Seperti itu. Tapi, kamu baik-baik saja ‘kan?]


[Jo baik-baik saja, Mam. Tenang aja, Papa udah berangkat ke Singapur?]


[Udah. Tapi cuma Papa mertuamu, Papamu ada urusan di kantornya.]


[Oh ....]


[Ya sudah, hati-hati ya, Sayang?]


Tut!


Telepon pun terputus.


Jovanka memasukkan telepon ke dalam saku celananya. Ia melihat wajah Davin yang sedang menikmati pantai. Davin tidak banyak bicara, hal itu membuat Jovanka merasa sedikit aneh padanya.


Apa Davin marah, karena aku keceplosan menyebut namanya dengan sebutan Rey? Umpat hati Jovanka menerka.


“Dav?” sapa Jovanka yang berada di sampingnya.


“Hem.”


Davin menoleh ke arah Jovanka.


“Kamu marah sama aku? Tumben, kamu diam hari ini?” tanya Jovanka.


Davin tersenyum.


“Sengaja,” jawabnya membuat Jovanka semakin bingung.


“Sengaja gimana?”


Jo mengernyitkan keningnya.


“Sengaja memberikan waktu untuk lu bersedih. Lu lagi ada masalah, ‘kan? Gue ngerti walau tidak tau masalah lu.”


“Sebenarnya, aku ....” kata-kata Jovanka terputus.


“Gak usah cerita kalau lu gak mau berbagi,” ujar Davin sambil menatap hamparan laut yang berwarna biru.


Hening.


Air mata Jovanka kembali menetes, dengan cepat ia mengusap air bening yang jatuh di pipinya.


Davin menoleh, walau ia seperti cuek, tapi ketika Jo mengusap netranya sangat terlihat dari sudut mata Davin.


Davin mengacak sedikit rambut Jovanka, “Kalau lu gak kuat menanggungnya sendiri, kenapa lu gak bagi ke gue?”


Davin menyipitkan matanya.


“Gu-e ... Gue ....”


Jo terbata, sebenarnya ia ingin sekali bercerita, tapi hatinya belum siap untuk menceritakan hal yang menurutnya menyedihkan.


“Gu-e ....”

__ADS_1


Lagi, Jo berusaha untuk bicara.


Davin menenggelamkan wajah Jovanka ke dada bidangnya. Ia tahu, Jo saat ini sedang terpuruk. Davin berharap, dadanya bisa membuat Jovanka tenang untuk menangis dalam dekapannya.


Benar saja, air mata itu tumpah ruah membasahi dada bidang Davin. Ia pun mengusap pucuk kepala Jovanka lembut.


“Menangislah, kalau itu dapat memberikan lu ketenangan. Teriaklah sekuat yang lu biasa, kalau dengan berteriak dapat melupakan sejenak masalah lu hari ini,” titah Davin.


“Mas Alexy kecelakaan di Singapura, Dav.” Dengan terisak, Jovanka bisa mengutarakan kepedihannya pada Davin.


“Alexy? Si Om?” tanya Davin memastikan.


Jo melepaskan diri dalam dekapan Davin dan membulatkan matanya.


“Suamiku! Bukan Om!” pekik Jovanka kesal.


Davin menggaruk kepala, “Iya, maksud gue suami lu, sorry!” Davin tersenyum.


Hening.


“Terus, kabarnya sekarang bagaimana?” tanya Davin memecah keheningan.


Jo menggeleng, “Entah, aku belum tau karena Papa mertuaku saja yang terbang ke sana. Katanya mobil itu belum ketemu karena jurang yang cukup curam.”


“Loh ... Kok mereka bisa memastikan kalau mobil itu masuk jurang?”


“Karena ada orang yang melihat, mobil travell jatuh ke dalam jurang. Makanya Papa mertua mau memastikan ke sana, siapa saja penumpang yang ada dalam mobil sambil menunggu kepolisian mencari mobil yang terjatuh,” terang Jovanka.


“Oh ... Berarti hal itu belum tentu benar adanya, dong?” ujar Davin.


“Entah!”


Hening.


Netra mereka masih menatap lautan lepas dan langit senja berwarna jingga. Belaian angin pantai menembus kulit mereka.


“AAAAAAAA!”


Tiba-tiba Davin berteriak kencang membuat Jovanka merasa kaget.


“Kamu kenapa?” tanya Jo menyipitkan mata.


“Gue bete, lu diem aja. Teriak dong!” pinta Davin.


“Dih ... Gak jelas kamu!”


Jo memalingkan pandangan.


“Jo, membisu hanya akan membuat lu semakin terpuruk. Teriaklah, untuk meringankan resah yang ada dalam diri lu,” ujar Davin.


“Apa benar dengan aku teriak dapat meringankan perasaanku saat ini?” tanya Jovanka.


Davin mengangguk, “Coba saja!” ujar Davin.


“Are you sure?”


Davin mengangguk.


Jo memejamkan matanya, ia merentangkan kedua tangannya membiarkan sang angin menerpa tubuh mungilnya.


Jo teriak kencang sambil memejamkan mata.


“Lagi, Jo!” titah Davin.


“Aaaaaaaaaaaa!” Jo kembali berteriak.


“AAAAAAAA!”


Davin ikut menimpali. Keduanya berteriak di tepi pantai. Dengan debur ombak pantai yang menerjang kaki yang bertelanjang, tanpa alas.


Keduanya saling menatap. Jo pun mulai tersenyum. Lengkung indah itu telah kembali menghiasi bibir merah jambu Jovanka.


“Thank’s ya, Dav?” ujar Jovanka sambil memandang wajah Davin.


Davin tersenyum, tangannya membenahi rambut Jovanka yang menghalangi wajahnya.


“Gue gak ngapa-ngapain, semangat, ya? Jangan sedih. Masih ada gue, yang selalu ada buat lu. Walau mungkin, gue hanya bisa menghibur lu melalui hand phone, karena jarak yang memisahkan.” Davin tersenyum.


Jovanka tersenyum. Mereka pun kembali menikmati langit senja sore itu, hingga warna jingga memudar, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Bandung.


***


Jo tertidur dalam mobil. Davin melihat wajah cantik dengan mata terpejam.


Jo, lu itu cantik. Tapi, kenapa gue selalu mengingat Adara? Wajah lu selalu mengingatkan gue akan sosok gadis ceria yang dulu menjadi pacar gue. Umpat hati Davin dan mengusap rambutnya.


“Rey!”


Tiba-tiba, Jovanka mengigau dan menyebutkan nama Rey.


Rey lagi, Rey lagi. Siapa sih dia? Kok gue jadi inget orang yang dulu gue tolongin, ya? Namanya sama, Rey juga. Tapi, kek nya gak mungkin. Entahlah! Umpat hati Davin.


Ia kembali fokus pada setir mobilnya. Malam semakin larut, Davin semakin kencang memacu mobil merah itu karena besok pagi ia harus masuk kerja.


“Jo, bangun! Rumah lu di mana?” ujar Davin membangunkan Jovanka.


“emh ....”


Jovanka masih tertidur, hanya memalingkan wajahnya saja.


Ya Tuhan ... Sumpah, lu lagi tidur imut banget sih, Jo?


“Jo, bangun!”


Lagi, Davin membangunkan Jovanka sambil menggoyangkan tangannya.


“Hah? Kita udah nyape?”


Netra Jo membulat.


“Udah nyampe Bandung tapi gue ‘kan gak tau harus antar lu ke mana?”


“Iya, ya.”


Jo tersenyum.

__ADS_1


Davin pun kembali menyetir sesuai dengan arahan dari Jovanka. Hingga pintu gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi, mobil itu berhenti.


Ceklek!


Davin membuka pintu mobil.


“Kamu mau ke mana?” tanya Jovanka.


“Ya balik ke kampus. Motor gue ‘kan ditinggal di sana. Gue harus berangkat malam ini juga. Karena besok harus nugas di rumah sakit.”


“Kenapa tadi gak turun di kampus aja? Malah turun di sini, ‘kan cukup jauh, Dav!” ujar Jovanka.


“Gue khawatir sama lu, Jo. Ya udah lu masukin deh mobilnya. Gue balik, ya?” ujar Davin sambil mengacak sedikit rambut Jovanka.


“Dav?” panggil Jovanka.


Rey menoleh.


“Thank’s, ya? Kamu udah baik banget sama aku.”


Davin tersenyum, “Iya. Jangan sedih lagi, ya? Kalau lu butuh teman curhat, gue siap untuk jadi pendamping.”


“Maksud kamu?”


“Pendengar maksudnya.”


Davin tersenyum, begitu pun dengan Jovanka.


“Hati-hati ya, Dav!”


“Oke!”


.


Davin menapaki jalanan aspal berwarna hitam di bawah langit malam. Ia akhirnya mengeluarkan hand phone dan memesan taksi online.


Tidak berselang lama. Taksi itu pun datang dan Davin langsung masuk dalam taksi itu.


“Stop, Pak! Ini uangnya.”


“Makasih!”


Taksi melesat pergi dan Davin kembali masuk ke dalam kampus untuk mengambil motor yang ia parkir dan melesat kembali ke Jakarta.


***


Sementara Jo kembali terpuruk ketika sudah memasuki rumah mertuanya. Apalagi, semuanya sudah terlelap. Rumah sudah sepi bak tanpa penghuni.


Jo melangkahkan kaki, menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka.


Jo menghempaskan napasnya, terasa sesak apabila melihat ranjang yang berukuran besar itu. Ia mengingat saat-saat terakhir sebelum Alexy berangkat ke Singapura.


.


Je membaringkan tubuhnya. Memperhatikan langit-langit kamar yang berwarna putih, sedangkan waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari. Matanya masih terjaga, sama sekali tidak dapat terpejam.


Jo duduk di atas ranjang, ia memeluk bantal yang dipakai oleh Alexy terakhir kali. Kembali, tangisan pilu meluap di pagi buta ini.


Tuhan ... Semoga Engkau berikan yang terbaik untukku.


Hanya itu pinta Jovanka ketika ia mencoba memejamkan matanya.


Drrrttt!


Gawai di atas nakas bergetar.


Jo meraih ponsel yang tergeletak itu.


“Davin?”


Jovanka langsung mengangkat video call dari Davin. Ada rasa bahagia di dalam sana, karena Jovanka merasa masih ada yang peduli dengannya walau ia jauh, terhalang jarak.


[Hai, Dav?]


Jovanka melambaikan tangannya dan memaksa agar bibirnya tetap tersenyum di hadapan Davin.


[Pasti lu belum tidur ‘kan?] terka Davin dalam telepon.


[Dih ... Sok tau, aku udah tidur kok,] elak Jovanka berbohong.


[Jo, walau gue gak pernah hubungi lu sehabis bangun tidur, tapi gue tau kalau saat ini lu sedang berbohong!]


Hening.


Jovanka merunduk. Ia tidak berani menatap wajah Davin yang ada dalam ponsel.


[Jo?]


Jovanka mendongak.


[Masih ada waktu beberapa jam ke depan. Lu tidur, ya?] pinta Davin dengan suara melemah.


[Tapi aku gak bisa tidur, Dav! Aku sudah mencoba beberapa kali untuk dapat tidur, terlelap malam ini. Tapi belum bisa!]


Netra Jo berkaca-kaca.


[Jo lihat gue!] pinta Davin.


Jo melihat ke layar gawainya.


[Sekarang, lu tidur. Letakan ponsel itu di samping lu. Biarkan menyala, gue mau bercerita sama lu. Tapi, syaratnya mata lu harus merem. Bisa?]


[Aku coba,] ujar Jovanka.


Jo memejamkan mata, sedangkan Davin memulai ceritanya. Cukup lama Davin bercerita, hingga dirinya melihat Jovanka telah benar-benar terlelap mendengar ceritanya. Davin tersenyum.


[Jo, andai lu ada di sini, gue pastikan lu tidak akan sedih. Tapi, gue juga sadar kalau lu sudah milik orang dan hati gue juga masih terikat dengan Adara. Entah, gue anggap lu apa? Yang jelas, lu salah satu wanita berharga untuk gue. Walau lu bukan pacar gue, tapi gue anggap lu itu adik gue. Have a nice dream’s, Jo. ]


Tut!


Telepon dimatikan oleh Davin.

__ADS_1


__ADS_2