
“Pulang, yuk? Udah malem!” Ajak Reynand.
Jo mengangguk.
Mereka berjalan ketika masih hujan. Baju mereka pun basah kuyup. Rey membuka pintu mobil, lalu mereka berdua naik ke dalam mobil hitam itu.
Rey mengambil jaket yang ia simpan di jok belakang. Ia menutupi tubuh atas Jovanka dengan jaket miliknya.
“Biar gak masuk angin,” ujar Rey sambil tersenyum.
“Makasih, Rey.”
Seutas senyuman terlihat di bibir Jovanka.
Rey tersenyum, lalu tancap gas menuju kost Jovanka.
“Rey?” tanya Jo ketika ada di perjalanan.
“Iya?”
Rey masih fokus pada kendali mobil.
“Kamu tau dari mana kalau aku ke ST Restorant? Aku masih penasaran,” ujar Jovanka.
“Gak usah dibahas. Yang penting aku udah nemuin kamu. Aku khawatir sama kamu, Jo!”
“Gak bo’ong?”
“Untuk apa aku bohong?”
Hening.
“Esok, orang tuamu jadi pindah ke apartemen?” ujar Rey memecah keheningan.
Jo mengangguk.
“Makasih ya, Rey?”
“Untuk apa?”
“Semuanya.”
Jo menggenggam tangan Rey.
Seketika, Rey memberhentikan mobil.
Desir darah mengalir deras dalam tubuhnya. Hati yang tidak karuan ketika tangannya digenggam oleh wanita yang sangat ia cintai.
Apa yang terjadi denganku? Kenapa semuanya terasa canggung dan kaku? Umpat hati Rey waktu itu.
Mata mereka saling bertautan. Rey melihat wajah cantik yang berada di depannya. Rey mendekatkan wajahnya dengan Jovanka. Desir darah semakin cepat mengalir ketika melihat wajah basah di depan matanya.
Shit! Apa yang akan kulakukan? Rey mengumpat dalam hati.
“Kita pulang, Jo!”
Tak ingin ada kekhilafan yang terjadi, akhirnya Rey kembali tancap gas dan melesat ke kost Jovanka. Di sana sudah ada wanita senja yang sudah menunggu di depan pintu kostnya.
Ceklek!
Pintu mobil Rey terbuka.
Sepasang mata senja itu kini melihat wajah sang putri yang telah ia tunggu dari tadi.
“Jo?” ujarnya lalu berlari menghampiri putrinya.
“Mama?”
__ADS_1
Meli memeluk erat tubuh basah Jovanka. Ia terlihat bahagia, setelah putrinya sudah berada dalam dekapannya.
“Kamu baik-baik saja 'kan, Nak? Kamu ke mana aja? Mama risau menunggumu di sini. Jadi Mama sengaja minta tolong Reynand. Maksih ya, Nak Reynand?” ujar Meli.
Rey tersenyum.
“Jo baik-baik saja kok, Ma. Oh ... Berarti yang menyuruhmu menjemputku itu Mama, Rey?” Mata Jovanka memutar ke arah Reynand.
Lagi, Rey hanya tersenyum.
“Ya sudah, Rey pamit ya, Tan? Oh iya, esok hari Tante mau ke apartemen ‘kan?”
“Iya.”
“Besok Rey bantu untuk kepindahannya, kebetulan, Rey libur esok hari.”
“Makasih ya, Nak! Tante bahagia, Jovanka bisa dekat sama kamu. Tapi, Tante juga malu atas semua yang terjadi di masa lalu. Maafkan Tante, Rey!” ujar Meli penuh dengan penyesalan.
“Yang lalu, biarlah berlalu. Rey minta izin sama Tante, Rey mempunyai niat untuk mempersunting Jovanka setelah mereka resmi bercerai.”
“Tapi, apakah Jovanka masih pantas mendampingi hidupmu? Secara Jovanka nanti berstatus janda,” ujar Meli.
Rey menggeleng, “Rey akan menerima Jovanka apa adanya. Mungkin, Tuhan sudah merencanakan jalan yang berliku ini untuk mempersatukan kami,” terang Reynand.
Meli menitikkan air mata. Benar-benar merasa malu terhadap Reynand. Ia benar-benar terbuka hatinya, ketika melihat Rey yang menerima putrinya yang berstatus janda, miskin pula!
Tapi Rey menerimanya dengan tulus. Bibirnya sudah tidak bisa berucap apa-apa, beribu kata terima kasih pun tidak dapat mewakili perasaan bersyukurnya malam ini.
Ingat, Tuhan dapat membolak-balikan semuanya dengan mudah. Jangankan harta yang hanya titipan. Rasa yang dimiliki seseorang pun akan dengan mudah dibolak-balikkannya. Semua kendali manusia adalah kendali-Nya!
***
Orang tua Jovanka pun telah pindah ke apartemen. Rey melihat raut wajah Rendy yang masih belum bisa bersahabat dengannya.
Rendy masih bersikukuh dengan pandangannya terhadap Rey yang membuat istri dan anaknya menjadi heran. Sebenarnya, apa alasan Rendy hingga saat ini belum ada satu orang pun yang mengetahuinya.
**
Alexy yang di dampingi oleh keluarga, istri baru dan pengacaranya. Sedangkan Jo yang hanya di dampingi oleh Mama dan Papanya saja yang duduk di kursi roda.
Sidang pun dimulai. Tidak ada meditasi lagi di antara mereka, walau hakim telah memberikan saran untuk mereka. Hingga ketukan palu pun terjadi.
Tuk ... Tuk ... Tuk ....
Ketukan palu itu berbunyi. Rumah tangga itu pun kandas dan menyematkan status resminya menjadi seorang janda.
Janda?
Memang ini bukanlah impian untuk seorang wanita. Tidak ada seorang pun yang bercita-cita ingin seperti ini. Tapi, suratan takdir telah tertulis dalam garis tangan manusia.
Tidak ada guna menyesali semua yang telah terjadi. Karena tidak semua takdir menjadi seorang janda itu buruk. Bisa saja dengan menjanda, dia akan menemukan laki-laki yang benar-benar tulus mencintainya. Karena sejatinya, Tuhan akan memasangkan orang baik dengan yang baik.
**
Jo ke luar dari persidangan dengan status barunya, menjadi seorang janda yang berstatus dokter. Ia dan orang tuanya melesat menggunakan taksi menuju apartemen. Jo sengaja ikut tinggal di apartemen bersama kedua orang tuanya, agar bisa terhibur di hari pertamanya yang berstatus janda secara hukum.
Walau Jo kini sudah menjalin cinta dengan Rey, tak dipungkiri hatinya kecewa atas Alexy yang tiba-tiba saja menceraikannya. Terlebih, ia sudah ditinggal menikah dengan perempuan lain, ketika status dirinya masih menjadi istri dari Alexy. Ia merasa kecewa padanya.
Kenapa Mas Alex terkesan cepat-cepat menikahi wanita lain? Apakah secepat itu hatinya berpaling dariku? Umpat hati Jovanka ketika sedang berdiri di balkon apartemen yang dibelikan oleh Rey.
Jo merasakan embusan angin malam membelai lembut tubuh yang berbalut baju tidur kimono.
Apakah karena selama ini Jovanka sudah berlaku menjadi istri yang baik untuk Alexy? Secara, kewajibannya sebagai istri pun belum Jovanka tunaikan. Ia masih menjaga kesuciannya hingga ia berstatus menjadi janda.
Apakah cinta Jovanka terlalu besar untuk Rey? Hingga ia tidak dapat memberikan hak untuk suaminya? Hmm ... Itu semua sudah suratan. Manusia hanya bisa berencana dan Dialah yang menentukan. Tidak ada rencana yang indah dari rencana-Nya!
Tidak selamanya hidup itu pahit, kelak ia akan mereguk manisnya kenyataan. Entah esok atau lusa.
__ADS_1
.
Hingga saat ini, Rendy belum mengetahui kalau apartemen yang ia tempati itu milik Reynand.
Berhari-hari Jovanka ikut tinggal di apartemen itu. Dan akhirnya ia memilih untuk kembali tinggal di kostnya. Ia merasa sudah lebih siap untuk menjalani hari.
Keadaan Rendy pun sudah sedikit membaik. Kini sedikit demi sedikit ia sudah dapat bicara satu atau dua patah kata, sehingga komunikasinya dengan Meli kembali menghangat.
“Ma, Pa. Jo pulang ke kost, ya?” ujar Jovanka berpamitan.
“Apakah kamu benar-benar sudah siap, Jo?” tanya Meli.
“Iya, Jo sudah merasa lebih baik lagi,” ujar Jo.
“Sem – angat, Jo!” ujar Rendy walau dengan kata yang kurang jelas.
Jo tersenyum, “Makasih, Pa!” Jo berlutut, ia menggenggam kedua tangan Papanya.
Terlihat air bening itu menetes di mata senja Papanya, mungkin ia menyesal dengan keputusannya dulu telah menjodohkan putrinya dengan Alexy, yang akhirnya membuat putri kesayangannya menyandang status janda.
“Papa jangan menangis.” Jo mengusap pelan air mata yang jatuh di pipi Rendy, “Jo baik-baik saja, dan akan baik-baik, selama Papa dan Mama masih bersama Jo!”
Jo mencium lengan Papanya.
“Ma – af!”
Kata itu meluncur dari bibir Rendy.
Jo mengangguk dan memeluk Rendy, Meli juga ikut memeluk orang-orang yang ia sayangi. Kini, Meli, Jovanka dan Rendi saling berpelukan untuk menguatkan.
**
Jo kembali beraktivitas seperti biasanya. Gelarnya pun bertambah, ia kini menjadi seorang dokter karena telah menyelesaikan tugasnya sebagai KOAS.
Lalu, bagaimana kabar Alexy? Entahlah, Jo sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Alexy setelah ketuk palu itu terjadi. Ia ingin menata hidupnya dengan baik bersama Reynand. Cinta pertamanya yang kini kembali bersemi.
.
Jo sedang menikmati secangkir hot chocolate di kantin bandara. Kebetulan, pagi ini gerimis. Dari semalam hujan turun sangat deras, hingga membuat di pagi ini terasa dingin. Tiba-tiba ada yang menutup mata Jovanka dari belakang.
“Hemmm ... Aku tau, ini pasti kamu ‘kan, Sayang?” tebak Jo. “Reynand, lepasin!” sambung Jovanka.
Rey melepaskan tangannya yang sedang menutupi mata Jovanka, ia lalu duduk di sampingnya.
“Yaahhh ... Ketauan, deh!” keluh Reynand.
Jo tersenyum.
“Dari mana kamu tau kalau itu aku? Apakah dari parfum yang kukenakan?” tanya Rey.
Jo menggeleng.
“Lalu?”
Jo menunjuk ke dadanya, “Hati aku yang berbicara,” bisiknya di telinga Rey.
Spontan, jantung Rey berdetak makin kencang, ketika Jo berbisik di telinganya. Debar itu semakin nyata ketika Jo menggenggam satu lengannya.
“Rey, aku sayang kamu,” sambung Jovanka yang membuat Reynand lupa akan memberikan sesuatu padanya.
Rey kini menggenggam kedua tangan Jovanka, ia menatap tajam mata kekasihnya.
“Dari dulu, aku sangat menyayangimu, Jo! Bahkan, mungkin hingga napasku berhenti,” ujar Reynand.
“Ssttt! Aku gak mau dengar kamu bicara seperti itu, Sayang! Kita akan menua bersama, hingga azal yang dapat memisahkan kita dan nantikan pertemuan kita di kehidupan yang kekal di sana. Surga!”
Mata mereka saling bertautan. Cinta mereka semakin besar satu sama lain, walau Papa Jovanka terlihat masih belum dapat menerima Rey seutuhnya. Lagi, entah karena apa. Masih menjadi sebuah rahasia.
__ADS_1