Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
112. Minta Ponakan


__ADS_3

Semenjak kepulangan mereka dari Jepang. Keduanya semakin lengket saja. Ditambah orang tua dan adik Rey sedang berada di luar kota. Tak ayal, keromantisan itu terjadi di setiap sudut ruangan.


Rumah yang besar berlantai dua itu tidak luput menjadi tempat mereka bermesraan. Tidak jarang membuat orang senyum-senyum kecil ketika tidak sengaja melihat aksi romantis mereka.


Di meja makan yang dilapisi oleh kain putih polos dan menu lengkap untuk sarapan telah siap. Di sanalah, Rey dan Jovanka memulai beraktivitas pagi di rumah.


"Mau makan apa pagi ini, Sayang?" tanya Jovanka pada Reynand.


"Sandwich aja." Seperti biasanya, Reynand meminta diganjal perutnya oleh roti tawar yang berisikan sayur, cincang daging, telur setengah matang, serta mayonais.


Jo mengambil sepiring sandwich yang terdiri dari beberapa potong roti, wanita yang terlihat sangat cantik itu seperti biasa memakai celana jeans dan atasan kemeja. Namun, saat itu dia mengenakan kemeja berlengan panjang sebagai seragam dinasnya.


Mereka berdua menikmati sarapan bersama serta beberapa obrolan kecil dan ringan yang mereka bahas. Namun, tiba-tiba saja ponsel Reynand berdering saat obrolan santai itu terjadi di meja makan.


"Mama?" ucap Reynand ketika dia melihat nama pada layar ponsel.


"Cepet diangkat, pasti Mama ada perlu sama kamu," titah Jovanka.


Rey meraih benda pipih berwarna hitam itu dalam genggaman tangannya. Dia menggeser kunci yang terdapat di layar utama. Gambar telepon berwarna hijau telah Reynand geser lalu terdengar suara wanita dari dalam ponsel.


"Iya, Ma."


"Ini aku, Nana, Bang," jawab wanita dari seberang sana.


"Nana? Ngapain pakek hape Mama?" Dahi Rey mengernyit kala mendengar suara adiknya dalam ponsel sang ibu.


"Iya. Hape Nana lowbat, jadi pakek punya Mama."


"Oh ... tapi kabar Mama baik-baik, kan?"


"Baik, dong. Hmm ... Nana gak ditanya kabar ini?"


"Ah, kamu cerewet seperti ini pasti baik-baik saja. Iya, kan?"


"Dih ... Abang, mah, gitu."


"Hahaha ... iya, iya. Kabar Nana gimana? Sehat-sehat?" Rey mulai memahami sepertinya adiknya merasa iri pada perhatian yang ditunjukkan oleh Reynand untuk ibunya.


"Iya, Nana sehat. Kabar Abang sama Kak Jo gimana? Ada tanda-tanda Nana bakal punya ponakan enggak, Bang?"


'Uhuk!'


Jovanka tersedak ketika Rhiena bertanya seperti itu, kebetulan, Reynand memang sengaja me-load speaker ponselnya, sehingga apa yang sedang mereka bicarakan, Jovanka pun ikut mendengarkannya.

__ADS_1


"Eh ... itu suara Kak Jo, ya, Bang? Nana mau ngobrol dong," pinta Rhiena dari dalam sana.


Rey tersenyum lalu memberikan ponsel itu pada istrinya setelah melihat dia minum beberapa teguk air mineral.


"Halo, Na?" Jovanka berbicara melalui panggilan ponsel dengan adik dari suaminya.


Jovanka dan Rhiena mengobrol dari ponsel. Sementara Reynand hanya memperhatikan obrolan mereka saja sambil meneruskan sarapannya. Yang namanya perempuan, kalau sudah mengobrol bisa panjang x lebar yang menghasilkan pembicaraan meluas ke mana-mana.


Sementara waktu telah menunjukkan hampir jam setengah tujuh pagi. Mentari pagi pun telah menelusup hangat masuk dalam rumah melalui ventilasi-ventilasi yang terdapat pada jendela yang telah dibuka lebar, sungguh terasa hangat mengenai tubuh penghuni rumah.


"Na, Kakak iparmu mau kerja, apa di Surabaya kamu enggak kerja?" celetuk Rey dengan suara cukup kencang bermaksud agar adiknya mendengar.


Suara tawa renyah terdengar dari dalam ponsel.


"Hahaha ... iya, Nana mau berangkat juga. Kebetulan Mama pun sudah siap. Ya sudah, kalian berdua hati-hati dan cepat kasih ponakan buat Nana, ya?"


"Iya, makanya cepet matiin ponselnya. Gimana Abangmu ini bisa kasih ponakan kalau kamu telponan terus?!"


"Iya, iya. Tapi dedeknya yang menggemaskan seperti Kak Jovanka, bukan seperti Abang yang nyebelin!"


Tut!


Panggilan ponsel terputus.


"Asem emang dia," gumam Rey kala melihat layar ponsel yang telah mati.


Sementara di sampingnya, Jovanka tertawa ketika melihat pembicaraan kakak dengan adiknya yang konyol.


"Adik tidak akan jauh meniru kelakuan Abangnya," ucap jovanka menyindir.


Reynand mengangkat pandangan melihat pada sang istri yang sedang tersenyum dengan alis yang terangkat sebelah. Tanpa ada kata, Reynand menyimpan ponselnya di atas meja, kemudian memegang kedua pipi Jovanka.


Mata Jovanka membulat ketika wajah Reynand mendekat ke wajahnya. Kini, mata mereka saling memandang lekat dan tiba-tiba saja, Reynand memiringkan kepalanya dan bibir itu semakin mendekat pada bibir merah muda Jovanka.


Jo terdiam. Sepasang matanya terfokus pada bibir Reynand yang tinggal berjarak beberapa centi saja. Napas hangat Reynand pun kini semakin hangat terasa.


"Re––Rey, kamu mau ngapain?" Setengah mati Jovanka mengeluarkan pertanyaan itu setelah dia berusaha tenang ketika Rey telah bersikap layaknya singa yang sedang kelaparan.


Bukan untuk disantap, tetapi untuk dikecup lembut.


Bibir Reynand kini tertempel pada bibir Jovanka. Lelaki itu tidak berlebihan mengulum bibir istrinya. Dia hanya mengecup sewajarnya saja tanpa membangkitkan hasrat terdalamnya. Namun, tidak dengan Jovanka yang jantungnya seolah hendak melompat dari tempatnya karena perlakuan Reynand yang begitu manis dan membuatnya sesak ketika bibir mereka menempel dengan hangat.


"Bagaimana bisa aku memberikan ponakan untuk Nana kalau tidak melakukan hal itu?" bisik Rey kala bibirnya sedikit terlepas dari bibir Jovanka.

__ADS_1


"Ta––tapi kita mau kerja, Rey. Tidak ada, kah, waktu lain untuk melakukan hal itu?"


"Lima menit saja, Sayang." Rey mengedipkan satu matanya.


"Ta––tapi." Jovanka terbata ketika hendak menjawab pertanyaan suaminya yang disertai debar yang mengencang.


"Hahaha ...." Reynand tertawa melihat kepanikan yang terlihat jelas dari wajah istrinya. "Enggak, kok, Sayang. Aku hanya bercanda. Lagian, mana cukup waktu kalau hanya sekedar lima menit?" ucap Rey sambil mencubit pelan hidung Jovanka.


"Jadi?"


"Ya enggak jadi untuk pagi ini, tapi aku simpan untuk malam nanti 3 ronde," ucap Reynand sambil mengacungkan ketiga jarinya : telunjuk, tengah dan jari manis.


"Hah? Tiga kali?" Mata Jovanka membulat mendengar ucapan suaminya. Terlebih Reynand hanya mengangkat satu alisnya sebagai jawaban kalau hal itu memang ingin dia lakukan 'tidak perlu heran'.


"Ready Honey?" ucap Reynand bersuara berat.


"No," jawab Jovanka bernada lirih.


"Why?" Reynand menyipitkan mata.


"Bagaimana bisa dalam satu malam kita melakukan tiga kali, Sayang? Apa enggak capek?" Jovanka mulai berkilah. Gila saja dalam satu malam tiga kali? Mana mereka masih harus bekerja. Masa iya malam harus bergadang demi memuaskan si tikus?


"Kenapa? Masih kurang? Ya sudah, enam kali untuk malam ini."


"Reynand?!"


"Iya, Sayang."


"Jangan seperti itu juga."


"Lalu maunya gimana?"


"Libur dulu, ya?"


"No, no, no!"


Jovanka melihat wajah Reynand yang sepertinya serius dengan ucapannya.


"Rey ...." Jovanka merengek.


"Sepuluh kali, deal?!" Reynand mengulurkan tangan.


"Enggak, enggak! Gila aja sepuluh kali dalam semalam?" Jovanka memalingkan pandangan serta tangan yang dia lipat di dada.

__ADS_1


__ADS_2