
Hari Rabu. Sekitar jam lima pagi. Rey grasah-grusuh untuk bersiap berangkat kerja. Pagi itu ia harus segera sampai di bandara, tidak kurang dari jam setengah tujuh pagi. Ia bergegas mandi dan memakai seragam kerjanya. Tampak gagah ketika ia bercermin. Ia menyisir rambut dan menyemprotkan parfum pada tubuhnya.
Rey langsung membawa ransel lalu menuruni anak tangga. Dalam rumah masih terasa sepi, karena masih sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Jam hampir menunjukkan pukul enam pagi, Rey langsung bergegas pergi.
“Mam! Rey berangkat, ya?” teriaknya.
“Gak sarapan dulu, Nak?”
“Nanti saja, di kantin bandara!”
Rey menaiki mobil sport hitamnya lalu meluncur ke arah bandara, di mana ia bekerja sebagai pilot disalah satu maskapai penerbangan Indonesia.
Tepat jam enam pagi. Rey sudah sampai di bandara. Ia memarkirkan mobilnya lalu bergegas ke kantin dekat di terminal tiga. Rey melihat seorang wanita yang selalu terlihat sedang berdiri di terminal tiga. Ia sering kali berdiri di pintu penumpang yang baru datang setelah penerbangan.
Siapa dia? Beberapa hari ini, aku sering melihat wanita ini berdiri di sana. Apakah ia sedang menunggu seseorang? Entahlah, bukan urusan gue juga! Umpat Rey dalam hati ketika ia sedang sarapan di kantin.
“Woy!”
Elang mengagetkan Rey.
“Astaga! Bang El? Ngagetin gue aja!” keluh Reynand.
“Habisnya, lu makan pake ngelamun.”
“Siapa juga yang ngelamun, Bang?”
“Nah, buktinya lu kaget pas gue nyapa barusan? Lu ngeliatin apa sih, Rey?”
“Kepo!”
“Elah! Pengen tau, bukan kepo, beda!” elak Elang.
“Sama aja!”
“Beda!”
“Serah!”
Elang terkekeh, “Tapi sumpah, gue masih penasaran, lu lagi liat siapa, sih?” Elang memaksa, ia terlalu kepo dengan Reynand.
Hening.
“Buruan ngomong, nanti malah keburu lu kabur lagi!” ujar Elang semakin memaksa.
“Hemm!” Rey menghempaskan napas, “Lu lihat, cewek yang berdiri di sana?” Rey menunjuk pada wanita yang sedang berdiri.
“Yang mane?”
Elang seperti mencari sosok wanita yang dimaksud.
“Itu, yang berdiri di depan pintu kedatangan. Ia memakai masker.”
“Oh ... Yang pakai celana jeans hitam dengan atasan kemeja bermotif garis itu?” ujar Elang.
“Iya!”
“Emm ... Emangnya kenapa dengan dia? Lu suka sama dia?” terkanya.
“Bukan, cuma gue heran. Perasaan, beberapa hari ini kok gue sering melihat cewek itu pagi dan sore hari, ya? Apakah cewek yang gue lihat itu orang yang sama atau berbeda-beda? Tapi, ngapain juga cewek itu berdiri di situ? Pagi dan sore hari pula!”
Elang tersenyum.
“Dih ... Malah senyum, cuma gitu doang kekepoan lu terhadap gue, Bang?” tanya Rey.
“Bukan.” Masih tersenyum.
“Lalu?”
Rey mengernyitkan dahi, heran.
“Dia itu KOAS/dokter muda di klinik sini,” ujar Elang.
“Masa, sih? Tapi, nungguin apa coba? Kenapa dia gak nunggunya di klinik, malah di terminal ini?”
Elang mengangkat bahunya, pertanda entah, kalau dirinya juga tidak tahu.
“Ya sudah, lu mau berangkat, tidak?” tanya Elang.
“Iya, gue berangkat duluan bang!” ujar Rey dan berlalu pergi.
***
Hampir sebulan Jovanka menjadi dokter muda di klinik bandara bersama Davin. Keduanya sekarang akrab sebagai seorang sahabat. Walau, tidak lepas dari tingkah absurd sang dokter yang kadang membuat Jovanka risi. Tapi, karena keabsurdan dan kejahilan Davin, Jovanka menjadi sosok yang ceria. Kini, sudah sekitar tiga bulan Jovanka di tinggal Alexy. Ia mulai menata hidup yang baru.
“Jo ....” sapa Davin ketika sedang berada di klinik.
“Hem?” Jovanka mendongak.
“Lu gak cari cowok lagi?” tanya Davin walau terkesan ragu untuk menanyakan tentang perihal ini.
“Entahlah.”
“Kenapa? Udah saatnya lu bangkit dari keterpurukan, Jo! Udah saatnya lu bahagia dengan lelaki yang bisa jagain lu!”
Jo merunduk.
Hening.
“Jo, sebagai sahabat, gue ingin melihat lu bahagia,” ujar Davin yang memecah keheningan kala itu.
“Tapi, aku merasa Mas Alex masih hidup, Dav!” ujar Jovanka.
__ADS_1
Davin tersenyum sinis, “Karena hal itu, lu sering berdiri di pintu terminal tiga?”
Jo mengangguk, “Iya, karena terakhir Mas Alex telpon aku, dia minta dijemput di bandara ini.” Air mata Jovanka menetes.
“Hey?” tangan Davin memegang bahu Jovanka, “Coba lu ikhlasin perasaan lu akan hal itu. Mulailah hidup yang baru. Mertua lu saja sudah mengikhlaskannya. Kenapa lu masih seperti ini? Bangkit, Jo! Bangunlah dari tidur lu, mulailah merajut mimpi dengan lelaki yang mampu jagain, lu!”
“Tapi siapa, Dav?”
Jo mendongak, kedua netra sendu itu menatap tajam.
“Cinta lu!”
“Maksud kamu?”
Jo menyipitkan matanya.
“Cinta sejati lu.”
“Siapa?”
“Laki-laki yang sering lu sebut Rey ke gue. Memang, gue gak tau Rey yang lu maksud. Wajahnya seperti apa? Rumahnya di mana dan hal lain tentang dirinya. Tapi gue yakin, dialah yang dapat membuat lu bahagia!”
Jo kembali menunduk, “Entah ....”
Perbincangan terputus, ketika ada pasien yang berobat ke klinik itu. Jo dan Davin terfokus pada pekerjaannya masing-masing. Hingga akhirnya waktu pekerjaan mereka sudah berakhir. Jam menunjukkan pukul empat sore.
“Udah, ayok balik!” ujar Davin pada Jovanka yang masih mencatat beberapa obat yang telah habis untuk segera di pesan.
“Nanggung, Dav. Kamu pulang duluan aja,” jawab Jovanka.
“Yaelah, gue takut lu diculik!” ujar David.
“Idih! Mulai deh, kumat! Udah, sana pulang duluan!” ujar Jovanka.
“Iya, iya. Gue gak mau diusir yang kedua kalinya. Gue balik duluan, ya? Bye! Ris, gue balik dulu!” ujar Davin pada over shifnya.
“Ya!”
Rekan kerjanya menyahut dari dalam ruangan.
Setelah Jovanka selesai, ia pun bergegas pulang. Tapi, seperti biasa dirinya berdiri di pintu terminal tiga.
Ia sedang menunggu orang yang ke kuar dari pintu itu, dengan harapan ada Alexy di antara salah satu dari mereka.
Mas? Apa kamu akan datang hari ini? Hampir satu bulan ini, aku menunggumu tiap pagi dan sore hari. Kamu di mana, Mas? Umpat hati Jovanka lalu menitikkan air mata.
Bruk!
Seorang pria menubruk Jovanka.
“Sorry, sorry. Saya tidak sengaja,” ujar seorang pilot yang tak lain Elang.
“Gak papa,” jawab Jovanka sembari tersenyum.
“Maaf, bukannya kamu yang ada di klinik sini, ya? Kamu, dokter muda itu ‘kan?” tanya Elang.
Jo mengangguk, “Iya. Maaf, saya permisi. Sudah terlalu sore, saya harus kembali ke kost,” ujar Jovanka.
“O – Oke!” ujar Elang, “Ternyata cantik juga,” umpat Elang.
Jo berlalu pergi dan Salsa yang bergantian datang.
“Ngapain kamu?” tanya Salsa pada Elang, pacarnya.
“Eh, Sayangku udah datang hehe ....”
Elang mengaruk kepalanya, sebenarnya tidak gatal tapi dia merasa ketahuan sama perempuan cantik, yang tak lain pacarnya sendiri.
“Hemm ... Ya sudah, katanya mau pulang? Ayok!” ajak Salsa.
“Iya. Ayok!”
Elang menggenggam tangan Salsa dan bergegas meninggalkan bandara.
***
Terbang menuju Singapura.
“Aww!” keluh si pria berkaca mata.
“Om? Om sudah sadar?” ujar perempuan muda mencoba menyadarkannya.
“Awww!”
Hanya ringkikan rasa sakit yang ia kelukan tanpa menjawab pertanyaan si gadis.
Gadis itu berlari, meminta bantuan pada dokter atau perawat di sana.
“Tolonggggg!” pekik gadis itu meminta bantuan, “Help me pls!”
Tidak berselang lama, ada dokter perempuan yang menghampirinya. Ternyata ia pandai berbahasa Indonesia.
“Iya, ada apa?” tanya dokter perempuan yang menghampiri si gadis.
“Dokter bisa bahasa Indonesia?” tanya gadis itu.
“Iya, cukup lancar. Ada yang bisa dibantu?”
“I – itu, Dok! Pasien yang koma sudah sadar. Tapi dia hanya meringkik seperti ada yang sakit, Dokter bisa bantu saya?” ujar gadis itu yang menuturkan keadaan pasien yang koma tersebut.
“Iya, mari saya periksa!”
__ADS_1
Si gadis dan dokter itu masuk dan memeriksa keadaan pasien.
“Saya sudah suntikan obat pada infusannya. Tunggu ia sadar, semoga bisa mengurangi rasa sakitnya. Memang, biasanya seperti ini ketika pasien terlalu lama koma.”
“Oh ... Baiklah, kira-kira berapa lama si pasien kembali sadar, Dok?”
“Sekitar satu atau dua jam biasanya menunjukkan reaksi.”
“Baiklah, terima kasih!”
Dokter berlalu pergi. Tinggalah si gadis dan si pasien yang baru sadar dari komanya.
.
Sudah sekitar dua jam, akhirnya si pasien sadar. Ia membuka matanya dan melihat ke setiap sudut ruangan yang cukup besar. Banyak perlengkapan alat kedokteran yang tertempel pada tubuhnya, yang entah namanya apa.
Aku di mana? Apa aku di rumah sakit? Kepalaku masih sakit sekali! Ini siapa? Umpat hati pasien ketika melihat ada seorang gadis yang tertidur di kursi, tepat di sampingnya.
Pasien itu mengusap kepala si gadis. Si gadis pun terbangun ketika merasakan ada sentuhan hangat pada pucuk kepalanya.
“Om?”
Netra gadis kecil itu membulat.
Pasien tersenyum, “Aku ada di mana?” tanyanya dengan suara parau.
“Om lagi di rumah sakit, sebentar. Minum dulu, Om!”
Si gadis memberikan satu gelas air putih yang ada sedotannya.
Pasien itu pun meminum cukup banyak air yang ada dalam genggaman tangan si gadis cantik pemilik tubuh yang tinggi bak seorang model.
“Makasih!”
“Sama-sama. Apa yang Om rasa saat ini?”
“Kepala saya masih sakit.”
“Saya panggilkan dokter untuk memeriksa Om, ya?”
Pasien mengangguk.
Gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Ia ke luar dari dalam ruangan itu untuk mencari dokter. Sedangkan si Pasien memperhatikan gadis itu di tempat tidur.
“Dia siapa?”
Pertanyaan itu yang ada di kepalanya saat ini. Ia berusaha mengingat, tapi belum semua memori kehidupannya kembali. Ia masih lupa dengan kehidupannya sendiri.
Ceklek!
Pintu terbuka. Si gadis sudah membawa seorang dokter yang bisa berbahasa Indonesia tadi, karena memang dirinya yang bertanggung jawab atas pasien ini.
“Permisi, saya periksa, ya?” ujar dokter itu.
Dokter perempuan itu memeriksa keadaan si pasien yang mulai membaik.
“Oke! Semuanya sudah membaik dan Nona, mari ikut ke ruangan saya!” ujar dokter itu mengajak si gadis untuk mengikutinya.
Gadis itu berlalu pergi, mengekor dokter perempuan itu dari belakang. Mereka pun berbincang, membahas keadaan si pasien.
“Silakan duduk,” ujar dokter itu.
Gadis itu pun duduk di depan dokter. Mereka hanya terhalang meja.
“Pasien sudah membaik. Tapi, memori ingat pasien belum sepenuhnya kembali. Jadi pasien tetap harus dalam pengawasan kami, seumpama si pasien sudah membaik tapi ingatannya belum kembali, bisa dirawat di rumah. Sebaiknya Nona sabar mengurusnya dan bantu ia agar memperoleh ingatannya kembali,” ujar si dokter.
“Baiklah.”
“Saya kira, untuk saat ini hanya hal itu yang dapat disampaikan.”
“Iya, makasih, Dok?”
Gadis itu berlalu pergi meninggalkan ruangan dokter dan berjalan gontai kembali ke kamar si pasien.
“Bagaimana aku membantu mengembalikan ingatannya? Secara, aku juga tidak mengenal dia!” keluh gadis itu sambil berjalan.
Ceklek!
Gadis itu membuka pintu kamar si pasien.
Pasien itu seperti sedang mengingat-ingat masa lalunya. Berkali-kali, gadis itu melihat si pasien seolah ngomong sendiri.
“Hai, Om?” sapa si gadis.
Pasien itu tersenyum.
“Om lagi apa?” tanya gadis cantik itu.
“Saya lagi mengingat kehidupan saya. Tapi, saya belum mengingat semuanya,” ujar si pasien.
“Emmm ... Kata dokter, pengingatan Om akan kembali, tapi bertahap tidak langsung semuanya. Om ada cedera di kepala. Jadi, sebagian memori hidup Om belum sepenuhnya kembali,” terang gadis itu.
Pasien hanya terdiam. Ia sedang berusaha mengingat jati dirinya.
“Om?” ujar si gadis.
Pasien mendongak, tanpa menjawab.
“Apa Om ingat, nama Om siapa?” ujar gadis itu sambil menyipitkan mata.
Pasien itu mengangguk, “Nama saya Alexy.”
__ADS_1