Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
119. Kesempurnaan Hidup


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Rumah tangga Jovanka dan Reynand semakin terlihat romantis.


Kala itu, jam beker membangunkan Jovanka tepat jam empat pagi. Dia pergi ke dapur untuk memasak. Wanita yang bergelar dokter memang selalu ikut untuk membuat menu sarapan pagi untuk suaminya semenjak ibu mertuanya ke Surabaya. Dia lebih selektif memilih menu yang akan disajikan untuk suaminya.


"Masak apa sekarang, Non?" tanya asisten rumahtangganya.


"Rey ingin dibuatin opor yang kental katanya, Bi."


Walau sesungguhnya masakan yang terlalu banyak mengandung santan itu tidak baik, tapi kala itu Rey terlihat begitu menginginkannya saat meminta dibuatkan menu tersebut.


"Oh ... baiklah. Bibi rendam dulu ayamnya dari freezer." Asisten rumah tangganya berlalu pergi. Sementara Jovanka bersiap meracik bumbu.


Setelah semuanya usai dan ayam pun telah dipotong-potong, Jovanka mulai menumis opor ayam untuk Reynand. Namun, ketika wangi masakan yang berbumbu kuning itu sedikit tercium. Perut Jovanka malah terasa mual, dia lari ke toilet setelah menitipkan masakannya pada asisten rumahtangganya.


Cukup lama Jovanka berada di toilet. Bahkan, hingga masakannya telah matang.


"Non? Non Jo kenapa?" tanya asisten rumahtangganya sambil mengetuk pintu.


Jovanka tidak menjawab, hanya terdengar suara muntah dari dalam sana.


"Non, Jovanka?" Asisten rumah tangganya masih mengetuk pintu toilet dengan perasaan cemas yang mendera, dia masih menunggu Jovanka di depan pintu.


Tidak berselang lama ketika pembantu rumahtangga menunggu. Pintu toilet pun terbuka dan terlihat tubuh lemas juga wajah yang pucat.


"Non? Non sakit?"


Jovanka menggeleng.


"Atau, jangan-jangan Non lagi isi, ya?" terka asisten rumahtangganya.


"Isi apa, nih? Isi cinta dan kasih sayang, dong?" ujar seorang pria yang menyambar jawaban begitu saja. Siapa lagi kalau bukan suaminya?


"Eh ... Den Reynand," ujar asisten rumahtangganya yang kemudian mundur perlahan dan berlalu meninggalkan keduanya. Dia begitu tahu pada pasangan yang selalu mengumbar kemesraan.


Reynand tersenyum ketika melihat Jovanka yang masih berdiri di depan toilet. Dia berjalan menghampiri Jovanka lalu memeluknya erat.


"Makasih selalu memberikanku kebahagiaan. Seperti hari ini, kamu udah masak opor yang aku mau," ucap Reynand lalu mengecup pucuk kepala Jovanka.


"Maaf, Rey. Tapi yang meneruskan masak pagi ini bukan aku, melainkan Bibi," ucap Jovanka pelan.


Rey melepaskan pelukannya. Dia memandang wajah istrinya yang terlihat lesu.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rey sambil menyelipkan rambut panjang ke telinga Jovanka.


"Entah. Sepertinya aku masuk angin."


"Ya Tuhan ... maafin aku, Sayang. Aku malah minta yang macem-macem."


"Semalam aku baik-baik aja, kok. Baru tadi ini aku––" ucap Jovanka terhenti karena Reynand menyela.


"Stop! Sekarang aku antar kamu ke kamar untuk beristirahat." Rey menggendong Jovanka.


"Tapi Rey, aku––"


"Jangan banyak bicara. Hari ini aku tidak mengijinkanmu untuk bekerja." Reynand tidak ingin mendengar penjelasan dari istrinya. Dia terus berjalan hingga membaringkan tubuh istrinya lalu menyelimutinya dengan hangat.


"Istirahat, ya? Atau, mau aku ambilkan makan sekarang? Siapa tau kamu lapar?"


Jovanka menggeleng.


"Enggak. Aku mau istirahat dulu aja."


"Ya sudah, istirahatlah," ucap Rey sambil mengecup kening Jovanka.


Sepasang mata Jovanka telah terpejam. Rey masih duduk di tepi ranjang menemani istrinya. Setelah terlihat nyenyak, Rey pun bangkit dari tepi ranjang menuju kamar mandi.


Dia gegas mandi untuk bersepeda pergi ke kantor. Tidak begitu lama, kegiatan di kamar mandi pun telah usai. Dia berjalan lalu mengambil seragam kerja yang hendak dipakai hari itu dalam lemari.


Biasanya, Jovanka yang menyiapkan. Namun, pria tampan itu tidak tega untuk membangunkan istrinya. Terlebih hanya sekadar menyiapkan pakaian yang bisa dilakukannya sendiri.


Kini sosok pria tampan nan gagah telah terlihat pada cermin. Dia berdiri begitu gagah sangat mirip dengan Reyfan Adam sewaktu muda dulu. Gagah, tampan dan karismatik. Sosok pria yang membuat Nadin jatuh cinta dulu.


Reynand berjalan menuruni anak tangga setelah semuanya usai. Dia membawa tas ransel hitam lalu bergegas ke ruang makan.

__ADS_1


Di sana telah tersaji cukup banyak menu sarapan. Termasuk opor pesanannya. Pria itu segera mengambil nasi dan opor ayam yang diinginkan.


Wangi opor yang menggoda membuat pria itu bersemangat untuk sesegera mencicipinya.


"Emmm ... wanginya," ucap Rey kala opor ayam telah berada di dalam piringnya bersama nasi yang menjadi menu sarapan paginya.


Satu suapan telah meluncur yang disusul suapan-suapan lainnya.


Rasa opor yang sesuai dengan yang diharapkan, membuat dia lahap menyantap sarapan pagi walau tanpa ditemani sang istri tercinta.


"Bi, nanti bawakan sarapan untuk Jovanka, ya? Saya sengaja tidak bangunkan dia. Biarkan dia beristirahat dulu karena saya tidak mengijinkan dia untuk ke klinik hari ini," pinta Reynand pada asisten rumahtangganya.


"Baik, Den. Tapi sepertinya Non Jo––"


"Saya berangkat, Bi. Takut kesiangan. Saya titip Jo pada Bibi. Jaga baik-baik, ya?" Reynand berlalu pergi sebelum mendengar ucapan asisten rumahtangganya.


*


Waktu telah menunjukkan jam sembilan pagi. Namun, Jovanka masih belum juga menunjukkan batang hidungnya. Akhirnya, asisten rumahtangganya berinisiatif untuk membawa sarapannya ke kamar.


"Non? Non Jovanka?"


"Masuk aja, Bi!"


Pintu itu pun di dorong. Terlihat asisten rumahtangganya membawa nasi, sayur dan minuman di atas wadah agar semuanya bisa terbawa sekaligus.


"Sarapan dulu, Non." Asisten itu menaruh menu sarapan di nakas samping tempat tidurnya.


"Apa itu, Bi?"


"Nasi sama opor."


"Aduh ... aku gak mau makan opor, Bi. Buat Bibi aja."


"Lohhh ... tumben? Kenapa? Non Jo masih mual?"


Jovanka mengangguk.


"Iya, Bi. Makasih, ya? Maaf merepotkan."


"Gak papa, Non. Udah jadi tugas Bibi. Tunggu bentar, ya? Bibi ambilkan dulu."


Jovanka kembali memejamkan mata. Entah, dia merasa malas sekali setelah muntah-muntah pagi tadi. Matanya ingin selalu terpejam dan hawa malas begitu menyelimutinya.


Tidak berselang lama, asisten rumahtangganya pun kembali membawa mangkuk yang berisi sayur bening dengan macam-macam sayuran di dalamnya.


"Makasih, Bi," ucap Jovanka yang kini duduk sambil bersiap sarapan di atas ranjang.


Baru saja satu suapan, Jo kembali merasa mual. Dia langsung beringsut dari tempat tidurnya menuju kamar mandi setelah menitipkan sarapan paginya pada asisten rumahtangganya.


Hari itu Jo begitu tampak lemah. Jangankan nasi, camilan yang biasanya dia suka pun tidak dapat masuk ke perutnya. Dia hanya ingin tidur hari itu.


***


"Bibi panggil dokter aja, ya, Non?"


"Enggak usah, Bi. Tunggu Rey pulang aja. Bentar lagi juga pulang," ucap Jovanka ketika waktu telah menunjukkan hampir jam lima sore.


"Baiklah. Bibi permisi, ya, Non?"


Jovanka mengangguk.


Tanpa sepengetahuan Jovanka, asisten rumahtangganya menelepon Rey untuk melaporkan keadaan Jovanka.


"Halo, Den. Maaf, Den Rey udah sampai mana?"


"Lagi di jalan, Bi. Ada apa? Jo minta sesuatu?"


"Em ... anu. Itu, Den––" ucap asisten rumahtangganya terhenti.


"Anu apa, sih, Bi? Coba pelan-pelan biar jelas."


"Tolong jemput Dokter ke sini, Den."

__ADS_1


"Loh! Jovanka sakit? Kenapa bibi enggak bilang dari awal? Kenapa gak dari tadi Bibi panggil Dokter? Ya Tuhan ... Bi," ucap Rey yang terdengar begitu kesal.


"Maaf, Den, tapi––"


"Ya sudahlah, biar saya jemput sekalian. Jaga Jo baik-baik!"


Panggilan ponsel pun terputus dan Rey langsung memutar balik untuk menjepit dokter pribadi Mamanya dulu. Untung saja Dokter itu ada di rumah, hingga akhirnya bisa ikut dengan Reynand.


Wajah Rey sungguh terlihat khawatir ketika melihat istrinya yang terbaring saat itu.


"Sayang? Bangun, Yank," ujar Rey sambil menempelkan punggung tangan di kening Jovanka.


Sepasang mata indah perlahan terbuka.


"Rey?" ucap Jovanka dengan tatapan bingung ketika melihat Rey membawa seseorang bersamanya.


"Periksa dulu, ya?" ucap Rey ketika istrinya telah bangun dari tidurnya.


"A–aku, kan, enggak papa, Rey. Aku baik-baik aja," sanggah Jovanka yang memang merasa baik-baik saja.


"Tapi kata Bibi, kamu enggak mau makan dan tadi pagi pun sepertinya kamu terlihat lesu. Periksa dulu, ya?"


Jovanka terlihat menarik napasnya dalam lalu mengembuska perlahan.


"Baiklah," ucap Jovanka terlihat pasrah.


Rey mengajak asisten rumahtangganya untuk keluar dan memberikan kesempatan pada dokter untuk memeriksa keadaan istrinya.


Di depan pintu, Rey terlihat mondar-mandir. Ekspresi wajahnya terlihat gelisah ketika menunggu dokter yang sedang memeriksa istrinya.


"Den, Non Jovanka pasti baik-baik aja, kok," ujar asisten rumahtangganya berusaha menenangkan sang majikan.


Rey tidak menjawab. Kakinya terus saja mondar-mandir dan telinganya seakan tuli, tidak mendengar ucapan asisten rumahtangganya itu. Dia begitu terlihat mengkhawatirkan keadaan istrinya.


"Den––" ucapan asisten rumahtangganya terhenti kala pintu kamar terbuka.


"Gimana keadaan istri saya, Dok?"


Dokter itu tersenyum.


"Masuklah dulu, Pak," titah sang dokter begitu ramah.


Rey melangkah cepat lalu memeluk Jovanka. "Kamu gak papa, kan, Sayang?"


Jo menggeleng.


'Ehm!' Dokter itu berdehem dan Rey pun melepaskan pelukannya.


"Maaf, Pak. Ini resep yang harus dibeli." Dokter itu memberikan selembar kertas pada Reynand.


"Sebenarnya istri saya sakit apa, Dok?" tanya Rey tatkala meraih kertas yang bertuliskan nama obat tanpa dia baca.


"Istri Bapak baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Saya permisi, ya, Pak?" ucap sang dokter yang membuat Rey merasa bingung karena merasa tidak mendapat penjelasan yang gamblang darinya.


"Maksud Dokter?" Mata Rey menyipit.


"Biarkan Bu Dokter pulang, Sayang. Nanti aku yang akan menjelaskan," ucap Jovanka dengan seulas senyuman.


Dokter itu pun berlalu diantar oleh asisten rumahtangganya yang meninggalkan Rey dan Jovanka berdua dalam kamar.


Jovanka tersenyum yang membuat Rey semakin bingung. Wanita itu memberikan benda kecil seperti lidi berwarna putih dan bergaris merah dua pada Reynand.


"Apa ini?"


"Alat tes kehamilan."


"Kamu hamil?" Mata Rey membulat dan Jovanka mengangguk.


"Serius?"


"Iya."


Tidak ada kata dari bibir Reynand. Dia mendekap erat Jovanka dan mengucap syukur banyak-banyak dalam hatinya atas anugerah yang begitu luar biasa di hari itu. Mungkin saja kalau dia tidak merasa malu, air mata kebahagiaan pun terjatuh. Namun, Rey menahannya tanpa mengurangi rasa syukur pada Rabb yang memberikan kebahagiaan sempurna dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2