
Reynand berjalan gontai saat menuruni anak tangga dari pesawat. Berjalan menuju ruangan kemudian duduk sejenak di kursi kerjanya. Pakaian dia sudah semrawut, bahkan dasi pun entah terpasang seperti apa. Berantakan.
"Heh, pengantin baru! Kusut amat, lu? Belum juga malam udah kek orang habis diperk*sa," goda Elang yang baru datang juga.
"Hillih! Kek tau aja malam pertama seperti apa, lu, Bang? Nikah dulu makanya biar tau," ketus Rey dengan mata mendelik.
"Hahaha ... bisa aja ngebalikinnya, lu, Rey! Gak sia-sia dulu lu diangkat jadi co-pilot, otak lu emang encer ternyata."
Rey tidak menjawab, hanya memandang Elang yang berada di depannya. Mereka duduk hanya terhalang meja kerja saja.
"Bay the way, kenapa lu masuk ruangan kerja gue, Bang? Ada perlukah?"
"Bang lagi, Bang lagi. Setua itu, kah, wajah gue di mata lu, Rey?" Elang mengangkat sebelah alisnya ketika menatap Reynand.
Reynand terbahak tatkala Elang bertanya seperti tadi. Kata-kata sederhana bahkan hanya beberapa saja tapi dapat membuat Reynand tertawa lepas. Capek yang melanda cukup terlupakan setelah dia mengobrol dengan Elang.
Kebetulan, jam kerja Reynand saat itu selisih satu jam dengan Jovanka. Sehingga dia dapat mengobrol banyak hal dengan Elang.
Tak ayal keduanya pun seolah saling menjatuhkan. Elang yang sok tahu dan Reynand orang yang cukup pandai untuk me-nyekak omongan Elang.
Hingga tidak terasa satu jam berlalu, Elang dan Reynand menghabiskan waktu hanya untuk bercerita. Elang yang kepo dengan malam pertama dan Reynand yang mati-matian menutupinya, karena menurut Rey, hal seperti itu tidaklah baik untuk diumbar.
"Yodah, balik sono! Istri lu pasti udah nungguin di klinik," kata Elang sambil memainkan ponsel di tangannya.
"Helleh! Bilang aja, lu udah ditungguin sama Salsa."
"Ampoon! Ni anak walau usai lu lebih muda dari gue, tapi sumvah, otak lu encer banget," ucap Elang sambil menggeleng.
Rey hanya tersenyum, dia memang tidak banyak bicara. Namun, sekalinya bicara bisa membuat orang tidak berkutik, salahsatunya Elang.
Elang dan Reynand keluar dari ruang kerja dengan membawa tas hitam dan berjalan dalam area bandara. Elang yang masih berpakaian rapi, sedangkan Rey begitu berantakan.
Di persimpangan, Reynand dan Elang terpisah. Elang yang berjalan menuju lobby parkir. Sedangkan Reynand berbelok menuju klinik di tempat istrinya bekerja.
Benar saja, Jovanka sudah menunggu Reynand di kursi stenlis yang ada di depan klinik. Senyum hangat tersimpul di bibir merah muda Jovanka pun dengan Rey yang ceria ketika melihat sang istri.
"Udah dari tadi?" tanya Reynand ketika sudah berhadapan dengan Jovanka.
"Enggak, baru lima menitan aku duduk di sini. Ya Tuhan ... Sayang, kamu habis kerja atau habis diperko––" ucap Jovanka terhenti sambil menahan tawa. Dia begitu geli melihat penampilan suaminya yang benar-benar berantakan.
"Hmmm ... enggak Bang Elang, enggak istri, kalian sama aja!" ketus Reynand.
"Bang Elang? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Siapa dia?"
"Itu, pilot yang membawa kita bulan madu kemaren. Kawan kerjaku."
Seketika tawa Jovanka pecah karena memang apa yang dikatakan Elang itu seratus persen benar adanya. Suaminya memang terlihat seperti korban perk*saan.
"Ya Tuhan ... puas sekali kamu menertawakan aku, Sayang?" ujar Rey yang kini mendekap tubuh istrinya.
"Eh, lepasin! Malu, Sayang," pinta Jovanka yang merasa hal itu tidak pantas untuk dilakukan walau mereka berdua sepasang suami istri karena ada di tempat umum.
"Biarin! Biar semua orang tau kalau kamu itu istri aku."
__ADS_1
"Idih ... bikin aja pengumuman besar diiklan yang mau masuk bandara. Biar semua orang tau."
"Boleh juga idemu."
Jovanka mencubit perut Reynand yang membuat suaminya menjerit kaget.
"Wadaw! Sakit, Jo."
"Rasain!"
"Udah dicubitnya kecil, diputer pula. Sempurna," ujar Rey yang telah melepaskan pelukannya.
"Sempurna seperti aku, ya, Yank?" ujar Jovanka dengan seulas senyum.
"Hm'm!" Reynand mencubit hidung Jovanka. "Ya udah, ayok, pulang!" Rey menggenggam jemari istrinya.
"Tunggu dulu!" pinta Jovanka.
"Apa lagi?" Rey menyipitkan mata.
"Sini." Jovanka merapikan dasi dan kemeja Rey yang berantakan. Tidak memerlukan waktu yang lama. Tidak juga dalam hitungan menit, penampilan Rey sudah kembali rapi dan gagah di depan mata Jovanka.
"Nah ... baru terlihat gagah!" ucap Jovanka sambil mencubit gemas hidung mancung Reynand dengan kaki yang berjinjit.
"Sayang," panggil Rey.
"Iya."
"Tinggiin badan kamu biar kalo mau cubit hidung aku enggak jinjit kakinya," ledek Rey sambil bersiap lari.
***
Rey sudah berada di dalam mobil. Sementara Jovanka terlihat berjalan menuju mobilnya.
Jovanka menggedor kaca mobil karena Rey mengunci dari dalam. Hufff ... mereka seperti anak kecil saja.
"Bukain!" pinta Jovanka kesal.
"Gak! Janji dulu enggak bakal cubit aku," jawab Rey dari dalam mobil.
"Iya. Cepat buka, udah kayak ABG lagi marahan aja," ujar Jovanka.
Pintu mobil pun telah terbuka, bibir Jovanka menyeringai seolah sudah ada rencana licik dalam kepalanya. Tanpa ada rasa curiga, Rey memutar kunci mobil lalu terdengarlah suara mesin.
"Aduuhhh ...." Rey nyengir ketika telinganya dijewer Jovanka.
"Coba kamu bilang yang tadi?"
"Yang mana?" tanya Rey masih nyengir.
"Itu, yang katamu nyuruh aku."
"Nyuruh apa, ya Tuhan ... tolong yang jelas, Sayang."
__ADS_1
"Nyuruh aku tinggi biar aku enggak jinjit!" ujar Jo dengan bibir mengerucut serta mata yang mendelik kesal.
"Oh ... itu." Rey sedikit tersenyum karena tangan Jovanka masih menjewernya.
"Ah, oh, ah, oh! Mau ngomong apa?" Jovanka malah semakin kesal.
"Iya lepasin dulu, sakit, Sayang."
Jovanka tidak mendengar. Dia masih menjewer telinga Reynand.
"Sayang, pleaseee ... lepasin, ya?"
"Ya udah!" Jovanka pun melepaskan tangannya lalu melipatnya di dada.
Reynand meraih kedua tangan Jovanka. Kini, dua pasang mata saling menatap lekat dengan debar yang semakin kencang.
"Aku minta maaf," ujar Reynand lalu tertunduk di depan Jovanka.
"Kamu ngeselin," lirih Jovanka. Dia tidak menangis, tapi sepertinya kesal sekali karena Rey malah lari meninggalkan dirinya di depan klinik.
"Tapi ngangenin, kan?" ujar Reynand yang mengangkat pandangannya.
"Pede!"
"Woiya pasti."
"Dih!"
"Sayang sama aku, kan?" tanya Reynand.
"Enggak!"
"Yakin?" Reynand menaikan satu alisnya.
"Iya!"
"Serius?"
"Iya! Mau apa?"
Tidak ada lagi kata-kata dari bibir Reynand. Pria itu meraih tengkuk Jovanka lalu menempelkan bibirnya pada Jovanka.
Dalam lobby parkir yang minim penerangan, Reynand malah mencium bibir Jovanka, padahal Jovanka berusaha untuk menyudahinya. Namun, tenaga Reynand lebih kuat sehingga Jo hanya bisa memukul-mukul lengan Rey saja agar melepaskan mulut yang membungkam bibirnya.
"Aku udah jawab barusan."
Pipi Jovanka bersemu merah karena Rey begitu lembut mencium bibir merah mudanya. Walau Rey sedikit memaksa Jovanka.
"Mau tanya apa lagi?" sambung Rey karena Jovanka tidak menjawab.
Jo menggeleng.
"Pulang," pinta Jo pelan.
__ADS_1
"Tapi aku mau menciummu lagi. Boleh?" goda Reynand.
"REYNAND?" Mata Jovanka membulat mendengar permintaan suaminya. Sedangkan Rey tertawa puas ketika melihat ekspresi Jovanka yang menurutnya menggemaskan.