Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 18 (Kecewa)


__ADS_3

Sosok wanita cantik terlihat dari balik pintu cafe, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe itu.


“Emillia?” Netra Alexy terbelalak.


Emillia melenggang mengarah ke meja Alexy yang tengah menikmati secangkir kopi panasnya.


“Lex, boleh Aku duduk?” tanya Emillia.


“Silakan, ada apa, Mi?” tanya Alexy heran.


“Enggak ada apa-apa. Aku mau ngobrol santai saja sama kamu, Lex.” Emillia duduk di kursi, tepat di depan Alexy.


“Oh ... Kirain ada perlu penting. Tapi, kok kamu tahu kalau Aku ada di sini?” Alexy mengernyitkan dahinya, heran.


“Aku tadi ke Klinik. Tapi, katanya kamu udah pulang. Aku telpon hape mu gak aktif. Terpaksa Aku telpon ke rumahmu. Tapi, kata asisten rumah tanggamu, katanya kamu belum balik. Yaa ... Aku inisiatif aja datang ke mari untuk memastikan. Ternyata emang bener kan, kamu ada di sini?” Emillia menerangkan panjang lebar.


Alexy merogoh hand phone yang ada di saku celananya, dan memang benar adanya. Kalau hand phone-nya sedang tidak aktif, ia tersenyum mendengarkan Emillia.


Mereka berbincang dengan ditemani secangkir kopi pelepas stres tentang hidup yang mereka alami. Hingga akhirnya, cafe pun akan segera tutup. Alexy dan Emillia memanggil waitress untuk melakukan pembayaran. Namun, semua waitress tengah sibuk membereskan meja-meja yang telah di tinggal pelanggannya. Rey berinisiatif untuk menggantikan mereka, menghampiri meja customer.


“Iya, Pak. Ada yang bisa dibantu?” Rey menghampiri meja itu.


“Rey?” Emillia membulatkan matanya.


Rey tersenyum, “Tante Emi.”


Rey agak bingung untuk menjelaskan kepada Emillia ketika ia kepergok ketahuan telah bekerja di tempat lain. Karena Rey meninggalkan pekerjaannya sebagai guru les matematika pada waktu itu.


“Kamu kerja di sini?” tanya Emillia.


Hening.


Sejenak. Rey memutar otaknya untuk memberi jawaban apa pada Emillia agar ia tidak tersinggung.


“Iya, Tan. Maaf, Rey gak ngajar lagi Nourma. Rey udah ke terima kerja di sini. Makanya Rey mundur dari pekerjaan Rey sebagai guru les anak tante.” Rey beralibi.


“Tapi kan, Rey bisa terus terang," ucap Emillia.


Di tengah perdebatan kedua orang ini. Alexy merasa seperti patung yang hanya bisa menyimak tanpa bisa berkata apa-apa.


“Maaf, Tan. Rey gak jujur. Rey takut Tante tersinggung.”


Emillia tersenyum, “Ya ... Enggak lah. Gak papa kok. Nourma juga udah mau ikut les di luar.”


“Syukur lah.” Rey menghempaskan napas, lega.


Alexy memperhatikan wajah Rey. Ia merasa tak asing dengan wajah ini. Ia sedikit mengingat tentang wajah yang pernah ia lihat.


“Vicky. Iya! Kamu temannya Vicky yang dulu dirawat di Klinik Saya, kan?” Alexy teringat.


“Iya.” Wajah Rey juga sedikit mengingat akan sosok laki-laki ini. “Dokter Alexy Abinaya?” Rey menyapa.


“Iya. Rupanya, kamu masih mengingat saya.”


Alex dan Rey berjabat tangan.


Mereka sama-sama tertawa bisa dipertemukan di cafe ini.


Akhirnya. Emillia dan Alexy membayar kopi yang mereka pesan dan meluncur meninggalkan cafe dikarenakan cafe akan segera tutup.


***


“Rey, sehabis sekolah. Kita singgah ke cafe bentar, Yuk? Di ....” Belum juga diteruskan, Rey telah memotong perkataan Jovanka.


“Maaf, Jo. Gue harus kerja.” Ucap Rey pada Jovanka.


Jo terlihat kecewa dengan penolakan kekasihnya ketika ia mengajak ke cafe favoritnya.


“Maaf ya, Jo. Mungkin lain kali kita bisa ke cafe bersama.” Rey merasa malu. Ia belum gajian, belum bisa mentraktir pacarnya.


Rey merasa minder. Tiap kali jalan bareng Jovanka, yang sering mengeluarkan uang adalah Jovanka bukan dirinya. Maklumlah, Rey tidak mempunyai banyak uang karena ia hidup mandiri tanpa bantuan dari orang tuanya.


Jangankan untuk mentraktir kekasihnya. Untuk biaya sekolah saja, Rey merasa kesulitan.


.


Jam pelajaran dimulai. Jo dan Salsa masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya. Apalagi, mereka telah mendekati ujian nasional. Jadi, mereka benar-benar dituntut untuk lebih fokus belajar untuk mencapai nilai kelulusan.


Jo sengaja tukaran tempat duduk kepada salah satu temannya. Ia memilih duduk di kursi paling belakang agar tidak menjadi sorotan guru pengajar.


Bel istirahat berbunyi. Pertanda istirahat sudah tiba. Guru pengajar pun sudah keluar dari dalam kelas yang dibarengi oleh siswa dan siswi yang berhamburan di tiap pintu kelas.

__ADS_1


Salsa mendekati Jovanka. Karena, sedari tadi ia terlihat cemberut.


“Jo,” sapa Salsa yang tengah duduk di sampingnya.


“Iya!” Jo menatap Salsa.


“Kamu kenapa?” tanya Salsa dengan hati-hati.


“Gak papa.” Ekspresi wajah Jo datar.


“Jangan bohong!” Salsa mendesak.


“Enggak.”


“Ya udah, istirahat, yuk?” Ajak Salsa.


“Enggak ah, Gue gak laper.” Jo berkilah.


“Tuh, kan ... Cerita lah. Yuk, cerita di kantin?” Salsa kembali mengajak Jo.


Hening.


Jovanka masih duduk di bangku kelasnya dan tidak berkata apa-apa. Ia tidak menyangkal tapi tidak juga membenarkan perkataan Salsa, teman baiknya.


“Jo! Jujur, kamu kenapa?” Mata Salsa penuh dengan selidik.


“Nanti aja, sepulang sekolah kita ke cafe tempat biasa, ya? Aku butuh ketenangan.” Jovanka menerangkan.


Seiringnya bertambah usia. Bahasa gaul merekapun mulai ditinggalkan.


***


Di tempat lain. Ada Rhiena yang sedang menenangkan mamanya. Mamanya ingin bertemu dengan Rey. Karena mimpi buruk.


“Na. Ayok antar Mama menemui Abang mu!” Ajak Nadin yang tak lain ibu kandung Rhiena dan Reynand.


“Kata Abang belum saatnya, Ma. Mama yang sabar, ya? Abang baik-baik saja kok, di sana.” Rhiena meyakinkan.


“Kamu yakin? Tapi mama ingin bertemu, Abangmu, Nana.” Netra Nadin berkaca-kaca.


“Sabar ya, Ma. Kalau Nana paksakan. Nana takut, Abang pindah lagi kost-nya. Nanti, kita malah tidak ada yang mengetahui di mana Abang berada," ucap Rhiena.


Hening.


Apa benar ini hanya bunga tidur? Tapi Aku takut itu menjadi kenyataan. Ya Allah, di mana pun anak hamba berada. Semoga Engkau selalu menjaganya. Pinta Nadin dalam hatinya.


Bagaimanapun juga, naluri seorang ibu memang tajam terhadap anaknya. Mungkin, ini yang dinamakan ikatan batin antara ibu dan anak.


“Mama yang tenang, ya? Nanti Nana cari info tentang Abang.” Rhiena kembali menenangkan.


Rhiena membawa Nadin masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Tubuhnya yang tak lagi muda itu telah terbaring di atas ranjangnya. Rhiena mengecup kening mamanya dan menyelimuti kakinya dengan selimut.


“Mama istirahat, ya?” ucap Rhiena.


Nadin menganggukkan kepalanya dan memejamkan matanya yang terlihat lelah. Entah karena khawatir, ataukah karena capek dengan pekerjaannya di kantor.


Rhiena keluar dari kamar mamanya. Ketika melihat mamanya telah tertidur pulas. Ia masuk dalam kamar lalu mengambil hand phone yang tergeletak di atas nakas.


Rhiena menyentuh layar gawai dan mencari nama Reynand, lalu menelepon kakak kembarnya.


Tut! Suara menyambungkan telepon.


‘Hallo ....’ Terdengar suara dari seberang sana.


‘Abang?’ Rhiena menjawab.


‘Iya, Na. Ada apa?’ tanya Rey.


‘Apa abang gak bisa sekolah di Jakarta?’


‘Memang kenapa, Na?’ Rey merasa heran dengan pertanyaan adiknya.


‘Tadi mama menangis. Katanya mimpi buruk tentang abang. Apakah abang baik-baik saja?’


‘Iya. Abang baik-baik aja kok.’


‘Abang yakin, gak lagi bo’ongin Nana?’


‘Iya. Abang gak lagi bo’ongin Nana.’


‘Bang ....’ sambung Rhiena lagi.

__ADS_1


‘Hem.’ Rey berdehem.


‘Abang janji sama Nana, ya?’


‘Janji apa?’


‘Kalau abang ada masalah. Kasih tau Nana!’


‘Iya. Udah dulu ya, Na. Abang ada urusan.’


'Iya. Abang baik-baik di sana, ya? Nana harap, abang bisa sekolah lagi di Jakarta. Biar kita bisa kumpul lagi seperti dulu." Rhiena mengakhiri.


Tut! Hand phone dimatikan.


***


Rey pulang sekolah bersama Vicky. Ia melaju ke kost dengan kecepatan sedang. Jo sudah tak terlihat di kelasnya. Mobilnya pun tidak ada di parkiran sekolah.


Apakah Jo ngambek sama Gue, ya? Ucap dalam hati Reynand.


Ternyata, Jo sudah meluncur ke cafe favoritnya bersama Salsa. Ia bermaksud mencurahkan perasaannya kepada Salsa, sahabat terbaiknya.


Jo dan Rey memang jarang bertemu. Tidak seperti orang yang sedang pacaran kebanyakan, yang sering sekali bertemu untuk sekedar jalan, menghabiskan waktu bersama.


Bukan Rey tidak sayang pada Jovanka. Rey memang beda dengan pria yang ada di sekolahnya. Rey membiayai hidupnya sendiri tanpa bantuan dari orang tuanya. Sehingga, ia harus bekerja. Hampir seluruh waktunya habis untuk sekolah dan bekerja. Tapi, Jovanka kadang tidak mengertikan hal itu. Mungkin, karena ia belum pernah merasakan hidup mandiri.


.


Alexy mengirim pesan pada Emillia. Ia meminta Emillia untuk datang ke cafe. Setelah itu, Alexy langsung meluncur ke cafe.


Seperti biasa, Alexy di sambut oleh waitress. Ia memesan kopi favoritnya dan menunggu Emillia di meja pojok seperti biasa.


Ting! Suara bel yang menandakan pintu cafe terbuka.


Alexy menoleh dan ternyata Emillia yang muncul di balik pintu yang terbuka itu. Alexy melambaikan tangannya.


“Sorry agak lama,” ujar Emillia.


“Gak papa. Kamu gak lagi kerja kan hari ini?” tanya Alexy.


“Iya. Aku libur hari ini. Ada apa, Lex?” Emillia meletakan tasnya di atas meja.


“Aku telah menemukan wanita yang membuat hatiku tak karuan, Mi.” Ucap Alexy menggebu.


“Maksudnya? Kamu jatuh cinta, Lex?” Emillia menyipitkan matanya.


“Entah. Hatiku jadi tak karuan, Mi. Tiap waktu wajah itu menggangguku. Wajahnya selalu ada dalam benakku.”


“Alhamdulillah, itu tandanya kamu sedang jatuh cinta Alexy. Sama siapa?”


“Entah.”


Emillia heran.


“Kamu gimana sih? Katanya jatuh cinta. Tapi tak tau dengan siapa!”


“Aku baru satu kali melihatnya, Mi. Dia itu cantik, masih muda, selalu tersenyum ceria dan senyumnya itu membuatku selalu teringat wajahnya, Mi.”


“Terus, gimana kamu bisa mendekatinya, Lex?”


“Entah. Tapi, Aku yakin kalau jodoh enggak bakal ke mana.”


Ting! Pintu cafe terbuka.


Mata Alexy terbelalak ketika melihat wanita yang sedang ia bicarakan ternyata ada di depan mata. Alexy terpana. Waktu seakan terhenti ketika gadis itu memilih meja yang tak jauh dari mejanya.


“Kamu kenapa, Lex?” tanya Emillia.


“Dia ada di sini, Mi.”


“Mana?”


Alexy menunjuk ke meja itu, "Namanya Naura." Alex menyebutkan namanya.


Jo? Alexy mencintai Jovanka? terucap dalam hati Emillia.


..


Bersambung..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2