Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
131. Lamaran


__ADS_3

Malam pun tiba. Sekitar jam tujuh malam, Vicky melesat ke apartemen sementara yang dihuni oleh Rhiena dan Nadin. Tubuh pria itu tampak gagah mengenakan kemeja yang didobel dengan jas model slim fit warna abu-abu serta rambut yang ditata rapi.


Mobil melaju cukup kencang seolah membelah jalanan yang tidak begitu banyak kendaraan. Lampu-lampu jalanan berwarna oranye menerangi jalanan aspal di Surabaya.


Perasaan Vicky campur aduk. Antara senang, takut dan juga malu kalau saja Rhiena menolaknya. Namun dia tetap harus memberanikan diri demi meminang pujaan hatinya.


Setelah melewati perjalanan cukup panjang, Vicky pun sampai di apartemen elite di Kota Surabaya. Gedung-gedung pencakar langit berdiri tegak di kiri dan kanannya.


Vicky keluar dari mobil hitamnya, dia melangkah masuk menuju apartemen yang tidak jauh dari pintu utama.


Vicky memijit bel apartemen. Tidak begitu lama, pintu itu pun terbuka dan terlihat wanita paruh baya yang masih cantik telah mengenakan baju tidur.


"Malam, Tante. Nana-nya ada, kan?"


Nadin tersenyum dan menyambut hangat kedatangan Vicky. Terlebih, dia telah mengetahui itikad baik pemuda yang seumuran dengan putra dan putrinya.


"Ada. Silahkan masuk, Nak Vicky." Nadin membuka pintu lebar yang disertai lengkung indah dari bibirnya.


Vicky pun mengangguk, tersenyum lalu mengikuti Nadin.


"Silahkan duduk, Nak Vicky. Biar saya panggilkan Nana," ucap Nadin.


"Baik Tante. Terima kasih," ucap Vicky yang kemudian duduk di sofa berwarna hitam.


Sedangkan di dalam kamar, Nana terlihat tertelungkup di atas ranjang. Matanya terlihat khusuk menatap layar laptop. Sehingga, dia tidak menyadari ketika Nadin masuk ke kamarnya.


"Sayang?" sapa Nadin sambil mengusap kepala putrinya.


"Eh, Mama?" ujar Rhiena yang langsung menutup layar laptop, "ada apa, Ma?" tanya Jovanka ketika duduk di atas ranjang.


"Ada Nak Vicky di depan. Temui, gih," titahnya sambil menyelipkan rambut putrinya.


"Kak Vicky? Mau apa?" tanya Rhiena dengan kening mengernyit.

__ADS_1


Nadin hanya mengangkat kedua bahunya dengan seulas senyum pertanda dia tidak tahu apa yang akan Vicky lakukan. Padahal, dia hanya berpura-pura saja.


"Hmm ... ya udah, Nana ganti baju dulu, Ma. Enggak enak kalo nemuin dia pakek baju tidur kayak gini," ucap Rhiena.


"Ya sudah, Mama ke ruang tamu untuk nemuin Nak Vicky, tapi habis itu Mama mau tidur, ya? Udah ngantuk," ujar Nadin yang gegas ke luar kamar putrinya.


"Kok, Mama aneh? Tumben-tumbenan baru jam tujuh lewat udah mau tidur aja," batin Rhiena yang merasa aneh pada kelakuan ibunya.


Rhiena tidak terlalu mengambil pusing. Dia gegas mengganti bajunya dengan mini dress warna maroon yang begitu kontras ketika melekat di tubuhnya.


Kembaran dari Reynand itu terlihat cantik dengan tinggi badan yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan tubuh imut Jovanka. Sepatu high heels telah melekat di kakinya menambah kesan elegan padanya.


Rhiena berjalan mendekat ke ruang tamu. Dia sempat melihat pintu kamar rumahnya yang tertutup dengan jendela kamar yang telah gelap.


"Kak Vicky?" sapa Rhiena yang cukup membuat Vicky terkejut karena dia telah menunggu waktu yang lama.


"Nana?" Mata vicky membulat kala melihat calon istrinya yang terlihat semakin cantik.


"Ada apa, Kak?" tanya Rhiena ketika dia sudah duduk di depan Vicky.


Rhiena mengangguk dengan bibir tersenyum. Tidak dimungkiri, kalau gadis berperawakan jangkung serta wajah yang cantik itu merasa bahagia. Untung saja, dia sudah berpenampilan rapi.


Vicky dan Rhiena pun berjalan bersama-sama menuju pintu. Vicky dan Rhiena sama-sama gerogi ketika mata mereka saling menatap intim. Mereka sama-sama memalingkan pandangan ketika cukup lama saling menatap.


"Eh, maaf," ucap Vicky ketika tangannya menimpali jemari lentik Rhiena ketika sedang memegang kenop pintu.


"Iya, gak papa," kata Rhiena dengan seulas senyum dan pipi merona.


Vicky dan Rhiena sama-sama menuju pada mobil yang telah terparkir di lobby parkir. Vicky yang lebih dulu membukakan pintu mobil untuk Rhiena.


"Silakan," ujar Vicky kala pintu mobil telah terbuka.


Keduanya telah berada dalam mobil. Deru mesin mobil pun telah terdengar dan rodanya kini berputar.

__ADS_1


Perjalanan mereka berdua ditemani kebisuan. Hanya klakson motor dan mobil yang menjadi teman. Rhiena yang malu harus bicara apa karena malam itu Vicky terlihat begitu tampan dengan perlakuan lembut yang membuatnya tidak dapat berpaling. Sedangkan Vicky sedang mempersiapkan kata-kata bagaimana cara agar lamarannya diterima.


Hingga akhirnya mereka telah sampai disalah satu restoran ternama di Kota Surabaya. Suasana di dalam cukup ramai. Tatanan ruang yang begitu apik dan berkelas membuat rasa keintiman begitu terasa.


Vicky menarik kursi mempersilahkan sang pujaan hati untuk bersegera duduk. Meja yang tertutup oleh kain berwarna putih serta bunga mawar merah yang ada di pas dari kristal yang sungguh terlihat bening.


Tidak berselang lama, para pelayan berseragam putih yang didobel oleh rompi hitam mendekat pada meja mereka untuk menghidangkan menu makan malam yang ternyata telah dipesan oleh Vicky.


Hari itu hari yang sangat membahagiakan untuk Rhiena. Di mana dia sedang berada di tempat indah nan mewah dengan pujaan hatinya. Mereka berdua menikmati makan malam begitu romantis.


Jantung Vicky berdegup kencang tatkala tangannya mulai meraih jemari lentik Rhiena.


Wajah Vicky terlihat ragu sedangkan wajah Rhiena terlihat heran dan menyimpan banyak pertanyaan.


"Na?" Vicky memanggil dengan suara berat. Degup jantungnya kian mengencang ketika harus menatap wajahnya.


Rhiena tidak menjawab, tetapi dapat terlihat dari sorot matanya, kalau dia begitu penasaran dengan apa yang akan Vicky ucapkan.


"Malam ini aku––aku ingin kamu menjadi istriku."


"Maksudnya?"


"Aku ingin melamarmu malam ini dan akan mengadakan resepsi setelah kamu benar-benar mau menerimaku.


"Tapi Kak Vic–– Bagaimana dengan Mama dan Kak Rey?" tanya Rhiena yang merasa bingung. Sebenarnya, dalam hati yang paling dalam, Rhiena benar-benar bahagia ketika mendengar permintaan kekasihnya.


"Tidak usah panik. Mereka sudah menerimaku. Semua tinggal keputusanmu, Na. Baik Mama dan juga Rey sudah mengizinkan."


Perasaan Rhiena bercampur aduk. Rasa bahagia, takut, sedih, tidak percaya dan terasa mimpi karena bahagia telah menjadi satu dalam dirinya. Ingin mengatakan 'iya', tetapi takut dikira terlalu gampangan. Ingin menjawab tidak, dia takut kehilangan sosok Vicky yang dewasa, penyayang, pengertian dan begitu sempurna cara dia menyayanginya. Dilema. Rhiena bingung utnuk menjawabnya.


"Na?" Vicky memanggil karena sedari tadi Rhiena tidak mencetuskan apa-apa. Malah, Rhiena seolah asyik dengan lamunanya.


"Em–– maaf, Kak. Aku enggak bisa––" ucap Rhiena terhenti tatkala napas Vicky yang terdengar mengembuskan napas pasrah.

__ADS_1


Tubuh Vicky terasa lemah ketika mendengar jawaban dari Rhiena baru saja.


__ADS_2