
Sejenak Rhiena terdiam melihat raut wajah Vicky ketika menatapnya dan genggaman erat tangannya yang semakin menghangat. Ruangan yang sunyi kini terasa hangat bersama kekasih yang telah sadar dari pingsannya.
Tidak dipungkiri bahwa perasaan Rhiena saat itu begitu bahagia ketika menyaksikan Vicky baik-baik saja, tanpa amnesia tentunya.
"Na?" Vicky memanggil lalu Rhiena kembali duduk.
"Aku– aku––" kata-kata Rhiena terjeda sedangakan Vicky semakin tidak keruan menunggu jawaban Rhiena. Sama persis ketika dia meminta Rhiena untuk menjadi istrinya kemarin, sebelum terjadinya hari yang nahas.
Rhiena mengangguk tanpa kata. Apa itu artinya? Rhiena hanya membuat pria yang memakai perban di kepalanya harus berpikir keras. Ditolak atau diterima? Gumam Vicky mencoba menebak-nebak dalam hatinya.
"So?" Vicky menyipitkan mata seolah ingin mendengar jawaban dari Rhiena.
"Aku mau menjadi istrimu, Kak." Rhiena berucap yang membuat Vicky membulatkan matanya tidak percaya.
"Apa aku tidak salah mendengar, Na?"
Rhiena menggeleng, tetapi dengan pandangan tertunduk.
Hati Vicky begitu bahagia ketika impiannya menjadi nyata. Pria itu meraih jemari tangan Rhiena hingga wanita yang ada di sampingnya itu mendongakkan pandangan.
"Kak Vicky?" gumam Rhiena ketika mereka saling memandang.
"Aku tidak tau jasku di mana? jas yang aku kenakan ketika hendak melamarmu di acara makan malam itu. Apa kamu tau, Na?" tanya Vicky kala menggenggam jemari Rhiena.
"A-aku gak tau, Kak. Memangnya kenapa?"
"Ada yang kucari dari jas itu. Bolehkan kamu menanyakan pada pihak rumah sakit?" pinta Vicky.
"Baiklah, aku coba tanyakan dulu. Gak papa, kan, kalau Kakak aku tinggal sebentar?"
Vicky tersenyum lalu mengangguk.
Rhiena memberikan ponsel milik Vicky kemudian berjalan keluar untuk menanyakan jas yang dipakai Vicky ketika dia mengalami kecelakaan.
Tidak berselang lama, Rhiena membawa jas milik Vicky lalu menyerahkan pada pria yang sedang menggenggam ponsel.
"Ini, Kak," ucap Rhiena ketika mengulurkan jas yang ada di tangannya.
Vicky meraihnya, "Makasih, Na."
Rhiena mengangguk dengan seulas senyum lalu duduk di kursi yang berada di samping Vicky.
Pria itu mulai memeriksa jas yang sudah ada di tangannya. Satu tempat berbentuk hati berwarna merah yang halus itu kini ada di tangannya. Vicky memakai jas tersebut membuat Rhiena membelalak.
Vicky meraih tempat cincin berbentuk hati lalu membukanya. Di dalam sana ada cincin bertahtakan berlian cukup besar dengan model simpel tidak banyak ukiran atau permata-permata kecil lainnya.
"Ini untukmu, Na." Vicky membukakan tempat cincin yang berbentuk hati pada Rhiena.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Rhiena ketika melihat benda bulat berbentuk ring yang bertahtakan berlian. Lalu dia memandang Vicky untuk meminta penjelasan.
"Sebagai pengikat, Na. Aku ingin bertunangan tapi tidak sekarang dan aku ingin tidak terlalu lama kita menikah, ya?"
"Tapi, Kak––"
Telunjuk Vicky telah membungkam kata yang ada di bibir Rhiena. Wanita itu pun terdiam, kini mata mereka saling menatap seolah berbicara melalui pandangan mata.
"Setelah aku sehat, aku kan segera melamarmu di depan Mama dan Rey, Kakakmu. Semoga dia bisa ke sini untuk menghadiri pertunangan kita."
"Abang sepertinya engga bisa, Kak."
"Why?"
"Kak Jovanka lagi hamil."
"Ya sudah, atur waktu untuk ke Jakarta. Aku ingin bertunangan langsung disaksikan oleh Abangmu yang gak lain sahabatku, Na," kata Vicky yang sedang memegang kedua pundak Rhiena.
"Baik. Nanti aku kasih tau Mama."
"Bukan kamu, tapi kita. Aku pun ingin memberitahukan kabar ini pada Tante Nadin."
Keduanya saling melempar senyum.
***
Tidak begitu lama, Rey terlihat dari dalam kamar berjalan menuju ke arahnya. Rey sedang melipat lengan kemeja panjangnya serta menjepit kunci mobil di bibirnya.
"Ya Tuhan ...." ucap Jovanka yang lalu mengambil kunci mobil yang ada di bibir Reynand.
Reynand tersenyum.
"Kan, bisa ditaruh di saku, Sayang," ucap Jovanka sambil memasukan kunci itu ke saku kemeja Reynand.
"Eh, iya, lupa. Tadi aku buru-buru. Mana aku ingat ada kantung kemeja?"
"Alasan!" Jovanka memutar bola matanya.
"Suer! Yang aku ingat hanya kamu dan calon bayi kita," ujar Reynand yang sedang mengusap perut istrinya.
"Mana gombal lagi," ujar Jovanka sedikit kesal.
Jovanka berjalan lebih dulu menuju mobil hitam yang terparkir di depan rumah mereka. Baru saja hendak membuka handle mobil, Reynand sudah membukakannya lebih dulu.
"Silakan masuk istri cantikku, Mama dari calon buah hatiku."
"Idih, kamu gombal terus, Rey."
Reynand tertawa yang membuat Jovanka semakin mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Reynand kini duduk di samping kemudi, dia melihat istrinya yang masih mengerucutkan bibir. Reynand membalikkan tubuhnya. Kini tubuh mereka saling berhadapan.
"Kamu kenapa?" tanya Reynand pelan.
Jovanka tidak menjawab, hanya melihat wajah Reynand.
"Awas, jangan benci banget sama aku. Nanti anaknya mirip banget sama aku," kata Reynand.
"Biarin! Orang dia anak kamu. Masa wajahnya mirip tetangga?" ketus Jovanka yang membuat Reynand tertawa.
"Iya, iya. Maafin aku, ya?"
Jovanka masih membisu, bahkan wajahnya berpaling dari Reynand.
"Hei?"
Tangan kiri Reynand memegang dagu Jovanka. Pria itu membimbing wajah Jovanka untuk berhadapan dengannya. Reynand memiringkan wajahnya hingga bibir keduanya saling berdekatan.
Perlahan, Reynand mengulum lembut bibir Jovanka. Awalnya Jovanka tidak merespons, tetapi Reynand malam memperdalam ciumannya hingga Jovanka pun memberikan respons. Keduanya saling berciuman hingga beberapa menit.
Jovanka mendorong pelan bahu Reynand hingga bibir keduanya terlepas.
"Udah, ya? Nanti malah enggak jadi berangkat," kata Jovanka yang menyelipkan rambut yang sedikit berantakan pada telinganya.
Reynand tersenyum. Jemarinya membenahi rambut Jovanka yang memang terlihat sedikit berantakan. Perlahan, rambutnya telah tertata kembali. Pria itu lalu mulai menancap mobilnya menuju klinik dokter spesialis kandungan.
Mobil mereka kini berhenti di klinik yang cukup besar. Keduanya turun dari mobil dengan bergandengan tangan mesra.
"Selamat sore," sapa dokter ketika Rey membuka pintu. Dokter ramah itu menyambutnya dengan baik dan juga ramah.
"Sore, Dok." Reynand dan Jovanka masuk.
"Silahkan duduk," ujar dokter. Perempuan yang memakai jas praktik itu terlihat cantik walau usianya tidak lagi muda.
Jovanka dan Reynand pun duduk lalu mulai berkonsultasi tentang kehamilannya pada dokter.
"Baik. Silakan naik ke bad," kata dokter sambil membimbing Jovanka ke bad berwarna hitam.
Jovanka pun naik ke bad dibantu oleh Reynand karena ada bad tersebut cukup tinggi. Kini tubuhnya terbaring lalu dokter mulai mengecek detak jantung janin dan lainnya.
"Gimana keadaan calon bayi saya, Dok?" tanya Jovanka.
"Dari detak jantungnya baik, Bu, Pak. Saya lanjutkan USG untuk mengetahui perkiraan lahir dan pertumbuhan janinnya."
Dokter itu pun mulai menempelkan alat USG setelah menaruh gel ke perut Jovanka. Terlihat gambar janin di dalam layar komputer. Tidak terlalu jelas, tetapi mampu membuat bibir keduanya tersenyum bahagia.
"Semuanya baik, Bu, Pak. Jenis kelamin bayinya––"
"Tunggu, Dok!" Jovanka memotong pembicaraan si dokter.
__ADS_1