
Reynand dan Jovanka masih bercengkrama di balik selimut. Padahal, aktivitas bertempur mereka sudah selesai sejak tadi. Mereka masih saling menggoda dan tertawa ketika saling meledek.
Kamar yang cukup besar dengan cat berwarna putih itu memberikan ketenangan pada keduanya. Walaupun di dalam sana berserakan oleh pakaian mereka yang tercecer di ranjang dan lantai keramik berwarna putih.
Candaan yang terdengar receh itu membuat keduanya tertawa. Tangan Reynand yang masih memainkan rambut Jovanka. Dia mengusap pelan, selepas itu lalu mengacak-acaknya kembali, begitu saja terus hingga Jovanka membentaknya karena merasa dipermainkan. Apalagi, hidungnya yang terus saja dicubit oleh Reynand.
"Ish, sakit taaauu," keluh Jovanka sambil mengusap hidungnya yang terlihat memerah karena cubitan Reynand.
"Biar mancung," kata Reynand yang masih menggoda istrinya. Dia masih mencubit-cubit hidung Jovanka meski sudah terlihat merah. Reynand sepertinya gemas pada Jovanka. Karena bukan hanya hidung yang menjadi korbannya. Pipi dan dagu pun tidak luput dari sikap jahil Reynand.
"Reynand! Sana mandi, ah!" ketus Jovanka yang mulai kesal.
"Makanya ayok mandi bareng."
"Enggak!"
"Ya udah, aku pun gak mau mandi. Aku nungguin kamu," ujar Reynand dengan tawa nakal.
"Idih ngarep!" Jovanka memutar bola matanya yang membuat Reynand semakin gemas.
Reynand tersenyum lalu menyingkap selimut itu dari tubuh mereka yang hanya terbalut pakaian tidur yang minim. Sementara Reynand pun hanya memakai celana pendek saja.
Selimut itu terlempar ke lantai bersama bantal yang ada di sisi Jovanka, sehingga di atas ranjang hanya ada Reynand dan Jovanka saja.
"Reynand balikin! Malu tau!" sentak Jovanka ketika selimut yang menutupi tubuhnya malah ditarik oleh Reynand bahkan sudah ada di lantai. Tangan Jovanka pun terlihat menyilang di dada untuk menutupi sesuatu yang indah dari balik sana.
"Yaelah malah ditutupin. Buka dong," pinta Reynand gemas melihat tangan Jovanka yang bersilang di dada menutupi keindahan yang ingin dia lihat.
"Gak!" Mata Jovanka membulat.
"Buka, Sayang ...." rengek Reynand sudah seperti anak kecil yang meminta permen.
__ADS_1
"Enggak! Udahlah, aku mandi saja," ucap Jovanka yang kemudian turun dari ranjang.
Reynand memandang tubuh Jovanka yang terbalut oleh gaun tidur minimnya. Bahkan, hanya bagian-bagian tertentu yang tertutup. Selebihnya hanya terbalut kain transparan yang membuat hasrat kelelakian Reynand bergejolak.
Reynand mulai diserang debar yang mengganggu pikiran dah hatinya yang tidak tenang ketika melihat tubuh molek hendak berjalan menjauh darinya.
Jovanka melenggang setelah handuk berwarna putih di sampirkan pada pundak kanannya. Diam-diam Reynand mengikuti Jovanka dan dalam sekejap, tubuh Jovanka yang sedang berjalan itu berpindah ke pangkuan Reynand.
"Rey?" Mata Jovanka membulat ketika wajah suaminya yang kini begitu dekat dengannya. Bahkan, tubuhnya sudah digendong mesra oleh Reynand.
Reynand tersenyum jahil.
"Kamu mau ngapain?" tanya Jovanka ketika kaki Reynand masih mematung. Padahal, tanpa bertanya pun, Jovanka dapat menerka maksud suaminya.
Rey menaikan satu alisnya. "Tadi, kan, aku udah bilang, Sayang. Aku ingin mandi bareng kamu," ucap Reynand sambil menggesekkan hidung mancungnya ke hidung Jovanka. Bibir Jovanka pun tersenyum dengan segala aksi Reynand yang tidak romantis, tapi membuatnya tersanjung.
"Ya Tuhan, enggak ada keinginan yang lain lagi?" Jovanka bertanya ketika tubuhnya masih dalam gendongan si jangkung.
"Apa?" Jovanka menatap tajam mata Reynand yang memandang ke langit-langit kamar seolah sedang berpikir.
"Mencium, mencumbu, memeluk, mendekap, selalu bersama, memperko––, ehhhhh ...." Telinga Reynand dijewer oleh Jovanka.
*
Rey membawa Jovanka ke kamar mandi. Meletakan tubuh istrinya perlahan di dalam bathtub berwarna putih. Jovanka terlihat semakin menggoda di depan Reynand. Apa karena dia sedang hamil?
"Sayang ...." Reynand berbisik mesra dengan bibir mengecup leher Jovanka yang putih begitu menggoda.
Kecupan-kecupan kecil itu ternyata meninggalkan bekas merah di leher putih Jovanka. Bibir Reynand tersenyum ketika menyadari perbuatannya ternyata meninggalkan bekas berwarna merah dengan bentuk kecil seperti gigitan serangga. (Serangga bertaring yang bisa menggoda. Siapa lagi kalau bukan Reynand yang digambarkan serangga itu?)
"Kenapa kamu tersenyum?" Jovanka merasa ada yang tidak beres.
__ADS_1
"Gak papa," jawab Reynand yang berusaha mengelak.
"Reeeyyyy ...." Mata Jovanka menatap tajam.
Reynand masih tersenyum sehingga Jovanka menepuk pundaknya cukup kencang.
"Aw! Sakit, Sayang," ucap Reynand sambil mengusap pundak yang ditepuk oleh Jovanka.
"Makanya ngaku," ujar Jovanka sambil mencubit kecil lengan Reynand.
"Aduuhhh ... iya, iya aku ngaku. Tapi lepasin dulu cubitannya," pinta Reynand sambil meringis.
Jovanka pun melepaskan cubitannya dan Reynand menceritakan kalau ada bekas merah kecil pas di lehernya. Tidak banyak, hanya satu saja, tapi sukses membuat malu.
"Idihhhh ... malu-maluin kamu," keluh Jovanka yang lalu membuang pandangannya.
"Tapi enak, kan? Mau lagi, gak?" Reynand belum henti-hentinya menggoda Jovanka dengan segala candaan dewasanya.
"Gak!" ketus Jovanka tanpa melihat Reynand.
"Sayang, coba lihat itu binatang apa yang merayap?" Reynand menunjuk ke pintu. Sontak, Jovanka pun menoleh. Sial, dia terkena lagi jebakan Reynand, karena bibir Reynand telah mengerucut bersiap-siap menempel di pipi Jovanka yang pasti akan menoleh ke arahnya.
Benar saja, ketika wajah Jovanka menoleh, bibir Reynand menempel tepat di pipinya. Wanita itu kini merasakan hangatnya bibir Reynand. Dia mematung ketika memandang suaminya. Entah, perasaan apa yang ada pada Jovanka saat itu. Hendak marah, tapi hatinya merasa senang karena Reynand selalu memperlakukan dirinya dengan manis.
Keduanya mematung setelah bibir Reynand terlepas. Kedua pasang bola mata saling terpaut di titik yang sama. Perlahan, Reynand mendekat pada bibir Jovanka. Tidak banyak bicara, pria itu mengecup bibir istrinya dengan begitu lembut. Tangannya mulai menelusup ke tengkuk Jovanka dan kecupan lembut itu semakin dalam. Reynand ikut masuk ke dalam bathtub lalu memutar keran hingga air memenuhi bathup.
Rey memasukan sabun hingga busanya keluar dengan wangi yang begitu menggoda. Namun, tidak berselang lama, Jovanka merasakan mual sehingga dia beranjak keluar dari bathup dan cepat-cepat membersihkan tubuh yang penuh sabun itu di bawah terpaan air dari shower.
Dia sedikit lega ketika busa-busa sabun telah luruh oleh air. Jovanka melilitkan handuk di tubuhnya lalu keluar dari kamar mandi tanpa berpamitan pada Reynand. Yang ada dalam pikirannya hanya ingin cepat keluar dari dalam sana yang menurutnya hanya membikin mual saja dengan wangi sabun yang dia benci saat itu.
Sedangkan di dalam sana, Reynand terlihat lemas. Bukan lemas karena melakukan hal itu. Namun, dia lemas karena Jovanka malah pergi meninggalkan dirinya sendiri di kamar mandi. Sementara di dalam bathtub ada sesuatu yang telah memberontak.
__ADS_1
"Haallaahhh ... malah pergi," gumam Reynand yang terdengar lucu. Dia menenggelamkan kepalanya beberapa detik dan setelah itu, napasnya pun memburu karena napas yang dipaksa berhenti beberapa detik saja dalam air.