
Sore di langit bandara berwana jingga. Reynand masih menunggu Jovanka yang masih bekerja, kebetulan Jo masih ada pekerjaan lembur jadi Rey lebih memilih untuk menunggunya di ruang kerja.
Rey hanya mengotak-atik ponsel, berselancar sebentar di dunia maya. Dia mulai bosan lalu bersandar di kursi kerjanya. Dia merapatkan punggung juga kepala dan memejamkan mata sejenak.
Bunyi bising mesin pesawat terbang kini mulai menghilang bersama ingatan yang seolah hilang ketika dia mulai terlelap.
Rey dikagetkan oleh dering ponsel yang entah sudah berapa menit terlelap ternyata Reynand ada dalam buaian sang mimpi.
Mata sipit Rey terbuka tatkala dering ponsel bergetar di atas meja kerjanya. Jemarinya meraih ponsel berwarna hitam.
"Nana?" Mata Rey sedikit perih, dia memejamkan sedikit lama lalu menggeser kunci screen ponsel yang telah ada dalam genggamannya.
"Halo, Na?"
"Abang, maafin Nana, ya?" Nana yang baru saja berbicara pada kakaknya langsung terdengar menangis. Nana memang manja terhadap Reynand.
"Eh, kenapa kamu nangis, Na? Ada apa?" Reynand heran ketika adiknya menangis dalam saluran ponsel. Seandainya ada di sisi, mungkin Reynand telah mendekap erat tubuh adiknya dan mengusap dengan pelan air mata yang mungkin telah mengalir di pipinya.
"Kak Vicky udah cerita duluan sama Abang, ya, kalau Nana harus tinggal di Surabaya?"
"Oh ... masalah itu?"
"Iya. Abang marah, kah, sama Nana?"
"Tidak. Kata siapa Abang marah, Na?"
"Iya kali aja Abang marah karena kabar ini malah lebih dulu sampai pada orang lain daripada sama Abang," ucap Rhiena. menerangkan dengan isak tangis.
"Enggak. Abang enggak marah, kok. Yang Abang ingin tau, nanti Mama bagaimana?"
"Mama akan ikut Nana untuk saat ini. Entah berapa lama, karena Mama harus memantau cabang baru, Bang. Entah untuk ke depannya, Nana serahin sama Mama. Mau ikut Nana, ayok, ikut Abang pun enggak apa-apa, toh, kita sama-sama anaknya Mama. Tapi––" ucap Nana terhenti. Hatinya terasa nyeri ketika harus berjauhan dengan Reynand. Sosok ayah, kakak, sahabat yang ada pada Reynand telah melekat dalam hati si anak manja.
"Tapi kenapa, Na?"
"Tapi Nana sedih harus berjauhan sama Abang. Abang itu bukan sekedar Kakaknya Nana. Abang itu udah seperti ayah yang selalu menyayangi Nana setelah papa jauh dari Nana." Air mata Nana mengalir deras.
Hati Reynand terasa nyeri ketika adiknya berbicara seperti itu. Dia mengingat kejadian di mana papanya lebih memilih wanita lain dibandingkan Nadin yang tidak lain ibu dari Reynand dan Rhiena.
Hening.
__ADS_1
Panggilan begitu sunyi walau suara mesin pesawat sungguh begitu bising. Nana yang sibuk dengan tangisnya dan Reynand yang sibuk dengan kenangan pahit yang dulu singgah pada keluarga mereka.
"Na, jangan bicara seperti itu. Sosok seperti Abang akan Nana dapatkan dari Vicky. Percayalah, Vicky laki-laki yang baik. Nana jangan sedih, jaga diri dan juga Mama. Hanya itu pinta Abang."
"Iya. Nana janji. Abang juga jaga diri dan Kak Jovanka, ya? Cepetan kasih ponakan buat Nana."
"Ponakan terus. Abang lagi berjuang ini, lembur tiap malam," goda Rey yang seketika menciptakan tawa di dalam sana.
Nana terbahak tatkala mendengar candaan dari Reynand.
"Hahaha ... ada-ada saja," ucap Rhiena yang sedikit lupa akan kesedihannya.
"Ya sudah, Abang tutup dulu hapenya, ya? Lain kali, kalau Abang dan Kak Jo ada libur bareng. Kami akan ke Surabaya."
"Beneran?" jawab Nana yang begitu antusias.
"Iya."
"Asikkk ... Nana tunggu, bye!" panggilan ponsel pun berakhir.
Jam yang tertempel di dinding ruang kerjanya telah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Reynand bangkit dari kursi lalu meraih tas ransel berwarna hitam yang telah tersampir di pundak kanannya.
Sapa dan senyum keluar dari beberapa orang pekerja yang mengenal Reynand. Rey memang tidak banyak bicara, tapi karena prestasinya di tempat kerja, Rey cukup dikenali banyak orang.
Di pintu klinik, Jovanka baru saja keluar dengan sedikit senyum yang terukir di bibirnya. Wajah lelah pun sungguh terpampang jelas di wajah cantiknya. Rey memeluk tubuh Jovanka yang disambut hangat oleh istrinya.
Reynand mencium pucuk kepala Jovanka begitu hangat dan mata Jovanka terpejam. Dalam mata yang terpejam, Jovanka begitu banyak bersyukur atas apa yang Tuhan beri untuknya.
Bertubi-tubi kesedihan yang dulu pernah menyinggahi hidupnya seolah sirna ketika Tuhan mengembalikan belahan jiwa yang dulu sempat terpisah.
Reynand adalah satu-satunya lelaki yang berhasil menguasai hati Jovanka. Banyak lelaki baik yang menginginkannya. Namun, hatinya begitu yakin inginkan Reynand. Seistimewa itu Reynand di hati wanita cantik yang menjabat dokter di klinik bandara. Pun dengan Rey yang begitu banyak digilai wanita berbagai usai.
Sekuat apa pun mereka dulu sempat ingin melupakan dan sejauh apa pun mereka pergi. Ketika Tuhan telah berkehendak, maka jadilah mereka bersatu kembali.
"Capek?" Reynand berbisik pada Jovanka yang masih ada dalam dekapannya.
Jovanka hanya mengangguk lemas.
Tanpa bicara lagi, Reynand melepaskan pelukannya lalu menggendong Jovanka.
__ADS_1
Mata Jovanka membulat ketika tadi tubuhnya merasa melayang kemudian setelah tersadar, ternyata tubuhnya telah ada dalam gendongan Reynand.
"Rey, turunin," pinta Jovanka dengan seulas senyum. Dia merasa malu, tetapi tidak dipungkiri dia merasa senang diperlakukan manis seperti itu.
"Katanya capek?" ucap Reynand dengan menaikkan satu alisnya.
"Iya. Tapi malu, Sayang."
Jovanka yang sedang berbunga-bunga diperlakukan seperti itu membuat Davin yang masih berdiri dalam klinik merasakan sakit. Bagaimana pun juga, perasaannya terhadap Jovanka belum juga sirna.
"Ayok, turunin aku," pinta Jovanka lagi dan tangan kekar itu kini menurunkan tubuh istrinya.
Mereka berdua bergandengan tangan menuju lobby parkir. Perasaan Jovanka benar-benar bahagia diberikan kesempatan hidup bersama orang yang dia cintai.
Kisah Reynand dan Jovanka dulu memang begitu menyakitkan. Di mana kata restu yang sulit didapat sehingga mengharuskan mereka terpisah. Namun, takdir berkata lain. Setelah mereka terpisah malah kembali dipertemukan lalu di persatuan dengan cara yang indah.
Mobil hitam itu melesat di atas aspal hitam dengan langit yang mulai gelap memayungi mereka. Matahari mulai meredup lalu berganti dengan lekat malam yang akan tergantikan oleh terangnya rembulan atau pun bintang.
Mobil hitam itu telah masuk ke garasi lalu keduanya turun dari mobil. Namun, setelah berada di dalam rumah. Reynand langsung kembali menggendong Jovanka dengan tatapan nakal.
"Rey, kamu mau ngapain?" tanya Jovanka.
"10 ronde," jawabnya dengan senyum nakal.
"Hah?"
"Ssttt ...." Reynand membungkam bibir Jovanka dengan bibirnya yang membuat Jovanka terdiam.
Jovanka masih menatap wajah suaminya ketika langkah kaki Reynand terayun menuju kamar.
Tubuh Jovanka pun kini telah terbaring di ranjang big size. Namun, ketika jemari Rey mulai menyentuh tubuhnya. Jovanka menghentikan aksinya.
"Aku mandi dulu, ya?" ucap Jovanka dan Rey pun mengangguk pasrah.
Jovanka berjalan menuju kamar mandi. Ada rasa capek mendera pada tubuhnya. Namun, dia begitu sadar akan kewajiban sang istri untuk melayani suaminya kapan pun dia mau.
Jovanka gegas mandi hanya sekadar meluruhkan keringat di tubuhnya lalu kembali memakai handuk dengan hati yang berdegup kencang tatkala mengingat kata 'sepuluh ronde'.
Jovanka melangkah mendekati Reynand yang tubuhnya terbaring menghadap ke tembok. Jemari lentik Jovanka hendak menyentuh Reynand. Namun, aksinya terhenti saat Jovanka mendengar dengkur halus dari Reynand.
__ADS_1
"Laahhh ... malah tidur," gumam Jovanka dengan seulas senyum.