Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 46. Kabar Alexy Pulang


__ADS_3

“Tante Emi?”


Jo melihat Emillia dengan seorang laki-laki.


“Itu siapa?”


Ia semakin mendekat ke arah Emillia dan seorang lelaki yang ada bersamanya. Jo melihat Emillia berlinang air mata. Akhirnya, Jovanka memutuskan untuk menghampiri Emillia.


“Tante kenapa?”


Emillia kaget, karena Jovanka tiba-tiba ada di dekatnya. Semenjak Jo menikah, Emillia memang jarang, bahkan hampir tidak pernah bertemu dengan Jovanka.


“Jo?” Netra Emillia membulat, “Ngapain kamu di sini?”


“Kebetulan, Jo habis membeli keperluan Jo yang sudah habis, tapi perut lapar jadi sekalian Jo mau makan,” ujar Jovanka lalu melirik ke arah lelaki yang bersama Emillia. Jo menginggat-ingat lelaki ini.


Dia siapa? Umpat hati Jovanka.


“Oh, iya. Ini Om Arman,” ujar Emillia.


“Om Arman?”


Netra Jovanka membulat ketika mengetahui bahwa lelaki yang bersama Tantenya itu merupakan mantan suami Emillia.


“Hai, Jo? Sudah lama gak ketemu,” ujar Arman.


Jo hanya tersenyum.


“Ya sudah, Mas. Nanti kita bicarakan lagi,” ujar Emillia.


“Pliss, Emi. Aku mohon, tolong pikirkan lagi keputusanmu. Ingat Nourma, anak kita.”


Emillia menarik lengan Jovanka dan akhirnya Jo pun tidak jadi makan siang di sana.


Dengan langkah kaki yang kencang, Jo merasa terseret-seret hingga akhirnya lengan Emillia dihempaskan olehnya.


“Tante kenapa, sih? Coba cerita!” ujar Jovanka.


“Enggak ada apa-apa kok, Jo,” elak Emillia.


“Tante jangan bohong! Ayo, jujur sama Jo, Tan!” pinta Jovanka.


Hening.


“Ayo, duduk dulu di sini!”


Jo menarik lengan Emillia dan mereka duduk di kursi stenlis yang masih ada di area pusat perbelanjaan.


“Sebenarnya ....”


Kata Emillia terputus dan Jovanka mendongak, memandang wajah Emillia yang tak lain Tantenya sendiri. Orang yang dulu paling dekat dengannya.


“Om Arman minta balikan, Jo,” terang Emillia.


“Rujuk?”


Jo memastikan.


Emillia mengangguk.


“Tapi Tante masih ragu.”


“Kenapa?”


“Om Arman baru bercerai dengan istrinya.”


“Loh ... Apa salahnya, Tan?”


“Tante takut disangka jadi pengganggu rumah tangga orang.”


“Ya Allah, Tan. Ya enggak, lah! Secara, Om Arman sudah duda saat ini. Ya Tante bukan perusak atau perebut suami orang dong.”


“Entah, Jo. Tante masih ragu.”


“Ingat kata Om Arman, Tan. Nourma, dia pasti menginginkan orang tuanya lengkap.”


Emillia mengangguk, “Iya, nanti Tante pikirin lagi.”


“Tante mau ke mana sekarang?” tanya Jovanka.


“Ke rumah sakit.”


“Ya sudah, Jo anter. Kebetulan, hari ini Jo bawa mobil sekalian ikut Tante Emi nugas, boleh enggak?”


“Boleh, sekalian biar kamu belajar,” ujar Emillia.


Jo dan Emillia melesat ke rumah sakit tempat Emillia bekerja. Jalanan cukup macet siang ini. Banyak kendaraan sepeda motor lebih mendominasi yang dibawa oleh anak sekolah.


Akhirnya, mereka sampai di tempat Emillia bekerja. Jo dan Emillia melangkahkan kaki memasuki koridor rumah sakit dan memasuki salah satu ruangan, tempat untuk praktik Emillia.


Jo dan Emillia duduk sambil menunggu pasien dan mengobrol tentang berbagai jenis obat dan kegunaannya.


Tok ... Tok ... Tok ....


Akhirnya pintu terketuk.


“Masuk!” ujar Emillia dari dalam ruang kerjanya.


“Permisi!” sapa wanita paruh baya yang mempunyai paras cantik.


“Silakan duduk, Bu!” ujar Emillia.


Wanita itu pun duduk dan menceritakan keluhannya.


“Baik, mari diperiksa dulu, Bu!”


Emillia, Jo dan pasien itu menuju pembaringan untuk dilakukan pemeriksaan.

__ADS_1


Emillia memeriksa keadaan wanita itu yang dibarengi oleh Jovanka.


“Jo kamu tulis kemungkinan dari pemeriksaanmu dan tuliskan resep untuk keluhan yang tadi diutarakan oleh pasien,” ujar Emillia.


“Maaf, ini asistennya, Dok?” tanya wanita paruh baya itu.


“Bukan, ini ponakan saya, Bu. Dia ambil jurusan kedokteran juga dan hari ini lagi libur makanya sekalian ikut praktik saya biar sekalian berlatih,” ujar Emillia yang mencoba menerangkan.


“Cantik sekali, ponakannya, Dok. Namanya siapa?” ujar wanita itu.


“Jovanka.” Sambil tersenyum.


“Saya tuliskan resep dulu ya, Bu. Atas nama siapa?” ujar Emillia.


“Nadin.”


“Baik, Ibu Nadin. Karena stok obat yang diperlukan ada yang kosong. Saya resepkan saja obatnya, ya? Pas di samping rumah sakit ada apotek. Ibu tebus obat di sana saja,” ujar Emillia.


“Baiklah.”


Ibu Nadin pun bergegas ke luar. Sedangkan Jo menunjukkan hasil dari pemeriksaannya beserta obat yang bisa diresepkan untuk si pasien.


“Kamu pinter, Jo! Tante yakin, kamu bakal cepat wisuda. Nanti lanjut KOAS biar punya gelar dokter,” ujar Emillia.


“Iya, Tante. Ya sudah, Jo pulang dulu, ya?” ujar Jovanka.


“Hati-hati!”


Jo melangkah pergi melewati koridor rumah sakit yang ramai dengan petugas rumah sakit dan penunggu dari pasien yang sakit.


Jo memarkir mobilnya. Tidak sengaja, ia melihat dari kaca spion mobil seorang wanita paruh baya yang tadi ia periksa.


“Ibu Nadin?”


Jo memundurkan mobilnya, “Ibu lagi apa? Kok belum pulang?” ujar Jovanka.


Nadin tersenyum, “Mau bertemu klien tapi belum dapat taksi dari tadi, padahal klien sudah menunggu.”


“Ya sudah, Jo anter saja. Mari!”


Jo membuka pintu mobilnya.


Tanpa pikir panjang, Nadin pun masuk dalam mobil karena waktu yang memang sudah mepet baginya.


“Maaf ya, Nak. Ibu jadi ngerepotin?” ujar Nadin ketika mobil sudah melaju.


“Ah ... Tidak apa, Bu. Jo juga lagi tidak ada keperluan lain, lagian kondisi Ibu juga kurang baik. Kenapa Ibu gak istirahat saja di rumah? Ketemu klien ‘kan bisa diundur,” ujar Jovanka sambil masih fokus ke jalan.


“Saya di sini menginap di hotel, karena saya bukan orang sini. Ke Bandung hanya untuk mengurus bisnis. Esok hari harus kembali ke Jakarta,” terang Nadin.


“Ohh ... Maaf, Jo kira Ibu orang sini.”


Jo tersenyum.


Mereka mengobrol sepanjang jalan. Hingga akhirnya Jo diminta berhenti di kantor yang cukup besar.


“Makasih ya, Nak?” ujar Nadin sebelum turun dari mobilnya.


“Sama-sama, Bu,” jawab Jo sembari tersenyum.


Jo kembali melesat, kembali ke rumah mertuanya setelah tubuh Nadin tidak terlihat lagi di matanya.


.


Mobil diparkir dan Jovanka masuk dalam rumah. Keadaan masih sepi karena semua orang masih aktif bekerja di rumah sakit, hanya ada si kecil Olsend.


“Mama Jo?” ujar Olsend.


“Hai, Sayang ... Mama, sama Nenek belum pulang?” tanya Jovanka.


“Belum.”


“Olsend lagi apa, sih?” tanya Jo sambil menghampiri Olsend.


“Lagi main robot-robotan, keren gak, Ma?” tanya Olsend.


“Waahh ... Keren banget! Siapa yang beliin?”


“Kakek.”


Jo menemani Olsend bermain. Mereka tertawa bersama. Olsend bisa mengalihkan rasa rindunya pada Alexy. Ada rasa sepi di hatinya saat ini.


Ddrrrtttt!


Ponselnya bergetar, Jo mengambilnya dari dalam tas.


“Mas Alex?” Mata Jo membulat. “Sayang, Mama masuk kamar dulu, ya?” ujar Jovanka pada Olsend.


“Iya, Ma!”


Jo berjalan menuju kamar dengan tergesa. Ia membuka pintu lalu menyimpan tas.


[Hai, Mas?]


[Iya, Sayang. Gimana kabar kamu? Aku kangen.]


[Jo juga kangen sama Mas. Kapan pulang?]


[Asyikkk ... Istriku yang cantik rindu sama aku.]


[Maaassss!]


Bibir Jovanka mengerucut. Alexy pun tidak kuat menahan tawanya.


[Udah dong jangan ngambek. Nanti cantiknya kebawa bibir.]


[Biarin!]

__ADS_1


Bibir Jo masih meruncing. Hal itu yang membuat Alexy semakin ingin memeluk tubuh istrinya.


[Besok aku pulang.]


[Serius?]


Alexy mengangguk.


[Ya sudah, aku mau tidur dulu, ya? Jaga kondisi baik-baik, apalagi sekarang mulai masuk pancaroba.]


[Iya, Mas juga, ya? Bye ....]


Jo mematikan video call dari suaminya. Lalu mendekap ponsel di dadanya. Jo memejamkan mata, sungguh. Saat ini ia merasa bahagia.


Hati yang berbunga bak seorang yang sedang jatuh cinta, walau hatinya belum teralih semua. Masih sama, ada nama Reynand yang mendominasi hati dan pikirannya.


***


Ngampus again!


Jo tersenyum ketika ia membuka mata di pagi ini. Sudah tidak sabar menunggu kedatangan suaminya.


“Andai hari ini tidak ke kampus, pasti aku sudah menunggumu di bandara, Mas!” ujar Jovanka sambil tersenyum.


Ia bersiap untuk pergi ke kampus. Masih seperti hari biasanya, Jo memilih untuk berkendara dengan taksi.


“Ma, Jo berangkat ke kampus, ya?” ujar Jovanka yang terlihat buru-buru.


“Gak sarapan dulu, Sayang?” ujar Mama mertuanya.


“Nanti di kampus saja, Ma! Jo terburu-buru!” ujar Jovanka.


“Hati-hati, Sayang!”


.


Sebenarnya, jam kuliah Jovanka masuk siang. Tapi, ia ingin membelikan sesuatu untuk suaminya.


Jo pun melesat dengan taksi menuju salah satu pusat perbelanjaan.


“Stop!” ujar Jovanka.


Taksi pun berhenti dan Jovanka turun dari dalam mobil itu. Jo pun membayar dan bersiap untuk mencari hadiah untuk suaminya.


Jo berjalan melewati setiap toko di sana. Tetapi, ia sendiri bingung ingin memberikan apa untuk suaminya nanti. Tiba-tiba, matanya tertuju pada jam tangan.


“Apa aku belikan jam tangan saja, ya?”


Akhirnya, Jo tertarik untuk melihat beberapa koleksi jam tangan dari brand yang sudah ternama.


“Pagi, Mbak. Mau pilih yang mana?” ujar seorang wanita.


“Coba, lihat yang itu, Mbak!” Jo menunjuk pada jam yang berwarna hitam yang terlihat elegan.


“Silakan.”


Wanita itu memberikan.


Jo melihat dan membayangkan, apabila suaminya yang memakai jam ini. Oh ... Mungkin semakin keren apabila suamiku memakainya, umpat dalam hati Jovanka.


“Aku ambil yang ini deh, Mbak!” ujar Jovanka.


“Baiklah, sebentar ya, Mbak!”


Tidak menunggu lama. Wanita itu kembali dan sudah membungkus jam itu dengan kotak dan memasukkannya ke dalam paper bag. Jo pun melakukan pembayaran dan berlalu pergi ke kampus.


.


Jo tidak sabar menunggu kabar dari suaminya. Ia berjalan di koridor kampus dengan membawa paper bag di tangannya.


BRUK!


Jovanka menabrak seseorang. Ia mengangkat pandangannya.


Ya ampun, orang ini lagi! Kenapa harus selalu berpapasan sama orang yang satu ini, Tuhannnn? Pekik hati Jovanka.


Davin tersenyum.


Seperti biasa, Jo tampak enek apabila melihat senyuman dari lelaki yang satu ini. Wajahnya cukup tampan, banyak juga yang mengidolakan Davin di kampus ini. Tapi, sikap nyeleneh dan absurdnya yang membuat Jovanka sebal apabila melihat wajah Davin.


“Wihhhh ... Jam tangan baru!” ujar Davin ketika melihat paper bag yang dibawa Jovanka.


“Kepo, kamu!”


“Bukan kepo, tapi ketahuan. Gue tau toko itu, karena kalau gue beli jam pasti ke situ,” ujar Davin.


“Gak nanya!” jawab Jovanka dengan nada judes.


“Buat siapa, sih?” tanya Davin.


“Kepo bener jadi cowok!”


“Yaelah! Ya udah, gue tau kok. Lu mau kasih ke gua ‘kan, jam tangannya?” Davin memainkan alisnya, Jo semakin enek melihat wajah lelaki yang satu ini.


“Enak aja! Ini untuk suamiku!” pekik Jovanka.


“Nah ... Tinggal bilang gitu aja susah. Mau berlama-lama ngobrol sama gue, ya?” wajahnya semakin mendekat.


“Enak aja! Lagian, ge’er banget kalau jam tangan ini buat kamu. Terlalu pede kamu, Dav!”


“Kali aja lu khilaf kasih jam itu buat gue.” Davin terkekeh.


“GAK MUNGKIN! Tapi, bisa jadi sih, kalau suamiku gak jadi datang hari ini!” ujar Jovanka.


Ddrrrtttt!


Ponsel Jovanka bergetar.

__ADS_1


__ADS_2