Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 57. Senja


__ADS_3

[Halo, Sa?]


[Hai ... Jo! Kangennnn!]


[Sama, aku juga, Sa. Gimana kabarmu?]


[Baik. Kabarmu gimana?]


[Sama, aku juga baik-baik saja.]


[Kabar Rey gimana?]


[Entah. Aku gak ada komunikasi lagi sama dia.]


[Hem ... Kalian gak pernah berkomunikasi lagi?]


[Enggak.]


Jo dan Salsa mengobrol panjang lebar dalam telepon. Mulai dari menanyakan kabar Reynand. Kehidupan Jovanka setelah menikah dan masih banyak lagi obrolan khas cewek setelah komunikasi yang sempat terputus karena jarak, kini terhubung lagi.


Canda tawa pun kini terukir di bibir Jovanka setelah ngobrol panjang lebar dengan sahabatnya, Salsa. Hingga akhirnya ponsel itu terputus dan Jo kembali merasa sepi dalam kamar yang besar ini.


***


Segala aktivitas Rey tampak membosankan di rumah sakit. Terlebih, tidak ada Jovanka di sampingnya.


Rey berharap agar bisa cepat pulang. Dirinya sudah bosan hanya terbaring di kasur klinik dengan jarum infus yang masih tertancap di lengannya.


“Permisi!” ujar dokter yang hendak memeriksanya.


Rey tersenyum, begitu pun dengan Rhiena, yang saat itu bertugas menjaga Rey di rumah sakit karena Nadin sedang mengurus pekerjaannya yang tidak dapat diwakilkan pada orang lain.


“Silakan, Dok!” jawab Rhiena mempersilahkan.


Dokter pun memeriksa keadaan Rey yang mulai berangsur membaik. Rey diperbolehkan untuk pulang esok hari. Hati Reynand merasa bahagia, mendengar kabar bahwa dirinya akan segera terbebas dari rumah sakit, yang Rey anggap telah membelenggu aktivitasnya, karena harus selalu terbaring dengan jarum infus yang tertempel di pergelangan tangannya.


Dokter itu pun berlalu pergi setelah memeriksa keadaan Reynand hari ini.


“Selamat ya, Bang? Akhirnya besok Abang bisa pulang,” ujar Rhiena.


“Iya, Na. Padahal, Abang berharap hari ini bisa pulang,” ujar Rey yang terlihat sudah tidak sabar untuk segera ke luar dari rumah sakit.


.


Menanti sore hari rasanya lama sekali. Rey sudah habis ide untuk menghabiskan waktu hari ini agar tidak merasa bosan.


“Bang, Nana ke luar sebentar ya? Mau beli paket data di konter sebelah rumah sakit,” terang Rhiena.


“Sekalian isiin punya Abang ya, Na?” ujar Reynand.


“Oke!”


Rhiena bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke luar untuk membeli paket data. Sedangkan Rey masih menikmati kebosanannya dalam kamar.


Ceklek!


Pintu kamar rumah sakit terbuka.


“Permisi!”


Terlihat wajah cantik dari belakang pintu itu.


“Adara?” Terukir sebuah senyuman dari bibir Reynand, “Masuk!”


Adara pun masuk dan menghampiri Rey yang sedang duduk dan menyenderkan punggungnya di tembok.


“Lu udah pulang dari rumah sakit?” ujar Reynand.


“Udah, Kak. Dari kemarin mau ke sini. Tapi dilarang Mama. Baru hari ini diperbolehkan,” ujar Adara dengan nada lembut.


“Ya iya lah dilarang! Baru juga pulang dari rumah sakit malah mau keluyuran,” ujar Reynand sambil tersenyum.


Adara meraih tangan Rey. Ia menggenggam dan menatap netra itu dengan tatapan syahdu.


“Dara khawatir sama Kakak! Makanya dari kemarin, Dara minta Mama untuk ajak ke sini. Tapi, kata Mama esok lagi. Jadi, baru hari ini Dara bisa ke luar rumah. Oh iya, dapat salam dari Mama dan Papa. Kata Papa, maaf gak bisa jengukin Kakak, Papa lagi sibuk di DFS katanya,” papar Adara.


“Iya, gak papa. Cuma CV gue ....”


Rey tertunduk lesu. Ia merasa kehilangan kesempatannya untuk menjadi seorang pilot.


“Kenapa?”


“Gue gak bisa jadi pilot dalam waktu dekat ini. Padahal, itu cita-cita gue dari kecil,” ujar Reynand.


Adara tersenyum.


“Masih banyak waktu dan kesempatan lain, Kak!”

__ADS_1


Rey mengangguk.


“Tau enggak?” ujar Adara.


“Apa?”


Rey mendongak dan memandang wajah gadis yang mirip sekali dengan Jovanka.


“Kakak sebenarnya sudah masuk di salah satu maskapai penerbangan Indonesia.”


“Maksudnya?”


“Kak Rey sudah ke terima di maskapai yang berlogo burung, maskapai yang paling berpengalaman dan pelopor dari cikal bakal penerbangan di sini.”


“Enggak mungkin, Dar. CV aja belum ngumpulin, gimana bisa gue keterima? Apalagi maskapai itu merupakan yang paling sulit untuk dapat masuk ke sana. Karena memerlukan pengalaman yang bensr-benar mumpuni. Sedangkan gue?”


“Itulah hebatnya Kakak. Di usia yang belum menginjak angka dua puluh, Kakak sudah ke terima di maskapai tersebut. Selamat ya, Kak?” Adara mengulurkan tangan.


“Gue mimpi enggak sih, Dar?”


Rey balik bertanya, merasa tidak percaya.


Adara menggeleng.


Rey meraih tangan Adara dan memeluk gadis cantik itu.


“Gue gak tau cara berterima kasih pada Cap Wahyu, yang sudah sangat membantu dari mulai gue belajar di DFS hingga kini, gue di masukkan ke salah satu maskapai ternama di sini,” ujar Rey masih memeluk Adara.


“Papa gak melakukan apa-apa kok. Mereka yang datang ke DFS meminta Kak Rey agar masuk sebagai Co-pilot di maskapai mereka. Papa hanya memfasilitasi sebagai Captain di DFS untuk anak didik yang sedang belajar atau alumni di sana.”


Rey baru menyadari, ia memeluk Adara terlalu lama. Pelukannya itu akhirnya terlepas.


“Maaf ya, Dar? Gue begitu senang hingga lupa kalau gue berani memeluk lu,” ujar Reynand.


Adara hanya tersenyum.


Kak, sebenarnya aku bahagia dipeluk sama Kakak. Aku merasakan tenang berada dalam dekapan Kakak, sama seperti ketika Kak Davin memelukku waktu lalu, umpat hati Adara.


Hening.


Suasana menjadi kaku saat itu. Hingga terdengar suara pintu yang terbuka dan mata mereka mengalih ke pintu itu.


“Nana?”


Rhiena masuk dan mendekat ke arah Reynand.


“Baru datang, Kak,” jawab Adara.


“Oh iya, Bang! Udah masuk belum paket datanya?” tanya Rhiena.


“Abang belum cek. Sebentar!”


Rey meraih hape yang tergeletak di atas laci nakas yang ada di samping tempat tidurnya.


“Udah masuk, Na!” sambungnya.


“Oke! Ya udah, Nana tinggal ya? ‘Kan Ada Adara yang temenin Abang, Nana bosen di kamar terus!” ujar Rhiena sambil meninggalkan Rey dan Adara.


“Apalagi Abang, Na!” keluh Rey bernada pelan.


Rhiena sudah ke luar kamar. Keadaan di dalam kamar menjadi kembali sepi.


“Kak, tunggu bentar, ya?” ujar Adara.


“Lu mau ke mana?” tanya Rey.


“Ada perlu, bentar doang. Gak sampai sepuluh menit, Kak Rey tungguin, ya? Aku akan kembali!” ujar Adara dan berlalu pergi.


“Hmmm ... Gak adik, gak Adara, malah pada kabur. Gak tau apa, kalau gue bosan tinggal satu minggu dalam kamar. Mana Mama belum balik-balik lagi!” keluh Rey merasa bosan.


Ia merasa bingung. Ingin sekali ke luar dari kamar yang membuatnya terisolasi. Hanya melihat tetesan cairan infus dan menghitung tetesnya sampai tertidur. Kurang kerjaan!


Tidak berselang lama. Seperti yang Adara janjikan. Ia kembali masuk ke dalam kamar. Terlihat wajah bete Rey karena merasa ditinggal sendiri dalam kamar.


“Hai, Kak?” sapa Adara sambil membawa kursi roda.


“Dara? Kursi roda buat apa?” tanya Rey sambil mengernyitkan dahi, heran.


“Mau ajak Kak Rey jalan-jalan. Aku tau, Kakak udah bosan ‘kan? selama satu minggu hanya terbaring di tempat tidur ini,” ujar Adara.


Rey tersenyum. Wajahnya terlihat bahagia dengan perhatian dari Adara.


Apabila Jo di sini, pasti dia yang seperti itu. Tuhan, aku percaya semua rencanamu itu indah untukku, umpat hati Reynand.


Adara mendekatkan kursi roda itu ke samping ranjang Reynand.


“Ayo, Dara bantu!”

__ADS_1


Adara mulai membantu Rey untuk dapat berpindah duduk ke kursi roda yang ia bawa.


Dengan susah payah, akhirnya Rey dapat berpindah ke tempat duduk. Maklum saja, tubuh Adara lebih kecil dibandingkan dengan Rey yang mempunyai tubuh yang jangkung.


Adara mengambil infusan dan mencantelkannya di kursi roda. Ia mulai mendorong kursi itu ke luar dari dalam kamar.


Rey memegang tangan Adara. Terasa hangat dan mesra, membuat Adara berdebar saat lengan itu bersentuhan di atas punggung tangannya.


“Thank’s ya, Dar? Lu mau ajak gue untuk ke luar kamar. Lu udah ngeluarin gue dari kamar yang membosankan,” ujar Reynand.


Adara hanya tersenyum, ia tidak menjawab apa-apa karena dirinya sedang sibuk mengatur detak yang semakin kencang dalam diri.


Adara mendorong kursi roda itu menuju koridor rumah sakit. Hari mulai sore, langit pun mulai berubah warna menjadi jingga. Adara memarkirkan kursi roda itu di taman rumah sakit. Tidak besar memang, tapi cukup sejuk. Di situ juga terdapat kolam kecil yang tersinari mentari senja, warna jingga itu semakin terlihat indah.


“Kak,” ucap Adara memecah keheningan.


“Iya?”


Mata Rey memandang pada wajah cantik Adara.


“Maafkan Dara, ya? Sungguh, Dara merasa bersalah karena waktu lalu memaksa Kakak untuk ....” katanya terputus karena bibirnya di tutup oleh telunjuk Reynand.


“Sssttt ... Gak usah diteruskan, itu memang sudah suratan. Bukan salah lu, Dar!”


“Tapi ....”


Lagi, kata itu terputus sebab Reynand.


“Lu gak salah. Thank’s karena lu mau meluangkan waktu untuk menjenguk gue di sini. Menemani gue saat ini. Gue sayang lu, Jo!” ucap Rey keceplosan.


“Jo?”


Adara menyipitkan matanya.


“Maaf, gue ... Gue ....”


Kata Rey terhenti, ia tidak dapat meneruskan ucapannya.


Adara tersenyum.


“Jo itu pacar Kakak, ya?”


Rey tidak menjawab. Ia terlalu takut, Adara malah menjauh darinya.


“Aku gak marah kok, Kak. Pasti, Kak Jo itu cantik, ya?” ujar Adara.


Rey hanya diam, bahkan menatap mata Adara pun ia tidak mampu. Ia tidak ingin wanita yang mirip dengan pacarnya itu menjauhinya. Makanya Rey bungkam seribu bahasa.


“Kak?”


Ucap Adara halus memanggil Rey dan kedua tangannya mencakup kedua pipi Rey untuk mendongakkan wajahnya agar menatap netra Adara.


“Aku baik-baik saja. Kakak gak usah takut, aku gak bakal ninggalin Kakak.”


Adara meyakinkan.


“Janji?” ujar Rey.


Adara mengangguk, “Iya, aku janji!”


“Thank’s ya, Dar?”


Adara kembali mengangguk, “Ceritalah sama aku,” ujar Adara.


“Terlalu panjang untuk diceritakan, Dar. Cukup kamu tahu kalau nama dia adalah Jovanka. Naura Jovanka, lengkapnya,” jawab Reynand.


Rey memang termasuk orang yang tidak suka menceritakan tentang kisah cintanya. Ia lebih suka memendam perasaan kasih tak sampainya pada Jovanka.


Langit mulai gelap. Adara membawa kembali Rey menuju kamar. Ia mulai mendorong kursi itu dan Rey kembali naik ke pembaringannya.


“Kak, aku pamit, ya? Takut kemalaman,” ujar Adara.


Rey mengangguk.


Tapi, Rey meraih tangan gadis itu, “Dar?” suara Rey terdengar berat.


“Iya?”


Netra itu memandang Rey dalam.


“Janji, ya? Gak bakal jauhin gue?”


Adara mengangguk.


“Entah, gue merasa tenang kalau gue bersama lu. Maaf, mungkin karena lu mirip sama dia.”


“Iya, Kak. Adara janji, selalu ada buat Kak Rey. Cepat sembuh ya, Kak?” ujar Adara.

__ADS_1


Rey tersenyum.


__ADS_2