Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
111. Mual


__ADS_3

Reynand mengecup pucuk kepala Jovanka setelah hal indah itu terjadi begitu saja.


Rey dan Jo masih saling memandang dengan posisi tidur menyamping saling berhadapan. Bibir Reynand tersenyum.


"Dih ... kenapa senyum-senyum?" tanya Jovanka dengan raut wajah heran.


"Lucu," jawab Rey yang sedang menyanggah pipi.


"Siapa?"


"Ya kamulah. Masa cicak?"


"Ish! Maksud aku lucu kenapa?" Jovanka semakin heran karena Reynand terus tersenyum.


"Mau tau?"


Jovanka mengangguk.


"Mau tau aja atau mau tau sangat?"


"Rey. Jangan mulai, deh!" Jovanka mulai kesal.


"Sebentar." Reynand duduk lalu berlari sambil mengatakan, "katanya aku gak dikasih jatah? Nyatanya malah kamu kasih banyak-banyak hahahaha ...." Reynand masuk ke dalam kamar mandi.


"REYNAND!!!!!!" pekik Jovanka menggelegar begitu kesal dengan sikap suaminya.


Bukan Reynand namanya bila tidak bisa mengembalikan senyum sang istri. Dengan segala kekocakannya, Reynand berhasil merubah hidup Jovanka yang berderai air mata kesedihan sekarang berganti dengan kesal yang berujung senyum-senyum pada bibir Jovanka.


Hidup Jovanka kembali berwarna seindah kisah cintanya ketika berseragam putih-abu bersama Rey. Wanita itu membayangkan dengan ucapan yang memang terlontar ketika di dalam mobil saat mereka sedang di perjalanan. Jo ingat sekali ketika mengancam Rey untuk tidak mendapatkan jatah atau haknya pada malam nanti. Namun, karena kemesraan dan belaian Reynand, Jovanka tidak dapat berkutik. Menikmati, lalu menyerahkan begitu saja.


"Rey, Rey ... kamu emang paling bisa bikin aku melayang," ucap pelan Jovanka ketika menyadari kelakuannya.


Terdengar pintu kamar mandi yang telah terbuka. Jovanka melihat ke kamar mandi dan ternyata suaminya sudah selesai mandi. Handuk putih yang melingkar di perutnya membuat dada bidang nan putih Reynand terlihat sungguh menggoda. Di tambah tangan yang sedang mengacak rambut itu terlihat seksi ketika otot-otot tangan dan dadanya semakin terlihat.


Rey melihat Jovanka yang berbalut handuk kimono kini mendekatinya dengan bibir tersungging nakal. Tentu saja pikiran Rey mengarah ke arah situ.


"Kenapa? Kamu mau lagi?" tanya Reynand ketika Jovanka tepat berada di hadapannya.


Jovanka tidak menjawab. Bergantian, sekarang Reynand yang dibuatnya panas dingin karena sentuhan dan belaian dari jemari lentik serta kecupan-kecupan kecil di dada bidang itu membuat hasrat Reynand semakin terbakar. Padahal, tubuhnya saja masih basah. Namun, Jovanka memang pandai membuat Rey kelabakan dengan hasrat yang dia rasakan.


"Jo ...." desah Rey begitu berat dengan mata yang tertutup.


Tanpa disadari, Jovanka menarik handuk Reynand hingga melorot. Lalu gadis itu berlari dan masuk ke kamar mandi dengan tawa renyah, "hahaha ...."

__ADS_1


Reynand membuka mata, dia baru sadar kalau istrinya telah menjahili dia setelah hasratnya membara.


"JOVANKAAA!!!" seru Reynand yang dibalas tawa Jo dari dalam kamar mandi. "Awas kamu, ya, pokoknya harus tanggung jawab bikin relax lagi tikus aku!" ketus Rey.


"Hahaha ... suruh saja tikus kamu tidur sendiri, kenapa harus menunggu aku?"


"Gak mau tau!" jawab Rey masih kesal.


***


Malam semakin larut. Namun, karena pergulatan tadi membuat perut mereka didera rasa lapar.


Di atas sana, langit masih terus menerus menumpahkan tetes-tetes air yang cukup deras. Air yang menimpa genting kamar bak simfoni indah ditambah nyanyian binatang malam telah memperlengkap suasana syahdu. Mereka terasa berada di negeri dongeng.


Jo dan Rey masih menikmati waktu-waktu bersama. Jo yang berada dalam dekap erat suaminya akhirnya bangkit untuk membawakan camilan.


"Mau ke mana?" Reynand menarik lengan Jovanka.


"Ke dapur, ambil camilan," ujar Jovanka.


"Camilan mana cukup buat aku? Bikin nasi goreng aja, yuk?" ujar Reynand.


"Sayang, ini udah malam banget."


'Pletak'


Bantal meluncur di kepala Reynand.


"Ya enggak juga habis makan nasi goreng langsung gemuk, Sayang. Maksud aku enggak sehat kalau makan malam-malam," ujarnya.


"Daripada perut lapar? Yang ada malah gak bisa tidur habis itu masuk angin, tetep aja ujungnya sakit," bantah Rey yang membuat Jovanka geleng kepala.


"Hmm ... ya sudahlah, suamiku memang selalu benar."


Rey malah tertawa mendengar kata-kata pasrah dari istri dokternya tersebut. Padahal, bukan maksud Jovanka membenarkan suaminya. Namun, dia terlalu malas untuk berdebat, terlebih malam hari. Buang-buang energi saja.


Jo berjalan menuju dapur melewati anak tangga. Dia mulai mengumpulkan bumbu dan ternyata Reynand mengikutinya.


Tangan Rey melingkar pada perut ramping Jovanka ketika sedang mengiris bawang. Dagunya bertengger di pundak Jovanka. Rey masih bisa-bisanya menggoda. Ah, dasar pengantin baru. Bisa saja bermesraan di manapun.


"Sayang," panggil Rey lembut.


"Iya."

__ADS_1


Cup!


Reynand mencium pipi istrinya.


"Yank." Rey kembali memanggil dengan bibir yang mengecup pipi dan leher Jovanka.


"Ish! Diem bibirnya, aku lagi ngiris bawang. Katanya mau nasi goreng?"


"Iya, tapi aku pengen––" ucap Reynand terhenti ketika Jovanka mengacungkan pisau di hadapannya. "Yaelah, serem banget ancamannya," keluh Reynand.


"Makanya, jangan macam-macam. Katanya lapar, mau makan nasi goreng. Tapi akunya digodain mulu. Kapan kelarnya coba?" tanya Jovanka yang membuat Rey tersenyum.


"Ya udah, deh." Reynand ngeloyor pergi.


"Eh, mau ke mana? Temani aku di sini. Aku takut," pinta Jovanka ketika terdengar suara anjing menggonggong.


"Aku mau kencing. Mau ikut?" jawab Rey sambil membuka pintu kamar mandi yang ada di dekat dapur.


"Astaga! Aku kira kamu bakal balik kamar."


Jovanka mulai menggoreng bumbu untuk nasi goreng pesanan suaminya. Segala bumbu yang telah siap sudah ia tumis lalu memasukan nasi ke dalam wajan. Tercium harum wangi rempah yang ditumis sang istri membuat perut Rey semakin terasa lapar ingin mencicipinya.


"Eh, kenapa enggak pakai telur?"


"Nanti aku pisah. Aku lagi mual dengan telur yang diorak-arik bersama nasi. Biar aku bikin telur ceplok yang terpisah, ya?"


"Mual? Jangan-jangan kamu––" ucap Reynand terhenti.


"Jangan berpikir macam-macam, usia pernikahan kita saja baru masuk usia satu bulan."


"Bisa saja, kan, Tuhan fast respon terhadap keinginanku?"


"Tuhan memang bisa mengabulkan secepat kilat doa-doa kita, tapi ya misal aku hamil pun enggak akan terasa mual sekarang, Sayang."


"Sini, aku aja yang nerusin," pinta Rey mengambil alih pekerjaan Jovanka yang sedang menggoreng nasi.


"Eh, kenapa?" tanya Jo ketika spatula yang sedang dia pegang malah diambil Rey.


"Calon ibu dari anak-anakku enggak boleh kecapean!" ucap Rey yang membuat Jovanka tersenyum.


"Ada-ada saja."


Semua kemungkinan memang bisa saja terjadi. Terlebih, usia pernikahan Rey dan Jovanka pun telah memasuki usia satu bulan. Bisa saja benih cinta Reynand telah tersemai di rahim Jovanka?

__ADS_1


Sebagai seorang suami, Reynand hanya ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya. Saat ini saja Reynand sudah bersikap protektif terhadap Jovanka. Bagaimana kalau memang dia hamil nanti?


__ADS_2